CANDRAMAWA – Kisah Siluman Macan Kumbang (Cerita Horor Mistis Legenda Jawa Tengah) - Bagian 7

Gambar
  07 Penciptaan Parjio sudah menduga akan mendapat pertanyaan seperti itu ketika dia membuka kisah tentang hal-hal yang menyangkut tentang entitas "tan wadag". Untung saat ini dia tidak berhadapan dengan seorang yang fanatik. Bisa terjadi perang besar bila dia harus mengungkapkan beberapa hal yang bertentangan dengan keimanan mereka. "Aku paham maksudmu. Sebaiknya kita pahami dulu tentang "proses penciptaan" di kepercayaan masyarakat Jawa penganut "kapribaden Jawa Purba. Ingat Penganut "kapribaden Jawa" dan bukan "Kejawen"!" kata Parjio mencoba memberi pengertian tentang Jawa dengan hati-hati kepada Adrian yang berpikiran logis dan ilmiah. "Apa beda antara Kejawen dan kapribaden Jawa?" Tanya Adrian mendesak. Senyum Parjio mengembang. Selalu begitu pertanyaan orang-orang bila sudah menyangkut perbedaan mendasar tentang "kepribaden". "Berbeda menurut ajaran yang kuterima dari kakek. Tetapi mungkin diangga...

CANDRAMAWA – Kisah Siluman Macan Kumbang (Cerita Horor Mistis Legenda Jawa Tengah) - Bagian 4

 



04 Jati Diri


Tanpa sadar Harjono menghentikan larinya ketika dia melihat hamparan sebuah desa di hadapan. Bukan desa dengan manusia manusia berkepala macan kumbang. Tetapi benar-benar dunia manusia menurutnya. Malam atau suasana yang selalu seperti malam, menyatu bersama dingin menyelimuti. Harjono berhati-hati sekali memasuki desa kuno yang dalam pikirannya tidak terjamah listrik sama sekali itu. Di luar rumah hanya jajaran obor sebagai penerang desa. Dan aroma berbau busuk menyengat tercium memenuhi segala penjuru membuatnya menjadi mual dan pusing.

Dia melihat sebuah rumah yang bercahaya paling terang di antara rumah lainnya. Sepertinya tadi ada seseorang yang baru saja masuk lewat sebuah pintu kayu yang besar berukir indah. Seperti manusia biasa, kalau matanya tidak bermasalah. Harjono segera melangkah ke rumah itu. Inderanya fokus ke pintu yang dibiarkan sedikit terbuka dan suara tawa orang-orang bahagia terdengar. 

Sebuah perasaan tenang menyelinap di hati lelaki berbulu halus itu. Harjono mengetuk pintu. Tanpa menunggu lama, seorang anak gadis berusia belasan membukakan pintu untuknya. Tanpa ragu dan curiga dia mempersilahkan masuk. Gadis itu tersenyum manis kepadanya sambil menuntun tangan membawa Harjono masuk ke sebuah ruangan melewati ruang tamu yang mewah dan harum menuju ruang dalam.

Dia menemukan ada sebuah keluarga lengkap. Ayah, ibu, dan dua orang anak gadis berusia belasan dengan selisih usia dua tahunan. Mereka sedang menikmati subuah perbincangan menyenangkan dan hangat di ruang tengah, ruang makan bermeja kayu jati solid yang tebal dikelilingi enam kursi dari bahan yang sama. Hanya di finishing dengan politur natural hingga terlihat serat kayu yang asli dan indah. Sepertinya keluarga itu sedang makan malam bersama. Harjono mengakui bahwa rumah itu bersih dan tidak berbau busuk menyengat seperti sepanjang jalan di luar rumah tadi. 

Ketika anak gadis itu menuntunnya ke meja makan, kemudian menarik sebuah kursi antik untuknya, Harjono menurut saja untuk ikut duduk dan bergabung dengan mereka. Dia mengangguk sekali kepada seluruh anggota keluarga sebagai tanda rasa hormat dan berterimakasih. Sang ibu meladeni Harjono dengan masakan yang sepertinya lezat. Sang ayah menuangkan arak merah yang aromanya menggoda. Harjono pun meneguk minuman itu dengan segera. Dia sangat kehausan karena berjalan lumayan jauh dari goanya. Hawa hangat menjalar melewati tenggorokan membuat Harjono merasakan kenikmatan yang membuat nyaman. Mereka makan dengan lahap sesekali bercanda tawa. Sedang Harjono hanya sesekali tersenyum menandakan dia mengikuti pembicaraan keluarga bahagia itu.

