KURU – Cerita Horor Science Fiction Wabah Zombie di Pedalaman Papua - Bagian 3

Gambar
  03 - Manase yang Teguh "Bagaimana kau bisa kehilangan orang-orangmu, Manase?" tanya Waromi yang duduk begitu saja di lantai di luar tikar gelaran. Dia sedang memegang cangkir kaleng yang berisi kopi hangat. Walau tanpa gula tetapi Waromi bisa menikmati kehangatannya melewati tenggorokan dan menyentuh rongga dadanya yang nyaris beku karena kedinginan di bawah hujan tadi. "Hhh. Aku terlalu ceroboh dan tanpa perhitungan. KhaKhua ternyata sudah mengincar tempat ini sejak lama. Aku menampung anak Numfor yang terluka di sini. Dan aku tidak tahu kalau dia adalah KhaKhua. Aku perintahkan abang si Isak untuk merawat lukanya. Sementara kami berangkat berburu dan memanah ikan di sungai. Kami pulang ke gubuk menjelang sore dengan buruan yang banyak.  Sesampai di gubug kami tidak menemukan anak Numfor dan yang lainnya. Setelah mencarinya ternyata anak Numfor dan abang Isak sedang memakan tubuh Elias hidup-hidup. Aku marah dan menangkap anak Numfor. Menembaknya di kepala, tepat di a...

UNICORN - Cerita Horor Boneka Arwah Terkutuk - Bagian 1

 


1. Podcast Kanal Misteri Arta Guntur


Host: Arta Guntur

Asisten Host dan Sutradara: Beby Mercon

Narasumber: Hendar Cipta aka. Pakdhe Bria, pemilik sekaligus kepala sekolah yayasan pendidikan Bakti Karya Cipta

___

(Di sebuah studio mini milik sebuah rumah produksi kecil Kanal Misteri Arta Guntur. Persiapan sudah rapi dan tinggal menunggu waktu tepat. Arta Guntur (host) dan Hendar Cipta sedang berbicara perlahan dengan saling mendekatkan wajah mereka. Ada sesuatu yang penting menurut Arta dan harus disampaikan kepada narasumbernya kali ini sebelum sesi dimulai). 

___

Arta: Bapak Hendar, podcast ini akan diedit sebelum ditayangkan kepada publik. Sebelum editing, kami akan menunjukkan hasil seluruh wawancara ini kepada anda. Nanti adalah kewajiban bapak untuk memangkas atau menambahkan beberapa bagian bila diperlukan. Mana yang layak tayang bagi bapak dan mana yang harus kami buang, Bapak-lah yang berhak menentukan. Sudah hapal dengan materi yang bapak siapkan dari rumah? 


(Arta membetulkan clip on di kerah tuan Hendar Cipta supaya tidak tertangkap oleh kamera.)


Hendar: Sudah! baik! Terima kasih sekali pengertiannya. Hal ini akan menjadi sangat sensitif bagi keluarga kami. 


Arta: Beby, ready to rock and roll! 


Beby mercon: OK! 


(kepada kru) KAMERA! Rolling, Action! 


(Semua kru mulai dengan tugas mereka masing-masing dan suasana menjadi tenang.)


Arta: Selamat datang di kanal Misteri Arta Guntur. Kali ini bapak Hendar Cipta akan menjadi narasumber yang akan membeberkan fakta fakta yang selama ini menjadi spekulasi banyak pihak. Bapak Hendar, selamat malam, selamat datang di Kanal Misteri Arta Guntur. 


Mohon maaf sebelumnya bila banyak hal yang tidak mengenakkan telah terjadi karena pemberitaan saya di beberapa waktu lalu, telah berkembang menjadi rumor tidak sedap bagi keluarga Cipta, ee.. 


Mengenai kisah tragis keluarga Irawati Cipta. Saya memiliki beberapa video tentang laka yang menimpa mobil nyonya Irawati Cipta, tuan Heri Sapardi dan Septa Anggraeni di jalan Merapi-Merbabu. Kalau tidak keberatan saya akan memutarnya sebagai bagian dari pembuka kanal hari ini. Apakah anda setuju? 


