CANDRAMAWA – Kisah Siluman Macan Kumbang (Cerita Horor Mistis Legenda Jawa Tengah) - Bagian 7
03 Desa Macan Kumbang
Harjono berada di dalam sebuah goa luas yang misterius dan remang cenderung gelap. Sebuah tempat yang belum pernah dijamahnya. Hanya ada sebuah tugu batu persegi empat dengan lebar setiap sisi 30 cm dan setinggi sekitar 1.2 meter, yang mengkilap dalam cahaya merah berdiri ditengah ruangan goa. Sebongkah kristal merah menyala memendarkan cahaya yang tak begitu kuat, menjadi satu satunya penerang terpasang oleh tangan ahli di atas puncak tugu batu hitam itu.
Ruang dalam goa itu begitu luas. Dia melihat sekitar enam puluhan meter di depan terdapat celah sempit dan sangat gelap, dan angin dingin yang berhembus masuk ke dalam ruangan, berasal dari celah itu. Mungkin itu adalah jalan keluar, atau mungkin saja jalan menuju bagian goa yang lain. Ruangan karya alam sebesar itu begitu bersih dan seakan terawat. Tempat Harjono menemukan dirinya tersadar dan terjaga dari tidurnya, atau entah bagaimana dia bisa berada di situ, adalah sebuah lempeng batu yang rata dan kering. Remang gelap goa seperti bukan halangan bagi mata Harjono. Sebentar kemudian, matanya yang sangat tajam mampu menyesuaikan dengan keadaan sekeliling goa.
Mata ini.. Bukan miliknya dulu. Mata ini seakan sensitif terhadap cahaya. Mampu menembus keremangan dan menjelajahi sudut sudut jauh dari sekitar goa, seperti ketika semua obyek terpapar cahaya terang. Mata nokturnal .. Harjono bisa dengan jelas melihat dirinya menjadi seorang pemuda telanjang berbulu kehitaman tipis di lengan, kaki dan beberapa bagian tubuh lainnya. Dia meraba kewajahnya, juga tumbuh bulu tipis yang sama. Kumis panjang, jarang dan kaku terasa jelas saat dia meraba pipinya.
Tiba-tiba Harjono berjingkat. Di dekat tugu batu segi empat yang tampaknya hasil karya manusia itu, tanpa diduga terjatuhlah sesosok tubuh seolah berasal dari atap goa. Sesosok tubuh seorang anak yang penuh luka dan berdarah-darah. Dia menjerit kesakitan. Sedang tubuhnya yang bermandikan darah bergerak menggelepar-gelepar tersiksa. Anak kerempeng itu mendapat luka-luka yang mengerikan seperti bekas gigitan dan cakaran binatang buas. dan beberapa bagian tubuhnya menghilang. Tetapi sang maut seperti enggan menghampiri untuk menjemputnya dan membebaskannya dari penderitaan dan rasa sakit tak terhingga.
Harjono tak tega melihat keadaan anak yang menatap lekat-lekat ke arah tubuh belakangnya. Dia segera melangkah mendekat untuk mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi. Harjono ingin menanyakan banyak hal walau dia tahu, kondisi anak itu sedang tak layak untuk ditanyai. Dalam hatinya dia hanya perlu tahu sedang berada di mana sekarang. Dia telah lupa segala hal yang terjadi sebelum berada di goa ini. Harjono melangkahkan kaki tanpa suara mendekati si anak yang berguling guling menggerung di bawah tugu batu hitam di mana kristal penerang goa berada diujung tugu yang dibuat sedemikian rupa oleh tangan manusia. Dia mengamati anak lelaki tadi dengan perasaan aneh. Tanpa sadar, tangan Harjono bergerak perlahan menyentuh kristal merah di ujung tugu batu yang pendek itu. Kristal itu begitu aneh. Sentuhan tak sengaja Harjono membuat warna batu kristal itu berubah. Dia merasakan betapa alam serta merta berubah. Kali ini ungu cerah memendar di sekelilingnya. Harjono, tanpa mengetahui bagaimana caranya, dia telah berada di sebuah desa yang tak dikenalnya dan bukan lagi di dalam goa.
