CANDRAMAWA – Kisah Siluman Macan Kumbang (Cerita Horor Mistis Legenda Jawa Tengah) - Bagian 7

Gambar
  07 Penciptaan Parjio sudah menduga akan mendapat pertanyaan seperti itu ketika dia membuka kisah tentang hal-hal yang menyangkut tentang entitas "tan wadag". Untung saat ini dia tidak berhadapan dengan seorang yang fanatik. Bisa terjadi perang besar bila dia harus mengungkapkan beberapa hal yang bertentangan dengan keimanan mereka. "Aku paham maksudmu. Sebaiknya kita pahami dulu tentang "proses penciptaan" di kepercayaan masyarakat Jawa penganut "kapribaden Jawa Purba. Ingat Penganut "kapribaden Jawa" dan bukan "Kejawen"!" kata Parjio mencoba memberi pengertian tentang Jawa dengan hati-hati kepada Adrian yang berpikiran logis dan ilmiah. "Apa beda antara Kejawen dan kapribaden Jawa?" Tanya Adrian mendesak. Senyum Parjio mengembang. Selalu begitu pertanyaan orang-orang bila sudah menyangkut perbedaan mendasar tentang "kepribaden". "Berbeda menurut ajaran yang kuterima dari kakek. Tetapi mungkin diangga...

KURU – Cerita Horor Science Fiction Wabah Zombie di Pedalaman Papua - Bagian 2




 Bagian 02 - KURU DESEASE 


***

Januari dan Ema sedang bersiap-siap mengemas barang bawaan mereka. Sore itu kantor B2VRP tampak sibuk sekali. Kolonel Darius memberikan briefing kepada Sersan Mayor Darto Darma, anak buahnya yang ditugaskan mengawal Dr. Mira Santos dan Dr. Raka Dinaya untuk berangkat ke perbatasan Indonesia-Papua New Guinea untuk melakukan riset di selatan kawasan Papua. Sore itu juga mereka berlima harus berangkat, keadaan di lapangan sudah sangat berbahaya karena penyakit itu menular dengan cepat tak bisa lagi dikendalikan.

Rombongan tim investigasi berangkat menuju ke bandara Adi Sumarmo, Solo. Mereka akan menggunakan penerbangan komersial untuk menuju ke Papua. Di dalam mobil dinas tentara yang membawa rombongan menuju ke bandara, Kolonel Darius tampak sedang serius bicara dengan Ema dan Januari.

"Ingat baik-baik, nona Ema, satu desa dekat markas KKB telah berubah menjadi "désa penuh kekerasan". Jangan ragu untuk menggunakan senjata karena menurut laporan di lapangan, siapapun yang terinfeksi akan melakukan kekerasan tanpa terkendali. Bahkan dia tidak melihat apakah itu kawan atau lawan. Bertindaklah tegas!" kata Kolonel yang belum genap empat puluh tahun itu.

Ema mengangguk sopan seraya menjawab, "Saya tidak akan ragu, Kolonel. Pihak Balai Besar menyewa kami tentu dengan pertimbangan profesional sebagai  detektif swasta yang diakui sukses dalam melakukan pengawalan dan investigasi khusus. Terima kasih karena anda tidak keberatan kami bergabung."

"Saya sudah mendengar reputasi kalian. Tuan Januari juga saya kenal baik sebagai ahli menyusup yang membuat-- Kodam sedikit repot," kata Darius sambil tersenyum penuh arti.

"Kolonel Sumantri sendiri mengaku tidak bisa --mengendalikan--Tuan Januari. Bahkan sepertinya ada masalah pribadi yang membuat saya kadang bertanya-tanya. Apa yang membuat Kolonel Sumantri sampai mendendam begitu," kata Kolonel muda itu sambil menoleh kan kepala sedikit kebelakang. Ia melirik aneh ke arah pemuda berpakaian taktikal di jok penumpang. Januari tertawa kecil. 

