KURU – Cerita Horor Science Fiction Wabah Zombie di Pedalaman Papua - Bagian 3

Gambar
  03 - Manase yang Teguh "Bagaimana kau bisa kehilangan orang-orangmu, Manase?" tanya Waromi yang duduk begitu saja di lantai di luar tikar gelaran. Dia sedang memegang cangkir kaleng yang berisi kopi hangat. Walau tanpa gula tetapi Waromi bisa menikmati kehangatannya melewati tenggorokan dan menyentuh rongga dadanya yang nyaris beku karena kedinginan di bawah hujan tadi. "Hhh. Aku terlalu ceroboh dan tanpa perhitungan. KhaKhua ternyata sudah mengincar tempat ini sejak lama. Aku menampung anak Numfor yang terluka di sini. Dan aku tidak tahu kalau dia adalah KhaKhua. Aku perintahkan abang si Isak untuk merawat lukanya. Sementara kami berangkat berburu dan memanah ikan di sungai. Kami pulang ke gubuk menjelang sore dengan buruan yang banyak.  Sesampai di gubug kami tidak menemukan anak Numfor dan yang lainnya. Setelah mencarinya ternyata anak Numfor dan abang Isak sedang memakan tubuh Elias hidup-hidup. Aku marah dan menangkap anak Numfor. Menembaknya di kepala, tepat di a...

CANDRAMAWA – Kisah Siluman Macan Kumbang (Cerita Horor Mistis Legenda Jawa Tengah) - Bagian 6

 06 Lelaki itu Siluman



Waktu berganti dengan cepat seolah hari, jam, menit dan detik yang sebat lewat, melebur menjadi sebuah lompatan ke belakang yang di sebut masalalu. Kemudian sampailah apa yang membuat kita terjebak sebagai: sekarang! 

Fajar itu begitu dingin. Siti menata dagangan di atas pickup dibantu Rohmadi, sopirnya yang "bindeng" (bicara sengau) di pasar Ngablak. Dia akan mengirim pesanan para pedagang sayur sekaligus menagih dagangan kemarin yang belum lunas. Rohmadi adalah adik ipar Siti. Sejak keluar dari penjara, Wanita itu terpaksa pindah rumah karena tekanan warga. 

Dia beruntung adik satu-satunya yang tinggal di daerah lereng Merbabu bersedia memberi tumpangan kepadanya. Kemudian dengan modal kecil seadanya, Siti merintis usaha dagang sayur. Tanpa diduga dalam waktu kurang dari empatpuluh hari, dia sudah menjadi seorang pedagang besar yang disegani para pedagang lain dipasar itu. Hanya empat puluh hari! 

Siti berdagang sayur di pasar Ngablak di wilayah kabupaten Magelang dibantu adik dan iparnya, Manis dan Rohmadi bindeng, yang saat itu hidup susah dan harus membiayai sekolah kedua anak lelaki mereka yang masih kecil-kecil. Siti sukses dalam menjalankan usahanya dan menjadi kaya dalam waktu singkat sehingga berhasil mendongkrak kehidupan keluarga adik dan iparnya sehingga mereka bahagia dengan kehidupan mereka yang sekarang.

Siti masih hidup sendiri. Somat yang berjanji hendak menikahinya telah mengingkari janji setelah mendapatkan kekayaan yang luar biasa. Wanita bernama Trinil, janda cantik tanpa anak yang baru berusia duapuluh delapan tahun telah merampas mimpinya memiliki Somat yang masih ganteng di usia mendekati limapuluhan tahun walaupun bertubuh kerempeng. Pengorbanan Siti yang jatuh bangun mengejarnya tidak pernah dianggap sama sekali. Somat malah memilih wanita lain dan pindah jauh ke daerah Gubug, kabupaten Grobogan dan membeli hektaran sawah untuk Trinil di sana.

