KURU – Cerita Horor Science Fiction Wabah Zombie di Pedalaman Papua - Bagian 3

Gambar
  03 - Manase yang Teguh "Bagaimana kau bisa kehilangan orang-orangmu, Manase?" tanya Waromi yang duduk begitu saja di lantai di luar tikar gelaran. Dia sedang memegang cangkir kaleng yang berisi kopi hangat. Walau tanpa gula tetapi Waromi bisa menikmati kehangatannya melewati tenggorokan dan menyentuh rongga dadanya yang nyaris beku karena kedinginan di bawah hujan tadi. "Hhh. Aku terlalu ceroboh dan tanpa perhitungan. KhaKhua ternyata sudah mengincar tempat ini sejak lama. Aku menampung anak Numfor yang terluka di sini. Dan aku tidak tahu kalau dia adalah KhaKhua. Aku perintahkan abang si Isak untuk merawat lukanya. Sementara kami berangkat berburu dan memanah ikan di sungai. Kami pulang ke gubuk menjelang sore dengan buruan yang banyak.  Sesampai di gubug kami tidak menemukan anak Numfor dan yang lainnya. Setelah mencarinya ternyata anak Numfor dan abang Isak sedang memakan tubuh Elias hidup-hidup. Aku marah dan menangkap anak Numfor. Menembaknya di kepala, tepat di a...

CANDRAMAWA – Kisah Siluman Macan Kumbang (Cerita Horor Mistis Legenda Jawa Tengah) - Bagian 7

 


07 Penciptaan

Parjio sudah menduga akan mendapat pertanyaan seperti itu ketika dia membuka kisah tentang hal-hal yang menyangkut tentang entitas "tan wadag". Untung saat ini dia tidak berhadapan dengan seorang yang fanatik. Bisa terjadi perang besar bila dia harus mengungkapkan beberapa hal yang bertentangan dengan keimanan mereka.
"Aku paham maksudmu. Sebaiknya kita pahami dulu tentang "proses penciptaan" di kepercayaan masyarakat Jawa penganut "kapribaden Jawa Purba. Ingat Penganut "kapribaden Jawa" dan bukan "Kejawen"!" kata Parjio mencoba memberi pengertian tentang Jawa dengan hati-hati kepada Adrian yang berpikiran logis dan ilmiah.
"Apa beda antara Kejawen dan kapribaden Jawa?" Tanya Adrian mendesak. Senyum Parjio mengembang. Selalu begitu pertanyaan orang-orang bila sudah menyangkut perbedaan mendasar tentang "kepribaden".
"Berbeda menurut ajaran yang kuterima dari kakek. Tetapi mungkin dianggap sama oleh para penganut Kejawen. Abaikan saja! Itu relatif, tergantung dari sudut pandang ajaran mereka masing-masing," kata Parjio mencoba memberikan batas-batas pemahaman tentang kepercayaan masyarakat Jawa. Sebuah ajaran yang menurut orang modern adalah sebuah bentuk ajaran yang sulit diterima nalar dan tidak relevan lagi di jaman sekarang.
Maka Parjio harus membuat Adrian mengerti bahwa ini bukan untuk memaksakan pandangan tentang cara hidup masyarakat Jawa yang secara eksplisit sering dianggap sebagai orang-orang berpikiran picik dan cenderung sesat, sehingga perlu diluruskan karena kekeliruannya. Apalagi menyangkut "proses penciptaan" semesta. Pemuda itu menghela nafas dalam-dalam, menata pikiran dan memilih bahasa yang tepat untuk disampaikan kepada sahabat terbaiknya.
"Konon dahulu kala ketika semesta masih berupa percikan-percikan dari "obah-osik sang Cahya". Ibu Bumi dan Bapa Akasa melakukan senggama suci untuk membuang sifat buruk yang mengikuti gerak putar "Jagat Alit" ( :inter galaksi ). Mereka belum memiliki wujud waktu itu. Hanya sebuah "kahanan kukus" (sifat gas dan cahaya) yang bergerak mengikuti Cakra Manggilingan dan saling berputar dan mengitari.