Orang-orang berlalu lalang dalam wajah-wajah aneh dan bukan manusia lumrah. Mula-mula terlihat satu-dua manusia berkepala kucing dan macan atau monster yang hancur wajahnya, lama-kelamaan terlihat juga para penopeng yang menutupi wajah misterius mereka, semua berlalu acuh tak acuh. Seakan tak peduli dengan tubuh telanjangnya. Semakin ke tengah desa dia berjalan, pemandangan yang sungguh tak pernah mampir di kepalanya, mulai meneror akal sehat Harjono.
Sadar bahwa tak selembar kain pun menutupi tubuhnya yang masih telanjang, diapun malu sendiri. Tentu orang-orang itu menganggapnya gila sehingga tidak memperhatikan kehadirannya. Harjono merasa perlu membalut tubuhnya dengan kain atau apa saja yang bisa digunakan untuk menutupi auratnya. Sebuah rumah gubug reyot di tepi pemukiman menyediakan kebutuhannya. Harjono mengendap-endap mencuri sepotong pakaian yang tersampir di pagar halaman samping gubug itu. Desa ini, tentu bukan desa manusia. Semua penghuni adalah manusia berkepala binatang, monster dan wujud yang tidak pernah dilihatnya di alam nyata. Bahkan dia sendiri tidak merasa takut sama sekali. Hanya perasaan canggung karena bingung sedang berada di mana dan apa yang sebenarnya terjadi. Dia telah lupa segala hal penting dalam hidupnya sebelum di sini. Lelaki itu hanya ingat bahwa namanya adalah Harjono.
Ketika semua orang aneh itu tidak sedikitpum memperhatikan kehadirannya, dia merasa bebas berkeliling. Menjelajahi setiap sudut desa dengan bekal keingintahuan yang luar biasa. Tak lama kemudian sampailah dia di sebuah pendopo rumah besar, dia melihat ada cahaya ungu yang menarik perhatiannya. Dia mendekat dan menemukan tugu batu yang sama dengan yang terdapat di dalam goa. Hanya saja kristal di ujung batu kali ini berwarna ungu cerah. Bukan merah menyala seperti di dalam goa. Ketika tangannya hendak menyentuh kristal sumber cahaya mendadak seekor harimau hitam berlari cepat seolah hendak menerkamnya. Dia secara naluri sadar karena kaget dan tangannya secara reflek segera menyentuh batu kristal itu.
Kembali cahaya merah berkilat muncul. Dan Harjono kembali ke tempat semula. Dia kini telah berada di dalam gua tanpa tahu bagaimana. Dia masih melihat anak kecil sakit-sakitan yang tadi menggelepar. Dan tubuhnya semakin penuh luka karena di cabik-cabik seekor macan kumbang besar. Macan kumbang itu yang tadi mengejarnya di dekat tugu berkristal ungu cerah. Harjono menjerit pingsan tak tahu apa yang terjadi berikutnya.
Ketika siuman, dia berada di sebuah rumah kayu jati kuno. Angin puting belitung di luar rumah asing itu telah mematikan lampu minyak di atas meja. Harjono berkeliling mencari "babon oncor" (: penyimpan bara dari bambu kecil) yang tadi sempat terlihat di atas meja. Ketika dia menyalakan lampu minyak tadi, dia melihat sesuatu yang mengerikan di sudut ruangan. Seorang pemuda yang tubuhnya tidak utuh tetapi lamat-lamat dikenalnya, mencoba berdiri perlahan dengan tubuh sempoyongan untuk menghampirinya. Dalam ketakutan, Harjono berlari ke luar rumah. Pemuda bertubuh hancur itu memanggil namanya dengan sebutan "dhe Harjono", berusaha mengikutinya keluar dengan langkah seperti zombie berjalan. Harjono baru sekarang merasa ketakutan, dan berlari kabur.
Rumah kuno itu ternyata berada di tengah-tengah hutan. Ada seorang kakek yang tidak dikenalnya, muncul dan sekilas menoleh ke arahnya. Harjono berlari mengejar. Akhirnya sampailah dia di sebuah reruntuhan candi. Seorang pemuda berwajah macan kumbang dengan pakaian keprajuritan menemui kakek itu dan menyebut namanya sebagai Tro Karto. Mereka bicara sebentar lalu menunjuk ke arah Harjono yang melangkah mendekat. Pemuda bermuka macan kumbang itu berjalan menyongsong Harjono, lalu berhenti di depan gapura candi dengan gagah. Dia sepertinya menunggu lelaki itu untuk mendekat. Harjono segera mempercepat langkahnya untuk bertanya apa yang sedang terjadi pada dirinya. Dan dia sedang berada di mana? Bukan jawaban yang dia peroleh, tetapi serangan mendadak yang membuatnya tak berdaya dan berdarah-darah.