"Sebenarnya saya tidak sedang menyusup ke Kodam. Saya hanya ingin mengunjungi beberapa teman lama saja. Jadi bukan bermaksud untuk menyusup. Hanya saja provoost dan penjaga pos depan suka mempersulit rakyat sipil untuk masuk wilayah militer dengan baik-baik. Saya toh sudah meminta izin untuk masuk dengan melapor di pos depan." Tawa pemuda berwajah eksotis itu sedikit renyah terdengar di telinga Ema. Gadis itu hanya menghela nafas dalam. Memang selalu saja partnernya berbuat ulah yang tidak biasa sehingga membuat beberapa kelompok menjadi tersinggung dan repot. Apalagi dengan kelompok Kolonel Sumantri dari Kodam. Mereka seperti kucing dengan anjing. Ema sendiri tidak begitu suka mendengar nama kolonel salah satu petinggi Kodam itu disebut. Tetapi dia lebih bisa merahasiakan urusan lamanya dibanding Januari yang lebih suka ngotot mencari sesuatu yang nyaris mustahil bisa ditemukan di tumpukan jerami.

Kolonel Darius hanya tertawa. "Kodam bukan tempat warga sipil seenaknya keluar masuk. Apalagi saat itu Jenderal Wira sedang inspeksi. Tentu penjagaan lebih ketat lagi." Januari hanya bisa ikut tertawa. Itu memang kecerobohannya. Untung Kolonel Sumantri tidak bisa menangkapnya karena sudah berhasil keluar dari kawasan militer itu dengan aman tanpa membuat kegaduhan dengan bantuan kenalannya. Yaitu Kolonel Darius sendiri! 


***

Bandara Adi Sumarmo sore itu terasa dingin menyegarkan setelah gerimis mengguyur sedari setengah jam lalu, ditimpali angin sore dari Gunung Merapi. Kolonel Darius mengawal mereka yang hendak menjalankan tugas kemanusiaan ke Papua Timur sampai ke drop-off area. 

Beberapa jam kemudian, pesawat yang mereka tumpangi sampai juga di Hasanuddin. Ya... Mereka harus transit terlebih dahulu beberapa jam di bandara Hasanuddin, Makassar, karena tidak ada penerbangan langsung dari Solo ke Merauke. Setelah istirahat transit, pesawat baru membawa mereka  melanjutkan perjalanan menuju ke Mopah dengan kondisi cuaca yang agak buruk di awal musim penghujan.

Langit dari Makassar sampai ke Mopah berwarna abu-abu gelap sehingga sore ketika mereka sampai ke bandara tujuan, matahari tidak sedikitpun menampakkan mukanya. Malah gerimis kecil tetapi merata, mengguyur tak henti-henti sehingga cuaca menjadi lembab dan gerah. Ema melepas baju tebalnya dan memperlihatkan tank top katun tanpa lengan dan berkerah panjang menutupi leher. Wajahnya sedikit memerah karena panasnya cuaca. Sementara Januari memilih membuka  jas yang dipakai sejak dari Hasanuddin menggantikan tactical vest-nya dan memasukkan jadi itu ke tas besar bawaannya. Lengan panjang kemeja putihnya digulung sampai di bawah siku. Ia melonggarkan dasinya dan membuka kancing baju bagian atas supaya udara panas dari tubuhnya bisa terbebas.

Dokter Mira sibuk menggerakkan-gerakkan kipas yang dibeli semenjak di bandara Makassar tadi. Wajahnya juga sudah terlihat seperti kepiting rebus. Keringat berbulir-bulir besar turun dari kening dan meluncur bebas ke pipi, bahkan sampai ke dagu runcingnya juga. Sesekali dia gunakan tisu untuk menyeka keringat itu. Rona kemerahan di wajahnya membuat dia semakin cantik. Kecantikan khas Latin! 

Matanya besar bulat dan indah dengan bulu mata asli yang lentik. Riasan sedikit gelap di sekitar mata membuat kesan gothic muncul begitu saja walau hanya sebentuk saputan tipis eye shadow. Dia memang suka make up mata sedikit gelap. Katanya bisa memunculkan kesan misterius dan serius. Mungkin itu lebih cocok dengan profesinya sebagai periset hebat di lab BBVRP, membuat dia terkesan sebagai sosok angker yang disegani, dan tidak semua orang berani bercanda kalau dia sedang benar-benar serius. 

Sedang Dokter Raka, sang asisten, saat itu hanya mengenakan kemeja berlengan panjang putih bergaris menyilang biru tua tipis, membentuk kotak-kotak sebesar kubus-kubus kecil yang teratur. Toh sepertinya dokter muda itu juga merasakan kegerahan yang sama. Ia sudah membuka dua kancing baju bagian atasnya. Dan sebentar-sebentar menyeka dahi yang basah oleh keringat dengan punggung tangannya.