Senggama suci itu melahirkan lima sifat roh yang disebut "Pancawati", itulah cikal-bakal semua makhluk hidup yang tersebar di setiap sudut semesta. Baik itu di bumi kita maupun di bumi lain. Mereka masih berbentuk "Gana Suci" (benih suci) dari keadaan "Hana lan Mahanani" ("ada" dan menjadi sumber "keberadaan" makhluk).
Ketika ibu Bumi dan bapa Akasa dijadikan bentuk yang semestinya dan diletakkan dalam poros-poros yang membuatnya bergerak teratur mengikuti "Jantera Surya" masing-masing, maka sifat "Gana Suci" Pancawati itu pun mengambil bentuk yang semestinya juga."
"Mereka adalah *"tan wadag", "renik", "tetuwuhan", "sato kewan", "manusha"*. Dan golongan siluman adalah termasuk bagian dari sifat tan wadag itu," tutur Parjio menjelaskan tahapan penciptaan menurut pengetahuannya.
Adrian menjadi terdiam kelu mendengar penjelasan singkat Parjio tentang "proses penciptaan" dalam versi penganut Kapribaden Jawa. Benar-benar jauh dari apa yang dia dapatkan dari kitab-kitab suci yang pernah dipelajari di sekolah dulu. Dia menjadi takut untuk mencerna dengan akal dan logikanya. Apalagi pengetahuan yang menurutnya kuno dan tidak dapat dipertanggung jawabkan itu hanya disebarkan secara "gethok tular" (secara lesan) di kalangan eksklusif sesama penganut "kapribaden Jawa" saja. Seiring berjalannya waktu, tentu sudah mengalami penyusutan nilai-nilai dan sudah tidak utuh lagi.
"Aku paham, Yan. Aku tidak bermaksud membuatmu mempercayai hal-hal seperti itu. Kalau itu bertentangan dengan pemahamanmu tentang penciptaan, dan jauh meninggalkan logika ilmiah, maka abaikan. Anggap saja sebuah dongeng dari para pendahulu kita!" kata Parjio membuang kebimbangan Adrian.
"Ya. Tidak semua harus kita telan bulat-bulat, Jio. Kadang aku juga harus memegang teguh prinsip keimanan walaupun aku belum sepenuhnya bisa menjalankan ajaran agamaku. Baik! Aku akan anggap itu sebagai sebuah referensi untuk membuat sebuah dongeng atau mitos yang tak perlu kita bedah benar tidaknya. Aku setuju itu!" komentar Adrian di ambang bimbang.
"Yang pasti sebagai orang Jawa, aku mempercayai bahwa hal-hal yang bersifat ghaib adalah nyata adanya. Dan itu adalah bagian dari rukun iman," lanjut Adrian menegaskan pendiriannya. Parjio menepuk pundak sahabatnya lalu melangkah meninggalkannya untuk mengawasi kembali kinerja Alex dan anak buahnya yang sedang memasang instalasi jaringan. Kita tinggalkan kedua sahabat itu dengan semua kesibukannya. Tak terceritakan lagi urusan mereka.

***
Kembali kepada Harjono dalam tubuh seorang pemuda gagah yang sedang menunggu Siti yang berjanji menemuinya di gumuk Cigrek.
Malam ini sudah disepakati bahwa mereka berdua akan melakukan ritual terlarang bagi manusia juga bagi dunia siluman sendiri. Hati dan perasaan sejajar mengikuti hari yang sudah mulai gelap. Harjono sudah mengumpulkan peralatan dan uborampe yang diperlukan untuk ritual malam ini. Dia tidak melewatkan sedikitpun semua yang dibutuhkan.
Tak lama menunggu, sebuah mobil sudah parkir agak jauh dari gumuk Cigrek tetapi dapat terlihat jelas di mata nokturnal Harjono. Siti keluar dari mobil pribadinya diantar Rohmadi Bindeng, adik iparnya. Terlihat dia bicara sebentar dengan Rohmadi Bindeng yang kemudian memutar balik mobilnya membiarkan Siti sendirian melangkah menuju ke Gumuk Cigrek.
