CANDRAMAWA – Kisah Siluman Macan Kumbang (Cerita Horor Mistis Legenda Jawa Tengah) - Bagian 7

Gambar
  07 Penciptaan Parjio sudah menduga akan mendapat pertanyaan seperti itu ketika dia membuka kisah tentang hal-hal yang menyangkut tentang entitas "tan wadag". Untung saat ini dia tidak berhadapan dengan seorang yang fanatik. Bisa terjadi perang besar bila dia harus mengungkapkan beberapa hal yang bertentangan dengan keimanan mereka. "Aku paham maksudmu. Sebaiknya kita pahami dulu tentang "proses penciptaan" di kepercayaan masyarakat Jawa penganut "kapribaden Jawa Purba. Ingat Penganut "kapribaden Jawa" dan bukan "Kejawen"!" kata Parjio mencoba memberi pengertian tentang Jawa dengan hati-hati kepada Adrian yang berpikiran logis dan ilmiah. "Apa beda antara Kejawen dan kapribaden Jawa?" Tanya Adrian mendesak. Senyum Parjio mengembang. Selalu begitu pertanyaan orang-orang bila sudah menyangkut perbedaan mendasar tentang "kepribaden". "Berbeda menurut ajaran yang kuterima dari kakek. Tetapi mungkin diangga...

CANDRAMAWA – Kisah Siluman Macan Kumbang (Cerita Horor Mistis Legenda Jawa Tengah) - Bagian 5




05 Penggenapan


"Kau ada di jagad Sunyaruri. Di alaming lelembut. Alaming siluman!" 

Harjono berjingkat begitu mendengar alam Sunyaruri disebut. Itu adalah dunia Antara. Dunia yang menjadi pembatas antara dunia manusia dan dunia orang mati. Dunia para siluman.

"Apakah saya sudah mati dan terjebak di dunia ini?"

Sang kakek pun semakin keras tawanya. "Soal mati atau tidak mana aku tahu. Kau carilah sendiri jawabannya. Aku tak tahu bagaimana kau bisa di sini. Cari jawabanmu maka kau akan kembali ke tempat yang semestinya. Dasar dungu!" Mbah Tro Karto tak bisa menahan tawa yang membuat Harjono semakin merasa gila.

Kakek itu pun kembali berubah menjadi harimau hitam dan matanya tajam berkilat. Kemudian macan kumbang penjelmaan kakek itu berbalik dan melompat sekali lompatan menuju ke luar rumah. Harjono masih tertegun melihat kedatangannya yang tiba-tiba dan kepergiannya yang tak bisa dicegah. Meninggalkan Harjono dalam kebingungan yang membuat kepalanya mendadak sakit. 

Sebuah cahaya ungu berpendar kuat sampai menerangi pendopo dan dalam rumah yang dia anggap miliknya, ketika melihat lewat pintu yang terbuka oleh kelebat macan kumbang jelmaan mbah Tro Karto. Harjono tertegun. Dia teringat punden berundak yang berlingga batu kristal ungu. Itulah sebuah portal. Berarti mbah Tro Karto telah menggunakan portal itu untuk menuju ke sebuah tempat yang dikenalnya. Harjono dengan rasa penasarannya karena telah kehilangan ingatan, ingin mencoba keberuntungannya mencari jawaban di tempat lain. Dia segera keluar rumah meninggalkan ketujuh macan kumbang tetap di rumah. 

Harjono butuh seseorang yang bisa dan bersedia menjelaskan semua yang telah dialaminya walau sebenarnya dia ragu akan mendapat jawaban pasti. Dia mendekati kristal ungu tersebut lalu perlahan-lahan menyentuhnya. Harjono kembali ke goa di mana menjadi sebuah awal dia menemukan diri sebagai sosok asing dan kebingungan. Dua manusia dengan tubuh hancur di tempat itu masih berada dalam posisi yang sama ketika dia meninggalkannya. Harjono mendekati kedua tubuh tersiksa itu. 

"Kalian siapa dan darimana? Kenapa bisa sampai kemari di tempat terkutuk ini?" Mendapat cecaran pertanyaan dari Harjono, si anak menangis sejadi jadinya. Karena itu pula si pemuda menjadi ikut menangis berguling-guling.