"Sepertinya ruang tunggu di sini AC-nya kurang bagus. Atau sedang dalam perbaikan mungkin..." keluh Sersan Mayor Darto sambil berkipas-kipas menggunakan topi tentaranya. Dia juga bernasib sama dengan mereka. Lengan baju dorengnya sudah dilipat sebatas siku sejak menaiki pesawat. Dan terang-terangan hampir membuka seluruh kancing baju sedari tadi sehingga kaos oblong putihnya terlihat jelas. Januari hanya tersenyum melihat reaksi rombongannya terhadap hawa panas yang lembab itu.

Rintik gerimis dari langit masih berebut cepat menyentuh bumi. Aspal di tempat penjemputan sudah basah semua oleh percikan-percikan lembut yang menimbulkan suara gemericik di sela-sela suara kendaraan para penjemput dan pengantar penumpang yang hilir-mudik, suara pengumuman jadwal penerbangan, keberangkatan dan arrival dari dalam bandara. Sedang rombongan peneliti dari Salatiga itu masih berusaha bersabar menunggu penjemputan dengan wajah aneh.

Sampai akhirnya sebuah SUV diikuti sebuah truk militer berhenti di depan. Dan seorang lelaki bertubuh tinggi besar berseragam tentara turun dengan tangkas dari mobil SUV bercat hijau doreng menuju ke arah mereka. Lelaki berbaju tentara itu benar-benar tinggi seperti raksasa. Setiap langkah kakinya seolah menggetarkan bumi yang dipijak. Sampai-sampai Ema khawatir lantai keramik bisa hancur kalau dia berdiri terlalu lama di atasnya. Langkah kaki kakinya terbungkus boot PDL yang mantap dan penuh kepercayaan diri. Ketika tentara itu mendekat, Sersan Mayor Darto segera berdiri untuk menyambutnya.

"Onisimus Mambor, saudaraku... Bagaimana kabarmu, heh? Lama sekali tak ketemu," kata Sersan Mayor Darto sambil melangkah mendekat. Pria yang dipanggil Onisimus Mambor itu segera menghormat dengan sikap sempurna sambil menjawab lantang, "Siap! Serda Onisimus Mambor siap melayani anda! Pak!"

Lalu keduanya berpelukan seperti dua sahabat lama yang tidak pernah bertemu sejak bertahun-tahun lalu. Ya, mereka berasal dari tempat pendidikan yang sama di Bandung. Meniti karir di Secaba dan sempat berada di kesatuan yang sama di Malang. Setelah dari sana mereka berpisah sesuai instruksi atasan, dan beruntung Sersan Darto mendapatkan tempat di Yonif Salatiga. Sedang Sersan Mambor masih di Malang untuk beberapa tahun kemudian, sampai akhirnya dia dikirim ke Papua dan mengabdi di tempat kelahirannya. 

Setelah berbasa-basi sebentar, Serda Mambor menyalami para periset satu per satu sambil memperkenalkan diri masing-masing, lalu mengajak mereka untuk segera menuju ke mobil militer di depan. Ini adalah sebuah perjalanan menuju ke pangkalan militer terdekat, untuk segera mengawali petualangan yang tidak bisa diprediksi situasinya di pedalaman hutan tropis selatan Papua nanti.

Dua kendaraan militer meninggalkan bandara Mopah  menggunakan jalur darat dengan pengawalan TNI AD menuju ke timur mendekati daerah perbatasan. Seperti rute pada umumnya, dengan medan jalan yang sedikit sulit, perjalanan dari Merauke ke Pos Lintas Batas Negara (PLBN) di Sota mereka tempuh dengan hati-hati karena hujan menjadi tiba-tiba deras di beberapa ruas jalan.

Dari luar bandara ternyata sudah mengikuti sebuah truk lagi berisi beberapa prajurit TNI bersenjata lengkap. Sepertinya agak berlebihan pengawalan kali ini. Mungkin karena khawatir mereka akan terjebak di jalan oleh sergapan kelompok-kelompok yang tidak bertanggung jawab, yang mengincar pengguna jalan sepanjang Merauke menuju ke daerah-daerah terpencil lainnya.