Bahkan sekarang ini, Somat telah menjadi pengusaha sukses setelah membeli tambang batu putih bahan semen untuk dikirim ke pabrik semen besar di dekat rumah barunya. Trinil begitu beruntung berhasil mendapatkan suami yang kaya. Dia tidak sadar telah menanam dendam kesumat akibat merebut Somat dari pelukan Siti. Setahun belakangan ini, Trinil telah memberikan anak kembar yang lucu kepada Somat. 

Dan rasa sayang lelaki yang dianggap pengkhianat bagi Siti itu tertumpah kepada kedua anaknya. Somat benar benar mengasihi anaknya melebihi apapun. Dinomo, ayah Trinil juga sangat mengasihi cucunya. Apalagi ketika dia hidup sendiri setelah ditinggal mati ibu Trinil. Dan Somat merasa mendapatkan pengasuh dan penjaga dua anak kembarnya yang tulus mencintai hasil padu kasih Trinil dengannya.

Kabar kehidupan bahagia Somat dan keluarganya membuat Siti menjadi iri dan semakin sakit hati. Dia bersumpah akan membalas perbuatan Somat dengan cara menghancurkan kebahagiaannya. Selama ini dia selalu terjaga sendirian setiap malam. Dan dia menyadari semakin kesepian hidupnya. Kadang dia menangis ketika terjaga dan tidak menemukan siapa-siapa di sampingnya. 

Dadik, anak lelaki satu-satunya telah meninggalkannya. Dia telah mati karena kebutaan cintanya yang membuat dia menyetujui ide Somat melakukan ritual pesugihan dengan tumbal nyawa anaknya sendiri. Siti telah memangsa anaknya hidup-hidup demi keinginan hidup berdua bahagia dengan Somat. Bukan hanya di saat ritual pertamanya saja. Bahkan dalam setiap mimpi buruknya, dia selalu menyiksa anak semata wayangnya tanpa ampun. 

"Siti..!" Seseorang bersuara mantap menyebut namanya di sela-sela kesibukannya menata dagangan untuk dikirim ke pasar Johar, Semarang. Siti menoleh ke arah suara itu. Seorang pemuda berusia menjelang tiga puluhan tampak tersenyum kepadanya. Siti merasa tidak mengenalnya jadi dia acuh tak acuh. Lelaki itu akhirnya mendekat ke arah Siti sambil mengingatkannya kepada masa lalunya yang kelam. Bisikan lembut dan menekan perasaan itu bergaung di telinga Siti yang menjadi pembenci lelaki.

"Apa kau tidak ingin mendengar kabar Dadik, anakmu?" tanya lelaki itu. Siti berhenti dari mengangkat keranjang berisi daun bawang. Dia menatap lekat kepada lelaki yang jauh lebih muda usianya dari dirinya itu. Lamat-lamat seperti dia pernah mendengar suara itu di masa lalu. Tetapi dia lupa suara siapa. 

"Jangan menggangguku. Kau tidak tahu apa apa tentangnya!" jawab Siti ketus. Ingatan terhadap anaknya terusik kembali. Dia meneruskan pekerjaannya tanpa sudi lagi melihat orang yang telah membangkitkan penyesalannya akan masa lalu.

"Tahukah kau betapa dia sangat menderita? Aku tahu Somat telah mencampakkanmu. Pengorbananmu yang menumbalkan anakmu sendiri menjadi sia-sia bukan? Datanglah ke Gumuk Cigrek malam nanti. Aku akan membantu membalaskan sakit hati mu!" kata lelaki muda itu.

Siti segera memalingkan muka dengan cepat ke arahnya untuk menjawab. Tetapi ketika dia menoleh, lelaki itu sudah tak terlihat lagi. Siti yang penasaran segera mencarinya ke mana-mana. Tetapi lelaki itu seperti lenyap ditelan keramaian pasar. Janda bergigi kelinci itu menjadi penasaran. Dia masih ingat suara berat itu. Suara yang pernah membuat dia menurut untuk melakukan apa saja.

