CANDRAMAWA – Kisah Siluman Macan Kumbang (Cerita Horor Mistis Legenda Jawa Tengah) - Bagian 7
Blorong Kali Gawe
Adalah sebuah mitos tentang pesugihan di daerah Pedan, Kab Klaten. Sebuah situs makam kuno yang terkenal sebagai makam seorang Syaikh bernama Syeh Jaka Pedan dari keraton Demak Bintoro yang mendapatkan tugas menyebarkan agama Islam di wilayah reruntuhan keraton Boko dan Pengging. Daerah itu terkenal dengan sebutan Klaten terletak di sebelah barat daya kraton Pengging.
Karena status lajangnya, Syeh Jaka Pedan mendapat godaan yang luar biasa hebatnya dari bangsa siluman blorong. Setiap warga yang belajar tentang agama Islam seringkali mengalami kesurupan. Makhluk-makhluk siluman di lereng selatan gunung Merapi banyak yang mengganggu para santri dan warga. Hal itu tentu membuat resah orang yang mau mengaji Kalam dan Sunah. Para siluman itu dipimpin oleh petinggi dari pantai selatan. Bahkan tak tanggung-tanggung, yang memimpinnya adalah ratu para blorong putri dari Nyai Roro Kidul sendiri, yaitu Nyai Blorong Ratu Nilamsari.
Nyai Ratu Nilamsari, demikianlah panggilannya, yang berkulit kemerahan dan merona sungguh cantik luar biasa, ia ditugaskan langsung oleh Nyai Roro Kidul untuk menghentikan Syeh Jaka Pedan yang sedang dalam misi menyebarkan agama Islam. Nyai Ratu Nilamsari sangat pandai dan penuh tipu muslihat. Ia tahu bahwa Raden Jaka Pedan dahulunya adalah pemimpin para nelayan dari Demak Bintoro. Dia ahli menangkap ikan di laut, di danau, maupun di sungai. Suatu ketika, Ratu Nilamsari mengintip Raden Jaka Pedan yang sedang menjala ikan. Dia pun menyamar menjadi ular kecil untuk melihat keahlian Raden Jaka Pedan dalam mencari ikan. Memang benar banyak sekali ikan hasil tangkapannya. Gabus, lele, bader, sepat domba dan banyak jenis ikan yang berhasil dijalanya dalam sehari. Karena tak habis dimakan sendiri dan para santri, maka Raden Jaka Pedan mengolah sisa ikan hasil tangkapan dengan asap dan diasinkan. Nama ikan olahannya terkenal dengan nama ikan peda. Dan desa tempat Raden Jaka Pedan kemudian disebut sebagai Pedan (tempat penghasil ikan yang diasinkan).
Raden Jaka Pedan adalah murid dari Sunan Kalijaga yang terkenal sebagai anggota Wali Sanga. Ia adalah keturunan keluarga kerajaan Demak Bintoro dari campuran darah bangsa Jawa, Cempa dan Arab memang gagah dan sakti pilih tanding. Semua santri wanita, tua maupun muda, menjadi banyak yang tertarik dan menyukainya. Karena Raden Jaka Pedan adalah seorang lajang, maka banyak dari mereka berharap mendapat keberuntungan untuk dilirik, syukur dipinang oleh alim ulama yang ganteng itu.
Tak terkecuali nyai Ratu Nilamsari. Semakin lama wanita siluman itu memata-matai raden Jaka Pedan, semakin lama muncullah benih perasaan cinta kepada orang yang seharusnya menjadi lawannya. Ia pun akhirnya benar-benar terpikat. Nyai Roro Kidul pun menyadari bahwa putrinya telah lupa akan misinya. Tetapi beliau tidak lantas memarahi putrinya. Justru dia akan memanfaatkan kecantikan nyai Ratu Nilamsari untuk memikat Raden Jaka Pedan. Dengan harapan bila pemuda alim itu bisa menjadi menantunya, maka akan mudah mengendalikan utusan Demak Bintara itu. Nyai Roro Kidul memberikan ilmu Pemikat Sukma kepada nyai Ratu Nilamsari dan berpura-pura mengijinkan putrinya menikah dengan pujaan hatinya bila Raden Jaka Pedan memang berkenan.