Tuan Hendar: Silahkan saja, toh semua memang sudah terjadi dan saya kadang harus membiarkannya mengalir begitu saja. Misteri di keluarga kami sudah menjadi rahasia publik. Tak perlu ada lagi yang ditutup tutupi. 

___

(Layar menyayangkan peristiwa kecelakaan yang terekam video cctv lampu merah di perempatan Merapi-Merbabu. Sebuah mobil suv mahal dari Mercedes-Benz tergelincir menghindari seorang nenek penyeberang jalan ketika lampu merah menyala hijau. Akibatnya mobil SUV itu terguling menabrak emper sebuah toko dan bagian depannya hancur total. Beberapa warga tampak datang berkerumun dan tak lama kemudian tempat kejadian kecelakaan telah penuh.)


(Tidak sampai sepuluh menit petugas dari kepolisian datang dan memasang Police line supaya tidak ada warga yang mendekat dan memberi ruang kepada para polisi untuk memeriksa keadaan korban dan mengevakuasinya keluar dari mobil. Polisi menanyai beberapa saksi mata termasuk seorang nenek tua yang menyeberang dengan sembrono dan mengakibatkan kecelakaan tadi. Ternyata dia seorang gepeng - gelandangan pengemis yang sering mangkal di lampu merah tersebut untuk mencari nafkah sedekah.)


(Ambulans datang meraung raung membuat warga segera menyingkir memberi jalan. Dan tiga tandu mengangkat korban ke dalam ambulans. Kemudian suara raungan sirine terdengar kembali menjauhi tempat kecelakaan menuju ke rumah sakit terdekat. Seorang polisi dimintai keterangan oleh beberapa wartawan mengenai kronologi suara kejadian kecelakaan.)


Polisi : Ini kecelakaan tunggal. Murni kecelakaan. Mobil suv ini, (sambil menunjuk suv mercy yang rusak parah membentur tembok etalase sebuah toko) sedang berusaha menghindari seorang penyeberang yang tidak melihat bahwa saat itu lampu sedang hijau. Karena terkejut sopirnya membanting setir ke kiri dan tidak bisa mengendalikan laju mobilnya. Mobil langsung saja menabrak kaca etalase toko dan berakhir menabrak dinding dengan kecepatan tinggi. Mungkin sekitar 60 Sampai 70 km per jam. Beberapa saksi mata menyatakan hal yang sama sehingga membuat kami yakin kecepatan SUV itu cukup tinggi. 


Wartawan Pria: Apa sudah teridentifikasi korbannya pak?


Polisi : Sudah .. Sudah semua.. Dari kartu identitas mereka, korban adalah Irawati Cipta dan suaminya Heri Sapardi. Mereka berdua dinyatakan meninggal di tempat. Sedang seorang anak perempuan yang masih berusia 3 tahunan sudah dipastikan putri mereka, saat ini dalam keadaan kritis dan segera dilarikan ke rumah sakit terdekat. Kami sudah menghubungi pihak keluarga korban dan mereka sedang menuju ke sana. Ehh. Rumah sakit Karya Waras. Kalian bisa minta keterangan tentang nasib korban di sana. 


Para Wartawan: 


+ Boleh kami ambil gambar kendaraan, pak? 

+ Irawati Cipta pemilik yayasan pendidikan itu, ya pak? 

+ Keluarga Cipta yang itu, ya pak?.. 


(Pertanyaan yang seperti hujan peluru itu tidak lagi di tanggapi oleh petugas. Dia kembali melaksanakan kewajibannya mengatur evakuasi kendaraan. Derek telah datang dan mereka mengawalnya ke kantor satpolantas untuk pemeriksaan lebih lanjut.)