"Saya Nardi, anak pak Somat, dhe. Tolong saya dhe. Tolong selamatkan saya... " jawab anak kurus itu menghiba sambil menggerung. Lalu Harjono menoleh ke arah pemuda yang di sebelah Nardi.

"Ingat saya dhe, saya Dadik. Saya memang salah karena terlalu ingin tahu tentang urusan make dan kang Somat. Semua karena Kirno dan saya hanya ikut-ikutan. Tolong bantu saya dhe. Selamatkan saya. Saya sudah tidak kuat dengan siksaan ini." Harjono semakin bingung. Dia tidak merasa kenal dengan nama-nama yang mereka sebut. Dengan penasaran yang tinggi, Harjono merengkuh si pemuda dan mulai menginterogasinya. "Siapa Somat dan siapa nama emak mu? Apa aku mengenal mereka?" Dadik menjelaskan semua peristiwa yang membuatnya terbunuh malam itu.

Harjono berdiri termangu. Penjabaran pemuda yang hancur tubuhnya itu menggoncangkan perasaannya. 

Kirno itu keponakanku ya? Kenapa aku bisa melupakan semua hal yang telah terjadi selama ini? 

Kirno... Nama itu lamat-lamat mulai diingatnya. Dadik, Nardi, Somat, Siti dan kakek aneh itu, siapa lagi yang pernah dikenal dan mengenalnya? Di Sunyaruri ini, semua tak satupun diingatnya kecuali samar-samar. Candramawa? Keluarga aneh yang memakan daging anak dan saudara mereka sendiri ? Merekalah yang menyebutnya dengan nama julukan Candramawa. Dan para korban semuanya merupakan orang-orang yang dekat dan memiliki hubungan darah.

Korban keganasan orang yang mereka kenal seperti mengenal diri sendiri. Mereka itu adalah korban tumbal pesugihan. Ya! Tumbal pesugihan itu di buang ke Sunyaruri. Disiksa seumur hidupnya. Setiap sayatan tubuhnya dijadikan sarana bagi keluarga mereka yang menukarkan penderitaan dengan harta kekayaan.

Harjono merenung. Dia duduk bersila di lempeng batu dan berusaha memusatkan pikirannya. Secara naluri dia mulai bersamadi. Berusaha kembali ke masa lalu. Tak lama kemudian, dia sudah larut ke dalam kesenyapan astral. Memasuki sebuah alam ingatan yang tersusun berlapis-lapis dan memunculkan penggalan-penggalan kejadian di masa lalu. 

Peristiwa dia berguru kepada mbah Tro Karto di Gumuk Cigrek bertahun-tahun lalu, juga peristiwa penyerahan kucing hitam hasil tangkapan Dadik dan keponakannya, Sukirno. Lalu terbayang pula sebuah ritual yang dilakukan oleh Somat dan Siti dengan dia dan Mbah Tro Karto menjadi penghulunya, peristiwa rencana pembunuhan yang gagal di pinggir kali Tuntang, dan terakhir adalah peristiwa di teras rumahnya sendiri bersama pemuda Sukirno dan kedua temannya. 

Sukirno? Ya! Keponakan yang dulu tinggal serumah dengannya saat sedang nongkrong bersama teman-temannya.. Harjono telah membunuh keponakan dan kedua temannya dengan merapal aji Candramawa. Kemudian dia menjelma kucing hitam, sang pengintai, yang bisa berubah menjadi macan kumbang, sang pemburu.

Kirno dan dua sahabatnya telah menghembuskan nafas terakhir mereka. Dendamnya karena harus menjalani hidup bersembunyi dalam kejaran polisi telah terbalas. Harjono lalu kembali kewujud manusianya meninggalkan korban keganasannya yang sebenarnya adalah keponakan sendiri. Dia melangkah tenang menuju ke jalan dengan niat hati untuk kembali mengembara menghindari kejaran polisi. Malang tak dapat ditolak. Dia kepergok warga yang tanpa diduga mengeroyoknya. 

Tubuhnya "direncak" oleh pentungan dan senjata tajam yang tak bisa dihindarkan lagi. Warga yang marah telah bermain hakim sendiri. Mengadili kekejaman Harjono dengan kekejaman massa. Tubuhnya remuk rempu nyaris tak dikenali lagi ketika polisi tiba di tempat kejadian. Harjono menatap mata para warga yang menghakiminya satu persatu sebelum akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya.