Suatu hari, Ratu Nilamsari mandi di sebuah kedung yang dalam dan berpura-pura tenggelam ketika Jaka Pedan sedang menebarkan jalanya tak jauh dari kedung itu. Melihat nyai Ratu Nilamsari seperti hendak tenggelam, Jaka Pedan segera melompat ke kedung untuk menolongnya. Setelah melihat kecantikan Ratu Nilamsari, Raden Jaka Pedan pun akhirnya jatuh cinta. Tak lama setelah mereka sering bertemu, perasaan keduanya pun tertaut. Mereka melupakan tujuan dan misi mereka masing-masing. Kemudian di hari baik, pilihan sesuai saran para orang tua, mereka pun menikah disaksikan warga dan para santri. Sebuah pasangan yang serasi. Yang pria gagah, tampan dan terpelajar. Wanitanya cantik dan lemah lembut. Mereka pun hidup bahagia.
Pekerjaan Raden Jaka Pedan adalah menjala ikan. Dan setelah menikah, ikan di sungai seolah semakin menipis dengan misterius, sehingga waktu Raden Jaka Pedan habis untuk mencari ikan.
Berangkat sebelum subuh, pulang selepas isyak, dan melayani cumbu rayu nyai Ratu Nilamsari yang seakan tidak pernah puas di ranjang sampai menjelang subuh lagi. Akhirnya Raden Jaka Pedan lupa semua tujuannya. Bahkan lupa akan kewajiban dirinya kepada sang Khalik.
Berawal dari tak pernah melihat wanita secantik Nyai Ratu Nilamsari, maka Raden Jaka Pedan akhirnya tergoda dan jatuh dalam pelukan Nyai Nilamsari. Nyai Roro Kidul benar-benar puas dengan pencapaian prestasi Nyai Ratu Nilamsari yang berhasil menggagalkan penyebaran agama Wahyu di wilayah selatan gunung Merapi. Tetapi bukan itu. Sebenarnya pasangan itu benar-benar sedang dimabuk cinta yang mengakibatkan mereka lupa segalanya. Dan tidak pernah peduli atau berpikir bahwa mereka sedang dalam tugas menjalankan misi. Hiduplah mereka dalam pengembaraan nafsu ragawi mereguk kenikmatan cinta terlarang antara manusia dan siluman tanpa sadar. Raden Jaka Pedan akhirnya benar-benar terlupa akan misi dan tujuannya datang ke daerah selatan lereng Merapi karena memang cinta mampu merubah akal budi seseorang sampai seseorang itu bisa melakukan hal-hal yang seharusnya tidak perlu dilakukan. Semua perbuatan dan tingkah laku menjadi berdasarkan sentimen yang berlebihan dan mengedepankan hal-hal yang bersifat emosional dalam mengambil keputusan daripada menimbang dan memperhitungkan akal sehat atau logika. Cinta memang buta. Tidak ada lagi yang tampak di mata mereka selain wajah kekasih. Dan cinta memang tidak butuh nalar waras.
Suatu ketika, hal tentang "mbalelo"nya Raden Jaka Pedan akhirnya terdengar sampai keraton Demak Bintoro. Kanjeng Sunan Kalijaga menjadi gusar mendengar berita tidak menyenangkan tentang muridnya di selatan gunung Merapi. Kanjeng Sunan berencana memeriksa kebenaran berita itu dengan mata kepala sendiri. Beliau merasa ada sesuatu yang mengganggu misi Raden Joko Pedan yang membuatnya melupakan kewajiban dan tugas sucinya. Berangkatlah kanjeng Sunan Kalijaga menuju ke Klaten tanpa seorangpun tahu. Sesampai di Klaten, beliau menyaksikan sendiri betapa Raden Jaka Pedan, muridnya, telah masuk kedalam perangkap siluman. Sunan Kalijaga pun mencari cara untuk menegurnya karena lalai. Dan untuk itu, beliau memohon kepada Tuhan di sebuah umbul patirtan kuno di wilayah Jati Anom untuk meminta petunjuk cara terbaik mengingatkan muridnya. Beliau melihat betapa ikan-ikan bader, tawes dan banyak jenis ikan berenang bebas dan merdeka di kedalaman patirtan yang berair jernih. Dan itu memberikan sebuah ide kepadanya untuk mengingatkan kembali muridnya.