"Kang, kang Harjono... ini Siti kang..." kata Siti memanggil nama Harjono yang tidak terlihat oleh Siti. Lelaki itu berdehem supaya tidak mengejutkan wanita berumur yang baru datang. Dia menjawab, "langsung saja, Ti. Kita tidak punya waktu semalaman disini."
Siti lega mendengar suara yang dikenalnya. Dia segera menghampiri Harjono untuk segera mempersiapkan diri melakukan ritual.
"Tidak ada kucing hitam? Apa yang akan kita lakukan kang?" tanya Siti. Dia tidak menemukan kucing yang akan digunakan untuk ritual seperti belasan tahun lalu.
"Tidak. Kita tidak membutuhkan kucing hitam. Tetapi aku tetap akan akan membuatmu terlahir muda dan cantik lagi. Aku ingin kau membantuku nanti. Karena itulah aku sangat membutuhkanmu. Dan kau bisa membalas dendam kepada Somat," kata Harjono perlahan supaya Siti dapat menerimanya.
"Membuat saya terlahir cantik?" tanya Siti tanpa berpikir panjang lagi menjadi sumringah dan senang. Tetapi bagaimana bisa? Dia sekarang adalah seorang wanita tua yang sudah banyak mengeriput di beberapa bagian wajahnya. Seluruh bagian kulit tubuh yang pernah dibanggakannya sudah mengerut berlipat-lipat tanda sudah dimakan usia. Sekarang pemuda yang mengaku kang Harjono, yang pernah dikenalnya dulu, bilang bahwa mampu membuat dirinya cantik kembali.
Sungguh tawaran gila yang pasti sulit ditolaknya bila benar nyata dan bukan sebuah kebohongan. Tetapi dia kemudian kembali berpikir, Harjono harusnya lebih tua beberapa tahun darinya. Tetapi yang mengaku Harjono ini, pemuda tigapuluhan tahun. Gagah tegap dan perkasa. Bukankah kalau dia Harjono, seharusnya berumur enam puluhan dan menjadi sosok yang tua mendekati ajal? Bagaimana dia masih begini muda dan ganteng?
Wajah sombong pemuda Harjono dulu memang seperti dia yang sekarang. Dan Siti masih ingat persis karena ingatannya tentang Harjono yang pernah membuatnya tergila-gila dulu masih segar di kepalanya. Tetapi Harjono akhirnya juga menjadi tua dan seperti wajarnya manusia ketika terakhir kali mereka berkumpul di Gumuk Cigrek.
Benarkah pemuda ini adalah Harjono yang dulu? Walau berkali-kali dia meyakinkan Siti bahwa dia adalah orang yang dikenalnya, tetapi sulit bagi wanita itu untuk bisa menerima dengan akalnya. Dan kalau memang dia bisa melakukan keajaiban itu kepadanya, maka dia akan dengan senang hati menerimanya. Bukankah mimpi setiap wanita adalah tetap menjadi muda dan cantik. Maka sudah pasti Siti akan menerima tawaran langka itu walau dengan bagaimanapun caranya. Dia dengan tanpa ragu lagi menjawab setuju.
"Baiklah, kang, lakukanlah apa yang ingin kau lakukan kepadaku. Aku yakin bila kau memang kang Harjono, kau tak akan mencelakai," jawab Siti berusaha membuang segala keraguannya. Akhirnya pemuda siluman itu bernafas lega setelah mendengar jawaban Siti.
"Apa yang harus saya lakukan sekarang ?" tanya Siti menjadi gusar dan  tidak sabar.
"Kita harus bersetubuh!"
Jawaban Harjono itu membuatnya terhenyak kaget.
"Jangan berpikir macam-macam. Kita hanya perlu melukai tangan kita dan menyatukan darah sebagai syarat utama. Menjadi satu tubuh di alam ghaib maupun di dunia manusia. Semua ini supaya kau tidak akan kehilangan dirimu yang sebenarnya di Sunyaruri nanti." Terang Harjono memastikan maksud kata bersetubuh versi ritual mereka kali ini.