Harjono telah mati dengan mengenaskan. Tubuhnya penuh luka bacokan dan hantaman senjata tumpul para warga, tak lebih baik dari nasib dan kondisi tubuh Kirno dan kedua temannya yang tercabik-cabik kuku tajam dan taring kuat miliknya. Harjono menggertakkan geraham tanda dendam kembali tersulut dihatinya. Kebencian terhadap orang-orang yang telah mengakibatkan dia mati, membuat dia bersumpah untuk membalas dendam kepada mereka. Dengan caranya sendiri yang kejam. Yang siapapun tak mau memikirkan cara itu. Ya. Cara terbaik. 

Siapapun akan tersiksa selama-lamanya dalam penderitaan tiada akhir. 

Tetapi alamnya sekarang berbeda. Harjono kembali menyerah karena tak tahu jalan untuk kembali ke dunia manusia. Dalam kebuntuan, dia teringat sebuah rumah kayu jati kuno yang mana menjadi sarang tujuh macan kumbang. Mbah Tro Karto pernah menemuinya sebentar di sana. Dia menyalahkan dirinya karena dianggap  telah menjadi penyebab kakek itu harus ikut terbawa ke alam Sunyaruri ini. Berarti nasib mbah Tro Karto sama seperti dirinya. Melihat betapa kakek itu begitu tenang dan tidak khawatir akan keadaannya sendiri, berarti mbah Tro Karto sudah tahu apa yang akan dia lakukan untuk kembali ke dunia manusia, mungkin? Ya. mungkin sekali dia telah tahu jalan pulang.

"Apa sudah kau pikirkan baik-baik untuk tidak kembali ke dunia manusia? Menyia-nyiakan waktu di dunia suram ini?"

Kata-kata mbah Tro Karto menggelitik pikirannya. Harjono telah mengingat kembali siapa kakek itu. Beliau adalah gurunya yang menurunkan ilmu Candramawa kepadanya.

Tentu saja aku harus kembali ke dunia manusia. Bukankah aku belum mati ? Aku masih hidup dan baik-baik saja. Kalau aku terjebak di sini, tentu karena aku sudah dihajar oleh warga yang kalap. Mungkin aku mengalami koma, sehingga rohku mengembara ke dunia ini sedang tubuhku di alam manusia.

"Masih untung semua kucing memiliki sembilan nyawa. Kalau tidak kau sudah bakal mencicipi api neraka. Dasar bodoh!"

Semua kucing? Apa aku juga golongan kucing? Aku bisa lihat memang lengan, kaki, dan bagian tubuh lainnya tumbuh bulu lembut berwarna hitam. Tetapi aku tak tahu bagaimana wajahku. Cermin dirumah kayu jati kuno itu tak menampilkan bayanganku yang sebenarnya. Cermin itu membohongiku dengan menampakkan wujud manusia berkepala Macan Kumbang. Atau memang seperti itulah wajah asliku? Bukankah aku tampan dan jauh lebih muda di kamar mandi keluarga kanibal itu. Dan itu juga bukan mimpi atau halusinasi. Berarti benar ini hanya wujud rohku di Sunyaruri. 

Harjono menyerahkan hidupnya kepada semesta siluman. Dia harus mencari tahu bagaimana bisa mendapatkan peluang hidup kembali ke dunia manusia. Menjadi manusia yang bukan manusia kucing. Tidak ada cara lain lagi. Dia harus menemui mbah Tro Karto sebelum beliau kembali ke dunia manusia mendahuluinya.

Dimana dia bisa menemukan kakek sakti itu? Selama ini beliau datang dan pergi seenaknya sendiri. Tentu beliau sudah sangat mengenal dunia ini sebagaimana Harjono mengenal seluk beluk desa dan kota kecil di dunia manusia yang menjadi tempat tinggal semasa hidupnya.

Masih gelisah dengan pikirannya sendiri yang sedang kacau, selintas wujud bangunan candi kuno terbayang di pelupuk matanya.