"Makanan kami hari ini adalah wujud cinta kasih kakak tertua kami. Dia merelakan dirinya untuk menghidupi kami dan membuat kami hidup tak kekurangan lagi," kata si anak gadis yang berlesung pipit. Harjono berusaha tersenyum dan mengangguk. Setelah acara makan bersama usai, demi melihat wajah Harjono yang kotor, sang ibu menyarankan agar Harjono membersihkan diri dikamar mandi rumah besar itu. Malah oleh sang bapak, dia diminta untuk menginap di rumah bahagia itu malam ini atau malam malam berikutnya bila suka. Harjono hanya bisa menjawab dengan kata-kata terimakasih atas kebaikan mereka. Kemudian anak gadis berlesung pipit tadi membawakan handuk dan sabun untuknya dan menuntunnya ke kamar mandi. Harjono yang merasa sungkan, memilih untuk ditunjukkan saja.

Dia pun akhirnya menemukan jalan untuk membersihkan tubuh. Suatu hal yang membuatnya sadar bahwa sudah berapa lama tubuhnya tidak tersentuh air. Rambut abu-abunya menjadi panjang kumal dan berbau tidak sedap. Bahkan sabun yang menyentuh itu kulitnya menolak mengeluarkan busa sampai akhirnya dia harus berulang-ulang menggosoknya. Segar dan kembali ringan tubuhnya. Sepertinya, hidup Harjono selama bertahun-tahun ini terbebani daki dan kotoran di permukaan kulitnya. Selesai mandi, dia dipinjamkan sesetel baju sang ayah. Baju yang jarang dipakai dan sangat bagus terbuat dari kain mahal dengan jahitan rapi dan terasa pas di tubuhnya. Harjono merasa terkejut sendiri dengan keadaan baru ketika melihat dirinya dibalik sebuah cermin setinggi tubuh. 

"Itu... Itu adalah aku di masa mudaku! Batinnya. Bagaimana bisa?" 

"Seharusnya aku sekarang menjadi dua kali lebih tua dari bayangan di cermin itu," batinnya penasaran. Dia kembali melihat tubuh aslinya. Kulit lengan dan jemarinya sudah tidak tampak tanda-tanda hendak keriput. Dia menyentuh pipinya sendiri sambil kembali menatap kearah cermin. Lalu tiba-tiba menampar keras pipinya sendiri.

Sakit! Berarti dia sekarang tidak sedang bermimpi. Dia sekarang telah kembali muda dan tampan. Harjono merasa baru saja mengalami fase keluar dari kepompong dan menjadi kupu-kupu indah. Inilah mimpi setiap manusia. Menjadi selamanya muda dan menolak tua. Dan akhirnya dia mulai berpikir. Ternyata di dunia asing yang benar-benar tidak dikenalnya ini, dia adalah seorang pemuda tampan. Pantas saja gadis lesung pipit tadi selalu berusaha tampak cantik dan anggun di matanya. Sshh... Pikirannya menjadi melantur ke mana-mana. 

Tak mau berkubang di dalam khayalan, Harjono pun segera  keluar dari kamar mandi dengan senyum mengembang. Dengan ditegakkan dadanya, dia mulai mengumpulkan rasa percaya dirinya sebagai kupu-kupu baru yang anggun dan indah. Dengan tenang dia melangkah untuk kembali ke ruang besar tadi untuk berkumpul kembali dengan tuan rumah yang baik hati. 

Harjono melintasi dapur yang bagus dengan perabotan lengkap dan mahal. Selera keluarga ini ternyata luar biasa. Dapur itu rapi dan bersih sekali. Semua meja dapur dan wastafel terbuat dari granit abu-abu bermotif coklat alami. Kitchen set yang tergantung di dinding terbuat dari kaca kristal dengan rangka aluminium yang mewah. Dia melihat wanita yang seharusnya seusia adiknya, yang tadi melayani makan, sedang membereskan perabotan bekas makan mereka. 

