CANDRAMAWA – Kisah Siluman Macan Kumbang (Cerita Horor Mistis Legenda Jawa Tengah) - Bagian 7
Berita di televisi.
[Pembawa Acara]
Selamat datang di program kami, "Dunia Medika, anda sehat, dunia selamat!" di mana kami akan membahas isu-isu kesehatan terkini langsung bersama narasumber-narasumber yang berkompeten di bidangnya. Hari ini, saya, Naiwa Tijab, menghadirkan dua narasumber yang sangat ahli, Dr. Arief Rahman dan Dr. Lyla Subakti, yang akan membahas tentang penyakit tular vektor dan zoonosis yang menjadi isu serius di Indonesia. Selamat datang, dokter Arief!
[Dokter Arief Rahman]
Terima kasih, senang bisa berada di sini.
[Pembawa Acara]
Dokter Lyla juga sepertinya sedang bersemangat hari ini. Selamat datang.
[Dokter Lyla Subakti]
Terima kasih, Naiwa, sebagai periset di Balai Besar Litbang Vektor dan Reservoir Penyakit, kami senang bisa berbagi informasi kepada publik lewat program ini.
[Pembawa Acara]
Baik. Mari kita mulai dengan pembahasan mengenai penyakit tular vektor. Dokter Arief, dapatkah Anda menjelaskan apa itu penyakit tular vektor dan bagaimana situasi di Indonesia saat ini?
[Dokter Arief Rahman]
Tentu Naiwa, ini yang membuat kami merasa prihatin sekali dengan perkembangan memprihatinkan di dunia medis mengenai penyakit yang semakin hari semakin aneh-aneh saja. Eee... Penyakit tular vektor adalah penyakit yang ditularkan melalui vektor seperti nyamuk, kutu, atau lalat. Di Indonesia, kita sering mendengar tentang demam berdarah dengue, malaria, dan chikungunya dan sebagainya. Dengan kondisi iklim tropis yang hangat dan lembap, Indonesia menjadi lingkungan yang ideal bagi perkembangbiakan vektor ini, sehingga meningkatkan risiko penyebaran penyakit tersebut.
[Pembawa Acara]
Menarik sekali. Selain penyakit tular vektor, ada juga masalah penyakit zoonosis. Dokter Lyla, apa yang bisa Anda jelaskan tentang ini?
[Dokter Lyla Subakti]
Lebih dari 60% penyakit menular pada manusia dikategorikan sebagai penyakit zoonosis, yang berarti penyakit ini dapat berpindah dari hewan ke manusia. Dari jumlah tersebut, sekitar 70% berasal dari satwa liar, termasuk kelelawar, burung, primata, dan mamalia lainnya. Penyakit zoonosis dapat berpindah melalui kontak langsung dengan hewan atau melalui konsumsi produk hewani yang tidak diolah dengan baik. Misalnya penyakit zoonosis yang mengerikan dan kita kenal sebagai rabies, flu burung, dan bahkan penyakit zoonosis baru seperti COVID-19.
[Pembawa Acara]
Apa situasi spesifik di Indonesia terkait penyakit zoonosis, Dok?
[Dokter Arief Rahman]
Indonesia memiliki lebih dari 132 spesies mikroorganisme patogen yang bersifat zoonotik, yang berarti mereka dapat menyebabkan penyakit pada manusia. Variasi spesies patogen ini mengancam kesehatan masyarakat, terutama di area yang memiliki banyak kontak dengan satwa liar atau di lingkungan pedesaan. Kita perlu meningkatkan kewaspadaan dan upaya pencegahan untuk mengurangi risiko penularan.
[Pembawa Acara]
Bagaimana caranya agar masyarakat bisa ikut berperan aktif dalam pencegahan penyakit ini?