Pemuda itu menyeret kaki kanan Harjono menuju ke sebuah candi utama, tujuh puluh meteran jaraknya dari gerbang tadi. Alam tersaput cahaya biru memunculkan pemandangan hutan lebat tak jauh di belakang mereka. Penuh dengan nuansa mengerikan yang tersembunyi menjadi misteri yang melukiskan keangkeran hutan jati itu. Pohon-pohon secang menjadi perdu yang menutupi reruntuhan candi pengapit di sepanjang jalan. Dan duri-duri secang yang dahannya menjulur sepanjang jalan mereka, melukai kulit Harjono tanpa belas kasih. Alang-alang dan tanah keras yang berkerikil tajam membuat perih mulai terasa di beberapa bagian tubuh. Sampailah mereka memasuki gerbang bagian dalam candi dengan patung gupala berkepala harimau purba di depan kanan dan kiri gerbang candi. Ada pahatan kala di atas gerbang yang menunjukkan betapa tempat itu disucikan dan dikeramatkan dari sejak dahulu kala.
Lalu sampailah lelaki itu menyeret Harjono ke dekat sebuah altar batu. Tubuh Harjono diangkat dengan begitu mudahnya oleh si muka macan kumbang yang telah menyeretnya dengan kasar. Tubuh tegap berototnya seperti seringan kapas di tangan pemuda yang menghormati kakek yang disebut Tro Karto tadi. Harjono dibaringkan disebuah altar batu dengan paksa, diakhiri dengan sebuah tinju keras yang membuat kepalanya seperti tertimpa batu gunung. Dia hampir tak sadarkan diri. Dalam tatap mata yang berkunang-kunang, Harjono melihat bayangan-bayangan bermunculan dari semak-semak secang. Kemudian tampaklah wujud nyata sekelompok manusia berkepala macan kumbang. Mereka adalah para anggota pemuja Candramawa, berkerudung hitam, tanpa alas kaki, mendekati altar tanpa suara langkah kaki terdengar.
Sepertinya mereka hadir untuk menyiapkan sebuah ritual yang tidak Harjono mengerti tujuannya. Seorang kakek dengan pakaian layaknya pendeta datang dengan tubuh agak bungkuk dan lengan tangan tinggal kulit pembalut tulang. Dia menghampiri Harjono yang saat itu terbaringkan di altar. Orang-orang aneh itu mengelilingi tempat pembaringannya seolah tidak memberi tempat bernafas. Kakek Tro Karto muncul lagi dengan membawa sebuah kotak bertatahkan emas. Lalu diserahkan kepada tetua yang mengenakan jubah tadi.
Kakek ketua sekte membuka kotak itu dan mengeluarkan sebilah pisau bergagang gading bertatah emas yang tajam bercahaya kemilau. Semua yang berada di sekitar tempat itu tidak bersuara sepatah katapun. Mata mereka lekat menatap Harjono. Rupanya dia hendak dikorbankan untuk sebuah ritual. Dia berpikir riwayatnya akan habis di tempat ini.
Tubuh lemasnya berontak. Dia bangkit dan turun dari altar dengan cepat. Berjalan ke arah sebuah punden berundak yang diatasnya berdiri tugu seperti di dalam goa dan terdapat sebuah kristal bercahaya biru yang menjadi penerangan di altar candi itu. Harjono berharap bisa terlepas dari kepungan para anggota sekte. Dia nekad melompat dengan sisa-sisa tenaganya berusaha menembus pagar manusia macan kumbang. Ketika para pemuda bermuka harimau hitam bergerak mendekat untuk menangkapnya kembali, Harjono mengangkat kristal biru untuk dilempar ke arah seorang pemburu terdekat.
