CANDRAMAWA – Kisah Siluman Macan Kumbang (Cerita Horor Mistis Legenda Jawa Tengah) - Bagian 7
CHAPTER 02
Rasmi dan Saipul
Host : Arta Guntur
Host Pembantu : Beby Mercon
Narasumber : Rasmi dan Saipul
___
(Layar monitor menayangkan sebuah kejadian. Dimana sebuah almari kayu jati yang besar dan kokoh tiba-tiba jatuh menimpa Rasmi yang ketakutan karena sebelumnya boneka-boneka di almari itu berlompatan seolah-olah... hidup... atau ada yang menggerakkannya.)
___
Rasmi: mengerikan sekali menyaksikan hal itu menimpa kepada diri saya sendiri. Tidak terbayangkan sama sekali oleh saya sebelumnya.
Arta: Anda tentu tidak menduga bahwa ada kekuatan kegelapan yang menyelimuti Bria dan bisa membuat anda celaka.
Rasmi: Tidak, bukan Bria! Saya tahu pasti tentang itu. Saya bisa merasakannya. Itu adalah iblis yang memanfaatkan kesepian dan kesedihan hati Bria. Memanfaatkan kerinduannya kepada ibu dan adiknya sehingga.. Anda tahu.. Mereka itu keji dan jahat sekali. Mereka tidak peduli apakah itu anak-anak atau seorang yang saleh sekalipun. Selalu saja mereka memanfaatkannya untuk melakukan perbuatan jahat yang nyata kepada manusia.
Arta: anda yakin sekali bahwa itu adalah iblis yang memanfaatkan Bria?
Rasmi : Tentu saja itu iblis. Dalam agama yang saya anut pun sudah menyiratkan demikian. Dia tidak akan berhenti sampai seluruh manusia menjadi sekutunya.
Arta: Ya ya.. Saya paham tentang itu. Memang benar iblis selalu berdiri di belakang orang-orang yang lemah imannya. Juga di belakang orang-orang yang lugu dan polos. Eem... Bu Rasmi bagaimana awalnya anda bisa kembali ke rumah itu? Bukannya dulu sekali anda pernah mengundurkan diri?
Rasmi: Benar, memang begitu.. Awalnya kami senang sekali menerima pekerjaan itu kembali. Saya toh pernah bekerja dengan mendiang ibu ketika masih lajang dulu. Dan waktu itu ibu baru mengandung Bria beberapa bulan. Saya sudah lama serius pacaran dengan suami saya sekarang. Setelah menikah dengan bang Ipul, kami memilih pulang ke desa dan bertani.
Ini tahun ke delapan saya tidak mengunjungi ibu secara pribadi. Walau sekitar dua tahun lalu ketika Bria mau masuk sekolah dasar, ibu pernah berkunjung ke desa saya untuk menawari saya mengasuh Bria kecil. Mengurus dia berangkat dan pulang sekolah. Tetapi karena ibu saya sendiri sedang sakit-sakitan, maka saya tidak bisa memenuhi keinginan ibu Ira untuk kembali kerja di rumah besar beliau. Bahkan ketika ibu saya akhirnya meninggal dunia, karena memang sudah sepuh, ibu dan bapak melayat ke rumah saya di kampung. Bria begitu lucu saat itu. Tetapi saya tidak bisa memperhatikannya terlalu lama karena sedang dalam keadaan berduka dan banyak tamu pelayat. Sehingga saya hanya bisa berterima kasih atas kehadiran bapak Heri dan ibu Ira bersama Bria. Menurut ibu, beliau juga tak bisa berlama-lama karena di rumah meninggalkan si kecil yang baru berusia beberapa bulan.
Arta: ooh. Jadi mendiang bu Ira pernah berkunjung ke rumah bu Rasmi juga. Saya pikir sudah tidak ada komunikasi lagi setelah sekian lama anda meninggalkan rumah mendiang.