[Dokter Lyla Subakti]
Banyak sekali caranya. Yang pasti adalah niat untuk tetap sehat dan menjaga pola hidup sehat. Masyarakat harus sadar akan pentingnya menjaga jarak dari hewan liar, serta memperhatikan kebersihan dan keamanan dalam mengonsumsi produk hewani. Itu paling penting. Kebiasaan mengkonsumsi olahan binatang yang tidak higienis dan tidak diolah secara benar, akan membuat penularan penyakit tertentu menjadi tidak terkendali seperti di perbatasan Indonesia-Papua New Guinea. Edukasi pengetahuan tentang gejala-gejala yang harus diwaspadai juga sangat penting untuk mendeteksi dini dan mencegah penyebaran penyakit.
[Pembawa Acara]
Terima kasih banyak, Dokter Arief dan Dokter Lyla, atas informasi yang sangat berharga tentang penyakit tular vektor dan zoonosis. Beberapa waktu lalu, kita mendengar berita yang sangat sangat viral di media masa maupun media sosial, yang juga sangat mengkhawatirkan tentang seorang tentara kita yang terjangkit penyakit aneh setelah digigit oleh anggota KKB diperbatasan Papua New Guinea. Digigit, sekali lagi, digigit! Apa bukan hal yang aneh dan luar biasa? Mengingat KKB tersebut saat itu memegang senjata yang siap tembak! Dokter Arief, bisa Anda ceritakan lebih lanjut tentang kasus ini?
[Dokter Arief Rahman]
Tentu. Kasus ini sangat menarik dan mengkhawatirkan. Tentara tersebut mengalami gejala yang sangat tidak biasa setelah terinfeksi. Dan beberapa dari kami berspekulasi bahwa penyebab infeksi itu adalah gigitan tadi. Korban sudah secepatnya dipulangkan karena fasilitas medis di sana tidak mampu meredakan infeksinya yang semakin memburuk. Sayangnya karena beberapa protokol yang sedikit rumit dan... eeh... complicated, tentara itu baru 8 hari kemudian sampai ke laboratorium kami untuk penanganan lebih lanjut. Dan saat itu sudah sangat memburuk keadaannya. Sehari kemudian korban meninggal dunia. Dan kami masih harus menelitinya untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
[Pembawa Acara]
Apa ada kemungkinan wabah baru yang mengancam dan berpeluang menjadi pandemi berikutnya dok?
[Dokter Arief Rahman]
Gejala yang dialaminya menyerupai kondisi yang dikenal sebagai penyakit prion, dimana protein dalam tubuhnya bermutasi secara luar biasa dan tidak mengikuti pola umumnya tentang infeksi prion. Kami perlu menelitinya lebih dalam lagi. Karena adanya potensi neurodegenerasi yang tidak biasa seperti umumnya penyakit yang disebabkan oleh prion pada umumnya. Ada sesuatu yang belum kami pahami yang menyebabkan perilaku penderita menjadi agresif. Yang lebih mengkhawatirkan, ada kemungkinan bahwa infeksi ini dapat menular melalui gigitan, semburan ludah atau ingus, sehingga meningkatkan risiko penyebaran penyakit tersebut. Tetapi harap masyarakat tidak perlu khawatir karena kasus-kasus ini hanya ditemukan di perbatasan Indonesia-Papua Nugini saja dan belum terdengar terjadi menimpa warga di beberapa distrik lainnya.
[Pembawa Acara]
Itu sangat menakutkan. Apakah ada penjelasan lebih lanjut mengenai bagaimana penyakit ini bisa terjadi? Apakah ada keterkaitan dengan zoonosis atau patogen lain?