Dan kejadian yang sama terjadi lagi. Tiba-tiba dia menemukan dirinya sudah berpindah di goa awal mula dia membuka mata. Kali ini cahaya merah yang dikenalnya membuat Harjono merasa tenang dan aman. Cahaya menyinari seisi goa dan hatinya. Anak kecil yang terluka parah dan masih mengerang kesakitan sekarang ini mendapat seorang teman. Dia adalah pemuda di rumah jati kuno yang penuh luka bermandikan darah hingga membuat Harjono ketakutan dan berlari ke dalam hutan tadi.
"Pakdhe Harjono, tolong selamatkan saya!" kata si pemuda memelas.
Harjono terkejut. Pemuda itu mengenalnya. Dia tahu namanya. Tetapi lelaki setengah baya itu tak mau mendapatkan resiko diserang lagi. Dia memungut batu besar dan menghajar kedua manusia yang dianggap iblis di depannya sampai tubuh mereka lumat nyaris tak berbentuk. Tetapi mereka belum mati. Mungkin tidak akan bisa mati. Hanya saja mereka tidak bisa lagi berjalan mendekatinya. Harjono menguatkan hati. Dia berjalan menuju batu bercahaya yang menerangi goa nya.
Dia berdiri mematung sambil merasakan betapa hajaran gerombolan pemuda bermuka macan kumbang tadi membuatnya sakit sekujur badan. Tetapi anehnya berangsur-angsur menghilang rasa sakit itu. Harjono mengamati batu kristal di depannya. Seperti sebongkah kristal biasa yang memancarkan cahaya. Tetapi semua batu di tiga tempat tadi begitu mirip. Atau malah bisa disebut serupa dan identik walaupun pendaran cahaya dari setiap kristal berbeda warna.
Di goa ini, ada batu kristal berwarna merah. Dan ketika dia menyentuhnya, dia berpindah ke sebuah desa yang berpenghuni makhluk-makhluk aneh. Di desa itu, di halaman sebuah pendopo besar, terdapat pula kristal berwarna ungu cerah. Yang bila dia sentuh menjadikan dia bisa berpindah tempat. Yaitu kembali ke goa ini. Sedang di candi kuno tadi, tak jauh dari rumah jati di tengah hutan, terdapat altar candi tempat dia hendak di bunuh oleh pengikut sebuah aliran sesat. Dan di altar candi itu, terdapat kristal biru cerah yang membawa dia kembali ke goa ini. Jadi dia berpikir bila dia tersesat, akan mencari lokasi ketiga batu-batu itu untuk membawanya kembali ke goa ini. Karena hanya di sinilah dia merasa aman dan bisa menguasai keadaan.
Harjono pun membaringkan tubuh untuk beristirahat dan memulihkan diri. Ketika terbangun, dia masih di goa itu. Harjono masih bingung memikirkan siapa dia? Kenapa ada di sini? Pasti dia punya tempat tinggal karena di goa ini dia merasa asing.
Akhirnya dia memutuskan untuk berjalan keluar goa lewat celah gelap yang tidak menjadi halangan bagi mata nokturnalnya. Dia melewati dua tubuh yang dihancurkannya tadi yang masih hidup dan merayap memohon belas kasihan kepadanya. Tetapi dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, jadi Harjono pun memilih mengabaikannya.
Di luar goa, rupanya hari sudah mulai senja, atau suasana memang selalu seremang senja? Di barat dia melihat semburat jingga yang cahayanya menembus dedaunan pohon-pohon besar. Tetapi Harjono yakin itu bukan sinar matahari. Jadi dia menyangkal pikirannya sendiri bahwa asal cahaya itu adalah belum tentu barat. Sesampai di luar goa, terlihat sebuah patung harimau hitam terdapat dia tengah-tengah halaman depan mulut goa yang tersusun dari batu gunung dalam potongan yang rapi dan seukuran sebagai lantainya. Harjono menatap ke patung macan kumbang itu. Lamat-lamat dia seperti mengingat sesuatu di masa lalu. Seekor kucing hitam yang duduk tenang dihadapannya ketika pertama kali melakukan sebuah ritual. Harjono mencoba mengingat kembali.
"Ahh... ingatan itu benar-benar samar sekali."