Ya! Tak salah lagi! Itu suara kang Harjono almarhum!

Siti menjadi merinding bulu kuduknya. Karena itu dia membatalkan rencananya untuk berangkat ke pasar Johar, Semarang. Dia minta kepada Rohmadi untuk berangkat sendiri dan menyetorkan dagangan kepada beberapa pedagang sayur beserta jumlah pesanan dan uang yang harus ditagih. Siti kemudian memilih pulang ke rumah dengan motor metiknya untuk melanjutkan tidur. Dia berharap selepas bangun tidur, dia bisa melupakan masa lalu yang membebani jiwanya juga halusinasinya yang semakin parah karena peristiwa di Gumuk Cigrek dulu.

Sesampai di halaman rumah, setelah dia memarkir motor metiknya di teras rumah, dia terkejut sekali melihat betapa lelaki muda yang menemuinya di pasar Ngablak tadi telah berdiri di depan pintu. Kali ini tak ada senyum di wajahnya. Jadi dia sedang tidak berhalusinasi! 

"Apa kau tak mengenal suaraku? Atau kau takut padaku?" tanya lelaki itu.

"Aku ingat suara kang Harjono. Tetapi dia sudah mati dimasa penduduk. Kau jangan mengarang dan berpura-pura menjadi dia," kata Siti kasar.

"Semua kucing bernyawa sembilan, Siti. Aku baru sekali mati. Dan masih ada delapan lagi nyawaku. Ini aku Harjono, yang telah membuatmu kaya seperti ini. Rumah, usaha dan kesenangan yang memang seharusnya kau nikmati adalah lantaran aku," kata Harjono membuka kembali ingatan Siti.

"Aku tahu penyebab lahirnya dendammu. Pengkhianatan Somat terhadapmu sudah menyiksa hidup sampai begitu pedih kau rasakan. Walau kau memiliki harta yang luar biasa. Tapi tak bisa menikmatinya karena dendam kesumat mu!" kata Harjono berusaha menghibur walau dengan suara datar tanpa perasaan.

"Benarkah--kau ini--kang Harjono? Bagaimana bisa hidup lagi dan menjadi lebih--muda?" kata Siti ragu-ragu. Sebersit rasa takut masih hinggap di hatinya.

"Jangan ragu. Aku bisa terlahir kembali menjadi siapa pun yang ku kehendaki. Apa kau ingin sepertiku? Aku bisa mengajarkan padamu bila kau mau. Menjadi muda dan cantik kembali untuk membuat semua pria tergila-gila padamu," kata Harjono menawarkan harapan kepada Siti.

"Aku butuh waktu untuk tahu pasti apakah kau ini benar-benar kang Harjono almarhum? Aku dengar ketika masih di dalam penjara, kang Harjono membunuh keponakannya sendiri!" kata Siti ragu.

"Bukan hanya Kirno. Midun dan Triman juga kubunuh. Siapapun yang membuat aku marah dan jengkel pasti akan kubunuh. Tidak terkecuali kau nanti!" kata Harjono sedikit mengancam. Harjono melangkah perlahan mendekati wanita setengah tua yang dahulu menjadi primadona desa itu. Siti melangkah mundur tanpa sadar.

"Aku tahu luar dalammu, Siti. Aku tahu hubunganmu dengan Somat dan dendam kesumatmu kepada Trinil. Karena panggilan dendam itulah aku datang kepadamu. Hanya aku menyayangkan betapa kau sekarang melupakan ritual yang seharusnya kau lakukan di gumuk Cigrek. Somat lebih dihargai di alam Sunyaruri karena hantaran yang rutin diberikan kepada Danyang Cigrek eyang Siwo Kucing. Karena itulah dia lebih menerima simpati dari beliau."

Siti mulai bimbang dengan perasaannya. Lelaki ini seperti telah mengenalnya lebih dari dia mengenal dirinya sendiri. Mata merahnya yang berkilat itu, seperti mbah Tro Karto, guru kang Harjono. Mungkinkah dia adalah jejadian dari almarhum?