Perjalanan dari Merauke ke Sota sendiri memakan waktu sekitar dua setengah sampai tiga jam. Dan hawa sejuk dingin segera mengganti kegerahan dengan tiba-tiba walau gerimis masih membuat lembab udara. Mobil SUV yang membawa mereka, akhirnya mendekati pos di Sota. Mereka berencana beristirahat semalam di situ sebelum melintasi perbatasan Indonesia - Papua New Guinea. Malam, hujan semakin deras mengguyur perbatasan. Dan rombongan yang dikawal Januari dan Ema tertidur pulas karena kelelahan setelah perjalanan yang terus-menerus tanpa sempat beristirahat sama sekali. 

Keesokan harinya, mereka melanjutkan perjalanan menuju ke pos lintas batas negara dengan sebuah truk karena harus membawa peralatan riset juga. Kali ini mereka ditambah pengawal tiga anggota yang mengenal medan dengan baik. Setelah pemeriksaan dokumen di PLBN Sota, mereka melintasi perbatasan menuju Papua New Guinea.

Onisimus Mambor, teman lama Sersan Darto, adalah tentara berpangkat Sersan Dua yang menguasai hampir semua bahasa suku pedalaman. Dan dia juga yang menjadi guide dalam misi menelusuri pedalaman kali ini. Pengalamannya dalam menjelajah hutan untuk memburu KKB yang meresahkan warga sudah teruji. Serda Mambor adalah ujung tombak Tentara Nasional dalam setiap operasi.

Lebih dari dua jam mereka meninggalkan Indonesia memasuki wilayah negara tetangga Papua Nugini. Medan yang mereka tuju terlihat sangat berat karena jauh meninggalkan akses jalan utama menuju ke wilayah berhutan lebat dengan jalan makadam kasar yang sangat buruk. Sampai kemudian jalan itu terputus dan tidak lagi bisa dijangkau oleh roda-roda kendaraan. Akhirnya truk militer tidak bisa lagi melanjutkan perjalanan karena mereka harus memasuki belantara hutan tropis  lebat dengan medan rawa-rawa yang hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki, berwujud jalan setapak warga. Di pos terakhir di beberapa kilo meter di timur laut Sota, rombongan periset yang dikawal tentara segera melanjutkan perjalanan dengan benar-benar berjalan kaki. 

Semua peralatan riset di panggul oleh dua tentara bergantian. Praka Suherman dan Pratu Manurung, anak buah Sersan Mambor, mendapat giliran pertama membawa alat riset itu. Kemudian, Onisimus Mambor dan Darto Dharma, kedua Sersan itu, bergantian membantu. Januari juga mendapatkan gilirannya. Dan akhirnya perjalanan mencapai puncak sebuah bukit. Menuruninya sampai ke area rawa-rawa yang becek. Mereka sesekali beristirahat karena jarak yang harus ditempuh masih lumayan jauh. Dan tidak bisa memforsir tenaga karena bisa membuat mereka lengah dan tidak waspada. 


***

"Peralatan kita tidak banyak, hanya standar lapangan saja. Kita hanya bertugas untuk mengumpulkan sampel. Penelitian lebih lanjut akan dilakukan di Balai Besar di Salatiga," kata dr. Mira Santos yang blasteran Jawa-Brasil. Mereka saat itu memutuskan untuk beristirahat sejenak di bawah lindungan sebuah pohon besar yang berdiri di tepi sabana kecil berilalang pendek.

Semua anggota rombongan bernafas lega karena mereka bisa menemukan tempat yang nyaman di bawah pohon yang daunnya mampu menahan gerimis kecil yang turun sesekali. Mereka duduk beralaskan kain tenda darurat yang digelar Suherman dan Manurung di atas dedaunan yang berserak di bawah pohon. Mereka menikmati bekal seadanya dari sebuah toko kelontong di Sota tadi.

"Saya harap perjalanan kita tidak ada kendala," kata Sersan Mambor sedikit khawatir setelah meneguk air minumnya. "Masih ada sekitar delapan kilo lagi. Melewati padang semak itu, lalu sebuah bukit kecil di belakangnya. Dan kita harus sampai ke sana sebelum gelap," katanya sambil menunjuk tempat yang dimaksud. Semua melihat ke arah sebuah bukit yang tidak begitu tinggi agak jauh di depan. Delapan kilo lagi? Mungkin lebih... 

