KURU – Cerita Horor Science Fiction Wabah Zombie di Pedalaman Papua - Bagian 3

 



03 - Manase yang Teguh


"Bagaimana kau bisa kehilangan orang-orangmu, Manase?" tanya Waromi yang duduk begitu saja di lantai di luar tikar gelaran. Dia sedang memegang cangkir kaleng yang berisi kopi hangat. Walau tanpa gula tetapi Waromi bisa menikmati kehangatannya melewati tenggorokan dan menyentuh rongga dadanya yang nyaris beku karena kedinginan di bawah hujan tadi.


"Hhh. Aku terlalu ceroboh dan tanpa perhitungan. KhaKhua ternyata sudah mengincar tempat ini sejak lama. Aku menampung anak Numfor yang terluka di sini. Dan aku tidak tahu kalau dia adalah KhaKhua. Aku perintahkan abang si Isak untuk merawat lukanya. Sementara kami berangkat berburu dan memanah ikan di sungai. Kami pulang ke gubuk menjelang sore dengan buruan yang banyak. 


Sesampai di gubug kami tidak menemukan anak Numfor dan yang lainnya. Setelah mencarinya ternyata anak Numfor dan abang Isak sedang memakan tubuh Elias hidup-hidup. Aku marah dan menangkap anak Numfor. Menembaknya di kepala, tepat di antara dua matanya. Tidak tahunya Elias yang telah bobol perutnya, juga abang Isak bangkit menyerang dua dari kami. Rupanya KhaKhua sudah merasuki mereka juga. Isak hanya bisa berteriak-teriak kebingungan. Dua anggota lagi menjadi korban dan KhaKhua telah berhasil mengambil alih tubuhnya. 


Lalu dua anggota kami yang lain kabur menyelamatkan diri entah ke mana. Hanya aku seorang yang harus menembak kepala empat anak buahku sendiri. Sekarang tinggal aku dan Isak yang tidak berguna yang tinggal di sini," tutur Manase dengan mata berkaca-kaca. Siapa tidak terpukul ketika harus menembak orang sendiri yang bertahun-tahun berjuang bersama dalam suka dan duka. Tetapi toh semua harus dilakukan. Kalau tidak, tentu Manase dan Isak akan bernasib sama seperti anggota yang sudah dirasuki KhaKhua.


"Kali ini hutan benar-benar marah kepada kita. Tak peduli siapapun itu, semua mendapat hukuman yang sama," kata Waromi dengan menundukkan kepala.


Semua yang sedang duduk di atas tikar ikut prihatin dan bersedih mendengar cerita pilu Manase. Semangat berkobar dan ketegasan yang selalu terlihat memancar kuat di wajah lelaki tua itu seperti lenyap begitu saja di mata Eneas. Dia juga menundukkan kepala tanda ikut berduka. Suasana hening sejenak. Hanya suara Waromi menyeruput kopinya dan suara hembusan asap rokok saja yang terdengar sesekali. 


"Bagaimana gubukmu bisa jatuh?" tanya Manase memecah kesunyian.


"Baru saja diserang manusia manusia yang dirasuki roh jahat itu. Belasan jumlahnya. Dan semua selamat berkat lindungan Tuhan Yésus," jawab Eneas. 


"Jadi semua berasal dari keluarga Numfor, ya," kata Waromi dengan lemas. "Aku berharap mereka akan bisa disembuhkan. Kalau tidak dengan ritual para dukun kita, mungkin lewat penelitian para dokter yang baru saja tiba hari ini. Ternyata semuanya sia-sia," keluhnya. 


"Maaf, saya pikir akan ada gunanya bila kita bisa membantu para dokter untuk menemukan antidot atau obatnya. Saya pikir itu bukan sekedar mitos. Bukan sekedar tentang roh jahat, tetapi juga wabah penyakit yang berbahaya. Dan dua dokter yang dikirim kemari adalah periset yang baik dan diakui. Saya yakin akan bisa membuka tabir rahasia tentang KhaKhua yang mulai memakan banyak korban," kata Januari untuk memulai menjelaskan misinya. 


Manase adalah senior yang dihormati oleh Waromi dan Eneas. Mungkin darinya akan didapatkan informasi yang berguna. 