"Seharusnya dendammu harus kau imbangi laku. Maka kau akan bisa membalaskannya. Bukan malah menjauhinya. Ketahuilah, Trinil memberikan kebahagiaan kepada Somat, sesuatu yang tidak akan bisa kau berikan kepadanya. Yaitu pengganti Nardi, anaknya yang ditumbalkan."

"Trinil telah memberikan anak kembar kepada Somat. Dan aku menginginkan anak kembar itu untuk kepentinganku. Aku benar-benar menginginkannya untuk memberi Somat pelajaran. Tetapi aku butuh lantaran dendammu." Jelas Harjono membicarakan tentang kebahagiaan orang yang dulu sangat membuat Siti tergila-gila. Tetapi semua telah punah sekarang. Yang ada hanya kebencian yang luar biasa memenuhi dadanya.

Kini Siti benar-benar yakin bahwa dialah Kang Harjono yang entah bagaimana bisa hidup lagi dalam wujud lelaki yang lebih muda dari kang Harjono yang seharusnya. Memang dia ingin merebut kembali kebahagiaannya yang telah hilang. Dan lelaki di hadapannya ini menjanjikan peluang itu. Menjadi muda dan cantik kembali untuk membalas dendam kepada para lelaki yang pernah hadir ke dalam hidupnya dan kemudian menyia-nyiakannya. Mereka memang pantas dihukum mati karena meremehkan harkat dan martabatnya sebagai wanita.

"Apa yang harus kulakukan untuk menghukum Somat dan perempuan pelakor itu?" tanya Siti penuh harap. Terdengar suaranya yang dingin dan bengis seperti menahan gejolak hati yang meledak-ledak penuh kedengkian. 

"Kutunggu nanti malam di gumuk Cigrek!" kata Harjono. 

***

Adrian dan Wildan hari itu sedang mengadakan pertemuan dengan pihak Polres di Arabusta. Parjio sedang tidak bisa ikut karena ada pekerjaan di Gubug, kabupaten Grobogan. Dia harus mengupgrade beberapa jaringan dengan aplikasi terbaru di kecamatan. Mungkin hanya dua atau tiga hari ke depan sudah selesai. Hari itu Pak Daldiri mengawal Bu Berlin untuk membicarakan rencana awal proyek jaringan di internal Polres. 

Hanya proyek kecil untuk beberapa Polsek yang butuh pembaruan instalasi. Yang lama sudah nyaris tak berfungsi dan ketinggalan jaman. Jadi mereka menjajaki peluang menggunakan tekhnologi baru yang promo produknya sampai ke Polres lewat iklan online. Bu Berlin meminta Adrian mengutus orang perusahaan untuk presentasi di Polres beberapa hari ke depan. Dan berharap mendapatkan harga khusus dari promo produk dan jasa yang ditawarkan perusahaan Adrian.

"Ini memang produk jasa andalan kami untuk ke depannya. Jaringan ini menggunakan dual band 5G dan 4G yang memiliki lingkup cakupan yang lebih luas. Jaringan 5G khusus untuk instansi, yang satu tetap di 4G untuk layanan publik bagi mereka yang belum memiliki perangkat yang kompatibel dengan jaringan 5G. Seperti yang kami gunakan di beberapa proyek sekolah negeri dan swasta yang memang dibutuhkan di masa sekarang. 5G adalah tuntutan kebutuhan. Informasi dengan akses cepat dan publik tidak menginginkan keterlambatan dalam mengupdate informasi. Jadi produk kami mendukung akses data yang lebih baik di masa sekarang." Jelas Adrian panjang lebar supaya bisa jadi rekanan Polres walau hanya untuk proyek kecil senilai enampuluh lima sampai tujuhpuluh juta saja per instalasi berikut menara penerima kecil dan perangkat keras.