Ya. Di candi itu mungkin dia bisa menemukan mbah Tro Karto kembali sebelum terlambat dan akhirnya menyesal terjebak selamanya di sini tanpa petunjuk. Tetapi para pengikut sekte berkepala macan kumbang itu membuatnya keder dan ciut nyali. Mungkin bila berhati-hati dia bisa menyelinap dan menemui mbah Tro Karto diam-diam. Harjono berpikir. Harjono menyusun rencana. Harjono menguatkan hati dan membulatkan tekad.

"Aku harus kembali ke dunia manusia. Atau akan terjebak di sini selamanya!"

Akhirnya diputuskan untuk nanti kembali ke candi diam-diam. Tetapi dia harus memulihkan kekuatan fisiknya. Pikiran yang berkecamuk sepanjang hari, juga kejutan-kejutan yang membuat dia mengeluarkan banyak tenaga membuatnya merasa lapar. Lapar yang semakin kuat ketika mencium bau sesuatu dari kedua orang yang terluka nyaris tanpa bentuk di dekatnya. Nardi dan Dadik! 

Tiba-tiba sebuah naluri aneh terbangun. Hidungnya menjadi tajam mengendus-endus sumber bau. Semakin dekat semakin tegang otot-otot Harjono. Terasa sebuah perubahan pada ujung jari dan sudut bibirnya. Dia memeriksa perubahan itu. Di ujung jarinya kini telah menyembul kuku tajam berwarna kuning gading. Sepertinya kuat sekali. Sedang di sudut bibirnya terasa ada taring menyembul. Harjono membuka mulut dan meraba barisan giginya.

Taring panjang sudah tumbuh bersamaan dengan rasa lapar yang semakin menggila. Tak disangka tubuhnya perlahan berubah wujud. Tangan dan kakinya sudah bukan lagi tangan kaki manusia. Tubuhnya perlahan juga bukan lagi tubuh manusia. Harjono merasakan seluruh obsesinya menjadi sensitif dan tajam. Dia bukan lagi Harjono yang tegap dan perkasa. Dia sekarang adalah seekor macan kumbang sebesar anak sapi.

Nalurinya sebagai manusia perlahan hilang tertindih naluri binatang pemangsa yang lapar. Hidungnya mencium aroma darah segar. Telinganya mendengar erangan korban yang seperti ketakutan melihat transformasinya. Mangsa yang bisa mengobati laparnya. Mangsa segar dan tak berdaya. Bersamaan dengan hilangnya naluri kemanusiaannya, Harjono dalam wujud macan kumbang besar melompat mendekati Dadik yang di mata Harjono adalah gumpalan daging santapan lezatnya. Sebentar kemudian jerit histeris Dadik membahana tak berkesudahan memenuhi seisi ruangan goa yang luas itu.


***

Halaman candi masih tertutup semak secang berduri. Masih sama dengan ketika dia diseret tak berdaya oleh pemuda berwajah macan kumbang saat itu. Kali ini Harjono dalam wujud macan kumbang besar, merasa semakin kuat dan tak lagi khawatir seperti diawal awal waktu ketika dia masih takut dan kebingungan berada di dunia siluman ini. Dia sudah tahu takdirnya sekarang. Dia telah menerima kenyataan dirinya sendiri bahwa dia adalah sang Candramawa seperti yang diajarkan sang guru, mbah Tro Karto. Harjono bisa berubah menjadi manusia ataupun kucing hitam atau bahkan macan kumbang raksasa yang perkasa. 

Setelah memangsa korban tumbal para keluarga yang tersesat didesa Macan Kumbang, maka tak ada lagi yang harus dikhawatirkan. Tak ada lagi yang harus ditakutkan. Tubuh macan hitamnya lebih besar dari macan kumbang jelmaan mbah Tro Karto!

Pemuda bermuka kucing hitam yang dulu menghajarnya, terlihat keluar dari dalam halaman candi dan melangkah menghampirinya. Harjono berubah bentuk menjadi manusia untuk bisa bicara dengannya. Dia masih menyimpan dendam karena perlakuan pemuda siluman itu, rencananya Harjono akan memaksa orang itu untuk menunjukkan keberadaan mbah Tro Karto dengan paksa bila dia tidak mau bekerjasama. 

Tidak disangka-sangka sikap pemuda itu berbeda dari sikapnya dulu yang begitu seenaknya menghajar dan menyeretnya. Pemuda siluman itu tiba-tiba menunduk hormat dan bersikap sangat menghormatinya. Amarah seketika mereda berganti dengan perasaan heran dan takjub. Apa dia mengaku kalah? 

