KURU – Cerita Horor Science Fiction Wabah Zombie di Pedalaman Papua - Bagian 3

Gambar
  03 - Manase yang Teguh "Bagaimana kau bisa kehilangan orang-orangmu, Manase?" tanya Waromi yang duduk begitu saja di lantai di luar tikar gelaran. Dia sedang memegang cangkir kaleng yang berisi kopi hangat. Walau tanpa gula tetapi Waromi bisa menikmati kehangatannya melewati tenggorokan dan menyentuh rongga dadanya yang nyaris beku karena kedinginan di bawah hujan tadi. "Hhh. Aku terlalu ceroboh dan tanpa perhitungan. KhaKhua ternyata sudah mengincar tempat ini sejak lama. Aku menampung anak Numfor yang terluka di sini. Dan aku tidak tahu kalau dia adalah KhaKhua. Aku perintahkan abang si Isak untuk merawat lukanya. Sementara kami berangkat berburu dan memanah ikan di sungai. Kami pulang ke gubuk menjelang sore dengan buruan yang banyak.  Sesampai di gubug kami tidak menemukan anak Numfor dan yang lainnya. Setelah mencarinya ternyata anak Numfor dan abang Isak sedang memakan tubuh Elias hidup-hidup. Aku marah dan menangkap anak Numfor. Menembaknya di kepala, tepat di a...

KARMA-Tuhan yang Kulekatkan di Namaku


Apakah Ibadah Bisa Salah Arah? Kisah Ini Menjawabnya.  Ia Menggunakan Nama Tuhan, Lalu Kehilangan Segalanya




KARMA - (Tuhan yang Kulekatkan di Namaku) 

Aku lahir sebagai anak pertama, dan sejak kecil aku tahu satu hal:
cinta tidak pernah gratis.
Ayah selalu berdiri di barisan depan masjid. Sorbannya rapi, suaranya lantang, doanya panjang. Orang-orang menunduk ketika ia lewat. Mereka memanggilnya dengan gelar yang ia kumpulkan seperti piagam—ustaz, sesepuh, tokoh. Ayah hidup dari hormat. Tanpanya, ia seperti kehilangan napas.
Di rumah, ayah tidak mengajarkan kasih. Ia mengajarkan posisi.
Siapa di atas, siapa di bawah.
Ibu berbeda. Ia tidak peduli dihormati. Ia bekerja. Setiap hari. Tanpa henti. Tangannya kasar, matanya tajam, pikirannya penuh hitungan. Uang baginya bukan alat, tapi tujuan. Dan tujuan tidak boleh dibocorkan dengan rasa iba.
Aku masih ingat bau telur itu.
Busuk, tapi digoreng sampai kering.
“Masih bisa dimakan,” kata ibu.
“Jangan manja.”
Sejak hari itu aku belajar:
kenikmatan adalah kemewahan,
dan kemewahan hanya untuk orang yang menang.
Sebagai anak sulung, aku cepat mengerti. Aku melihat bagaimana ayah dipuja di luar rumah tapi ditakuti di dalam. Aku melihat bagaimana ibu menguras dirinya sendiri sambil menguras kami. Aku tidak membenci mereka. Aku mempelajari mereka.
Aku belajar bahwa agama bisa membuat orang diam.
Dan uang bisa membuat orang patuh.
Kemiskinan tidak membuatku lemah.
Kemiskinan membuatku tajam.
Aku bersumpah pada diriku sendiri: aku tidak akan hidup menunggu belas kasihan. Aku tidak akan makan sisa. Aku tidak akan menunduk kecuali aku mau. Dan untuk itu, aku harus mengatur segalanya.
Ketika aku menikah dengan lelaki dari Malaysia, orang desa bilang aku beruntung. Bos besar, kata mereka. Aku tersenyum dan mengangguk. Mereka tidak tahu bahwa aku tidak mencari cinta. Aku mencari jalan keluar.
Aku meninggalkan desa tanpa rasa kehilangan. Desa hanya menyisakan bau lumpur dan rasa lapar yang disamarkan doa. Di Malaysia, aku membangun hidup yang berbeda. Aku menjadi istri yang rajin beribadah. Mukena bersih. Doa panjang. Air mata jatuh di waktu yang tepat.
Orang percaya pada air mata.
Tuhan pun, kupikir, pasti mengerti.
Suamiku percaya. Ia memberiku dua anak lelaki dan kebebasan mengatur keuangan. Aku tidak memerintah. Aku membiasakan. Hingga tanpa sadar, ia meminta izin bahkan untuk hal-hal kecil.
Anak-anakku tumbuh rapi. Terjadwal. Patuh. Mereka takut padaku, dan aku menyebutnya hormat. Bukankah ayahku juga begitu? Dan orang-orang memujanya.
Aku jarang pulang ke desa. Untuk apa membuang uang melihat masa lalu yang gagal? Aku mengirim uang sewajarnya. Lima ratus ribu. Kadang sejuta. Itu sudah cukup. Lebih dari cukup.
Adik perempuanku mengurus orang tua. Ia memang cocok. Ia tidak punya ambisi. Orang seperti itu ada untuk bekerja, bukan untuk memutuskan.
Aku hidup dengan tenang. Semua terkendali. Semua terhitung.
Aku tidak tahu—atau mungkin tidak mau tahu—bahwa hidup yang dibangun dari rasa takut miskin, suatu hari akan menagih bayaran.
Dan bayaran itu
bukan uang.
Bukan hormat.
Melainkan
kesepian.