Sersan Mambor benar-benar mengenal tempat yang akan mereka tuju. Dan dalam beberapa hari terakhir tempat itu sudah ditinggalkan oleh kelompok kriminal bersenjata karena suatu hal yang lebih mengerikan dari sekedar baku tembak.

Januari bisa melihat kekhawatiran pada wajah Sersan legam yang gagah dan tinggi besar itu. Dia tahu bahwa Sersan Mambor adalah seorang yang benar-benar terlatih secara fisik dan mental. Jika ada sesuatu yang dikhawatirkan olehnya, tentu ada alasan yang sangat mendasar.

"Apakah ada hal-hal yang tidak Anda inginkan terjadi di perjalanan kita? Penyergapan, misalnya," tanya Januari kepada Sersan Mambor.

"Saya justru tidak berpikir ke situ. Kedatangan Anda semua justru tidak menjadi masalah. Mereka sudah tahu akan ada periset yang datang untuk meneliti penyakit aneh yang menerjang desa-desa fi pedalaman," jawabnya tegas dengan bahasa yang lugas dan jujur.

Ema sedikit penasaran. Gerombolan KKB sudah mengetahui mereka akan datang. Kenapa Sersan itu sepertinya tidak begitu memikirkannya? Sepertinya kekhawatirannya adalah bukan kepada gerombolan bersenjata yang meresahkan, tetapi kepada sesuatu yang lain. Hewan buas? Atau penyakit aneh itu?

"Di sini para pejuang lebih khawatir dengan sesuatu yang lain. Kebangkitan roh hutan dan roh para leluhur. Leota telah membangkitkan amarah para pahlawan kepercayaan. Sedangkan Kha-Khua sudah benar-benar merasuki para penduduk untuk mengusir manusia yang menjarah tanah yang mereka jaga, sehingga wadah mereka berubah menjadi gila. Menyerang siapa saja. Baik itu para pejuang di pedalaman maupun tentara kita. Korban sudah banyak yang jatuh. Di kedua belah pihak," kata Sersan Mambor kepada Ema. Partner Januari itu masih belum mengerti maksud Sersan tinggi besar yang fasih berbahasa Indonesia dan logatnya tidak sama seperti kebanyakan warga dari sekitar perbatasan.

Januari menemukan kenyataan bahwa Sersan itu adalah seorang intelektual yang berpendidikan. Dan dia heran kenapa tidak melanjutkan pendidikan sampai menjadi perwira menengah. Pengendalian diri, dan pandangannya yang luas, yang diketahui pasti oleh Januari sejak mereka ngobrol tentang KKB selama dalam perjalanan, membuat detektif swasta itu kagum kepadanya.

"Anda yakin kita tidak akan mendapat masalah dari mereka?" tanya Sersan Darto sedikit curiga. Sersan Mambor hanya tersenyum masam.

"Ini adalah wilayah operasi kami, Ndan. Jangan khawatir. Saya sangat mengenal mereka. Akhir-akhir ini komandan batalion menekankan pendekatan yang lebih bijak. Saya adalah pembicara yang menjembatani kesepakatan damai antara tentara kita dengan pejuang-pejuang itu. Jadi sedikit banyak saya masih punya pengaruh di hadapan mereka," jelas Mambor. Darto mengangguk paham. Dan Januari semakin salut dengan Sersan raksasa yang benar-benar sarat pengalaman itu. 

"Mengenai wabah penyakit yang menyerang suku-suku pedalaman itu, saya mengerti sedikit perihal adat budaya yang unik dan pernah kami yakini dengan iman kuat. Di sini, kepercayaan kepada leluhur sangat dijunjung tinggi. Anda adalah orang dari luar yang tidak akan memahami kearifan lokal. Jadi sulit bagi saya menjelaskan soal kepercayaan mereka. Menurut saya, itu sebenarnya sebuah penyakit atau sesuatu yang berhubungan dengan medis. Tetapi di sini tidak bisa disebut demikian," kata Mambor.

"Kau tidak lantas mempercayainya bukan?" tanya Darto.

"Ndan, saya dilahirkan di perbatasan. Adat dan budaya mereka adalah bagian hidup saya. Setelah kemajuan teknologi ini saja saya jadi merubah persepsi karena semua menjadi dapat dijelaskan secara logis dan ilmiah," jawab Mambor. Darto menatap kasihan kepada sahabat lamanya. Dia begitu tertekan ketika terbentur kenyataan bahwa warisan leluhur menjadi berbenturan dengan sains dan logikanya.