Rasmi: Tidak. Kami masih menjalin hubungan baik. Almarhumah ibu itu orangnya perhatian sekali. Tidak ada orang sebaik almarhumah bagi saya. Beliau sudah menganggap saya sebagai keluarga sendiri. Malah dulu sempat berpesan kalau butuh apa-apa supaya tidak perlu sungkan menghubungi ibu. Kebaikan beliau tak akan pernah saya lupakan seumur hidup saya. Dan saya menyesal tidak menerima amanah beliau di saat saat terakhirnya untuk mengurus Bria.
Belum genap dua tahun dari pertemuan terakhir dengan ibu, kemudian saya melihat berita televisi bahwa ibu mengalami kecelakaan bersama bapak dan putri kecilnya, juga meninggalkan Bria seorang diri. Saya mengajak bang Ipul untuk ikut melayat karena jarak kampung dengan rumah ibu di Salatiga itu dekat.
Dari situ bapak, maksud saya pak Hendar, meminta saya mengasuh Bria. Saya menerimanya dengan sepenuh hati sebagai amanah mendiang ibu Ira. Saya pikir akan bisa membalas budi dan kebaikan keluarga almarhumah dengan mengabdi di rumah besar itu. Saya mengasihi Bria sepenuh hati saya. Dan tidak pernah berniat sedikitpun untuk menyakitinya. Saya lakukan apa saja yang terbaik untuknya. Tetapi rupanya itu tidak bisa mengalihkan kerinduannya kepada ibu dan adiknya, Septa. Dia seperti menolak saya, selalu bermain sendiri, bicara sendiri dan tertawa sendiri seolah-olah adiknya, Septa, ada di dekatnya.
Awalnya saya tidak menyadari ada sesuatu yang mengerikan di belakangnya. Saya pikir dia begitu kehilangan dan rindu dengan keluarganya. Semua boneka milik Septa selalu dikeluarkan untuk bermain. Termasuk boneka unicorn yang menemani perjalanan terakhir Septa. Sampai akhirnya Bria semakin jauh dengan saya. Dia lebih suka menutup diri dan memilih diam di kamar atau main di taman belakang sendirian. Saya semakin merasa tersingkir dari kehidupannya ketika saya baru berharap bisa menemani Bria menghapus kenangan pahit kehilangan keluarga.. Dia masih kanak-kanak. Dan belum mampu berpikir bahwa kasih kami tulus kepadanya.
(Rasmi bersedih dan matanya berlinangan air mata).
Saya berusaha mengalihkan perhatiannya dengan mengawasinya belajar dan memberinya kesibukan dengan permainan edukatif atau sejenisnya. Dia butuh dialihkan, dan dengan begitu maka sesuatu yang di belakangnya tidak memanfaatkan kesepian dan kerinduannya.
(Rasmi menangis tersedu-sedu sehingga kameramen tidak tega mengambil videonya. Arta pun setuju dengannya. Kanal ini tidak ingin mengeksploitasi kesedihan seseorang untuk dijual kepada penonton setianya.)
(Selanjutnya wawancara dilanjutkan oleh suami bu Rasmi, bang Saipul.)
___
Saipul: pada dasarnya Bria itu anak baik dan cerdas. Dia suka jahil dan iseng? Ya, tentu saja itu wajar bagi anak yang mengalami trauma berat dan hidup dengan kesepian sepanjang waktu. Dia memang selalu berusaha mencari perhatian. Dan kami berusaha yang terbaik untuknya. Tetapi kadang pelajaran disiplin dari istri saya mendapat reaksi yang tidak baik dari anak itu. Semua anak ingin melakukan apa saja sendirian, seolah mereka bukan kanak-kanak. Tetapi bagi kami, Bria butuh banyak pendampingan agar lebih terbuka dengan kegiatan kegiatan positif di usia pertumbuhannya.