Agama datang ke hidupku bukan sebagai pelukan,
melainkan sebagai alat.
Aku belajar itu dari ayah.
Dan aku menyempurnakannya.
Di Malaysia, aku membangun wajah yang disukai orang. Setiap subuh aku sudah bangun. Mukena kugantung di tempat paling terlihat. Aku hafal ayat-ayat yang tepat untuk menutup mulut orang, doa-doa yang terdengar tulus, dan kalimat pasrah yang membuatku tampak rendah hati.
Padahal aku tidak pernah pasrah.
Aku hanya menunggu.
Pengajian menjadi panggung kecilku. Aku duduk paling depan, menunduk lebih lama dari yang lain, menangis di bagian doa yang memang pantas ditangisi. Orang-orang mulai mempercayaiku. Mereka bercerita. Mereka meminta pendapat. Mereka menganggapku perempuan baik-baik.
Aku menyukai perasaan itu.
Hormat yang tidak perlu kupaksa.
Di rumah, agama berubah wujud. Ia menjadi aturan. Jadwal. Hukuman tak tertulis. Anak-anakku harus patuh, bukan karena cinta, tapi karena takut berdosa. Aku tidak memukul. Aku tidak berteriak. Aku hanya mengingatkan bahwa Tuhan melihat.
Dan anak-anak percaya.
Karena ketakutan selalu lebih mudah diwariskan daripada kasih.
Suamiku pun begitu. Ia lelaki yang lelah. Ia bekerja, pulang, dan diam. Ketika ia mencoba mengeluh, aku membungkus kemarahanku dengan ayat. Ketika ia mempertanyakan keputusanku, aku menjawab dengan dosa dan pahala.
Ia akhirnya berhenti bertanya.
Aku menyebutnya kedewasaan.
Orang tuaku di desa mulai menjauh, meski jarak kami tidak pernah berubah. Aku jarang menelepon. Jika menelepon pun, aku berbicara seperlunya. Suara ibu selalu sama—lelah, penuh hitungan. Suara ayah selalu penuh kebanggaan yang dipaksakan.
Aku tidak rindu.
Rindu adalah kemewahan bagi orang yang punya waktu.
Aku mengirim uang sekadarnya. Bukan karena cinta, tapi karena kewajiban sosial. Aku tidak ingin ada yang bertanya. Aku tidak ingin namaku tercoreng. Lima ratus ribu cukup untuk menutup mulut. Sejuta, jika aku sedang ingin merasa baik.
Aku tahu mereka menunggu lebih.
Aku juga tahu mereka tidak akan berani meminta.
Hubungan kami tidak putus.
Ia hanya mengering.
Dan aku membiarkannya. Karena hubungan yang terlalu dekat selalu berbahaya. Ia membuat orang berharap, dan harapan adalah celah yang bisa melukai rencana.
Aku yakin aku melakukan hal yang benar. Aku mendidik. Aku menjaga. Aku mengatur. Jika mereka takut, itu karena dunia memang menakutkan. Aku hanya mempersiapkan mereka.
Bukankah Tuhan menyukai keteraturan?
Aku tidak merasa bersalah.
Aku merasa dipilih.
Dan orang-orang yang merasa dipilih
selalu punya alasan
untuk melakukan apa pun.
   