"Sebagai orang Jawa, apakah Anda bisa menanggalkan kepercayaan lama Anda begitu saja untuk digantikan dengan logika sains?" Sersan Mambor balik bertanya.

Mendapat pertanyaan tak terduga itu, Darto terdiam. Ia pun larut dalam pikirannya tentang pergeseran zaman. Dahulu, ia sangat percaya pada keberadaan pseudosains, klenik, dan dunia gaib perdukunan yang tak masuk akal. Semua itu diterimanya mentah-mentah. Namun, setelah ia menyadari bahwa sebagian besar hanyalah kebohongan belaka, ia mulai meragukan kebenaran hal-hal yang berkaitan dengan praktik-praktik ritual spiritual.

Akhirnya, Sersan Darto memilih untuk tidak pernah bersinggungan dengan hal-hal semacam itu lagi.

"Saya masih meyakini apa yang dahulu saya yakini, hanya dalam konsep yang berbeda. Saya percaya pada Tuhan dan dunia setelah mati. Namun, saya tidak lagi percaya pada ritual-ritual spiritual yang aneh-aneh. Jika saya mengikuti ritual-ritual itu, saya merasa tersesat. Memang, itu bisa menjadi dasar untuk mencari Tuhan pada awalnya. Tetapi setelah kita menemukan wujud Tuhan dalam keyakinan kita, maka kita tidak bisa sembarangan menjadikan ritual itu sebagai sarana penghubung. Kecuali jika itu bagian dari penyatuan dengan Semesta Agung," jawab Darto kemudian.

Dokter Mira, Dokter Raka, Januari, Ema, Manurung, dan Suherman, yang ikut dalam pembicaraan itu, hanya mendengarkan dengan saksama tanpa berniat larut dalam diskusi. Mereka lebih memilih diam sambil mencerna sebisanya.

"Nah, begitulah seharusnya. Beberapa suku kami melakukan hal yang tidak bisa dibenarkan di masa lalu, seperti praktik kanibalisme dalam ritual kematian. Itu membuat kami merasa seperti tidak beradab. Namun, itu adalah warisan leluhur, dan tidak mudah bagi kami untuk meninggalkannya begitu saja di masa lalu.

"Kemudian datanglah para misionaris, mengajarkan konsep ketuhanan yang sama sekali berbeda dan lebih mudah kami terima. Akhirnya, sebagian besar dari kami benar-benar bisa menerimanya. Namun, sebagian lainnya yang masih fanatik dengan warisan leluhur akhirnya meninggalkan suku untuk mengasingkan diri ke dalam hutan. Beberapa dari mereka masih melakukan praktik yang jelas-jelas salah di mata peradaban modern. Saya yakin dari situlah asal mula wabah penyakit ini," jelas Mambor panjang lebar.

"Ketika wabah itu menjangkiti beberapa penduduk yang terisolasi dan menolak modernisasi, antara kedua pihak berseteru, yaitu OPM dan Tentara Nasional kita, memilih bekerja sama untuk membantu penduduk pedalaman. Itupun tidak mudah bagi kami. Mereka memang suku fanatik yang memilih menyingkir dari peradaban baru dan menolak tekhnogi modern. Dan itu sedikit menyusahkan kami karena mereka kelompok nomaden," tutur Mambor. 

"Beberapa kelompok keluarga, berpindah-pindah mengikuti sedikit banyaknya populasi binatang buruan dan sumber makanan mereka. Jadi kita akan sedikit membutuhkan energi ekstra untuk bisa menemukan mereka, sebelum berubah!" kata Sersan Mambor menjelaskan situasinya. Ada yang mengganggu pikiran rombongan periset ketika Sersan itu mengatakan kalimat terakhir.

"Berubah? Berubah bagaimana maksud anda?" tanya Dokter Raka tidak bisa menahan rasa penasarannya.

"Khua-Khua atau KhaKhua adalah roh leluhur yang menggerakkan tubuh keturunan mereka. Ketika mereka menemukan kemarahan di antara orang-orang yang berseteru, maka mereka akan terpancing. Mereka akan ikut marah. Lebih mengerikan lagi adalah mereka akan memusuhi kedua pihak itu tanpa pilih-pilih. KhaKhua akan menyerang dan memakan mereka yang sedang berperang!" jelas Sersan Mambor. 