___

(Layar monitor besar itu kemudian menayangkan kembali video keadaan mobil yang membawa keluarga malang itu. Bemper sebelah kiri rusak parah sampai benar-benar hancur hingga ke bagian depan di mana pasangan Irawati dan Heri duduk dan terjepit dashboard mobil. Darah masih segar menggenangi mobil dan jok tempat duduk mereka. Kaca depan dan seluruh kaca samping kiri berhamburan memenuhi seluruh bagian dalam mobil sampai ke jok belakang. Serpihan kecil dan serpihan besar hampir merata bercampur dengan genangan darah.)


(Dan di dalam jok belakang sopir, terlihat sebuah boneka besar berwarna kuning berwujud Unicorn, tampak berlumuran darah di beberapa tempat. Boneka itu milik korban yang duduk di jok belakang pengemudi dan saat itu sedang dalam keadaan kritis di rumah sakit. Septa Angraeni, gadis kecil yang baru berusia 3 tahun ketika kecelakaan maut itu terjadi. 

Nafas Hendar Cipta tampak tersengal menyaksikan tayangan peristiwa tragis itu. Walau sudah lewat seratus hari kecelakaan itu, tetapi kenangan-kenangan tragis yang ditinggalkannya sungguh sangat terasa mengiris hati, dan melukai perasaan lelaki yang berusia mendekati lima puluh tahun itu.) 

___

Arta Guntur: Sayang sekali korban Septa Anggraeni meninggal dunia sehari kemudian. Kami turut berduka cita sedalam dalamnya karena peristiwa tragis itu telah membuat keluarga Irawati dan Heri Sapardi mendahului kita kembali kepada hadirat sang maha kuasa. Semoga keluarganya diberi ketabahan. 


Hendar : ya.. Kami sangat kehilangan. Dan itulah sebabnya kami merawat dengan baik penerus keluarga adik saya. Bria adalah satu satunya keluarga yang tidak ikut dimobil itu. Anak itu kebetulan sedang menginap di rumah kami. Dan itu kebiasaannya di akhir pekan ketika anak bungsu saya sedang di rumah. Jangan tanyakan lagi dan jangan berspekulasi. 


Arta: Ya.. Ya.. Kita tidak sedang membahas hal itu. Kami hanya ingin tahu apa yang terjadi setelah itu sehingga terjadi rumor yang benar-benar masiv menghantam nama baik keluarga Cipta. Tentang pesugihan lah.. Tumbal lah.. Perebutan harta dan yayasan lah.. Dan banyak lagi. 

___

(Kamera beralih menyoroti gadis cantik yang berambut panjang di kucir dua dengan kacamata tebal. Beby Mercon, host Pembuka kanal Misteri Arta Guntur. Dengan mengenakan sweater krem dengan kerah menutup leher dan bawahan miniskirt merah maroon bermotif kotak kotak. Di kakinya adalah sepasang kaus kaki tinggi, sedikit di bawah lutut, dan sepasang sneaker mahal.)


Beby Mercon: Oke pemirsa yang selalu setia mengikuti Kanal Misteri Arta Guntur, hari ini kami hadirkan salah satu anggota keluarga Cipta yaitu bapak Hendar Cipta, kakak kandung almarhumah, ibu Irawati Cipta, yang telah berpulang ke rahmat Tuhan di surga bersama suaminya, almarhum bapak Heri Sapardi dan putri bungsunya yang baru berusia tiga tahun, Septa Angraeni. Semoga khusnul khotimah. Kehadiran bapak Hendar Cipta kali ini adalah untuk meluruskan segala hal miring dan melecehkan nama baik pihak keluarga Cipta, yang dilakukan oleh beberapa kanal media sosial, berkaitan dengan kisah-kisah mistis yang terjadi setelah kecelakaan, yang mengakibatkan tiga anggota keluarga Irawati Cipta meninggal dunia. 