Aku tidak pernah lupa orang tuaku.
Aku hanya mengingat mereka seperlunya.
Setiap tahun aku mengirim uang. Tidak tentu bulan. Tidak tentu jumlah. Kadang lima ratus ribu, kadang sejuta. Itu cukup. Mereka hidup di desa. Biaya hidup tidak besar, begitu pikirku. Lagi pula, terlalu banyak memberi hanya akan membuat orang malas.
Aku tidak pernah menanyakan apa-apa. Aku juga tidak ingin ditanya. Hubungan kami sederhana: aku memberi, mereka menerima. Tidak ada hutang budi di luar itu.
Adik perempuanku tinggal bersama mereka. Ia mengurus sawah, rumah, dan keperluan harian. Ia tidak pernah mengeluh. Atau mungkin ia mengeluh, tapi aku tidak mendengarnya. Orang seperti dia memang diciptakan untuk bertahan, bukan untuk menuntut.
Lalu suatu hari, telepon dari desa berubah nadanya.
Adik perempuanku bilang ia akan merantau. Anaknya sudah lulus sekolah. Ia ingin menyiapkan masa depan mereka. Kata-katanya ragu, seolah ia meminta izin. Aku mengangguk di seberang telepon, meski ia tak bisa melihat.
“Silakan,” kataku.
“Itu memang kewajiban orang tua.”
Aku tidak merasa kehilangan.
Aku merasa terganggu.
Siapa yang akan mengurus ayah dan ibu?
Aku menghitung cepat. Sawah masih ada. Rumah masih berdiri. Ayah masih bisa berjalan, meski napasnya pendek. Ibu keras kepala, seperti biasa. Mereka tidak akan langsung mati hanya karena ditinggal.
Tapi tubuh tidak pernah peduli pada perhitungan.
Beberapa bulan kemudian, ibu mulai sering sakit. Ayah menyusul. Telepon datang lebih sering. Suaranya lebih pelan. Lebih meminta. Aku mulai jarang mengangkat.
Aku sedang sibuk.
Anak-anakku sekolah.
Biaya hidup naik.
Semua orang punya masalah.
Aku tidak tega, kata orang. Tapi aku percaya satu hal: orang tua juga harus tahu batas. Anak-anak tidak dilahirkan untuk menghabiskan hidup mengurus masa lalu.
Aku menambah kiriman sekali. Sejuta. Agar tenang. Agar tidak ada suara di kepala. Setelah itu, aku kembali diam.
Desa mulai terasa jauh. Bukan karena jarak, tapi karena aku tidak ingin dekat. Kedekatan selalu menuntut. Dan aku tidak ingin dituntut.
Aku tahu ibu dan ayah mulai sering sendirian. Aku tahu mereka sakit-sakitan. Tapi aku juga tahu satu hal lain—tanah itu masih ada. Sawah itu masih atas nama mereka.
Aku belum siap kehilangan semuanya.
Bukan mereka.
Tapi yang mereka miliki.
Dan sejak saat itu, setiap telepon dari desa tidak lagi terdengar seperti kabar.
Ia terdengar seperti ancaman.

Ibu meninggal bukan di rumahnya sendiri.
Ia menghembuskan napas terakhir di tempat asing, di rumah mertua adik bungsuku, di luar desa, jauh dari sawah yang ia garap seumur hidup, jauh dari dapur sempit tempat ia menggoreng telur busuk untuk kami. Aku mendengar kabar itu lewat telepon, dengan suara yang terputus-putus dan kalimat yang terlalu panjang.
Aku menutup telepon tanpa menangis.
Aku duduk lama, bukan karena sedih, tapi karena mencoba merasakan sesuatu yang seharusnya ada. Orang-orang bilang kehilangan ibu adalah lubang yang tak bisa ditutup. Tapi yang kurasakan hanya ruang kosong, bersih, sunyi, tanpa gema.
Aku memaksa air mata keluar ketika orang bertanya. Aku menunduk. Aku mengucap inna lillahi. Aku tahu kalimatnya. Aku tahu waktunya. Kesedihan adalah bahasa yang bisa dipelajari.
Pemakaman dilakukan di desa ipar. Alasannya sederhana: ibu sudah terlalu lemah untuk dipindahkan. Aku mengangguk setuju, walau dalam hatiku ada satu rasa yang mengganggu—bukan kehilangan, tapi keterasingan. Ia mati tanpa kembali. Tanpa menyentuh tanah yang ia sebut rumah.
Dan anehnya, aku tidak marah.
Mungkin karena sebagian diriku tahu: ibu tidak pernah benar-benar pulang kepada kami juga. Ia selalu sibuk mengejar cukup. Dan cukup tidak pernah datang.
Ayah menyusul jatuh sakit. Tubuhnya merosot cepat, seolah setelah ibu pergi, tidak ada lagi yang perlu dipertahankan. Aku tahu saat itulah waktunya. Bukan untuk berduka, tapi untuk hadir.
Aku pulang ke desa dengan wajah yang tepat. Tetangga menyambutku dengan tatapan iba. Mereka bilang aku anak yang jauh tapi peduli. Aku membiarkan mereka berkata begitu. Aku duduk di samping ayah, memegang tangannya lebih lama dari yang biasa kulakukan.
Aku mulai memainkan peranku.
Aku bicara tentang bakti. Tentang pengorbanan. Tentang kewajiban anak sulung. Kata-kata itu mengalir lancar, seolah sudah lama menunggu untuk keluar. Orang-orang mengangguk. Mereka percaya. Kepercayaan adalah mata uang yang murah jika kau tahu cara membelinya.
Di sela-sela semua itu, pikiranku bekerja.
Ibu sudah tidak ada.
Ayah melemah.
Sawah masih utuh.
Tanah belum berpindah tangan.
Aku tidak merasa bersalah memikirkan itu. Kematian selalu membawa perubahan, dan perubahan harus diatur. Jika tidak, orang lain akan mengambil alih.
Aku menatap wajah ayah yang pucat dan berkata pada diriku sendiri: aku akan mengurusnya. Demi keluarga. Demi nama baik. Demi apa pun yang terdengar mulia.
Dan mungkin juga, 
demi apa yang akan tersisa
setelah semuanya benar-benar selesai.
Sejak hari ibu dikuburkan jauh dari rumahnya sendiri, sesuatu di dalam diriku retak. Bukan karena duka, tapi karena batas terakhir akhirnya runtuh.
Aku tidak lagi berpura-pura pada diriku sendiri.
Yang ada sekarang hanyalah waktu,
dan warisan
yang semakin dekat.