"Anda siapa? KhaKhua! Apa anda tahu tentang itu? Banyak ahli mengaku profesor, atau dokter dan semacamnya yang kami anggap sebagai turis belaka dari luar negeri yang berusaha meneliti tentang itu. Tak seorangpun dapat membongkar misteri KhaKhua. Mereka meremehkan kami dengan menganggap itu hanya mitos murahan saja. Bahkan media di luar malah menyebutnya sebagai kisah mistis yang misterius dan berpandangan bahwa kami hanya penganut ritual-ritual sesat, suku terbelakang yang tidak mengenal peradaban sama sekali, penganut kanibalisme dan sebagainya."


"Mereka pikir kami tidak menerima sains dan pemikiran yang logis. Mereka pikir kami menolak agama dan konsep-konsep ketuhanan. Mereka pikir kami ini patut dilestarikan sebagai obyek wisata dan obyek penelitian sebagai manusia purba terakhir yang masih tersisa. Kurang ajar sekali!" kata Manase berapi-api. 


Sekilas terlihat betapa dia memiliki jiwa patriotik sejati. Selalu berpikir positif untuk suku bangsanya. Dia dengan tegas menyatakan sikap tidak menerima penilaian negatif tentang budaya warisan leluhur. 


"Papua adalah Papua. Tanah kami kaya. Bukan kaya mineral tambang saja. Banyaknya suku, adat, tradisi dan budaya adalah khasanah kekayaan jiwa yang akan kami lestarikan walau bagaimana buruknya pandangan dunia tentang kami. Ini adalah masalah identitas sebuah suku bangsa. Kami bangga menjadi Papua. Dan negara seharusnya lebih mengerti kebutuhan kami. Memberi pendidikan dan memikirkan kesejahteraan kami. Melestarikan budaya kami. Dan mengakui kami," tutur Manase dengan semangat menyala. 


"Ya... Saya setuju walau harus memilih untuk menempuh jalan yang berbeda. Memang begitulah seharusnya," kata Onisimus Mambor. "Hanya kali ini KhaKhua sudah menjadi isu nasional. Kejadian yang memakan korban seorang tentara telah membuat mata dunia terbuka dan sedang mengarah kepada kita." 


"Ya... Itulah alasannya saya bekerja sama dengan tentara. Saya ingin kejadian mengerikan ini segera dapat dihentikan," kata Waromi menyambung pendapat Mambor.


"Menurut kalian, sebenarnya apa yang membuat hutan marah kepada kita. Setelah kebakaran hebat di Naukenjerai, tiba-tiba saja roh hutan menjadi seolah memusuhi kita!" kata Manase pelan. Nada putus asa terdengar jelas dalam kata-katanya. 


"Salah satunya pasti perseteruan antar keluarga. Membuat kita terpecah belah. Membuat kita hanya memikirkan kepentingan pribadi atau golongan, dan tanpa sadar telah menindas hak orang lain di sekeliling kita. Saling benci karena berbeda pendapat adalah kebodohan luar biasa yang bisa menghancurkan sebuah bangsa," kata Mambor memberikan sebuah pandangan umum tentang perbedaan pendapat. 


"Saya mengerti perasaan kalian. Ujung-ujungnya kita hanya akan saling menyalahkan dan kembali berbenturan. Baik... Aku paham dengan maksud dan tujuan kalian. Dengan riset, mungkin kita bisa benar-benar mengakhiri teror KhaKhua. Entah bagaimana caranya, itu urusan kalian. Yang pasti itu juga bagian dari merubah pola pikir dan memberi edukasi yang baik kepada bangsa kita." Manase memejamkan mata memikirkan nasib tanahnya. 


"Semua harus bisa di nalar dengan akal sehat sebelum menentukan sebuah kesimpulan. Tentang KhaKhua ini... Aku hanya tahu semua berasal dari desa Numfor. Seluruh keluarganya dianggap kerasukan; kalau bahasaku tidak dijadikan masalah. Hanya saja menurut rumor, dukun Numfor ditemukan mati di rawa-rawa. Tidak ada luka sama sekali di tubuhnya. Waromi tentu lebih mengerti keadaannya karena kau berada di sana kan?" kata Manase dengan bijak. Tampaknya dia sudah bisa menerima kenyataan bahwa mereka harus bekerjasama untuk membuka tabir misteri tentang KhaKhua yang telah memakan korban jiwa. 