Anak sekecil Bria bisa saja menjadi sangat sensitif terhadap sikap orang yang tidak disukainya. Entah apa yang membuat dia seperti membenci kami. Mungkin karena kami bukan orang yang dikenalnya dengan baik. Kami sadar bahwa kami adalah orang asing yang tiba-tiba datang dalam kehidupannya ketika dia membutuhkan orang-orang terdekat di sisinya. Padahal kami sudah menganggap seperti anak sendiri.
Terus terang saja.. Ehh.. Saya ingin punya anak dari istri saya, Rasmi. Dengan mengasihi Bria setulus hati, saya berharap Rasmi akan mendapat anugerah momongan sendiri. Kata orang tua dulu, bila kita mengasuh anak orang lain, maka kita akan dipercepat mendapatkan keturunan. Sementara saya dan Rasmi hampir delapan tahun menikah masih belum ada tanda-tanda akan mendapat momongan sama sekali. Dengan mengasihi Bria... anggap saja... kami memancing untuk mempercepat kehamilan Rasmi. Bukankah siapa menabur dia juga yang akan menuai? Kasih sayang kami kepada Bria menghasilkan buah budi pekerti yang baik.
Saat ini, Istri saya, Rasmi, sudah dua bulan ini mengandung. Saya bersyukur sekali.
Arta : whuaa. Luar biasa. Selamat ya.. Bu Rasmi sudah mendapatkan anugerah calon momongan baru. Semoga dijaga, dilancarkan dan diberkati Tuhan sampai kelahiran nanti. Baik.. Saya paham sekarang, anda berdua ini sangat percaya dengan kuasa ilahi. Dan saya yakin sekali bahwa kejadian di rumah keluarga Bria adalah di luar kendali kuasa ilahi. Bagaimana anda bisa tahu hal itu?
Saipul: Teror itu dimulai ketika saya memangkas kebun belakang. Tiba-tiba selang yang sudah saya gulung sehabis menyiram tanaman menjulur menjerat kaki saya. Untung gunting taman yang saya pegang di tangan kanan saya, tidak melukai saya. Kalau sampai itu terjadi, mungkin saya tidak bisa bercerita lagi.
Saya yakin dan tidak lupa dengan selang itu. Saya benar-benar sudah menggulungnya. Saya suka semua hal rapi dan pada tempatnya. Karena itu akan mempermudah dan membantu saya untuk menghemat waktu dan bisa membereskan pekerjaan lain. Jangan bicarakan tentang apa yang telah saya kerjakan karena saya selalu mengingat detailnya.
Arta: Jadi anda terjerat oleh selang penyiram tanaman, dan anda yakin selang itu bergerak sendiri menjerat kaki anda?
Saipul: ya begitulah. Dan saya yakin kalau anda tidak percaya. Masih ada banyak lagi kejadian yang tidak terceritakan. Semua nyata kami alami sendiri.
Arta: Nah! Ini bagian yang menegangkan dan paling ditunggu para pecinta kanal kami. Silahkan.
Saipul: Sore ketika Bria selesai dimandikan istri saya, saya mendengar sesuatu. Suara yang gaduh sekali dari kamar mendiang ibu Ira. Kami biasanya membersihkan kamar itu seminggu dua kali yaitu pada tiap Senin siang dan Kamis siang. Dan kami selalu mengunci rapat-rapat pintunya. Kunci akan kami letakkan di kotak sebelah lukisan di dinding dekat pintu seperti perintah bapak Hendar.
Bria tertidur setelah selesai mandi dan makan kuenya. Dan kami melihat dia seperti kelelahan karena bermain seharian sepulang sekolah sehingga pulas tidurnya. Ketika kami beranikan diri untuk memeriksa kegaduhan dikamar itu, tiba-tiba kami dapati Bria sudah bersembunyi di loteng dengan tali untuk menakut-nakuti kami. Ketika dia ketahuan oleh saya, dia berlari untuk bersembunyi.
Saya berhasil menangkapnya dan membawanya kembali ke kamarnya. Saya tidak menyadari kalau dia telah menyelinap tanpa sepengetahuan kami.
Setelah memastikan dia tidak keluar kamar, kami pun masuk untuk membereskan kekacauan yang dibuat Bria di ruang pribadi almarhumah.