Aku membawa ayah ke Malaysia bukan karena rindu.
Aku membawanya karena semua mata mulai melihatku. Setelah ibu meninggal, ayah menjadi saksi terakhir. Selama ia masih hidup, orang-orang akan terus menilai—siapa yang merawat, siapa yang abai. Aku tidak ingin namaku berada di sisi yang salah.
Aku bilang pada semua orang bahwa aku ingin berbakti. Aku bilang rumahku lebih layak, udara lebih bersih, biaya berobat lebih dekat. Mereka mengangguk. Ayah pun mengangguk. Ia selalu senang menjadi pusat perhatian, bahkan dalam keadaan lemah.
Suamiku tidak langsung menolak. Ia hanya diam. Diam yang panjang. Diam yang mengandung keberatan. Aku membaca diam itu sebagai perlawanan.
“Ini orang tuaku,” kataku suatu malam.
“Kewajibanku.”
Ia menatapku lama, seolah ingin berkata sesuatu yang tak pernah benar-benar berani ia ucapkan. Aku tahu, lelaki seperti dia tidak suka digeser dari pusat rumahnya sendiri.
Ayah datang membawa kebiasaan lamanya. Ia ingin dihormati. Ia ingin didengar. Ia ingin dianggap. Rumahku berubah menjadi ruang pengakuan. Ayah sering mengeluh, sering mengatur, sering mengingatkan dosa. Ia menyebut namaku dengan bangga di depan tamu, seolah keberadaannya di rumahku adalah pencapaianku.
Suamiku makin diam.
Aku marah pada diam itu. Diam membuatku gelisah. Diam membuatku merasa tidak dikendalikan. Aku mulai menegurnya dengan suara yang lebih tajam, dengan dalil yang lebih rapi. Aku mengingatkannya tentang kewajiban suami, tentang pahala menantu, tentang ridha Tuhan.
Ia menunduk.
Dan aku menyebutnya kemenangan.
Anak-anakku melihat semuanya. Mereka tidak bicara. Mereka belajar, bahwa rumah adalah tempat di mana suara harus disimpan. Aku tidak peduli. Anak-anak memang harus belajar sejak dini.
Tekanan itu tidak meledak.
Ia merembes.
Suamiku mulai sering mengeluh sakit dada. Aku menyuruhnya istirahat. Aku bilang itu hanya lelah. Lelaki memang tidak sekuat kelihatannya. Ia tetap bekerja. Ia tetap diam.
Suatu pagi, ia jatuh.
Tidak ada teriakan. Tidak ada drama. Hanya tubuh yang roboh dan napas yang berhenti. Dokter bilang serangan jantung. Mereka bilang stres bisa mempercepat. Aku mengangguk pelan, seolah memahami sesuatu yang sebenarnya tidak ingin kupikirkan terlalu lama.
Aku menangis di depan orang-orang. Aku memeluk jenazahnya lebih lama dari yang perlu. Aku menerima pelukan, ucapan duka, dan tatapan iba. Semua itu terasa hangat.
Ayah duduk di kursi, memandang kosong. Untuk pertama kalinya, ia tidak meminta dihormati. Ia hanya diam. Dan diam itu membuatku resah.
Aku tahu, sejak hari itu, segalanya berubah. Rumah ini kehilangan penyangga. Aku berdiri sendiri, di antara ayah yang sakit-sakitan dan anak-anak yang mulai menjauh.
Aku merasa bersalah—sebentar saja. Rasa itu datang dan pergi cepat, seperti tamu yang salah alamat.
Aku bilang pada diriku sendiri:
semua ini adalah takdir.
Dan aku hanya menjalankannya sebaik mungkin.
Tapi jauh di dalam, ada sesuatu yang retak lebih dalam.
Bukan rumah tangga.
Melainkan keyakinanku bahwa aku bisa mengendalikan segalanya
tanpa membayar apa pun.
Dan sejak kematian suamiku,
malam-malam di rumah itu
tidak pernah benar-benar sunyi lagi.