Malam semakin larut dan dingin. Tetapi mereka belum bisa memejamkan mata. Kejadian hari ini begitu luar biasa. Mendadak mencekam dan nyawa mereka nyaris terenggut maut. Akhirnya Januari memilih mengajak dokter Mira dan semua anggota tim investigasi untuk mendiskusikan rencana-rencana untuk besok. Yang paling utama saat ini adalah mempersenjatai diri. Dan masalah itu bisa diselesaikan oleh Manase. Pria tua yang memegang teguh prinsip-prinsip yang diperjuangkannya itu memberikan persenjataan lengkap yang dia dapatkan dari pedagang senjata ilegal warga negara Australia. 


Ema mendapatkan shotgun lengkap dengan beberapa pack peluru berdaya ledak tinggi. Kwalitas bagus yang tak kalah dari dahsyat peluru buatan negeri paman Sam. Sedang untuk senjata tajam, ada pisau komando yang tajam dengan punggung bergerigi yang bisa digunakan untuk gergaji. Januari memilih sebuah parang tajam standar militer dan sepucuk pistol otomatis dengan beberapa magazine. Mambor dan Darto memilih senapan serbu yang menjadi favorit mereka, sedang Waromi dan Eneas dengan senjata yang biasa mereka gunakan. 


Malam berlalu dalam hujan yang seakan ingin terus berlangsung sampai besok. Dan tidak ada alasan bagi mereka untuk menolak istirahat walau ancaman bahaya masih menunggu di luar gubug. Setidaknya tempat ini lebih kuat dan kokoh daripada rumah panggung di pos Waromi tadi. Dokter Mira berusaha sebisa mungkin untuk memejamkan mata. Dia tidak menyangka di hari pertamanya memasuki hutan telah dihadapkan dengan kengerian yang sangat. Tetapi ada hal yang sangat menarik perhatiannya ketika melihat kondisi fisik orang-orang yang dianggap dirasuki roh KhaKhua boleh penduduk setempat. Jamur Chordyceps itu! 


***

Waktu terasa berjalan lambat. Semua orang menjadi kurang tidur karena kegelisahan mereka. Sementara pagi sudah datang dengan muram karena hujan hanya sedikit reda. Tinggal gerimis kecil dari mendung yang rapat berusaha menghadang sinar matahari supaya tidak menyentuh tanah berlumur yang menciptakan rawa-rawa kecil di luasan kawasan hutan sekitar pos Manase. Isak sudah menjerang air sedari tadi. Pemuda belia itu bisa tidur pulas semalam karena tidak mau berpikir untuk takut dan gelisah. Dia percaya struktur bangunan kayu itu bisa melindunginya. Bukankah dulu di bagian bawah pernah diseruduk babi hutan buruan yang lepas dan mengamuk? Tonggak-tonggak kayu di sekeliling ruang bawah tidak bergeming sedikitpun ketika dibentur kepala babi hutan yang kalap dan menyeruduk ke sana ke mari dengan kekuatan yang luar biasa. Dan masih tegak berdiri tanpa kerusakan berarti. 


Pagi yang jauh dari cerah itu... 

Pemuda Isak sudah mencuci bersih semua cangkir dan piring. Kemudian menyiapkan sesuatu yang bisa dikonsumsi dengan layak oleh rombongan yang semalam datang mengejutkannya. Isak sedang tidak sendirian. Waromi dan Eneas sedang duduk dengan memegang kopi di cangkir kaleng. Isak menyeduhkan untuk mereka berdua supaya tubuh tetap hangat. Secangkir kopi yang dicampur susu kaleng sebagai pemanisnya karena tidak ada gula sejak beberapa hari kemarin. 


Sementara itu di dekat unggun, Eneas sedang memperhatikan Waromi yang duduk di hadapannya terhalang asap dari api unggun kecil yang digunakan menjerang air tadi. Ada yang aneh pada diri Waromi. Dia seperti sedang meradang. Wajahnya pucat dan dan sering menggetar-getarkan pundaknya seperti bergidik. Di lengannya terlihat balutan dari robekan kaos sendiri semalam. Lengan itu sedikit kemerahan dan membengkak. 