Harjono mengangguk hormat dengan senyum menariknya. Lalu berjalan kembali hendak ke depan ke ruang makan. Sampailah akhirnya sebuah ruangan yang tertutup rapat setelah dapur. Dan Harjono hendak melewati pintu itu sampai sesuatu yang aneh mengganggu pikirannya. Dia berhenti berjalan. Telinganya yang menjadi semakin peka dipasangnya dengan seksama. Dari depan pintu itu dia mendengar suara erangan kesakitan seorang lelaki. Rasa penasaran membuatnya menghampiri sumber suara itu. Harjono segera mendekati pintu untuk memastikan bahwa dia tidak sedang berhalusinasi. 

Benar. 

Ruang di depannya adalah asal sumber suara. Harjono memegang handle pintu dari stainless steel yang berkilat, lalu memutar sedikit sebisa mungkin tak bersuara. Dia mendorong pintu yang ternyata tidak terkunci sampai sejengkal lebarnya. Harjono melihat si anak gadis dan ayahnya sedang berbicara menghibur seseorang yang berteriak kesakitan. Rasa penasaran yang kuat memaksa Harjono mengintip dari pintu dan melihat siapakah lelaki yang mengerang kesakitan itu. Bertapa terkejutnya dia ketika dia melihat pemandangan yang sangat-sangat sadis di hadapannya.

Anak gadis itu mengiris bagian bawah dada seorang pemuda dengan pisau yang tajam sampai terbuka sebuah luka lebar lalu dengan terampil memisahkan antara daging dan jerohannya. Si pemuda menjerit kesakitan dengan sumpah serapah yang meluncur tertahan dari mulutnya. Mendengar isi pembicaraan tadi, Harjono meyakini bahwa pemuda itu adalah seseorang dari bagian keluarga yang terlihat baik hati dan ramah tadi. Sepertinya pemuda itu adalah kakak tertua yang dimaksud dari pembicaraan di meja makan tadi. Si Anak gadis berkali-kali meminta maaf kepada kakaknya dan menciumi wajah kesakitan di atas meja dengan penuh kasih. Sungguh biadab sekali. Manusia macam apa yang tega berbuat sesadis itu kepada anggota keluarganya sendiri. Jantung Harjono seperti berhenti berdetak. Dia terpaku dalam kengerian. Keluarga ini kanibal! 

Harjono berjingkat kaget setengah mati ketika seseorang menepuk pundaknya. Ternyata sang ibu dan si anak gadis bungsu yang tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya. Mereka membawa penampan dan hendak masuk ke ruang penyiksaan itu. Seluruh anggota keluarga jadi serentak melihat ke arahnya. Si anak gadis yang tadi mengiris dada sang kakak juga menatapnya sambil tersenyum manis dengan lesung pipit menawan di pipi. Gadis itu meletakkan pisau tajam di tepi meja besar tempat kakaknya terbaring menahan sakitnya siksaan. Tanpa mencuci tangan yang masih berlumuran darah segar, gadis itu melangkah ke arahnya. Dengan kata halus gadis itu mempersilahkan masuk untuk berkenalan dengan sang kakak yang tersiksa.

Harjono pun seperti kerbau di cucuk hidungnya. Dia melihat betapa tubuh sang kakak masih hidup sekalipun organ dan bagian tubuh lainnya telah terpotong. Dan, dari tatap pemuda itu, terlihat kebencian yang sangat luar biasa terpancar ke arahnya. "Kau dan mata merahmu akan terbakar di neraka!" teriaknya geram sambil merapatkan rahangnya.

"Kakak, tidak boleh bicara begitu kepada tuan Candramawa, kau akan lebih menderita lagi nantinya." Tampak si adik menangis sambil membelai rambut kakaknya. Tanpa diduga-duga, dengan tangan lembut si lesung pipit, meraih kembali pisau tajam itu lalu mencukil kedua bola mata sang kakak. Dan teriakan kesakitan bercampur sumpah serapah tumpah ruah mengutuk keluarganya yang terpercik darah dari bekas luka di lubang mata lelaki muda malang itu. 