Ayah meninggal tanpa banyak suara.
Ia terbaring di kamar depan, menghadap jendela yang selalu kubuka agar orang-orang bisa melihat, agar mereka tahu aku merawatnya. Nafasnya putus-putus sejak subuh. Ketika berhenti, aku sudah siap. Aku memejamkan matanya perlahan, menahan diri untuk tidak menarik tangan terlalu cepat. Ada jeda yang harus dijaga. Duka juga punya tempo.
Tangisan datang kemudian. Bukan dari dalam dadaku, tapi dari kerongkonganku. Aku tahu bagaimana bunyinya. Aku tahu bagaimana wajah yang tepat. Aku memanggil nama ayahku dengan suara patah, cukup keras agar terdengar oleh tetangga.
Orang-orang berdatangan cepat. Mereka memuji. Mereka menepuk pundakku. Mereka bilang aku anak yang kuat, anak yang berbakti. Aku menerima semua itu seperti sedekah yang memang layak kuterima.
Jenazah ayah dimandikan. Disalatkan. Dikuburkan. Aku berdiri di barisan depan. Mukena hitamku bersih, wajahku pucat. Setiap doa yang terucap menjadi penguat citraku. Setiap orang yang datang menjadi saksi.
Pelayat membawa amplop.
Sumbangan diletakkan rapi.
Aku tidak menghitungnya di depan orang. Aku bukan orang seperti itu. Tapi aku tahu jumlahnya tidak kecil. Banyaknya orang yang datang membuat dadaku hangat. Aku merasa semua lelahku terbayar. Setahun merawat ayah, menahan komentar suami, mengatur rumah, semuanya kini punya harga.
Aku mendengar bisik-bisik.
“Anaknya baik.”
“Jarang ada yang mau merawat orang tua seperti itu.”
Aku mengangguk pelan. Aku menunduk. Aku menyeka air mata yang sudah kuatur jatuhnya. Kepalsuan bekerja paling baik ketika tidak tergesa-gesa.
Beberapa hari setelah pemakaman, aku berkata pada keluarga bahwa semua sumbangan akan kusalurkan ke masjid. Kataku, ayah pasti senang jika pahalanya terus mengalir. Mereka terharu. Mereka memujiku lagi.
Tidak ada yang bertanya.
Dan aku tidak menjelaskan.
Dana kematian turun tak lama kemudian. Aku tidak ingin terlihat serakah. Maka aku memerintahkan adik perempuanku, yang selalu menurut, untuk mengurusnya lewat saudara lain. Biarlah mereka yang bekerja. Aku tinggal menerima hasil dan citra.
Dan citra itu berhasil.
Aku kini bukan hanya anak berbakti.
Aku dermawan.
Aku bijak.
Di rumah yang kini lebih sepi, aku duduk sendirian menghitung hari, bukan uang. Uang sudah ada. Yang kupikirkan berikutnya adalah tanah. Sawah. Sertifikat yang masih dipegang adik bungsuku.
Ayah sudah tidak ada.
Ibu sudah lama pergi.
Tidak ada lagi yang bisa memprotes.
Aku merasa ringan. Beban itu hilang. Untuk pertama kalinya setelah lama, aku bisa bernapas tanpa suara batuk dari kamar depan.
Aku seharusnya bersedih.
Begitulah kata orang.
Tapi yang kurasakan hanyalah kepuasan yang tenang. Seperti seseorang yang akhirnya dibayar setelah kerja keras panjang.
Aku tidak tahu, atau tidak mau tahu, bahwa di puncak kepalsuan itulah, fondasi terakhirku mulai lapuk.
Karena setelah semua topeng dipuji,
yang tersisa
hanyalah wajah asli
yang tak pernah benar-benar kupelajari.