Saya harap beberapa kanal yang tidak melakukan klarifikasi dan meminta ijin terlebih dulu, dan telah menayangkan peristiwa-peristiwa di rumah besar keluarga Irawati Cipta secara sepihak tanpa pemberitahuan, maka setelah mendengar klarifikasi ini, kalian harus menarik kembali tayangan kalian dan meminta maaf kepada pihak keluarga tuan Hendar, yang secara psikologis, telah anda rugikan dengan menyebar berita hoaks di komentar-komentar spekulatif kalian. 


Inilah fakta yang sebenarnya dari peristiwa mistis yang terjadi di rumah besar nyonya Irawati. Langsung dari nara sumber yang menjadi saksi, yang akan kami hadirkan kepada pecinta setia Kanal Misteri Arta Guntur. 

___

Arta: Ok.Terima kasih, Beby, Eee... Terima kasih sebesar-besarnya  kepada bapak Hendar Cipta, yang telah berkenan dan bersedia meluangkan waktunya untuk hadir di studio mini kami. Selamat datang di Kanal Misteri Arta Guntur. 


Hendar: Ya, sama sama, Arta .. 


Saya harus meluruskan beberapa hal yang banyak dibelokkan oleh Kanal lain di media sosial dan menjadi rumor yang memperburuk citra keluarga kami, dan sebenarnya ini aib.. Rahasia keluarga juga.. Tetapi toh kami memutuskan: harus diklarifikasi!


Baik, saya Hendar Cipta, adalah kepala yayasan dan pemilik, sekaligus pendidik juga di yayasan Bangun Cipta Karya, tidak akan membiarkan spekulasi para konten kreator mendiskreditkan nama baik kami walau tidak disangkal, memang telah terjadi kejadian mistis di rumah adik saya, Irawati Cipta, yang telah terjadi dan benar adanya sesuai dengan nara sumber mereka yaitu Rasmi dan Saipul. Tetapi spekulasi kalian yang melebar ke mana-mana tidak benar adanya. 


Arta: ok.. Baik.. Langsung saja. Bagaimana awalnya peristiwa-peristiwa mistis itu terjadi. Kira-kira dari mana sumbernya?


Hendar: Saya pikir kejadiannya adalah setelah empat puluh hari meninggalnya Septa, keponakan saya yang baru berusia tiga tahun, dan menjadi korban setelah sehari dirawat di rumah sakit setelah kecelakaan itu, dan dokter sudah tidak bisa lagi menyelamatkan hidupnya.. Ehh.. Bria sangat shock.. Dia sangat kehilangan.. 


Arta: Kami turut prihatin bapak.. Mohon maaf sebesar-besarnya bila sesi kali ini membuat bapak menjadi kembali berduka karena kami membuka luka yang seharusnya tidak boleh kami eksploitasi di sini. Kami bisa ikut merasakan kehilangan anda. 


Hendar: Irawati adalah satu-satunya adik saya. Ketika istri saya meninggalkan saya sendirian dengan dua anak yang masih kecil dulu, Irawati dan Heri yang selalu mendampingi saya untuk tetap kuat dan tabah. Saya tidak menyangka semuanya begitu cepat pergi meninggalkan saya sendirian. 


Rasanya seperti seorang yang sedang dikucilkan oleh Tuhan, di mana satu-persatu orang yang dicintai dan mau mengerti dirinya dipungut kembali ke sisi Tuhan di sana. Saya berusaha melakukan hal yang sama, yaitu tabah dan sabar dengan berusaha menerima kenyataan bahwa mereka sudah pergi. Tidak ada yang bisa saya lakukan untuk membawa mereka kembali. Itu saja.. 


Arta : Amin.. Semoga tetap diberikan kekuatan lahir batin. Bisa kita lanjut atau break dulu sebentar mungkin? 