"Kau terluka?" tanya Eneas kepada sahabatnya dengan nada khawatir. 


"Iya... Sepertinya tidak kunjung membaik. Panas sekali luka ini sampai lenganku bengkak," jawab Waromi menahan perih dari lukanya. Rahangnya terus diadu menandakan bahwa dia sedang mengalami gejala infeksi. 


"Hei, Isak! Apa masih ada pembalut luka dan obat merah? Bawa ke sini kalau kau masih punya!" seru Eneas kepada pemuda belia yang berusia antara delapan belas sampai sembilan belas tahun itu. 


"Ada paman. Tapi pembalut perban tidak ada perekatnya," jawab Isak lugu. 


"Ambillah cepat! Lihat keadaan Waromi. Dia bisa kehilangan lengan kalau terlambat di bersihkan. Ambilkan juga air panas barang segayung!" perintah Eneas sambil beringsut mendekati Waromi. Dia tidak perlu persetujuan lelaki tambun itu untuk meraih lengannya dan membuka robekan kaos pembalut luka. Eneas begitu terkejut melihat luka Waromi. Itu adalah bekas gigitan KhaKhua. Dalam dan sedikit membiru. Darah kering menghitam harus segera dibersihkan. 


"Kenapa kau bisa kena digigit mereka?" tanya Eneas sambil bekerja membersihkan darah kering disekitar luka. Ada cairan bening yang muncul dari luka yang kini terbuka kembali. 


"Istri Numfor... Istri Numfor, Eneas. Dia menghampiriku dengan menyeringai ganas. Kau bisa bayangkan perasaanku? Dia adikku Eneas. Dia dulu pernah merawatku ketika aku tertembak di pertempuran di dekat Mappi, kau ingat?" kata Waromi terbata-bata. Eneas tak sempat menjawabnya. Isak telah datang dengan seember air hangat dan mulutnya menggigit kantong plastik hitam berisi peralatan medis sederhana untuk sekedar mengobati luka. Betadine, kapas, perban tanpa perekat, dan beberapa kapsul ultrasilin. Secarik kain bersih juga ada. Dengan kain itu Eneas mulai membersihkan luka Waromi. Kain lap bersih dicelupkan ke air hangat terlebih dahulu, lalu lelaki kurus itu menyeka luka dengan hati-hati. Waromi meringis kesakitan setiap kali kain basah itu mulai menyentuh lukanya. 


"Dunia sedang tidak memihak kepada kita. Entah apa yang telah kita lakukan sampai hutan pun menginginkan kemusnahan kita," keluh Waromi. 


"Jangan banyak mengeluh. Tentu roh leluhur memiliki tujuan tertentu sehingga semua ini terjadi. Kita harus mencari jawabannya di kepala kita sendiri. Bukan dengan menyalahkan keadaan!" jawab Eneas bijak. 


"Kau tidak lihat dengan siapa kita berhadapan sekarang? Orang-orang kita sendiri, Eneas. 

Orang-orang yang sedang kita perjuangkan haknya. 

Orang-orang yang seharusnya kita lindungi dari keserakahan petinggi kota," kata Waromi dengan geram merasakan kepedihan hatinya. "Mereka bahkan menginginkan kematian kita. Orang sendiri!" nafas Waromi tercekat. 

Dia tidak bisa lagi melanjutkan kata-katanya. 

Dia tertunduk menahan perih dari luka di lengannya, juga dari luka di dalam lubuk hatinya. 


"Kita sudah membunuh banyak orang tidak bersalah juga. Mungkin itu hukuman bagi kita. Hanya karena mereka bukan Papua!" kata Eneas mengingatkan kenyataan bahwa mereka juga pembunuh. Dan itu dibalas oleh tentara sehingga konflik melebar menjadi perang terbuka. Mereka kemudian di cap sebagai kelompok gerakan pengacau keamanan dengan sebutan Kelompok Kriminal Bersenjata atau KKB. Apa beda mereka dengan orang-orang yang dirasuki KhaKhua sekarang? Sama-sama tangan mereka kotor oleh darah. 