"Selamat datang di Candi. Tetua sudah menunggu kedatangan anda," kata pemuda itu hormat.

Harjono yang semula bersiap untuk sebuah pertarungan jadi tergagap dan tak bisa bicara. Dia tidak menyangka akan mendapat perlakuan istimewa dari orang yang pernah berbuat kasar kepadanya. Tak ada jalan lain dia hanya memilih diam dan mengikuti pemuda itu dari belakang. Kakek bungkuk yang dulu hendak membunuhnya kini duduk tenang di atas sebuah batu persegi dengan mata terpejam. 

Pemuda tadi mempersilahkan Harjono untuk mengambil tempat duduk di batu sejenis tak jauh dari sikakek yang bersila bersedekap tangan. Kemudian dia berbisik lembut dekat telinganya sang kakek dan lelaki sepuh itupun mengangguk. Perlahan kakek itu membuka mata. Dua bola mata bersinar merah menatap tajam ke arah Harjono yang duduk di batu di depannya. Terdengar helaan nafas panjang dan teratur menandakan ketenangan pribadi yang luar biasa.

"Kau sudah menyadari dirimu yang sekarang? Berterimakasihlah kepada Tro Karto, gurumu yang membantumu menemukan diri. Sebenarnya itu hal yang terlarang di sini. Kami selalu membiarkan anggota baru menemukan dirinya sendiri sebagai bagian dari sebuah proses menuju keabadian."

Suara berat dan berwibawa, dalam nafas teratur dan bernada menggetarkan, menggedor jantung Harjono.

"Semua warga siluman Candramawa, harus menjalani proses. Kami biasanya akan melempar mereka kembali ke dunia manusia untuk membantu mereka menemukan jati dirinya secara alami. Setelah beberapa kali kematian di dunia manusia maka dia akan memurnikan jiwa silumannya. Di situlah dia berhak atas keabadian di Sunyaruri ini." kata kakek itu. 

"Terimakasih sudah memberi kesempatan untuk saya menemukan kembali apa yang paling berharga dan telah hilang dari saya. Sekarang saya hanya ingin kembali ke dunia manusia," kata Harjono dengan hormat.

"Kau adalah kasus khusus. Di kematian pertama tubuh manusiamu kau sudah mengerti dan bisa menerima keadaanmu sebagai bagian dari siluman. Aku tidak akan menghalanginya untuk hidup kembali di dunia manusia. Hanya saja aku akan memberikan "wewaler" khusus kepadamu sebagaimana mereka yang sadar telah manjadi bagian dari kawula Candramawa. Kau harus memberikan makanan yang cukup bagi para siluman Candramawa di sini dengan memberikan tumbal dari para pencari pesugihan. Atau kalau tidak, kau bisa menggantinya dengan sebanyak mungkin menarik siswa untuk ikut bergabung dengan kita. 

Seperti yang dilakukan gurumu Tro Karto dan yang lainnya. Bangsa kita sangat sedikit sekali yang hidup di dunia manusia. Sering kali mereka tidak bisa mengenal diri sendiri sampai harus mati sembilan kali tanpa berguna sama sekali bagi kaumnya. Membiarkan kami kembali ke dunia manusia dengan nyawa terakhir kami. Akhirnya siluman macan kumbang berkurang terus dari generasi ke generasi. Dan mereka jauh dari keabadian karena kebutaannya. Jangan sampai itu terjadi kepadamu."

Begitu "wejangan" tetua macan kumbang. Harjono mengangguk angguk tanda mengerti. Dan itu menyenangkan hati tetua.

Beberapa waktu kemudian, sebuah ritual pelepasan digelar di altar candi. Harjono kali ini dengan sukarela berbaring di atas dinginnya altar batu tempat dia harus melakukan ritual pelepasan dan kembali ke dunia manusia. Semua saksi dari golongan siluman sudah berkumpul. Tetua di dampingi pemuda yang membawa kotak pusaka telah siap dan berdiri di samping altar tempat berbaring tubuh Harjono. Sebelum memulai ritual, sang tetua membaca mantera-mantera khusus dalam bahasa jawa kuno yang tidak dimengerti oleh Harjono. Setelah itu kembali tetua memberikan petuah.