"Baik pak Adrian, besok atau lusa bisa anda jadwalkan untuk presentasi di Polres. Kami memang butuh kecepatan dan akurasi supaya publik mudah dalam mengupdate informasi dari instansi kami. Sekaligus mempermudah kami mengakses kritik dan saran, juga pengaduan masyarakat supaya bisa secepatnya kami tindak lanjuti demi melayani publik," kata Berlin. Akhirnya pertemuan bakal di lanjut ke Polres dalam waktu dekat.

Adrian mengemudikan mobilnya pelan-pelan. Kali ini dia harus mengantar Wildan terlebih dahulu untuk pulang ke rumahnya di pinggir kota. Mereka masih membicarakan peluang mendapatkan proyek dari Polres. Tentu mereka tidak sendirian mengincar kesempatan menjadi rekanan instansi itu karena pasti akan dapat pesaing yang kuat. Beruntung sekali saat ini mereka memang sedang gencar memperkenalkan produk terbaru dengan promo yang lumayan fantastis besaran diskonnya. Tentu peluang mereka lebih tinggi.

***

Tiba-tiba Adrian menginjak remnya kuat-kuat. Dia seperti melihat sesuatu melintas tanpa diduga di depan mobilnya. Dan sesuatu itu menyenggol bemper mobilnya. Untung waktu itu mereka sedang melewati jalan yang kurang bagus sehingga hanya berjalan kurang dari tigapuluh kilometer per jam. Adrian segera turun untuk memeriksa sesuatu yang sepertinya tertabrak oleh mobilnya. Wildan pun ikut turun.

"Tidak ada apa-apa bos," kata Wildan setelah memeriksa sekeliling mobil. Adrian kembali melihat ke bawah mobil dan memang tidak bisa menemukan apa-apa.

Mustahil.. pikir Adrian.

Pemuda itu merasakan sesuatu telah benar-benar menghantam bemper. Tidak mungkin dia salah melihat. Seekor makhluk, entah itu musang atau kucing berbulu hitam tertabrak olehnya. Jelas dan pasti.

Tetapi perasaannya yang terasah tajam merasakan sesuatu. Dia menegakkan badan dan menoleh ke sebuah tempat di pinggir jalan agak jauh di belakang mobilnya. Seorang kakek tua dengan tubuh agak bungkuk tampak misterius, saat itu menatapnya dengan tatap mata tajam dan mengancam.

Sekilas Adrian melihat bahwa mata itu menyala kemerahan, atau hanya  efek optik cahaya senja dengan hiasan candhikala jingga dari barat horizon? 

Adrian mengedipkan matanya.

Dan sadarlah bahwa firasatnya tentang perasaan aneh itu benar-benar terjadi. Mbah Tro Karto tak terlihat lagi di hadapannya. Sebagai gantinya hanyalah seekor kucing hitam yang sama anehnya, berjalan memasuki semak-semak, lalu tak terlihat lagi. Wujud kucing itulah yang tadi seperti beradu keras dengan bempernya.

Adrian menyuruh Wildan segera berangkat melanjutkan perjalanan yang hanya tinggal empat kiloan lagi. Wildan diturunkan di penitipan motor depan gapura kampungnya. Di situlah tadi Bosnya menjemput karena tidak ingin Wildan beralasan terlambat ke Arabusta. Adrian memutar mobil double cabinnya untuk kembali pulang ke kota. 

Tetapi dia harus berhenti sejenak, karena kali ini dia sedang melihat, betapa orang tua kurus berpunggung bungkuk itu terlihat kembali dari kaca spion di dalam mobilnya. Dia menghentikan mobil untuk diam-diam mengawasi si kakek misterius. Kakek itu melangkah melewati gapura menuju di mana Wildan masuk dengan sepeda motornya. Terpaksa Adrian memutar kembali mobilnya untuk mengikuti masuk ke jalan kampung yang dilewati Wildan dan kakek itu. Kembali Bos muda itu kecewa. Dia tidak menemukan kakek itu lagi. Sepertinya kali ini benar-benar lenyap ditelan bumi.