"Memakan? Maksud anda?" tanya Ema tidak mengerti. Gadis itu menatap pria pribumi yang berjalan di sebelahnya dengan penuh tanda tanya.

"Roh akan menuntun mereka melakukan sesuatu yang kejam, buas dan tidak wajar sampai kedua belah pihak berseteru memilih berdamai dan meninggalkan tempat tinggal penduduk pedalaman di tengah hutan. Dokter, itu yang ingin anda teliti bukan?" kata Sersan Mambor sambil melirik ke arah Dokter Raka.

"Maka dari itu kita harus berhati-hati. Sebentar lagi kita akan memasuki kawasan hutan. Dan akan berbahaya bila kita melanjutkan perjalanan bila hari mulai gelap. Malam ini kita akan beristirahat di gubug balik bukit. Dan melanjutkan perjalanan besok pagi!" sambungnya sambil menunjuk ke sebuah bukit tak jauh di depan. 

Sekitar satu setengah jam telah dilewati bersama. Tanaman perdu berduri yang menyelipkan diri di antara rimbunnya ilalang membuat perjalanan sedikit lambat. Beruntung boot kulit tebal mereka sangat kuat dan tidak mudah ditembus duri-duri kecil perdu nakal. Januari dan Serma Darto mengamati sebuah bangunan seperti rumah panggung sederhana berdinding kayu di puncak bukit tak jauh dari mereka. Ada dua pria bersenjata laras panjang tanpa seragam tentara sedang duduk di teras yang lebih tinggi lantainya daripada lelaki dewasa berdiri. Lantai rumah panggung yang disebut gubuk oleh Sersan Mambor itu terbuat dari papan kayu tebal. Dindingnya juga sama-sama tebal. Dan sebuah tangga sederhana menjadi satu-satunya jalan untuk naik-turun rumah panggung itu. 

Atap daun nipah menutupi bagian atas bangunan kayu itu sedemikian tebal dan rapat sehingga hujan tidak tembus membasahi ruang dalam gubug. Di halaman depan, tampak bekas api unggun yang tinggal arang dan abu dibiarkan begitu saja di atas tanah basah seperti genangan, setelah tadi sempat diguyur hujan. 

Sedang kayu-kayu kering yang rata-rata sebesar paha orang dewasa, dipotong sepanjang satu meteran tanpa dibelah, menumpuk di bawah lantai kayu gubuk itu sehingga tetap kering dan bisa dibakar sewaktu-waktu. 

Kedua orang yang duduk di teras segera bangkit berdiri dengan waspada ketika melihat rombongan periset yang dikawal tentara berseragam terlihat mendekat limapuluh meteran dari mereka. Kedua orang itu adalah anggota KKB yang lebih suka menyebut diri pejuang. Dan gubug itu ternyata base mereka yang terpencil di tepi hutan tropis yang lebat.

"Jangan melakukan hal-hal yang membuat mereka menyerang kita. Itu adalah gubuk KKB. Kita akan menumpang bermalam di sana," kata Sersan Mambor.

"Apa tidak bahaya?" tanya Sersan Mayor Darto khawatir. Misi ini adalah tanggung jawabnya. Dan dia tidak mau kedua dokter yang dikawalnya terancam bahaya.

"Sudah saya katakan bahwa komandan batalion kami menggunakan pendekatan lebih baik dalam mengatasi konflik yang berkepanjangan. Dan itu adalah hasil nyata pemikiran beliau yang bijaksana. Kami bisa hidup berdampingan tanpa ada perseteruan lagi diwilayah ini," jawab Sersan Mambor.

"Mohon untuk mempercayai saya... Oke, Anda tunggu di sini sebentar... Saya akan bicara kepada mereka!" Tentara tinggi besar itu melangkah dengan mantap tanpa keraguan sedikit pun untuk menghampiri dua gerilyawan bersenjata laras panjang. Tangannya melambai dan dibalas kedua orang bersenjata dengan teriakan yang familiar. 