Siti pun manggut-manggut sambil memerah mukanya. Untung saja gumuk Cigrek dalam keadaan gelap malam itu. Sehingga Siti menganggap Harjono tak tahu perubahan air mukanya. Padahal Harjono memiliki mata yang lebih tajam yang bahkan bisa melihat perubahan prana yang mewakili keadaan psikologis manusia yang berada didekatnya. Hanya saja Harjono sedang tidak berpikir tentang apa yang dirasakan Siti yang sudah lama tidak tersentuh oleh Somat semenjak lelaki pengkhianat itu menikahi Trinil.
Ya! Trinillah yang membuat dia mendendam sedalam "jurang Grawah" (jurang yang kedalamannya tak dapat diukur). Mengingat nama Trinil, sama saja menyundut luka yang tak pernah sembuh dengan besi yang membara di hatinya.
Kedua insan yang bersembunyi dikegelapan malam Gumuk Cigrek itu duduk bersila saling berhadapan. Siti diminta membaca mantera pembukaan yang pernah mereka pelajari ketika masih muda dulu sebagai murid dan pengikut mbah Tro Karto. Beruntung sekali mantera pendek itu tidak lenyap tergerus waktu di kepala wanita pedagang sayur. Sedang khusyuk merapal mantera Pambuka ghaib, mata Siti menangkap tangan lelaki gagah di depannya mengeluarkan sebilah belati. Dengan sabar dia menunggu wanita tua itu selesai membaca mantera. Kemudian dia menyayat telapak tangan kirinya. Lalu menyerahkan senjata tajam itu kepada Siti supaya melakukan hal yang sama dengannya.
"Kang Harjono selalu langsung menuju ke inti masalah  tanpa peduli tentang perasaan orang," batin Siti.
"Baik, untuk membalaskannya sakit hati saya kepada lelaki pengkhianat itu, saya akan meneteskan darah saya," kata Siti memantapkan hati sambil menggoreskan sisi tajam belati ke telapak tangan kirinya.
Cairan hangat terasa membasahi telapak tangannya. Harjono mengulurkan tangannya yang berdarah. Dan Siti melakukan hal yang sama. Dua telapak tangan menyatu. Siti merasa masuk ke dalam alam pikiran Harjono. Sebenarnya tidak. Tetapi Harjonolah yang menariknya masuk kedalam ingatannya ketika terjebak dalam kebingungan di alam Sunyaruri. Dan Siti pun terkulai pingsan dalam pengaruh sihir lelaki siluman kucing yang duduk bersila di hadapannya.
Kemudian Harjono bangkit untuk merebahkan wanita berumur yang tak sadarkan diri itu. Tubuh Siti direbahkan membujur seperti sikap pelepasan di altar desa Macan Kumbang dulu. Dengan sikap itu, maka Siti sudah siap diantarkan ke dalam kematian untuk nanti dikembalikan dalam sebuah upacara oleh tetua siluman di Sunyaruri. Siti akan hidup lagi sebagai seorang yang baru.
Harjono mengangkat belati bekas menyayat telapak tangan tadi. Tanpa menunggu lagi, dia menghujamkan ujung belati itu ke belahan dada Siti tepat di ulu hatinya. Tubuh Siti hanya terguncang sebentar tanpa suara sama sekali. Lalu darah mengucur deras dari bekas Harjono mencabut belati. Wanita yang tenggelam dalam kesesatan karena dibutakan oleh cinta itu meninggalkan dunia manusia menuju dunia sunyaruri. Dan Harjono hanya perlu menemukannya lagi di antara hari ke tujuh sampai hari ke empat puluh di gumuk Cigrek ini.

***
Keesokan harinya warga menjadi heboh dengan ditemukan nya tubuh seorang wanita yang dibunuh dengan ditikam jantungnya di gumuk Cigrek. Polisi sudah mengamankan lokasi tempat pembunuhan. Wanita itu akhirnya dikenali sebagai Siti, si pedagang sayur yang sukses menjadi pedagang komoditas antar kota. Rohmadi Bindeng adalah sopir yang mengantar korban ke TKP sebelum ditemukan terbunuh keesokan harinya.