Beberapa hari kemudian Adrian telah menyelesaikan kontraknya dengan pihak kepolisian. Mereka dicoba dengan instalasi kecil di tiga polsek. Walaupun tidak besar nilai proyeknya, bagi Adrian itu sudah cukup untuk mengenalkan kwalitas produknya. Parjio sedang mengawasi anak-anak lapangan memasang piranti hardware di atap polsek bersama Adrian. Dia memberi arahan teknis sebentar, kemudian mempercayakan sepenuhnya kepada Alex, si kepala bagian instalasi perangkat keras.

Adrian menghampirinya dan menyodorkan sebuah minuman dalam Cup yang dibeli dari dekat Polsek tadi. Mereka berdua lalu duduk di atas kansteen pembatas jalan masuk Polsek.

"Jio, beberapa waktu lalu aku menemukan hal aneh dan misterius bersama Wildan. Dalam perjalanan mengantar Wildan pulang, aku merasa menabrak seekor kucing hitam. Aku dan Wildan turun untuk memeriksa keadaan tetapi kami tidak menemukan apa-apa. Hanya agak jauh dari kami ada seorang kakek bungkuk menatapku dengan mata aneh. Mata itu berkilat kemerahan," Adrian menghentikan sejenak ceritanya untuk melihat reaksi Parjio. Dan kemudian melanjutkan berkisah setelah melihat rekannya itu menunjukkan ketertarikan. 

"Sekejap kemudian kakek itu menghilang secara misterius, dan aku melihat seekor kucing hitam dari tempat menghilangnya si kakek. Aku tidak mau membuang waktu. Dan melanjutkan mengantar Wildan sampai di penitipan di dekat gapura. Ketika itu aku melihat lagi kakek misterius tadi. Dia memasuki gapura seperti mengikuti Wildan. Ketika kususul masuk ke gang gapura, dia sudah lenyap ditelan bumi. Apa kau tahu makhluk apa itu?" tanya Adrian kepada Parjio. 

Seperti kebiasaannya, Parjio tak pernah segera menjawab pertanyaan Adrian. Dia sepertinya sedang memikirkan jawabannya. Ada helaan nafas dalam dan hembusan lembut terlihat oleh mata Adrian. Sepertinya kali ini Parjio belum menemukan jawaban untuknya.

"Pasti akan menjawab sekenanya," pikir Adrian.

Benar saja, "aku belum bisa menjawab, Yan. Mungkin golongan siluman, atau bisa saja halusinasimu karena menabrak kucing."

Adrian jengkel mendengar jawaban kedua Parjio yang malah menganggap dia berhalusinasi. Dia memprotes.

"Kau tidak percaya? Tanyakan Wildan saja. Dia itu seperti siluman kucing atau sejenisnya. Aku melihatnya ketika kakek bungkuk tadi tiba-tiba tak terlihat, ada kucing hitam di tempat hilangnya si kakek tadi. Ini mataku sendiri Jio. Mata sehat yang belum kena katarak!" kata Adrian menekan suaranya

"Nah itu kau tahu. Berarti di sekitar tempat Wildan ada petilasan yang menjadi base siluman kucing. Sama dengan makam Keramat Raden Panji yang menjadi base siluman anjing," jelas Parjio. 

Adrian berpikir, "benar juga kata Jio. Aku pernah mendengar sebuah makam yang menjadi sarang anjing yang tidak diketahui dari mana asalnya. Mereka beranak-pinak di sana tanpa ada yang menggangu. Masyarakat malah mengeramatkan tempat itu sebagai petilasan raden Panji Pulang Jiwo dengan pasukan siluman anjingnya."

"Apa mereka tidak meminta tumbal, atau korban, atau hal-hal semacam itu ?" tanya Adrian lagi.