Hendar: Tidak. Kita lanjut saja. Keluarga Irawati meninggalkan seorang anak yang kebetulan pada malam kejadian itu sedang berada di rumah saya, jadi dia tidak ikut semobil dengan ayah, ibu dan adiknya dalam kecelakaan itu. Saya bersyukur sekali karena Tuhan masih menyisakan satu anugerah yang menjadi bukti bahwa Irawati dan Heri Sapardi benar-benar pernah menjadi bagian dari keluarga kami dan sebaliknya. Bria Jasmin Angraeni adalah putri pertama mereka. Dan masih duduk di kelas dua sekolah dasar di yayasan pendidikan kami. 


Bria dalah keponakan favorit saya. Bagaimanapun juga dia anak dari adik kandung saya yang menjadi tanggung jawab saya sebagai wali sekaligus orang tuanya, maka sudah menjadi kewajiban saya untuk memberi yang terbaik baginya. Dia itu.. anak yang malang. Di usia belianya dia sudah ditinggal pergi oleh seluruh keluarganya. Ayah, ibu, dan adik yang dicintainya.


Arya: Saya sangat mengerti sekali. Maaf, menurut beberapa orang dekat Bria, dia itu seperti diikuti oleh sesuatu... Eee... Seperti entitas dari golongan "bukan manusia". Apakah itu benar? 


Hendar: Saya pikir tidak ada yang aneh dari dirinya. Dia tetap saja anak yang tertutup, pemalu, dan berusaha menghibur diri dengan sangat keras usahanya. Saya yakin tidak mudah baginya ketika mendapatkan kenyataan itu. Dari kehidupan yang biasanya ceria karena ada ayah, ibu dan adik yang sangat mencintainya, tiba-tiba menjadi dunia yang sepi dalam sekejap. Tidak ada yang dikenalnya lagi setelah kami. Semua adalah orang baru yang saya minta bantuannya untuk merawat dan mendidik Bria seperti keluarga sendiri. Rasmi dan Saipul adalah keluarga yang mengenal ibu Bria karena pernah bekerja untuk mereka di masa lalu. Dan saya yakin Rasmi dan Saipul merawatnya dengan baik. 


Arta: ehh.. Apa Bria bisa menerima kehadiran mereka menjadi pengganti orang-orang terdekatnya dulu? 


Hendar: Saya tidak yakin, tetapi saya bisa mempercayai mereka. Keduanya selalu melaporkan kepada saya tentang keadaan Bria, saya berharap mereka melaporkan apa adanya dan dengan jujur, ini masalah psikologi anak. Jadi saya tidak aku main-main dengan itu. Saya mengupah mereka tinggi. Dan mereka tahu apa yang harus mereka lakukan untuk menjadi pengasuh Bria.


Awalnya tidak ada yang aneh. Semua biasa-biasa saja. Baru setelah peringatan empat puluh hari meninggalnya keluarga Ira, masalah itu baru terlihat. Saya benar-benar tidak peka sama sekali dan mengabaikan hal-hal yang saya anggap remeh sampai akhirnya menjadi sebuah kekacauan. 


Arta: Wow.. Mulai terjadi sesuatu keanehan mungkin? 


Hendar: ya.. Keponakan saya yang mulai bertingkah aneh. Ketika mereka bilang ada sesuatu yang mengerikan di belakang Bria, saya tidak percaya. Bria memang sangat aktif dan cenderung semaunya sendiri di usianya, tetapi saya akan marah kepada siapa saja yang mengatakan bahwa dia kerasukan. 


Arta: Tentu saja.. Saya akan melakukan hal yang sama bila ada orang lain yang menganggap keluarga saya aneh. Tetapi bukankah sampai terjadi... maaf, penyerangan fisik yang sangat berbahaya, kepada bu.. Eehh.. Bu Rasmi, ya?


Hendar: Ya, Rasmi. Dia orang yang baik dan setia. 


Waktu itu saya pikir Rasmi terluka karena kecerobohan dia. Kukunya memang panjang berkutek merah muda, rapi dan terlihat tidak wajar bagi seorang pembantu rumah tangga. Tapi sepertinya ia sangat suka kerapian dan akan memperhatikan hal kecil sekalipun secara detail dengan disiplin tinggi. Saya justru membayarnya tinggi dengan harapan dia bisa menjadikan Bria nyaman. Sebagai pasangan yang belum dikaruniai anak, Bria seharusnya bisa menjadi tempat curahan kasih mereka. 