Polisi yang menginterogasinya mendapat kendala bahasa karena kesulitan untuk mengartikan kata-kata bindengnya. Karena lelah hati, mereka memilih menggunakan interogasi dengan diam tanpa kata. Gantinya adalah berlembar-lembar kertas yang harus ditulis sebagai jawaban pertanyaan polisi. Kendala lain pun timbul. Tulisan Rohmadi Bindeng yang hanya duduk di kelas satu SD itu lebih buruk daripada tulisan dokter. Terpaksa mereka harus mencari penterjemah yang mengerti dengan bahasa alien si saksi Bindeng itu.
Manis, Istri Rohmadi Bindeng yang adalah adik kandung mendiang Siti, akhirnya dikawal polisi untuk menerjemahkan kesaksian Rohmadi. Manis mengatakan setelah Rohmadi bicara sebagai berikut, "Sore itu suaminya diwanti-wanti untuk tidak mengambil dagangan dahulu karena dia disuruh mengantar Siti ke Gumuk Cigrek untuk menemui seseorang. Rohmadi yang saat itu hendak mengambil kolbis dan labu siam di desa Tolokan akhirnya menunda dengan ijin si petani via voice note WA, (aneh, kan?). Jam sembilan sebelum berangkat Rohmadi masih menunggu anak-anaknya belajar. Mereka pergi hanya sebentar. Dan sejam kemudian Rohmadi sudah kembali bersama anak-anaknya meneruskan belajar mereka. Setelah itu pun dia tidak kemana-mana lagi. Rohmadi adalah seorang yang lugu dan benar-benar tidak pernah neko-neko. Itu karena keterbatasannya dalam berkomunikasi sehingga menjadi minder bila berkumpul tetangga yang sering usil membuly-nya. Hiburan satu-satunya hanyalah berkumpul anak istri di rumah.
Wildan hari itu tumben sekali di kantor menemui Parjio untuk sekedar ngobrol. Tidak biasanya anak itu mendekati meja Parjio di jam-jam segitu. Parjio pun hanya meliriknya ketika Wildan mendekatinya.
"Mas, semalam di timur desa saya terjadi pembunuhan. Tepatnya di Gumuk Cigrek yang angker. Korban adalah seorang wanita yang dulu pernah jadi tetangga kami. Dia pernah masuk penjara karena terjerat kasus pembunuhan. Dan menurut warga dia termasuk pelaku pesugihan yang menumbalkan anaknya sendiri sampai mati tercabik-cabik makhluk iblis. Menurut mas Jio apakah benar ada orang yang bisa mati karena menjadi tumbal pesugihan?"
Parjio memicingkan mata menatap anak itu. Dia mendadak merasa aneh kalau Wildan sampai membahas soal begituan.
"Apa kau juga percaya pesugihan? Jujur saja!" Parjio balik bertanya.
"Kalau menurut agama yang saya anut sih, gak ada yang namanya pesugihan mas. Hanya bahan dongeng dan cerita fiksi saja, mas. Tapi hal ghaib kan ada dan saya wajib meyakininya," jawab Wildan yang taat beragama. Dia adalah contoh pemuda beriman yang sebenarnya. Parjio menjadi tak tahu harus berkata apa untuk menjelaskan pengetahuannya kepada Wildan yang memiliki pedoman kitab yang pasti. Sebenarnya dia lebih aman menjawab tidak tahu. Tetapi itu juga akan mengingkari kenyataan bahwa dia sebenarnya mengetahui tentang hal-hal seperti itu.
"Sebenarnya pengetahuan akan hal ghaib adalah urusan Tuhan semata. Dan kita hanya tahu sedikit saja mengenai itu. Tetapi lebih baik bila cukup pengetahuanmu untukmu. Dan pengetahuanku untukku. Singkirkan keingintahuan yang tidak pada tempatnya karena itu akan mempengaruhi keimananmu!" kata Parjio berusaha mengimbangi Wildan dengan bahasa kitabiah-nya.
"Ya mas. Terima kasih," jawab Wildan tersenyum sambil beranjak meninggalkan meja kerja Parjio.
Sepeninggal Wildan, Parjio bersandar di kursi beralas kedua lengannya. Wajahnya mendongak menatap langit-langit ruang kerjanya. Dia menerawang jauh menganalisa kejadian-kejadian aneh yang akhir-akhir ini muncul di Salatiga khususnya, dan lereng Membabu pada umumnya.