"Tergantung, pada dasarnya siluman itu termasuk golongan iblis. Bedanya, mereka adalah sebuah entitas kegelapan yang memiliki kehidupan layaknya manusia. Berkoloni dalam sebuah kelompok, membutuhkan segala sesuatu layaknya kehidupan manusia dan aktifitas mereka konon sama dengan aktifitas kita, manusia biasa. Mereka sebenarnya bisa berinteraksi dengan kita secara fisik. Karena kadang mereka memiliki kemampuan hidup di dua semesta. Alam sunyaruri dan dunia manusia."

Parjio berhenti sejenak untuk melihat reaksi Adrian. Dan sudah pasti sahabatnya itu menjadi semakin antusias karena minatnya sedang ke hal-hal semacam itu sejak bebas dari ancaman hantu di rumahnya. Parjio melanjutkan ceritanya.

"Mendiang kakekku, berteman dengan beberapa jenis dari mereka. Seorang gandarwa yang disebut dengan nama mbah Kromo Wurung dan seekor macan kumbang sebesar anak sapi bernama Ki Lodaya. Bahkan kakekku pernah mengajariku cara memanggil mereka, terutama Ki Lodaya. Aku masih begitu bodoh dan lugu waktu itu. Umurku masih terlalu belia. Hanya karena aku takut bertemu macan kumbang yang kupikir bisa membahayakan hidupku, maka aku sama sekali tak pernah menggunakan itu. Tetapi kakek tetap melakukan ritual untuk mengenalkan aku kepada semesta ghaib yang berada di luar semesta kita."

Parjio memberi ruang kepada Adrian untuk mempersiapkan nalarnya mencerna cerita yang akan dikisahkan kepada sahabatnya itu.

"Menurut kakek, Ki Lodaya adalah keturunan langsung Siwo Kucing. Raja siluman macan kumbang. Dan ki Lodaya adalah sahabat setia yang sering menemani kakek dalam perjalanan "lelaku"nya di masa muda, mengawalnya memasuki tanah sangar dan tempat-tempat wingit yang dulu tak pernah terjamah oleh manusia. 

Sekarang jaman sudah berubah. Semua tempat di tanah Jawa hampir seluruhnya sudah terinjak kaki manusia. Bahkan sampai di puncak-puncak gunung dan di dalam hutan yang dulu sering digunakan sebagai portal menuju alam sunyaruri," jelas Parjio yang ingatannya kembali ke masa di mana kakeknya masih hidup dan mengasuhnya sendirian karena kedua orang tua Parjio meninggalkannya dalam sebuah tragedi menyedihkan.

"Jadi mereka memiliki tubuh yang bisa kita sentuh?" tanya Adrian tertarik dengan penuturan sahabatnya tentang "alaming lelembut". Parjio mengangguk. Saat ini ingatannya masih tertinggal jauh di masa lalu. Di masa di mana kakeknya mengajari dia berinteraksi dengan entitas "Tan Wadag" (makhluk tak memiliki bentuk sejati) untuk pertama kalinya dengan laku "Raga Sukma".

Mbah Kromo Wurung adalah gandarwa berkepala besar berwajah mengerikan dengan mata merah menyala sebesar cawan. Sedang ki Lodaya yang dulu dia pikir berwujud Macan kumbang ternyata seorang pemuda tampan dan gagah jauh dari kesan seram.

"Kau bilang manusia bisa berteman dengan siluman seperti kakekmu. Apa itu tidak bersekutu dengan iblis namanya?" tanya Adrian penasaran. Parjio di awal sudah mengatakan bahwa siluman termasuk dalam golongan Iblis. Berarti makhluk itu adalah makhluk kegelapan.


Bab Sebelumnya | Bab Berikutnya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KARMA-Tuhan yang Kulekatkan di Namaku

UNICORN - Cerita Horor Boneka Arwah Terkutuk

UNICORN - Cerita Horor Boneka Arwah Terkutuk - Bagian 1