Arta: Anda memang detail dalam mengamati orang sampai ke kuku-kukunya. Saya jadi malu sendiri karena jarang merawat kuku dan membiarkannya ee.. Sedikit kotor... 


Hendar: Kuku, setiap orang bisa melihat, dan kadang bisa menjadi cara membaca karakter seseorang. Jadi bukan masalah bila saya menganggap Rasmi ini, termasuk orang yang suka kerapian dan kebersihan, karena menurut saya, orang yang selalu merawat kuku adalah orang-orang yang teliti. 


Arta: Wow... Luar biasa sekali... 


Hendar: Beberapa hari sebelum kecelakaan yang menimpanya terjadi, Rasmi pernah mengeluh bahwa dia tidak kuat lagi merawat Bria. Saya pikir ini hanya strategi mereka saja supaya uang gaji dinaikkan. Pasti lelah sekali melihat setiap hari Bria mengacau dan mengacak-acak seluruh rumah. Suaminya yakin sekali bahwa itu bukan ulah Bria. Itu ulah iblis yang merasukinya. 


Saya tentu saja marah mendengar pernyataan Saipul. Suami-istri ini kok bicaranya makin lama makin  ngawur. Sampai akhirnya, saya tanpa banyak pertimbangan lagi, menaikkan gaji mereka hampir dua kali lipat agar mereka tidak berpikir untuk mencari alasan keluar dari pekerjaannya. Anda tahu jaman sekarang bukan? Sulit sekali mencari orang yang bisa dipercaya. Sedang si Rasmi itu, sejak masih gadis pernah ikut dengan adik saya. Ibu Bria. 


Akhirnya mereka dengan jujur bilang bahwa ini bukan semata-mata masalah gaji, karena mereka merasa cukup dengan pemberian saya. Mereka bersyukur gaji dinaikkan lagi. Tetapi Rasmi masih menunjukkan sikap takut dan khawatir. Akhirnya saya pun berpikir. Apa sih yang membuat mereka menjadi seperti tersiksa seperti itu hanya untuk mengasuh dan mengasihi seorang anak kecil bernama Bria? Senakal-nakalnya anak kecil, seharusnya mereka bisa mengendalikannya. Setelah mempertimbangkan lebih lanjut, akhirnya saya menuruti saran Rasmi dan Ipul untuk memanggil paranormal terkenal. 


Arta: Paranormal? Anda juga percaya hal begituan?


Hendar: Saya tidak menolak hal itu, bukan berarti saya percaya begitu saja. Kalau itu bisa meyakinkan Rasmi dan Saipul bahwa Bria dan rumah ini baik-baik saja, tentu mereka akan tidak merasa terpaksa tinggal di sini menemani Bria. 


Akhirnya mereka datang, memeriksa keadaan rumah dengan teliti. Sampai akhirnya paranormal itu menyatakan, tidak ada apa-apa. Dan mereka bilang semua baik-baik saja. Jadi, ya, begitu saja. Mereka langsung pulang. Dan saya memutuskan tinggal sementara waktu untuk mengawasi mereka, maksud saya, Rasmi dan suaminya, juga keponakan saya, Bria. Saya kemudian memasang cctv untuk memastikan saya bisa mengawasi keadaan rumah. Bukan untuk mencurigai mereka... Sama sekali bukan.


Saya membayar orang untuk memasang cctv dengan harapan bila saya sedang tidak bisa tinggal, maka saya bisa tahu apa yang sebenarnya terjadi. 