Apa yang mereka cari sebenarnya. Perjuangan yang bagaimana dan untuk keadilan yang bagaimana? Hanya ulah pejabat pemerintah yang juga suku sendiri dengan serakah menggunakan anggaran yang seharusnya digunakan untuk kesejahteraan warga, malah digunakan untuk bersenang-senang sendiri. Mental mereka belum bisa mengendalikan euforia ketika dipercaya memikul amanah rakyat. 


"Kita tidak bisa membiarkan perang ini berlarut-larut dan merugikan diri kita sendiri. Kekacauan membuat anak-anak kita tidak nyaman belajar. Sehingga kita akan terus terjebak dalam kebodohan. Dan itu yang diinginkan oleh para pengusaha yang mengincar kekayaan tanah kita. Jangan biarkan para pemimpin yang tidak mempunyai semangat Papua berpikir untuk kita. Mereka belum memiliki kapasitas untuk itu. Kita harus memikirkan pendidikan untuk calon-calon pemimpin di masa depan supaya mereka terpelajar dan memiliki visi misi yang jelas untuk membangun Papua. Selama ini mereka selalu saja dimanfaatkan oleh pengusaha kulit putih untuk dijadikan boneka saja," kata Eneas mengemukakan pendapatnya dari hari yang paling dalam. 


Pemikirannya adalah pemikiran maju yang jarang dimiliki oleh suku bangsanya. Waromi tahu kecakapan Eneas dalam berpikir strategis. Seharusnya dia menjadi politikus yang berjuang memikirkan nasib rakyat di antara dewan. Eneas adalah lulusan universitas swasta terkenal di Salatiga. Dia adalah mahasiswa yang kritis pada masanya. Dan pemerintah pun pernah menawarkan posisi sebagai anggota DPR yang mewakili daerahnya. Tetapi lelaki jangkung itu menolaknya. 


Musuh utama warga Papua adalah kebodohan. Eneas muda lebih suka berada di pegunungan untuk mengajar anak-anak suku yang tidak terjangkau oleh para guru di sekolah. Tetapi dia malah dimusuhi oleh pejabat tinggi pemerintahan yang notabene adalah pribumi yang menjadi boneka pengusaha yang bermulut manis. Mereka tidak ingin melihat putra-putra Papua-- bangsa mereka sendiri-- menjadi pintar dan bijaksana, karena itu bisa membahayakan usaha mereka. 


Ketika mereka tenggelam dalam pemikiran dan keprihatinan yang dalam, dokter Mira tiba-tiba turun ditemani Ema membawa kotak first aid kit. 


"Maaf mengganggu, Isak bilang kepada saya bahwa pak Waromi sedang sakit. Saya mungkin bisa membantu memeriksanya. Bolehkan?" kata dokter cantik itu dengan sopan. Eneas mengangguk dan mempersilahkan dokter Mira memeriksa luka yang baru dibersihkan oleh Eneas. 


Eneas melihat dokter itu seperti terkejut mendapati luka di berbahaya di lengan Waromi. 


"Anda dapat luka ini semalam? Oleh gigitan salah satu dari mereka bukan?" tanya dokter. 


"Ya... Maaf saya merepotkan anda," jawab Waromi sambil meringis ketika alkohol murni dituangkan ke luka terbuka di lengannya. Dari sebuah tas kecil berwarna putih dengan simbol palang merah, dokter itu mengeluarkan sebuah alat suntik. Dan dia menyedot sebuah cairan bening dari botol kecil kemudian menyuntikkannya di lengan dekat luka Waromi. Lelaki tambun yang bijak itu meringis menahan sakit. Dia memang tidak pernah bersinggungan dengan jarum suntik seumur hidupnya. Baru kali inilah dia menerima untuk di suntik. 


"Seharusnya ada di Puskesmas sekitar sini. Jadi anda bisa mendapatkan perawatan yang layak," kata dokter cantik itu seperti bergumam. Tetapi Eneas dan Waromi jelas mendengarnya. 


"Tidak ada Puskesmas di sekitar sini, Dok. Sekalipun ada, para petugas kesehatan tidak akan ada yang bersedia bertugas di daerah konflik seperti di sekitar sini. Maaf, mungkin karena kesalahan kami juga sehingga kami malah mempersulit warga kami sendiri untuk mendapatkan fasilitas kesehatan. Pendidikan juga!" jawab Eneas. 