***
Seperti dikisahkan tadi bahwa, Raden Jaka Pedan selalu menjala ikan di sungai sebagai pekerjaan sehari hari.
Suatu hari sebelum subuh,
"Nyai Nilamsari, kakang mau berangkat menjala ikan sekarang," kata pemuda alim itu dengan lembut kepada istrinya.
Nilamsari yang baru bangun merapikan rambutnya yang panjang terurai. Pengantin baru yang cantik alami itu duduk di tepi balai-balai dengan kain seadanya yang membuat suami kembali duduk di sebelahnya.
"Masih begini gelap kakang, apa tidak lebih baik menunggu sampai matahari terbit?" tanya Nilamsari manja sambil mengalungkan lengannya ke leher kekasih tercinta.
Jaka Pedan menghela nafas panjang. Dalam hati, hasratnya ingin kembali merengkuh wanita pujaannya itu kembali keperaduan. Tetapi kebutuhan hidup yang mengharuskan dia untuk mencari nafkah agar orang-orang yang dikasihinya tidak menderita kekurangan. Mau tidak mau, dia harus menahan diri dan menguatkan niat untuk pergi menunaikan kewajibannya.
"Ikan sekarang semakin sedikit. Kakang harus mulai dari sepagi ini sampai nanti menjelang malam supaya hasilnya cukup untuk kita berdua dan para pembantu rumah tangga. Nyai tidur lagi saja karena pagi masih terlalu dini. Masih jauh dari fajar." Dengan bekal ciuman penuh kasih, berangkatlah Raden Jaka Pedan menuju ke sungai.
Hari itu Jaka Pedan merasa bingung dan keheranan menemukan air sungai surut secara misterius. Tetapi tak ada tanda "iwak molah" (ikan berkecipak) sama sekali. Dia menyusuri sepanjang sungai. Berjalanlah pengantin Blorong itu ke hulu untuk memeriksa apa yang terjadi disana. Akhirnya Raden Jaka Pedan menemukan seorang kakek tua pencari ikan sedang membendung sungai untuk membuat ikan mudah ditangkap dibagian bawah bendungan (bahasa Jawa; nawu).
Melihat hal itu, Raden Jaka Pedan menjadi murka. Tetapi dia masih berusaha menahan diri.
"Kakek, sungai ini adalah ciptaan tuhan untuk seluruh umat manusia yang tinggal di kanan kiri sepanjang aliran sungai. Kenapa anda malah menghentikan alirannya dengan membuat bendungan untuk kepentingan sendiri?"
"Ya, saya tahu bahwa sungai ini untuk manusia yang membutuhkan manfaatnya, dan saya juga manusia yang sama seperti anda ingin mendapatkan manfaat dari sungai ini. Tentu dengan cara saya. Saya tidak memiliki jala dan kail. Hanya tangan dan keranjang butut ini. Apakah saya salah?" jawab si kakek dengan ketus.
"Tidak salah mencari ikan di sungai. Tetapi "nawu" di sungai sebesar ini bisa membahayakan orang-orang di bawah bendungan. Bila nanti anda membedahnya, pasti akan terjadi "bandang" (banjir mendadak)," kata Jaka Pedan berusaha menjelaskan.
Sikakek masih ngotot menjawab ketus, "Saya tahu cara membendung, tahu pula cara membedah tanpa menyebabkan banjir bandang di bawah sungai. Saya memiliki kemampuan yang bisa saya gunakan dengan baik untuk memenuhi kewajiban saya sebagai kepala keluarga. Sebagai sesama pencari ikan, apakah tidak malu harus memprotes cara yang dilakukan orang lain yang tidak memiliki alat kecuali seadanya. Sedangkan anda memiliki alat yang lebih baik dan memiliki keahlian sebagai penjala. Di atas bendungan jala anda akan lebih berguna," jawab kakek pembuat bendungan itu.
Merasa tak ada gunanya berdebat dengan si kakek, akhirnya Raden Jaka Pedan memilih melangkah ke atas bendungan. Tetapi berkali-kali menebar jala, tak satupun ikan berhasil ditangkap. Jaka Pedan semakin jengkel karena sampai siang belum terisi "kepis"nya (kepis adalah wadah ikan dari anyaman rotan, bambu atau rumput glagah). Sedang di bawah bendungan, si kakek selalu berteriak kegirangan ketika berhasil menangkap ikan. Banyak sekali tangkapan si kakek di bawah bendungan. Pemuda gagah itu merasa semakin diremehkan. Dia tak pernah gagal dalam menjala ikan. Tetapi kali ini dia tak habis pikir. Kenapa tak seekorpun ikan nyangkut di jala-nya.