Setelah ayah dikuburkan, tanah di desa menjadi lebih sunyi.
Sawah itu tidak lagi sekadar petak hijau di desa. Ia berubah menjadi angka di kepalaku. Meter persegi. Harga pasaran. Biaya kuliah anak-anak. Masa depan. Semua terasa rapi dan masuk akal. Tanah tidak boleh dibiarkan tidur. Ia harus bekerja—seperti ibu dulu, seperti aku sekarang.
Aku mulai bicara soal penjualan warisan dengan nada ringan. Seolah itu keputusan mutlak milikku. Seolah semua akan diuntungkan. Aku menyebut anak-anakku. Aku menyebut pendidikan. Kata-kata itu selalu berhasil.
Adik bungsuku tidak langsung setuju. Ia diam. Diam yang berbeda dari diam suamiku dulu. Diamnya keras. Menutup diri. Sertifikat tanah masih di tangannya. Ia bilang perlu waktu. Ia bilang itu amanah orang tua.
Aku tersenyum.
Aku tahu cara menunggu.
Aku merayu. Aku mengingatkan jasa. Aku mengungkit pengorbanan. Aku menyebut namaku yang dirawat orang desa sebagai anak berbakti. Semua kulakukan dengan suara lembut. Tapi semakin lama, semakin sering ia menolak, semakin panas dadaku.
Ia lupa siapa aku.
Aku mulai meninggikan suara. Aku menyebutnya tidak tahu diri. Aku bilang ia menahan masa depan anak-anakku. Ia tetap diam. Dan diam itu kembali membuatku kehilangan kendali.
Di rumah, anak-anakku mulai berubah. Mereka tidak lagi menjawab cepat. Mereka mulai bertanya. Pertanyaan kecil, tapi menusuk. 
Mengapa semua harus sesuai kehendakku? Mengapa mereka tidak boleh memilih?
Aku menjawab dengan aturan. Dengan suara yang lebih keras. Dengan ancaman dosa dan durhaka. Tapi kali ini, ketakutan tidak tumbuh. Ia membusuk.
Anak-anakku mulai menjauh. 
Mereka kuliah. 
Mereka menikah. 
Mereka pergi dengan wajah yang tak lagi menunduk. 
Aku melihat kebencian yang tertahan lama di mata mereka, dan aku tidak mengenalinya.
Aku merasa dikhianati.
Bukankah semua ini untuk mereka? Bukankah aku sudah mengorbankan segalanya? Aku menuntut balasan yang tidak datang. Aku memerintah pada orang-orang yang tidak lagi mau diperintah.
Adik bungsuku akhirnya berkata dengan jelas: tanah itu tidak akan dijual tanpa kesepakatan bersama. Kata-katanya sederhana, tapi terasa seperti tamparan.
Aku marah. Aku memutus komunikasi. Aku menyebutnya pengkhianat. Aku menyebut adik bungsuku dan adik perempuanku bodoh karena tidak mendengarku. Aku berdiri sendirian, dan untuk pertama kalinya, dunia tidak bergeser sesuai keinginanku.
Malam-malamku menjadi gelisah. Aku mulai merasa diawasi. Seolah semua orang sedang menunggu kejatuhanku. Doa-doaku menjadi panjang, tapi kosong. Tuhan terasa jauh. Atau mungkin aku yang terlalu lama berbicara tanpa mendengar.
Anak-anakku tidak lagi pulang. Teleponku jarang dijawab. Rumah besar itu menjadi terlalu sunyi. Dan sunyi adalah musuh terburukku.
Aku tidak tahu kapan tepatnya kebencian itu berbalik arah. Apakah dari mereka padaku, atau dari diriku pada mereka. Yang pasti, kekuasaan yang dulu membuatku merasa aman kini menjadi beban yang menekan dari segala arah.
Warisan belum jatuh ke tanganku.
Anak-anakku pergi.
Dan untuk pertama kalinya, aku tidak tahu harus mengatur apa.
Aku mulai kehilangan pijakan.
Dan ketika kontrol runtuh,
yang tersisa
hanyalah suara-suara di kepalaku
yang tidak lagi mau diam.