Sang ayah meminta maaf atas kekasaran anak laki-laki mereka. Harjono mendadak merasakan pusing yang sangat dan dia pun lari menghambur keluar dari ruangan itu. Melewati ruang makan keluarga sampai menabrak beberapa kursi, dan terus lari menuju ruang tamu hingga ke luar rumah. Sampailah lelaki yang kebingungan itu di sebuah padang ilalang di tepi hutan. Tubuh tegap dan berbulu itu akhirnya roboh pingsan dengan baju barunya yang menjadi kotor karena tanah basah. Lama dia terbaring di atas rumput alang-alang dikeremangan. Sampai akhirnya dia kembali tersadar dan suasana pun tidak berubah.

Harjono berjalan sempoyongan sampai di sebuah rumah papan yang pernah dikunjunginya dulu. Dia terpaksa melarikan diri dari keluarga gila yang menyuguhkan masakan daging keluarga mereka sendiri. Karena tak tahan melihat kekejaman mereka. Harjono berjalan perlahan memasuki pelataran sebuah rumah kuno dengan dinding kayu jati tanpa cat. Dia membuka pintu yang tidak terkunci. Dan 7 ekor harimau kumbang terbaring di lantai "jogan" yang luas. Harjono terkejut melihatnya. Tetapi aneh sekali baginya. Dia tidak merasa takut dengan kucing-kucing hitam besar yang terlihat ganas itu. Malah perasaannya... Sepertinya dia merasa nyaman berada dekat dengan macan kumbang macan kumbang itu. 

Bukan hanya Harjono saja yang menjadi tenang. Tujuh binatang buas itu menggerak-gerakkan ekornya seakan merasa nyaman karena melihat tuannya atau mungkin salah satu bagian dari mereka, telah kembali. Harjono duduk di ruang tengah "jogan" (dari kata "anjogan": yang berarti tempat "jujugan" atau ruang tamu utama dalam bahasa jawa). Matanya tajam memeriksa sekeliling sampai akrihnya dia melihat tongkat bambu pendek yang ujungnya membara kemerahan. Harjono juga melihat bahwa disetiap saka guru rumah itu terdapat lampu "tepok" (lampu tempel dengan bahan bakar minyak tanah). Segera dia bangkit kembali dengan tergesa gesa menuju ke arah "babon oncor" (tempat menyimpan bara sebagai sumber api dijaman dahulu agar tetap hidup) lalu menyalakan lampu minyak yang menempel di tiap tiang penyangga bangunan itu. 

Harjono kemudian duduk kembali dengan sedikit penerangan yang membuat dia bisa melihat ke seluruh ruang tanpa memaksakan mata nokturnalnya untuk berusaha tenang dan memikirkan kembali apa yang sedang terjadi. Dia duduk di ruangan kayu dan menyandarkan punggungnya dengan santai. Perasaan-perasaan berkecamuk tadi sedikit demi sedikit terhapus menjadi perasaan tenang dan nyaman. Dia seperti tinggal dirumah sendiri yang telah lama dia lupakan dan ditinggalkan dengan ditemani ketujuh binatang buas yang seolah terhubung dengan alam pikirannya sendiri. 

Dia mengingat kembali beberapa peristiwa yang membuat dia semakin merasa asing dana terkucil di dunia baru ini. "Tuan Candramawa" adalah sebutannya. Setidaknya menurut anggapan keluarga kanibal tadi, membuatnya penasaran. Harjono melihat sebuah almari kuno dengan cermin besar di daun pintunya. Dia ingin tahu siapa dia sebenarnya. Dan Harjono pun melangkah mendekati kaca cermin.

Betapa terkejutnya lelaki yang kehilangan ingatannya itu. Dia tidak menemukan sebentuk bayangan yang seharusnya menjadi refleksi dari tubuhnya tadi. Sekarang wajah Harjono telah berubah total menjadi manusia macan kumbang. Seluruh wajahnya ditumbuhi bulu-bulu hitam kasar dan berkumis seperti umumnya golongan kucing. Matanya memerah menyala seolah mampu menembus ke dalam dunia cermin untuk menelanjangi bayangannya sendiri di depannya. Ketika dia menyeringai, tampak sederet gigi tajam dengan empat taring besar berujung runcing membuat dirinya sendiri bergidik seketika. 