Mungkin kalian tidak akan mempercayai kejadian setelah itu. Ketika kami berdua masuk ke kamar mendiang ibu, tiba-tiba pintu kamar tertutup dengan sendirinya saya pikir Bria kembali keluar dan menutupnya dengan membanting pintu sangat keras. Bisa saja kan? Karena dia jengkel mungkin? Jadi kami hanya terkejut sebentar lalu mengabaikannya.
Kejadian berikutnya benar-benar membuat kami syok dan ketakutan setengah mati.
Boneka-boneka Septa yang berserakan di lantai, juga sprei dan pakaian mendiang ibu yang tersimpan rapi di almari yang seharusnya terkunci, seperti sengaja dihamburkan oleh sesuatu yang tak terlihat. Mungkin bukan oleh hantu Septa karena saya yakin dia telah berpulang ke pangkuan Tuhan dan damai di sana. Ini pasti ulah sang iblis supaya kami mengira roh orang yang mati karena kecelakaan akan kembali bergentayangan. Di ajaran agama kami, siapapun yang sudah meninggal, bagaimanapun cara dan penyebabnya, berarti dia telah menggenapi takdir dan kembali ke hadirat-Nya. Bukankah hidup dan mati manusia sudah ditentukan? Dia punya berbagai cara untuk membuat kita ada sekaligus memanggilnya.
Arta: Ya .. Saya mendengar dari tuan Hendar bahwa anda adalah sepasang suami istri yang taat ibadah dan rajin sholat. Pasti anda punya keimanan yang kuat.
Saipul: Saat itulah istri saya menjerit histeris. Dia menubruk saya erat-erat sambil menyembunyikan wajahnya dipunggung saya. Dia ketakutan sambil menunjuk ke dalam lemari besar milik mendiang ibu. Belum mengerti apa yang terjadi, tiba-tiba semua boneka dan barang-barang di dalam kamar seperti hidup menyerang kami.
Istri saya berlari duluan dan menggedor-gedor pintu kamar. Saya segera membantunya dan membuka pintu yang kuncinya ada di kantong saya. Tetapi berat sekali seolah itu dikunci oleh seseorang dari luar. Saya pun harus menggunakan segenap tenaga dengan gugup untuk membukanya kembali. Dan kami pun berhasil kabur dari kamar mengerikan itu..
(Saat itu, bu Rasmi sudah kembali tenang dan siap untuk di wawancara kembali.)
___
Arta: Bu Rasmi, Apa yang anda lakukan setelah berhasil keluar dari kamar. Apakah makhluk itu mengejar anda berdua?
Rasmi : Tidak! Tidak ada penampakan makhluk yang nyata! Mungkin halusinasi saya saja yang ketakutan setengah mati. Suami saya segera menelpon tuan Hendar untuk melaporkan kejadian itu. Tetapi beliau sepertinya tidak percaya kepada kami. Dan beliau pun berjanji bersedia datang keesokan harinya untuk melihat keadaan kamar.
Keesokan harinya, Bapak menemukan kamar benar-benar berantakan seperti kapal pecah. Dengan marah yang ditahan beliau memerintahkan Bria untuk membereskan sendiri kamar ibunya. Gadis sekecil itu... Anda tahu sendiri bagaimana dia menjadi bersungut-sungut dan pergi ke atas setelah sarapan. Tuan Hendar mengikutinya bersama kami. Dan menemukan dia berusaha sekuat tenaga membereskan kekacauannya. Saya menjadi tidak tega melihatnya, saya menangis.
Menurut Bapak, itu pelajaran buat dia yang membuat segalanya menjadi kacau. Dan Bapak tidak mengijinkan saya membantunya. Bria kecil yang malang... Setelah dia kelelahan dan akhirnya merebahkan diri di kasur ibunya, barulah Bapak menatap kepada saya. Dan akhirnya mengijinkan saya membantu berbenah.