"Phobia kalian tidak beralasan. Pembauran itu penting. Kalian bisa mendapatkan pengetahuan dasar untuk bertahan hidup di jaman yang semakin berkembang. Iri hati dan kedengkian akan melahirkan kebencian yang akan merugikan diri kalian sendiri. Saya bukan politikus. Tetapi membatasi kemampuan diri, menolak berkembang dengan kritik membangun dan tetap memelihara kebodohan rakyatnya sebagai komoditas dan alat berpolitik itu adalah sebuah kejahatan berat!" kata dokter Mira berapi-api. 


"Percuma kalian memperjuangkan hak tetapi membiarkan pemimpin kalian korup dan tidak peduli dengan nasib kalian sendiri. Percuma kalian bersenjata tetapi menumpulkan akal dan menutupi dunia sendiri. Saya banyak melihat di berita dan informasi lain tentang Papua ketika kami mendapatkan kabar tentang wabah ini. Dan jawaban yang bisa saya sampaikan adalah: wabah ini bukan karena KhaKhua atau roh hutan atau hal-hal konyol semacam itu. Ini adalah wabah baru yang berpeluang menjadi pandemi berikutnya setelah Covid-19. Waspadalah kalian karena ini terjadi di wilayah kalian sendiri. Tanpa edukasi yang benar tentang kesehatan, maka kita tidak akan pernah bisa menghentikannya," tutur dokter Mira Santos menjelaskan panjang lebar tentang bahaya sebenarnya yang sedang mereka hadapi saat ini. 


Eneas dan Waromi hanya bisa diam sambil merenungkan kata demi kata dari bibir indah dokter Mira. Memang semua ada benarnya. KhuaKhua boleh saja benar-benar ada. Tetapi kacamata medis telah melihat wabah yang menjangkiti sekarang bukan sekedar teror roh jahat. Sesuatu yang lebih besar dan berpotensi pandemi telah membuat dokter itu gelisah. Eneas yang berlatar belakang akademis mau tak mau harus kembali kepemikirannya yang logis dan realistis. Mungkin benar apa yang disampaikan oleh dokter cantik itu. Tetapi semua juga perlu dibuktikan secara ilmiah. Dan semua alat dan bahan untuk riset sudah ada di pos pertama Waromi. 


"Kita akan kembali ke sana bukan? Apa harus menunggu hujan reda?" tanya Eneas kemudian. 


"Tidak. Januari, Sersan Mambor dan sersan Darto akan mengambil kebutuhan para dokter. Anda berjaga di sini untuk memastikan keamanan mereka berdua," jawab Ema tegas. 


Tugas sudah dibagi. Dan Manase telah setuju membantu dengan menampung mereka semua. Hanya saja logistik di pos Waromi harus diusung semua ke pos Manase. Dan itu membutuhkan tenaga ekstra. Isak ikut bergabung untuk membantu. Tetapi Waromi tidak mau berdiam diri juga. Dia menawarkan diri untuk ikut membantu. Logistik di posnya sangat banyak. Cukup untuk bertahan hidup di hutan ini selama sebulan. Tenaganya mungkin sangat berguna. Toh hanya lengan kirinya saja yang terluka sedikit. Dia tidak mau dibesarkan-besarkan. 


Akhirnya rombongan itu memutuskan berangkat sekarang juga. Eneas menatap khawatir kepada Waromi. Dia berdoa semoga tidak terjadi apa-apa kepada saudara seperjuangannya. Sementara Manase berjanji kepada sersan Mambor untuk menjaga kedua periset itu dengan seluruh jiwa raganya. 


Dokter Mira dan asistennya sedang duduk berdua membuat laporan kegiatan juga catatan-catatan penting lainnya. Manase duduk di teras depan seorang diri dengan wajah pucat karena sedari malam dia menolak untuk makan. Banyak sekali pikiran yang mengganggunya. Hal itu bisa dipahami oleh Eneas. Ia membiarkan Manase duduk sendirian di teras sambil mengembara bersama pikirannya. Sedang lelaki jangkung itu memilih ikut duduk dengan para dokter sambil sesekali mengobrol tanpa harus mengganggu kegiatan mereka. 


"Dokter tadi menyampaikan bahwa edukasi tentang kesehatan sangat urgen untuk menghentikan wabah ini. Maksudnya bagaimana?" tanya Eneas hati-hati. 