Rumah itu akhirnya menjadi terlalu besar.
Anak-anakku pergi tanpa pamit kepadaku. Melupakan adat dan sopan santun yang keras kutanam di kepala mereka. 
Mereka menikah. 
Mereka pindah. 
Mereka membangun hidup yang tidak lagi memerlukan izinku. Telepon jarang berbunyi. Jika berbunyi, suaranya singkat, rapi, dan dingin, seperti berbicara pada kewajiban, bukan pada seorang ibu yang telah melahirkan dan merawat mereka. Bukan kepada  Ibu yang berjuang mempertaruhkan segalanya demi masa depan mereka.
Aku benar-benar sendirian.
Awalnya kupikir kesepian bisa diatur. Seperti segalanya sebelumnya. Aku menata rumah lebih rapi. Kursi harus lurus. Jam harus tepat. Tirai harus terbuka di jam yang sama setiap hari. Jika semuanya tertib, pikiranku pasti ikut tertib.
Tapi ternyata tidak! 
Sunyi mulai berbicara.
Dan aku mulai menjawabnya.
Aku berbicara kepada Tuhan ketika tidak ada lagi yang mau mendengarku. Awalnya pelan di dalam hati, dengan kalimat-kalimat doa yang sudah kuhafal sejak lama. Tapi kali ini, doa-doa itu tidak jatuh seperti biasa. Tidak ada rasa lega. Tidak ada rasa dipilih. Dan pasti jauh dari terkabul. 
Yang datang justru suara lain.
Tenang.
Dingin.
Terlalu jelas.
“Kau memanggil-Ku hanya saat kau butuh.”
Dadaku menegang. Aku menoleh, seolah suara itu berasal dari sudut ruangan. Tidak ada siapa-siapa. Hanya aku dan tubuhku yang mulai tak patuh.
“Aku selalu menyebut nama-Mu,” kataku. “Aku shalat. Aku ikut pengajian. Aku menjaga nama-Mu di depan orang.”
“Kau tidak mengingat-Ku, kau hanya menggunakan nama-Ku.”
Kata-kata itu membuat dadaku panas.
“Bukankah itu cukup?” bantahku. “Dunia tidak mengerti bahasa selain takut dan imbalan. Aku hanya menyesuaikan diri.” teriakku dalam suara parau. 
Aku gelisah. 
Teramat gelisah. 
“Kau tidak pernah berdiri di belakang-Ku. Kau berdiri di depan-Ku, memakai nama-Ku sebagai tameng.”
Aku tertawa pendek. Perasaanku jelas patah.
“Jadi sekarang Kau menyalahkanku? Kau selalu begitu. Menagih. Menyudutkan manusia.”
Tanganku gemetar di atas selimut. Separuh tubuhku mati rasa, tapi amarah ini hidup. Sangat hidup.
“Aku dibesarkan dalam lapar,” kataku. “Dalam telur busuk dan doa yang dipamerkan. Aku belajar dari dunia, bukan dari-Mu. Kalau aku keras, itu karena dunia tidak pernah lembut!”
Hening.
Lalu suara itu berkata:
“Aku tidak pernah menjanjikanmu kekuasaan.”
“Bohong!” batinku menjerit.
“Kau membiarkanku percaya bahwa cukup dengan menyebut nama-Mu, Kau akan berdiri bersamaku. Aku melakukan semua ini dengan keyakinan!”
“Kau tidak pernah meminta-Ku membimbingmu.” Kata itu menamparku. 
“Kau hanya meminta-Ku membenarkanmu.” 
Dadaku sesak mendengarkan-Nya.
“Bukankah aku beribadah?” aku menyerang lagi. Rasa putus asa ini... tiba-tiba merayap di tengkukku. Dingin. Meremang. “Bukankah aku menyumbang? Beberapa rupiah memang, tapi itu bukti. Itu tanda bahwa aku taat!”
Aku mengingat semua itu dengan jelas. Subuh yang kulalui. Doa-doa panjang. Sedekah yang kuberikan, cukup untuk dilihat, cukup untuk disebut.
“Kenapa Kau mengingkari amal-amalku?”
Suara itu menjawab tanpa ragu:
“Kau tidak memberi. Kau berinvestasi.”
“Apa bedanya?” bentakku. “Bukankah surga juga imbalan? Bukankah semua ibadah adalah transaksi?”
“Perbedaannya adalah arah hatimu.” kilah-Nya. 
Aku terdiam.
“Hati?” Tiba-tiba kata itu kurasakan menghujam keras ke lubuk terdalam di diriku. 
“Kau bicara tentang sesuatu yang tak pernah kupelajari caranya.” kataku lirih, merasa ditindas. 
Aku teringat ibu dengan kerja keras tanpa empati.
Aku teringat ayah bersama doa-doa tanpa kejujuran.
Dari siapa aku seharusnya belajar?
“Aku hanya melakukan apa yang diajarkan dunia,” bisikku. “Kalau itu salah, maka dunia juga salah. Jangan hanya aku yang Kau hukum.”
“Aku tidak menghukummu. Kau sedang menuai hasilmu sendiri.”
Kalimat itu memukul paling keras. Menggedor pertahananku. Aku menjadi kerdil. Mendadak kerdil. Tidak bisa! Ini tidak boleh terjadi. Aku teringat yang tertulis menjadi kumpulan firman-Nya. "Cukup menempatkan aku sebagai pembimbingmu, maka ku lebihkan derajatmu." 
Apa artinya itu bila kemudian semua seperti diputar balikkan? Ini... Ini adalah sebuah kebohongan!
“Jadi semua ini bukan ulah-Mu?Kesepian ini? Anak-anakku yang pergi? Tubuhku yang hancur?” kataku pelan tanpa bisa mengerti sepenuhnya. 
“Kau memilih jalannya.”
Kembali aku tertampar keras. Bukankah ini jalan yang seharusnya? Belajar dari dunia untuk menjadi lebih baik. Aku melakukannya untuk merubah nasibku. Merubah masa depan, dari seorang gadis miskin menjadi orang yang terpandang. Kenapa masih dianggap keliru? 
Aku ingin berteriak. Tapi lidahku berat. Kepalaku berdenyut. Dunia terasa miring.
“Aku selalu menyebut nama-Mu,” kataku lemah.“Aku pikir itu cukup.”
“Menyebut nama-Ku bukan berarti mengenal-Ku.” Jawab suara itu. Jawaban yang sudah kuduga seperti petuah para pendakwah. Dan ternyata aku hanya pura-pura mengenal-Nya. 
Sesuatu di dalam diriku mulai runtuh. Sedikit demi sedikit, lalu keseluruhan diriku. 
Aku sadar, aku tidak marah karena Tuhan tidak membelaku. Aku marah karena Ia tidak bisa lagi kupakai. Alat terakhirku hancur.
Dan ketika semua alat habis,
yang tersisa
hanyalah aku.