Tahukah anda? Betapa dia sama sekali tidak membuat yang ditatanya tadi menjadi rapi? Anak seusia itu mana tahu cara bersih-bersih dan melipat pakaian dewasa? Haha... Seharusnya menjadi sebuah kenangan yang indah bila tidak terjadi hal-hal yang mengerikan itu. Hanya saya tidak tahu lagi apakah setelah dewasa nanti dia bisa mengatasi traumanya?
Arta: Akhirnya anda yang membereskan semuanya. hmm.. Memang trauma yang membekas dalam di usia dini bisa mempengaruhi hidup seseorang setelah dewasa nanti. Saya khawatir Bria akan mengalami hal itu. Tetapi saya yakin bahwa tuan Hendar tidak akan membiarkannya.
Rasmi: Teror itu masih belum seberapa! Beberapa kejadian berikutnya sungguh membuat saya sport jantung bahkan nyaris mati!
Arya: Oh my God! Sebegitunya?
Rasmi: Malam... sekitar... Eeemm... jam delapan lebih lah. Saya sedang beres-beres di dapur bekas makan malam kami. Suami saya, bang Ipul, sedang memperbaiki mesin cuci. Ia mulai dari jam tujuh malam lebih, kalau tidak salah ingat. Pokoknya setelah makan malam. Kami dengar lagi kegaduhan Bria di ruang tengah. Dia asyik dengan boneka unicorn kesayangannya. Itu sebenarnya boneka milik mendiang Septa, adiknya. Tetapi setelah Septa tiada, akhirnya menjadi kesayangan Bria. Saya juga memakluminya.
Dia saat itu melompat-lompat, berteriak, berlari-lari sekeliling ruangan, menaiki unicorn di atas kursi, lalu kembali melompat-lompat kegirangan. Seolah-olah ada adiknya sedang berada di dekatnya dan bermain bersama. Mungkin seperti itu dia berpikir. Seolah orang-orang yang pernah dekat dengannya dimunculkan kembali untuk merasakan kebahagiaan seperti yang pernah dirasakan.
Arta: Seperti berhalusinasi, atau berkhayal seolah-olah mereka masih ada di dekatnya?
Rasmi : Ya. Tetapi saya yakin dia bisa mengatasinya bila besar nanti.
Saya berdiri di ambang pintu sambil menatapnya. Perasaan wanita saya tersentuh, dan saya pun menangis. Saya tidak bisa menahan airmata saya menetes begitu saja sambil terus menatapnya. Begitukah rasanya kesepian? Menyakiti perasaan dan benar-benar dalam melukai perasaan.
Bayang-bayang Septa, itu hanyalah kebahagiaan semu yang diciptakannya sendiri seolah seluruh keluarga masih berada di sekelilingnya. Ini tidak boleh diteruskan... atau dia akan mengalami masalah psikologis di kemudian hari. Saya pun menghampirinya. Dan dia sepertinya tidak suka karena merasa terganggu oleh kehadiran saya. Tetapi saya tidak boleh membiarkannya, bukan? Seharusnya dia tidak boleh begitu. Membahayakan diri dan merusak mentalnya di kemudian hari.
Saya katakan kepadanya, "Bria, istirahat lah. Sudah waktunya tidur!" Saya hampiri, dia pun berhenti. Saya membelai rambutnya dengan harapan dia bisa menerima yang saya katakan..
Tetapi Bria malah menjadi marah kepada saya. Dia bilang mbak Rasmi ini tidak suka melihat orang sedang gembira. Bahkan dia sampai berkata bahwa saat itu dia sedang bermain dengan Septa. Dan itu nyata menurut Bria. Dia menunjuk ke arah sofa yang menurutnya Septa berada dan sedang duduk menontonnya di sana.
Arta: Septa adiknya? Waduh..