Tak mampu menahan kejengkelannya lagi, akhirnya Raden Jaka Pedan membedah bendungan ke sisi lain dan membuat sungai baru. Nama sungai itu adalah Kali Gawe atau Kali yang dibuat oleh tangan telanjang Raden Jaka Pedan.
Si kakek pembendung sungai hanya tersenyum melihat kemarahan Raden Jaka Pedan. Di sungai baru itu Raden Jaka Pedan melihat banyak sekali ikan dan mulailah dia menebarkan jalanya. Tetapi berulang kali dia menebar jala, yang dia dapat adalah bongkahan emas dan bukan ikan. Raden Jaka Pedan kembali membuang emas ke sungai. Dia mencari ikan bukan emas. Itu adalah permainan sihir dari si kakek yang pamer kesaktian, pikirnya. Dalam hati Raden Jaka Pedan bertanya-tanya. Siapakah sebenarnya kakek itu. Semakin dipikir, semakin marah dan jengkel hayinya.
Di seberang sungai, raden Jaka Pedan melihat kakek tukang Tawu (penangkap ikan dengan cara membuat bendungan) hanya tersenyum kepadanya. Dia semakin merasa dihina dan direndahkan. Dia melompati sungai dengan sekali lompatan dan bermaksud merebut ikan-ikan tangkapan si kakek. Dan ikan-ikan itu setiap tersentuh tangan Raden Jaka Pedan berubah menjadi ikan asin Peda. Kakek pencari ikan itu seperti menghina dan merendahkan pekerjaannya selama ini. Dan akhirnya Raden Jaka Pedan menantang si kakek untuk berkelahi.
"Anda kakek tua yang seharusnya dihormati. Tetapi hari ini anda memberi contoh yang tidak baik kepada anak muda seperti saya. Memamerkan kebisaan anda yang tidak membuat saya heran dan gentar. Karena sikap anda, saya menantang anda bertarung sebagaimana layaknya ksatria," seru menanntang sang Raden Jaka Pedan di puncak kemarahannya.
"Raden, sadarlah. Anda memiliki jala bukan untuk menjala ikan saja. Tetapi untuk menjala hati manusia. Anda memiliki pengetahuan tentang sungai bukan untuk mengharapkan ikannya saja. Tetapi untuk mengantarkan jiwa-jiwa yang terlantar ke muara kehidupan yang sebenarnya. Anda telah lupa tugas yang anda ikrarkan di hadapan sang guru." Tutur si kakek yang ternyata adalah penyamaran kanjeng Sunan Kalijaga. Raden Jaka Pedan terkejut sekali melihat beliau yang menyamar sebagai kakek pembendung sungai. Buru-buru dia menghormat sang guru sakti yang terkenal bijaksana itu.
"Anda ingin membahagiakan orang orang yang anda kasihi adalah benar dan wajib hukumnya. Tetapi bila orang-orang yang anda kasihi menjadikan anda lupa akan tujuan maka anda harus melihat lebih dalam lagi. Semua yang terlihat nyata, terkadang harus dilihat kebenaran yang berdiri di belakang kenyataan itu. Sadarlah bahwa cinta kasih ragawi bisa jadi menyesatkan dan menyebabkan penderitaan bila tidak diimbangi imbal kasih dengan yang maha RAHMAN dan RAHIM."
Akhirnya kanjeng Sunan Kalijaga merasa cukup memberi teguran kepada Raden Jaka Pedan. Pemuda itu menjadi malu dan duduk bersimpuh dalam introspeksi yang dalam.
Sunan Kalijaga berkata bijak.
"Raden Jaka Pedan, Anda telah tersesat dan sudah menjadi bagian dari laut kidul. Karena itu tangan anda bergaram. Semua ikan di Kaligawe akan menjadi ikan asin di tangan anda. Itu adalah tanda tanda tersesat dari tujuan semula sebagai penyebar kalam Allah. Saya hanyalah seorang hamba Allah yang mengasihi anda dan ingin mengingatkan ketersesatan anda karena godaan nafsu duniawi."