[Dokter Lyla Subakti]
Dalam kasus ini, kami sedang menyelidiki kemungkinan bahwa penyakit ini mungkin terkait dengan paparan terhadap patogen yang belum pernah terlihat sebelumnya. Kami menemukan sifat jamur di tubuh pasien yang meninggal. Dan itu membuat kami seperti tidak mengerti sama sekali apa yang terjadi. Seolah-olah yang kami pelajari puluhan tahun menjadi tiba-tiba saja tidak berlaku menghadapi penyakit ini. Saat ini, kami sedang melakukan penelitian lebih lanjut untuk memahami lebih dalam tentang mekanisme penularan dan apakah ada kaitan dengan spora dari jamur tertentu yang dapat menginfeksi serangga. Pihak B2VRP sudah mengirimkan beberapa ahli terbaiknya untuk meneliti langsung di sumber pertama kali infeksi itu ditemukan. Di perbatasan Papua New Guinea! Kami berupaya untuk meneliti lebih dalam lagi untuk mengantisipasi memburuknya penyebaran penyakit aneh ini. Mungkin bila kami tahu penyebab mutasi Prion, kami bisa mengembangkan serum atau vaksin untuk mencegah penyebaran lebih lanjut.
[Pembawa Acara]
Jadi, Anda sedang mengembangkan kemungkinan membuat serum atau vaksin untuk mengatasi kondisi ini?
[Dokter Arief Rahman]
Benar sekali. Kami fokus pada penelitian ini agar bisa menemukan cara untuk melindungi tidak hanya tentara yang terlibat, tetapi juga masyarakat umum dari potensi penyebaran penyakit. Penting untuk segera memahami patogen ini dan implikasinya agar kita dapat mengambil tindakan pencegahan yang tepat.
[Pembawa Acara]
Terima kasih atas penjelasan yang sangat mendalam, Dokter. Sebelum kita mengakhiri sesi ini, bisa Anda jelaskan langkah-langkah yang dapat diambil masyarakat untuk menghindari penyakit ini dan patogen lainnya?
[Dokter Arief Rahman]
Tentu. Ada beberapa langkah penting yang dapat diambil untuk mencegah penularan penyakit ini:
1. Hindari Kontak dengan Satwa Liar: Masyarakat harus menghindari kontak langsung dengan satwa liar, terutama di daerah yang diketahui memiliki risiko tinggi penularan penyakit zoonosis. Hindari kontak dengan kelelawar, anjing liar atau kucing liar dan sebagainya. Pastikan binatang peliharaan anda selalu diperiksa oleh dokter hewan secara berkala.
2. Lindungi Diri dari Gigitan Vektor: Gunakan penghalang fisik seperti jaring nyamuk, serta aplikasikan repelan serangga yang sesuai saat berada di luar rumah, terutama di daerah endemis penyakit tular vektor.
3. Perhatikan Kebersihan dan Keamanan Makanan: Pastikan semua produk hewani yang akan dikonsumsi dimasak dengan baik. Hindari mengonsumsi daging atau produk hewani yang tidak terjamin kebersihannya.
4. Lakukan Vaksinasi: Vaksinasi terhadap penyakit tertentu, seperti rabies dan flu burung, sangat dianjurkan, terutama bagi mereka yang bekerja di bidang kesehatan hewan atau berada di lingkungan dengan risiko tinggi.
5. Edukasi Diri dan Masyarakat: Tingkatkan pengetahuan tentang gejala penyakit zoonosis dan tular vektor. Ini butuh peran aktif dari Dinas Kesehatan. Jika ada gejala yang mencurigakan, segera konsultasikan dengan tenaga medis.
6. Lapor Jika Melihat Satwa Terinfeksi: Jika masyarakat menemukan hewan liar yang tampak sakit atau berperilaku aneh, sebaiknya segera melaporkan kepada pihak berwenang atau lembaga perlindungan satwa untuk penanganan lebih lanjut.
[Pembawa Acara]
Langkah-langkah ini sangat penting untuk diketahui oleh masyarakat. Terima kasih, Dr. Arief dan Dr. Lyla, atas wawasannya yang sangat berharga. Ini adalah pengingat bagi kita semua bahwa pencegahan dan kewaspadaan adalah kunci dalam menghadapi tantangan kesehatan yang terus berkembang. Kita akan terus memantau situasi ini dan berharap agar pihak berwenang dapat menangani masalah ini dengan cepat dan efisien. Sampai jumpa di kesempatan berikutnya!
Komentar
Posting Komentar