"Semesta seperti sedang diaduk. Seperti hendak didaur ulang oleh yang maha Kuasa. Manusianya juga sedang seperti "gabah di interi" (gabah yang ditampi di atas tampah). Isyarat-isyarat alam yang sedang murka sudah terlihat nyata. Seleksi alam sedang berlangsung dan aku masih belum bisa menemukan maksud dan tujuan semesta yang sedang bergejolak.
Apakah aku akan menjadi bagian yang akan didaur ulang, atau menjadi yang harus disingkirkan? Aku tak tahu. Harus mempelajari banyak hal lagi untuk tahu pasti makna yang tersirat. Mempelajari banyaknya fenomena alam yang terjadi akhir-akhir ini seperti sedang menyadarkanku untuk tetap "eling lan waspada" bahwa telah tersembunyi sesuatu rencana yang maha dahsyat akan dijalankan oleh semesta agung untuk semesta alit ini," pikir Parjio.
Sedang asyik dengan lamunannya, sebuah telepon menyadarkan dirinya. Pak Hermanto dari kepolisian minta ijin bertemu untuk sekedar berbincang. Dia yakin pasti ke Arabusta. Benar saja!
"Mas Parjio, terimakasih sudah mau datang. Perkenalkan ini rekan dari polres kabupaten yang sedang menangani kasus pembunuhan di gumuk Cigrek. Pak Handiman. Ini mas Parjio yang saya ceritakan itu," kata Hermanto ketika Parjio menghampiri mereka di sebuah meja yang menjadi favorit Hermanto, yaitu menghadap keluar kafe di samping dinding kaca tebal yang menampakkan pemandangan halaman parkir.
Parjio lalu berkenalan dengan detektif Polres Kabupaten yang sepertinya sudah agak sepuh dan pasti sarat pengalaman. Mereka kembali duduk dan mulai membahas sesuatu.
"Ada beberapa catatan tentang kasus aneh di duabelas tahun lalu. Yang kebetulan waktu itu ditangani pak Jarwo waktu masih muda, sigap dan disegani di kalangan residivis. Waktu itu, ada upaya pembunuhan seorang saksi yang menyaksikan ritual keji di gumuk Cigrek. Saksi korban berhasil diselamatkan dan dari penelusuran dan pengembangan kasus, korban meninggal adalah kedua anak kandung pelaku ritual sendiri yang justru tidak dapat dibuktikan karena tak ada sidik jari. Hasil otopsi malah jauh dari perkiraan kami. Korban meninggal ternyata dimangsa binatang buas yang tidak diketahui dari mana asalnya karena tidak ditemukan jejaknya sama sekali," Pak Handiman menjelaskan kronologi sebuah kasus lama yang ternyata pernah ditangani oleh pak Jarwo ketika masih muda dan masih aktif di lapangan.
"Lalu hubungan dengan kasus di Gumuk Cigrek kemarin bagaimana pak?" tanya Parjio mencari tahu hubungan antara kedua kasus yang berentang waktu dua belas tahun itu. Sebuah waktu yang tidak bisa dibilang sebentar.
"Korban meninggal yang ditemukan kemarin adalah salah satu pelaku ritual yang baru satu setengah tahun keluar dari penjara. Wanita itu termasuk salah satu pelaku yang dikenali korban. Ini foto-foto korban yang diambil dari tempat kejadian perkara tadi pagi," Pak Handiman mengeluarkan map plastik yang berisi foto-foto korban pembunuhan di Cigrek semalam. Ketika melihat sebuah luka lain di bagian tubuh korban tepatnya di telapak tangan korban, Parjio menjadi tertarik sekali.
"Maaf, apakah sudah diperiksa darah yang di telapak tangan korban? Sepertinya ada yang aneh di situ," tanya dukun muda itu penasaran.

Bab Sebelumnya | Bab Selanjutnya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KARMA-Tuhan yang Kulekatkan di Namaku

UNICORN - Cerita Horor Boneka Arwah Terkutuk

UNICORN - Cerita Horor Boneka Arwah Terkutuk - Bagian 1