Harjono mencoba menampar wajah sendiri. Rasa sakit itu masih terasa dikulit wajahnya. Nafasnya juga ada. Dan dia masih bisa melihat tangan, kaki, dan seluruh anggota tubuhnya adalah manusia. Kecuali wajah dan punggungnya tentu saja. Ini luar biasa. Siapa sebenarnya Harjono? Hanya nama itu yang masih bisa diingatnya. Selain nama itu, dia tidak mengingat apapun. Kecuali seseorang yang pernah ditemui di candi kuno dulu. Mbah Tro Karo ! Harjono kembali duduk dengan perasaan tak menentu. Penasaran lebih tepatnya. 

Macan-macan hitam yang berbaring di lantai mengelilinginya tiba-tiba gelisah. Seperti juga dirinya yang mendadak gundah tak tahu apa sebabnya. Mereka seperti merasakan kehadiran sesuatu. Perasaan-perasaan itu, sepertinya mereka saling terhubung antara satu dengan yang lainnya. Dia dan kucing-kucing hitam besar itu seperti sebuah kesatuan rasa yang tidak terpisahkan. Dia baru menyadarinya sekarang. Satu melihat, semua melihat. Satu mendengar, semua mendengar. Dan sekarang dia bisa mengetahui bahwa dia adalah satu entitas berwujud seorang manusia dan tujuh binatang berbulu hitam lebat. Dan mereka benar-benar satu.

Satu dari ke tujuh macan kumbang itu melihat ada yang datang. Sepasang mata untuk delapan pasang mata yang lainnya. Dan semua pun tahu siapa yang datang itu. Makhluk yang lebih kuat daripada mereka walau tergabung menjadi satu. Pintu rumah mendadak terbuka oleh angin kencang. Semua macan kumbang berdiri menggeram. Tanpa sadar dia ikut menggeram.

Suara geramannya malah membuat Harjono terkejut sendiri. Dia tercekat. Ini bukan suara manusia. Ini suara macan dalam tubuh manusia, yaitu dirinya. Belum hilang keterkejutannya, tiba-tiba dari luar pintu, melompatlah seekor macan kumbang sebesar anak sapi menerjang daun pintunya yang tak terkunci sehingga terbuka lebar. Matanya merah menyala. Semua macan kumbang berdiri siaga. Lalu macan yang baru datang itu tiba-tiba berubah wujud menjadi manusia seperti dirinya. Tro Karto !

Kakek itu seperti marah kepadanya.

"Kau ini, bodoh dan ceroboh. Masih untung semua kucing memiliki sembilan nyawa. Kalau tidak, kau sudah bakal mencicipi api neraka. Dasar bodoh!"

"Apa sudah kau pikirkan baik-baik untuk tidak kembali kedunia manusia? Menyia-nyiakan waktu di dunia suram ini?" tegur mbah Tro Karto geram. Harjono terkejut mendengar kata kakek itu.

Dia mengenalku. Dari apa yang kualami sejak entah kapan waktu lalu, hanya kakek ini yang tahu tentang siapa sebenarnya aku! Bola mata Harjono pun menjadi berkilat penuh harapan. 

"Karena kecerobohanmu, aku jadi kena akibatnya. Dan harus menyusulmu ke dunia jahanam ini." Kata mbah Tro Karto kepadanya dengan penuh kejengkelan. Harjono mempersilahkan kakek itu duduk. Tetapi kakek itu menolak dengan kecongkakan yang luar biasa. Harjono hanya bisa bertanya.

"Mbah, boleh tanya tentang apa yang sebenarnya telah terjadi kepada saya? Saya benar-benar tidak tahu tempat ini. Semua ingatan saya seperti hilang dan semua dimulai dari dalam sebuah goa yang aneh. Di mana saya sekarang ini?" tanya Harjono dengan penasaran.

Kakek itu tertawa terbahak-bahak.

"Air beriak tak tahu luasnya lautan. Bila kau ingin tahu dirimu, jadilah air di dasar samudera. Mulai sekarang uruslah dirimu sendiri. Aku tidak mau cawe-cawe lagi!" jawab kakek itu sambil sambil terbahak. 

"Dia benar-benar gila dan luar biasa" pikir Harjono.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

KARMA-Tuhan yang Kulekatkan di Namaku

UNICORN - Cerita Horor Boneka Arwah Terkutuk

UNICORN - Cerita Horor Boneka Arwah Terkutuk - Bagian 1