Mereka sejenak berbicara dalam bahasa ibu mereka. Sesekali, Sersan Mambor dan kedua gerilyawan itu menatap kepada rombongan periset sambil bicara serius. Akhirnya, tak lama kemudian, seorang dari lelaki bersenjata itu berteriak lantang ke arah Dr. Mira dan Dr. Raka. 

"Hallo dokter. Jangan lama-lama di luar. Hari semakin gelap. Masuklah!" seru seorang dari penjaga gubuk bersenjata itu. Sersan Darto pun memimpin mereka dengan kewaspadaan penuh. Dan malam itu mereka beristirahat di dalam gubuk bersama dua lelaki bersenjata tadi. Sedang Suherman dan Manurung harus kembali ke Sota untuk melaporkan bahwa tim sudah tiba di pos utama dan siap melanjutkan misi investigasi wabah yang menjangkiti penduduk di kawasan sekitar pos perbatasan Indonesia-Papua Nugini.

Setelah matahari terbenam, mereka menyuguhkan makan malam berupa ubi jalar yang direbus dengan ikan sarden kaleng sebagai lauknya. Beberapa botol minuman keras yang bermerek dagang perusahaan dari Australia juga ikut hadir menjadi teman ngobrol mereka.

"Saya Waromi dan teman saya yang sedang menyalakan unggun di luar bernama Eneas. Kami sudah dua minggu berjaga di sini. Begitu saya dapat kabar dari Pak Mambor beberapa hari lalu, bahwa akan ada dokter yang berkunjung, saya segera siapkan semuanya. Ini sarden kaleng dari Sota kami bawa ke sini!" kata seseorang yang pendek keriting dengan tubuh sedikit tambun. Dia mengaku bernama Waromi.

"Minuman ini?" tanya Januari sambil mengangkat gelas dan mulai mengosongkan isinya. Waromi sepertinya suka melihat lelaki muda yang mau minum bersamanya. Sedang yang lain memilih menyeduh teh celup bekal mereka.

"Itu dari sahabat kami yang sering bolak-balik Sidney-Merauke membawa logistik pesanan kami. Mr. Andrew adalah pedagang kenalan lama kami," kata Waromi. 

"Eee... Maaf, pak Waromi, sebenarnya bagaimana situasi di sekitar sini. Saya tadi sempat melihat beberapa orang yang mencurigakan di sekitar hutan tak jauh dari gubuk ini," kata Dr Raka mulai bertanya tanya. 

Ya. Ada beberapa orang mencurigakan tak jauh dari mereka. Dr. Raka juga anggota rombongan lainnya menjadi khawatir bahwa mereka tidak sedang masuk perangkap gerombolan orang-orang bersenjata itu. Tetapi jawaban Waromi sungguh jauh dari prasangka mereka.

"Itulah yang kami takuti sekarang ini. Bukan lagi kami takut senjata api. Tetapi kami lebih takut kemarahan KhaKhua! Mereka menuntun anak-anak dan penduduk pedalaman untuk memburu kami. Membunuh kami! Kemudian membangkitkan beberapa dari kami kembali untuk menjadi bagian dari mereka!" kata Waromi dengan raut wajah sulit di tebak. Ada banyak sekali tumpukan perasaan di antara kerut wajahnya. 

"Selama ini kami menahan mereka agar tidak melewati pos ini dan menyerbu ke pemukiman warga di Sota. Kami menembaki mereka. Menembaki saudara-saudara kami sendiri. Tetapi kamilah benteng terakhir. Bila gubuk ini hancur dan bisa mereka lewati, maka Sota dalam bahaya!" jelas Waromi.

"Kami masih tidak mengerti. Khakhua itu apa?" tanya dokter Mira Santos.

"Itu roh leluhur. Dan mereka akan kembali kepada keturunannya setelah mengantar Auma kembali ke tanah orang mati. Dan tidak biasanya Khakhua semarah ini? Kami tidak yakin bisa menghentikannya kalau KhaKhua menyerang kami," jawab Waromi dengan nada bicara yang khas.

"Itu sebuah personifikasi bukan?" tanya Ema kepada Sersan Mambor. Yang ditanya hanya menjawab dengan tersenyum. 

Bab Sebelumnya | Bab Berikutnya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KARMA-Tuhan yang Kulekatkan di Namaku

UNICORN - Cerita Horor Boneka Arwah Terkutuk

UNICORN - Cerita Horor Boneka Arwah Terkutuk - Bagian 1