Rasmi: Sofa itu kosong. Percayalah! Tidak ada siapapun di sana. Saya merinding sekali mendengar bahwa ada Septa juga di ruang itu. Bria benar-benar belum bisa menerima kepergian adiknya. Dia masih terlalu kecil untuk berkabung. Karena khawatir, saya segera menggendongnya untuk saya bawa masuk ke kamarnya. Anak itu membiarkan saya menidurkan dia dan menyelimutinya karena AC sepertinya dibiarkan menyala dari tadi dan kamar menjadi begitu dingin.
"Bria besok sekolah dan tidak boleh terlambat atau mbak Rasmi bakal kena marah pakdhe!" kata saya. Dia jawab gini, "Biarin! Biar tidak kerja di sini lagi!" saya kaget juga mendengarnya. Tetapi itu hanya pembicaraan anak kecil. Maka saya tidak mengambil hati. Bukankah saya juga sudah pernah bicara kepada tuan besar bahwa sebenarnya saya takut tinggal di rumah itu. Dan ingin berhenti jadi pengasuh Bria. Tetapi tuan malah menaikkan gaji kami dan membuat kami tetap tinggal sampai kejadian malam itu.
Arta: Apa masih di malam itu juga?
Rasmi: Ya.. Malam itu juga. Saya menemaninya sejenak supaya dia menjadi tenang kembali. Setelah dia tenang, saya hendak keluar kamar untuk membereskan boneka-bonekanya di ruang tengah tadi.
Begitu saya menutup selimut Bria dan keluar kamar, saya melihat sebuah bayangan hitam hendak keluar dari dinding di ruang tengah. Sebenarnya sosok itulah yang saya lihat di kamar mendiang ibu beberapa hari lalu. Hanya saya tak mau dibilang berkhayal atau berhalusinasi oleh suami saya. Atau mungkin memang begitu? Pasti suami saya hanya akan menganggap saya mengacau karena saya takut, capek dan kebanyakan pikiran, mungkin. Sedang di ruang tengah itu, entah halusinasi atau tidak, saya tidak yakin, tapi perasaan saya mengatakan... itulah wujud asil iblis! Karena takut, saya bergegas hendak menyusul Bang Ipul di belakang.
Lampu ruang tiba-tiba berkedip-kedip tak karuan seperti ada seseorang mempermainkan saklar. Saya semakin ketakutan dan hendak berlari menuju ke dapur di mana bang Ipul masih sibuk dengan pekerjaannya memperbaiki mesin cuci. Belum sampai mendekati pintu dapur, tepatnya sesampai saya di depan almari buffet jati besar itu, tiba-tiba benda yang saya taruh rapi di dalamnya terlontar ke arah saya semua. Saya panik dan berteriak memanggil bang Ipul. Tetapi sekejap kemudian almari itu seperti terangkat dan menimpa saya sampai jatuh pingsan. Saya tak ingat apa-apa lagi.
Arta: wow.. Bahkan "sesuatu" itu bisa mengangkat almari jati besar, ya?
Rasmi: Saya tidak tahu apa-apa lagi setelahnya. Saya tersadar keesokan harinya. Punggung saya terasa patah dan tidak bisa digerakkan. Sakit sekali rasanya. Saya teriak memanggil-manggil bang Ipul. Tetapi dia tidak menjawab sama sekali. Saya menangis karena kesakitan dan takut. Sampai akhirnya pintu kamar Bria terbuka.
Arta: Kira-kira jam berapa anda siluman?.
Rasmi: entahlah.. Sekitar jam delapan lebih sedikit, mungkin..
Bria keluar kamar dengan membawa boneka unicornnya dan melewati saya begitu saja menuju ke dapur. Saya melihat suami saya terkapar di lantai di depan pintu sehingga pintu pun hanya bisa dibuka sedikit oleh Bria. Saya khawatir sekali melihat kenyataan bang Ipul terbaring di lantai tergeletak tak berdaya begitu saja. Tak lama kemudian Bria kembali dan berdiri di depan saya dan memarahi saya.
(Mata Rasmi kembali berkaca-kaca!)