"Penyebaran wabah ini baru menjadi analisa saya. Belum sepenuhnya pasti. Tetapi saya akan mengambil peluang itu sebagai upaya pencegahan awal," jawab dokter Mira Santos. Dan itu membuat Eneas semakin penasaran. Dia tidak peduli bahwa itu baru analisa awal. Dokter ini berpikiran maju. Dia berani mengungkapkan analisanya pasti dengan sebuah alasan logis dan masuk akal. 


"Maksudnya?" 


"Saya melihat tanda-tanda fisik stadium akhir penyakit Kuru. Bila itu murni akibat Kuru, maka korban seharusnya sudah meninggal bila mencapai stadium akhir seperti itu. Tetapi ini ada yang membuat korban terjangkit tidak mati. Malah bermutasi menjadi sesuatu yang mengerikan. Zombie!" dokter Mira meletakkan catatannya di atas tumpukan kertas lain. Tasnya sedang dipanggang di dekat unggun di bawah lantai panggung untuk dikeringkan karena basah oleh hujan semalam. Dengan mata indah kecokelatan, dokter itu menatap Eneas dengan lekat. Seolah ingin menggali lebih dalam logika lelaki lulusan akademis itu. 


"Zombie? Anda yakin? Benar-benar zombie atau itu hanya istilah untuk memudahkan akal saya untuk menerimanya?" tanya Eneas ragu. 


"Zombie dalam arti sebenarnya. Makhluk-makhluk itu bukan lagi manusia. Tetapi sekantong senjata pembunuh yang hidup membawa wabah untuk ditanam di tubuh korban lain," jawab dokter Mira tanpa ragu. Asistennya, dokter Raka pun menyelesaikan catatannya cepat-ceoat untuk bisa terlibat. Dia tidak mau ketinggalan pembicaraan penting seniornya. 


"Saya tidak habis pikir dengan istilah zombie di sini. Bisa jelaskan lebih detail?" tanya Eneas dengan panik. Kali ini dia ingin benar-benar menolak analisa awal dokter cantik pemilik rambut panjang, hitam, dan lurus walau tidak sempat disisir itu. Eneas mengagumi keindahannya dan dia tidak pernah melihat rambut hitam berkilau selurus milik dokter Mira di hutan belantara tempat dia bertahan hidup dan mempertahankan tujuannya. 


"Kalau saya bilang zombie, maka itu bukan ungkapan pengganti. Tetapi itulah kenyataannya. Saya belum bisa memastikan penyebabnya, memang. Tetapi saya tahu dan berani memastikan  bahwa mereka adalah jaringan yang dipaksa terus hidup sebagai inang. Dan itu sangat membuat saya khawatir," jelas dokter Mira membuka pemahaman Eneas. 


"Apakah mereka bisa diselamatkan?" tanya lelaki itu penuh harap. Wajahnya semakin kelam karena ketakutan. Ia melihat bayangan hari esok seperti hendak terhapus begitu saja oleh semesta yang sedang marah karena ulah manusia. 


"Itulah yang harus kita teliti dengan seksama. Saya membutuhkan sampel dari jaringan yang masih hidup. Untuk menganalisa "sesuatu" seperti apa yang sebenarnya memiliki kemampuan untuk membuat orang tidak bisa mati walau dia seharusnya mati dalam kondisi seperti itu," kata dokter Mira memperlihatkan rasa penasaran yang sangat. Sebagai periset, sudah menjadi kewajibannya untuk memelihara rasa ingin tahu yang besar dan kuat. Dengan cara itulah dia memiliki kegigihannya untuk menggali hal-hal yang awalnya tidak masuk akal menjadi sesuatu yang bisa dijelaskan dengan pemikiran logis. Eneas juga paham tentang itu. Maka tak ada yang bisa dia tanyakan lagi; kecuali menunggu kembalinya tim yang mengambil logistik dan peralatan di pos Waromi. 


Bab Sebelumnya |

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KARMA-Tuhan yang Kulekatkan di Namaku

UNICORN - Cerita Horor Boneka Arwah Terkutuk

UNICORN - Cerita Horor Boneka Arwah Terkutuk - Bagian 1