***
Raden Jaka Pedan menatap tajam kepada si kakek yang ternyata adalah penyamaran Kanjeng Sunan Kalijaga, guru mursyidnya. Pemuda itu akhirnya tersungkur meminta ampun kepada sang Guru suci yang bijak. Dia memang telah lupa tujuannya datang di selatan gunung Merapi. Yaitu sebagai seorang penyampai berita keselamatan. Dia sadar bahwa orang yang di hadapannya adalah seorang wali suci yang selalu berpesan kepadanya untuk "eling lan waspada". Selalu memberi kawruh dan pengetahuan tentang tanah Jawa yang kompleks dan berbeda dengan daerah lainnya. Pulau yang bahkan Syaikh Subakir, pendahulu mereka, harus berjuang antara hidup dan mati untuk bisa menyebarkan Islam di tanah "Sangar" ini.
"Saya salah dan khilaf, Bapa Guru, maafkan saya !" Sesal menjadi tanda awal sebuah taubat yang paling baik menurut orang tua dulu. Sunan Kalijaga tersenyum arif, "Itu kesalahan terhadap diri sendiri, yang berhak memaafkan adalah anda sendiri. Bukan siapapun!"
"Hanya saya berpesan, gunakan mata hati untuk membuktikan sebuah kenyataan. Karena sebenarnya mata manusia begitu banyak kekurangannya. Dia hanya ingin melihat hal-hal yang baik, indah dan menyenangkan saja. Tetapi tidak ada seorang manusia pun yang bisa melihat tengkuknya sendiri tanpa bantuan cermin. Temukan cermin itu. Lihatlah betapa banyak hal yang tidak pantas yang masih sering kita lakukan sebagai makhluk yang tidak sempurna."
"Satu hal lagi. Adalah kodrat makhluk untuk hidup berpasangan dengan sesama golongannya. Manusia dengan golongan manusia, binatang dengan golongan binatang yang sama, jin dengan golongan jin, dan sebagainya. Jangan menentang kodrat karena itu berarti sesat."
Sunan Kalijaga meminta Raden Jaka Pedan melihat dengan mata batinnya, siapa sebenarnya istrinya, Nyai Ratu Nilamsari. Dengan tegas Kanjeng Sunan Kalijaga memerintahkannya mengusir Nyai Ratu Nilamsari yang sebenarnya dari golongan jin atau bangsa siluman.
Setelah pertemuan dengan guru yang dihormatinya itu, Raden Jaka Pedan segera pulang kerumah. Dia segera menggunakan mata batinnya untuk memastikan siapa Nilamsari, isteri tercintanya.
Ternyata benar !!
Nyai Ratu Nilamsari adalah siluman blorong, bertubuh manusia berbadan ular panjang, putri Nyai Roro Kidul. Terkejut, sedih dan merasa terkhianati, Raden Jaka Pedan menjadi murka. Dia merasa telah tertipu oleh wanita yang sangat dicintainya yang tidak berbicara jujur tentang jati dirinya. Dengan bercucuran air mata, akhirnya Raden Jaka Pedan mengusir Nyai Blorong Nilamsari pergi dan kembali kelaut kidul. Sayang Nyai Nilamsari pun sudah terlanjur dalam mencintai Raden Jaka Pedan. Dia tidak mau pergi jauh dari suaminya.
Karena marah dan sedih, dia bersumpah akan menggunakan ilmu Sunan Kalijaga yang telah membuat jala Raden Jaka Pedan selalu terisi emas. Dengan cara itulah dia akan menyesatkan semua manusia yang belajar agama kepada Raden Jaka Pedan. Akhirnya raden Jaka Pedan memilih tetap tinggal ditepi Kaligawe, Pedan, supaya istrinya tidak menyesatkan lebih banyak orang. Dan selalu mengawasi sepak terjang Nyai Blorong Nilamsari sampai akhir hayatnya, dan dimakamkan juga di tepi sungai tempat beliau bertemu pertama kali dengan sang isteri dari bangsa siluman.
____000____
Kaligawe, Pedan, Kabupaten Klaten, di masa sekarang ..
Komentar
Posting Komentar