"Mbak Rasmi tidak mau masak buat saya, ya.. Saya lapar..!" Katanya sambil memukulkan boneka unicornnya ke kepala saya beberapa kali. Saya hanya merintih menahan sakit sambil bilang, "Bria... tolong saya..."
Saya menangis lagi waktu itu. Dan dia melihat saya dengan tatapan aneh. Mungkin karena kasihan, akhirnya Bria mencoba mengangkat lemari besar dari jati solid itu. Bagaimana bisa? Saya yang orang dewasa saja tidak mampu bergerak menggeser almari itu, apalagi dia...
Akhirnya Bria menelpon tuan Hendar dengan telepon rumah. Dia sudah biasa telepon ibunya ketika beliau masih hidup dulu. Anak itu sebenarnya pintar sekali. Dia bilang begini, "Pakdhe, bantu mbak Rasmi, dia kejepit lemari besar. Saya tidak kuat angkat lemari!" Begitu saja dia menelpon, lalu dia kembali berusaha mengangkat lemari sampai tuan Hendar datang bersama beberapa polisi.
Ternyata bukan saya saja yg yang pingsan sampai pagi. Suami saya juga sama.
Arta: Benarkah? Anda berdua mengalami hal yang sama di waktu yang sama?
***
Saipul : Ya.. Benar..
Sebenarnya suasana ruang tengah sudah terasa aneh sekali sejak sore. Biasanya tidak ada angin di dalam rumah, kan? Apalagi ini rumah besar yang tertutup rapat begitu. Tetapi dari sore ruang tengah terasa ada angin berhembus dengan hawa dingin yang tidak biasa, seperti bukan dari AC. Saya mondar-mandir dari ruang depan untuk mengantar makan malam Bria yang pengin makan di ruang tengah, lalu ke dapur juga beberapa kali.
Ketika istri saya mau mencuci pakaian kotor kami dan pakaian Bria tentu saja, mesin cuci menjadi rusak mendadak. Hanya mengeluarkan suara berdengung tetapi tidak mau berputar. Saya pikir saya bisa memperbaiki. Maka saya pun membongkarnya. Saya tidak tahu apa yang dilakukan istri saya bersama Bria selama menemani dia makan di ruang tengah..
Ketika tiba-tiba istri saya menjerit, saya langsung begitu saja berlari. Tak tahunya pintu tiba-tiba menutup. Dengan sendirinya! Dan kepala saya terbentur dengan keras ke pintu itu sampai saya jatuh terlentang. Ada jam dinding tepat di atas pintu. Dan... Entah bagaimana caranya bisa jatuh menimpa kepala saya. Setelah itu saya tidak tahu apa-apa lagi. Saya pingsan. Ketika saya sadar kembali, di rumah sudah banyak polisi yang kemudian membawa kami dengan ambulans ke rumah sakit.
Itulah saat-saat terakhir kami memutuskan untuk tidak bekerja lagi di rumah angker itu. Walau berapapun kami ditambah gaji.. Saya akan menolaknya demi keselamatan kami sendiri. Kemudian saya sempat bicara dengan istri bahwa kami ingin Bria kami asuh saja di desa, atau di tempat kos yang tak jauh dari sekolah misalnya. Atau rumah kontrakan juga bisa. Tetapi Rasmi sudah ketakutan setengah mati ketika nama Bria saya sebut. Lagi pula, sekalipun istri saya bersedia, toh belum tentu tuan Hendar mengijinkan. Saya merasa kasihan sekali dengan nasib anak itu.
Arta: Sudah seperti anak sendiri, ya bang? Yah.. Begitulah perasaan setiap orang tua yang pernah dekat dengan anak-anak. Tentu selalu muncul perasaan yang sulit dijelaskan.. Apalagi sudah sekian lama menyaksikan si anak menderita sendiri dalam kesepian.
Ok. Terima kasih sekali bang Ipul dan mbak Rasmi. Semoga selalu ada berkah sehat dan rejeki berlimpah untuk anda berdua. Calon orang tua yang hebat.
Komentar
Posting Komentar