"Kau punya sembilan nyawa. Kematian di dunia manusia berarti kehidupan didunia siluman. Dan berarti kau masih memiliki delapan peluang lagi untuk hidup dan mati dalam siklus Candramawa. Jangan lantas mengentengkan hal itu. Setiap nyawa adalah hal yang sangat berharga. Kau tidak akan terkena sakit dan mati kecuali terbunuh. Dan kembali melakukan pelepasan untuk bisa kembali. Karena itu gunakan sebaik-baiknya peluang untuk hidup di dunia manusia."

Harjono menjawab dengan memejamkan mata. "Saya akan mengingat petuah kanjeng Siwo Kucing yang mulia. Dan saya sudah siap dengan segala hal yang akan terjadi kepada saya kelak bersama seluruh konsekuensinya."

Kakek bungkuk berma Kanjeng Siwo Kucing yang terkenal sebagai pemimpin para siluman Candramawa di desa Macan Kumbang itu mengangkat belati kuno tinggi-tinggi dengan kedua tangan keriputnya. Harjono yang memejamkan mata tidak melihat itu. Dia hanya merasakan sesuatu yang tiba-tiba menghujam dadanya. Sepersekian detik berikutnya dia sudah dalam pusaran cahaya merah, biru dan ungu. Lalu tak terceritakan lagi.


***

Di dunia manusia, tepatnya di Gumuk Cigrek, Somat yang belum genap setahun keluar dari penjara setelah sebelas tahun penuh dalam kurungan, sedang bersila di depan sebongkah batu besar di bawah pohon tua. Hari itu dia baru saja selesai membangun sebuah rumah besar bertingkat dari hasil menemukan sevuil emas secara tak terduga ketika dia hendak menanam pokok pisang di belakang rumahnya.

Dengan berpijak dari barang temuannya, Somat menjadi kaya mendadak karena selalu dihinggapi keberuntungan yang tidak masuk akal. Dia membeli tanah yang luas dengan harga murah, lalu menjualnya kembali dengan harga mahal. Keberuntungannya tak berhenti sampai di situ. Membuatnya semakin jauh dengan Siti yang setia berkorban untuknya. 

Dan Somat mulai mengkhianati wanita yang mengharap cinta kasihnya. Siti yang lebih dahulu keluar dari penjara juga telah sukses menjadi pedagang sayur antar kota. Dia juga yang mengurus Somat selepas dari menjalani hukuman. 

Tetapi sejak menemukan emas besar itu, Somat menjadi terkenal dan banyak janda yang menggodanya. Trinil, adalah janda cantik yang beruntung mendapatkan perhatian Somat membuat mak Siti sakit hati. Itulah sebabnya malam itu dia tidak mendampingi Somat yang sudah menjadi orang kaya baru dalam melakukan ritual wajibnya sebagai murid Candramawa. 

Sebuah cahaya merah ungu melintas di atas Gumuk Cigrek. Somat melihat cahaya itu seperti jatuh di sebelah timur gumuk dimana pohon bambu rapat berdiri disana. Somat tidak peduli. Dia sudah biasa melihat hal-hal aneh di sekitar gumuk angker itu. Apalagi hanya seberkas cahaya. Lelaki itu kembali melakukan semedinya dengan khusyuk. 

Belum habis bakaran dupa wanginya, telinga Somat seperti mendengar suara langkah kaki mendekati tempatnya bersemedi. Somat membuka matanya dan menoleh asal suara langkah kaki itu. Bayangan seseorang berjalan mendekatinya. Semakin dekat dia bisa melihat lelaki itu adalah pemuda yang tegap dan gagah berkulit bersih di bawah sinar bulan separuh. Hanya sayang dia telanjang bulat. Somat berpikir tentu orang gila baru dan tak perlu diurusi.

"Somat! Kau tidak menyambutku ?"

Sebuah suara berat berwibawa membuatnya terkejut setengah mati... Suara kang Harjono almarhum!

Bab Sebelumnya |Bab berikutnya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KARMA-Tuhan yang Kulekatkan di Namaku

UNICORN - Cerita Horor Boneka Arwah Terkutuk

UNICORN - Cerita Horor Boneka Arwah Terkutuk - Bagian 1