___

Suatu hari Rasmi dan Saipul mendapatkan celaka. Entah bagaimana, saya tidak mengerti. Saya periksa di cctv,.. Dan.. Saya.. Saya jadi bertanya tanya sendiri. Benarkah tidak terjadi apa-apa yang melibatkan campur tangan entitas tidak terlihat? Kenapa paranormal itu meyakinkan rumah ini baik-baik saja padahal saya menyaksikan lewat rekaman cctv, ada sesuatu yang membuat saya merinding. 


Arta: Apakah anda menyaksikan penampakan di rekaman itu? 


Hendar: Bukan! Bukan penampakan! Sesuatu yang lain yang saya pikir lebih mengerikan dan berbahaya daripada sekedar penampakan sosok mengerikan, kalau itu yang dimaksud Arta. Ini adalah barang-barang yang bergerak dan terlempar dengan sendirinya! 


Arta: oh My God.. Barang-barang bergerak sendiri? Tanpa terlihat siapa yang menggerakkannya? Luar biasa mengerikan! 


Hendar: Ya! Akhirnya saya percaya kepada Rasmi dan Saipul. Sesuatu begitu mengerikan terjadi menimpa mereka. Tetapi saya tidak melihat Bria melakukan hal jahat itu kepadanya. Dia hanya bermain dengan boneka-bonekanya lalu ke kamar untuk,.. tidur mungkin.. Dan kejadian itu baru terjadi. 


Lemari besar itu entah bagaimana bisa roboh menimpa Rasmi. Dan Saipul yang hendak membantu tak bisa melewati pintu yang tiba-tiba tertutup tanpa seorangpun terlihat di rekaman cctv. Dia menabrak pintu itu dan tertimpa jam dinding di kepalanya sampai pingsan. 


Arta: o em ji.. mengerikan sekali.. Semua benar-benar bergerak sendiri dan meneror mereka berdua? 


Hendar: Ya.. Saya bisa memberikan salinan rekamannya bila anda mau. 


Arta: Tentu saja saya mau. Ini adalah hal langka. Selama ini video-video penampakan atau sesuatu yang bersifat supranatural kebanyakan atau 99%-nya adalah rekayasa. Sekalipun itu dibungkus dengan kata "based on true Story" atau dibuat filmnya dengan pengantar semacam itu. Saya selalu bilang itu adalah pembohongan publik. Bila saya mendapatkan salinan rekaman itu, apakah anda mengijinkan kanal kami untuk menayangkannya? 


Hendar: Saya tidak keberatan. Boleh saja. Asal saya diijinkan menyensor bagian-bagian yang bersifat pribadi bagi Bria. 


Arta: Tentu.. Tentu.. Itu hak bapak. 


Hendar: Baik saya lanjut. Saya akhirnya memutuskan untuk memanggil kembali paranormal itu dan meminta mereka melihat rekaman cctv. Mereka harus tahu bahwa keadaan di rumah kami benar-benar tidak baik-baik saja. Menurut analisa mereka, itu memang iblis. Dan sangat kuat sampai mereka tidak bisa mendeteksinya dari awal. Iblis itu bersembunyi ketika mereka datang, dan menyerang Rasmi dan suaminya ketika tidak ada mereka.


Aneh sekali. Seperti memiliki dendam pribadi dengan keduanya.


Arta: dendam pribadi ya.. Apakah karena Rasmi dulu pernah bekerja di situ lalu pernah berbuat kesalahan atau apa begitu? Maaf.. ini termasuk spekulasi yang tidak perlu. Abaikan saja.. 


Hendar: Tidak! Tidak... Saya tidak tahu pasti tentang itu. Saya pikir tidak juga. Rasmi itu orangnya lugu 6dan jujur. Kalaupun pernah berbuat kesalahan, tentu tidak disengaja. Dan saya yakin Irawati ataupun Heri akan bisa memaafkannya. Bukankah dia mundur dari pekerjaan lamanya dengan baik-baik. Saya tahu pasti hal itu. 


Bab Sebelumnya | Bab Berikutnya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KARMA-Tuhan yang Kulekatkan di Namaku

UNICORN - Cerita Horor Boneka Arwah Terkutuk