Kesadaran itu datang terlambat.
Pagi itu, tubuhku menyerah. Tangan kananku jatuh. Kata-kata berhenti di mulut. Aku terjatuh di ruang tamu yang rapi, di rumah yang kosong, di hidup yang tak lagi bisa kuatur.
Dokter bilang stroke.
Mereka bilang tekanan darah.
Mereka bilang stres.
Kini aku terbaring. Melihat, tapi tak bisa bergerak. Mendengar, tapi tak bisa membantah.
Aku ingin memerintah.
Aku ingin mengatur.
Aku ingin menuntut.
Tapi tubuhku tidak taat.
Dan di sanalah aku tinggal, 
dalam hidup yang masih berjalan
tanpa kuasa,
tanpa topeng,
tanpa Tuhan yang bisa kupakai.

Inilah karmaku.
Bukan neraka.
Bukan api.
Tapi kesadaran yang datang terlambat.

Mereka bilang aku sering bicara sendiri.
Perawat itu menunduk setiap kali melewatiku. Ia menulis sesuatu di papan kecilnya. Kadang ia tersenyum, tapi matanya waspada. Seperti orang yang sedang menjaga sesuatu yang bisa meledak.
“Pasien sering berhalusinasi,” katanya pada seseorang di balik tirai. “Mengaku bicara dengan Tuhan.”

Aku mendengar semuanya.
Aku ingin mengatakan bahwa itu bukan halusinasi. Bahwa suara itu nyata. Terlalu rapi untuk disebut khayalan. Terlalu mengenalku untuk disebut asing. Tapi lidahku hanya bergerak sedikit. Suaraku hanya menggerung parau. Tidak ada kata yang keluar dengan benar.

Kadang aku masih berbicara. Dalam hati. Atau mungkin dengan bibir yang hanya bergerak samar.
“Kalau Kau memang bukan Tuhan,” kataku pada ketiadaan,
“lalu siapa Kau?”
Tidak ada jawaban.
Atau mungkin ada, tapi tidak lagi bisa kupastikan asalnya.
Suara itu kini datang dan pergi. Tidak selalu menuduh. Tidak selalu menyalahkan. Kadang hanya mengulang kalimat yang sama, seperti rekaman rusak:
“Sekarang, kau tahu.”
Aku mencoba mengingat kapan pertama kali aku mendengar suara seperti ini. Apakah sejak aku sendirian? Atau sejak aku kecil, ketika ayah berdoa keras supaya didengar banyak orang dari sebuah corong toa, atau ketika ibu menghitung nasi sebelum dibagi?
Aku tidak tahu.
Yang aku tahu, orang-orang di sekelilingku sudah sepakat.
“Kasihan,” kata seorang kerabat yang aku lupa namanya.
“Wanita itu gila.”
Mereka mengatakannya dengan suara pelan, seolah itu bentuk belas kasihan. Mereka tidak tahu bahwa aku mendengar. Atau mungkin mereka tahu, tapi tidak peduli.
Bagiku, kata itu aneh.
Gila.
Jika gila berarti berbicara pada suara yang menyudutkanmu, 
bukankah semua orang berdoa?
Jika gila berarti mempertanyakan keadilan Tuhan, 
bukankah kitab-kitab penuh dengan pertanyaan?
Tapi aku tidak membantah. Aku tidak punya tenaga untuk membela diri lagi.
Biarlah mereka menamainya sesuka hati.
Di kepalaku, suara itu kembali berbisik, atau mungkin hanya pikiranku sendiri yang belum mati:
“Nama yang seharusnya terjaga tidak mengubah kenyataan sekarang.”
Aku menatap langit-langit. Putih. Bersih. Tanpa simbol. Tanpa nama.
Dan untuk pertama kalinya,
aku tidak mencoba menguasainya.
Jika ini gila,
maka beginilah rasanya:
diam,
tetap terjaga,
dan tidak lagi bisa bersembunyi di balik apa pun.


Rabu, 24 Desember 2025
Jam: 20:02

untuk Istriku yang sabar...

Bab Sebelumnya | SEKIAN...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

UNICORN - Cerita Horor Boneka Arwah Terkutuk

UNICORN - Cerita Horor Boneka Arwah Terkutuk - Bagian 1