Harjono melangkah gontai meninggalkan goa tempat yang paling dikenalnya di dunia aneh ini. Tak jauh darinya, setelah sekitar sekilo meter setelah si kaki berjalan, dia melihat seorang lelaki dan seorang perempuan berusia lebih muda darinya duduk di atas sebatang kayu besar yang roboh karena lapuk sambil menghadap ke api unggun. Akhirnya, Harjono muncul harapan untuk menanyakan hal-hal yang membuatnya seolah buta, tidak tahu keadaan sekitar, termasuk tentang siapa dia dan darimana asal-usulnya.
Tak disangka-sangka, begitu Harjono mendekat, kedua orang itu bangkit berdiri dan wajah mereka menjadi berbinar senang. Ekspresi wajah yang tidak pernah dilihat oleh Harjono selama di dunia ini.
"Kang, kang Harjo, akhirnya kita ketemu di sini!" kata mereka bersahutan dan diulang-ulang seperti burung-burung yang berkicau cerewet dalam nada yang sama sepanjang hari. Harjono mengernyitkan dahi. Mereka mengenalnya. Mereka merasa pernah bertemu dengannya sebelumnya. Mereka pasti tahu bagaimana dirinya bisa berada di tempat asing yang tak terbayang pernah dikenalnya ini.
"Siapa anda berdua ini?" tanya Harjono pelan.
"Sampeyan lupa atau berniat melupakan kami? Ini aku, Somat. Tukang mancing yang sering anter "mujair" ke rumah sampeyan. Gumuk Cigrek kang! ingat gumuk Cigrek?" kata lelaki yang mengaku bernama Somat berusaha mengingatkan Harjono tentang sebuah peristiwa di masa lalu. Harjono berusaha menggali ingatannya, tetapi dia tak bisa menemukan bagian-bagian yang hilang dari kepalanya. Dia menggeleng sedih.
"Saya Siti, kang. Siti yang sampeyan bantu untuk menjadi kaya raya. Saya mbokne si Dadik yang tiap hari nongkrong di rumah sampeyan, temen si Kirno!" kata si wanita yang mengaku bernama Siti, ibu dari seorang anak bernama Dadik.
Si lelaki adalah Somat dan wanita itu bernama Siti. Dan Harjono tertegun terdiam. Dia masih mencoba mengorek otaknya dibagian paling dalam untuk mengingat mereka. Selama ini, hanya seorang saja yang seakan pernah dikenalnya: Tro Karto.
Somat berdiri dan berjalan ke arah Harjono, lalu menuntunnya untuk ikut duduk di dekat unggun. Siti sedang membalik-balik panggangannya yang berbau harum di atas bara di hadapan mereka. Tampaknya mereka sedang memasak sesuatu. Harjono pun mendadak menjadi merasa kelaparan. Kedua pasangan itu seakan bisa mendengar suara cacing di dalam perut Harjono yang masih bertingkah seperti orang linglung. Dia tak menyadari bahwa Somat mempersilahkan untuk mencicipi hasil masakan Siti. Somat menyodorkan daging bakar ke depan wajah Harjono yang sedang melamun memikirkan banyak hal yang tidak pernah bisa dia mengerti di dunia ini. Harjono sedikit kaget. Tetapi akhirnya dia langsung menerima lalu melahapnya dengan rakus.
Tiba-tiba terdengar suara yang seperti pernah didengarnya di dalam goa. Seorang anak yang dia hajar dengan batu sampai lumat tadi. Entah bagaimana caranya memulihkan diri, tampak dia sedang mencoba merangkak mendekat kearah orang-orang yang sedang memanggang daging yang luar biasa lezat dil idah Harjono. Tubuhnya sudah nyaris tak berbentuk dan dia benar-benar tak utuh lagi. Somat menghampiri anak itu. Dia mencabut pisaunya. Lelaki yang suka memancing itu memotong daging paha si anak tanpa peduli jeritan kesakitan membahana di sekitar hutan.
Somat lalu mengiris daging itu menjadi bagian-bagian kecil dan diserahkan kepada Siti. Siti menusukkan "sujen" (: tusuk sate) dan membakarnya. Harjono menahan makannya. Rupanya daging yang dia makan barusan adalah daging manusia! Tanpa sadar rasa mual tiba-tiba menekan perut Harjono sehingga dia memuntahkan semua yang baru saja ditelannya. Harjono pun segera berlari kabur meninggalkan Somat dan Siti yang tertawa terbahak-bahak...
Bab Sebelumnya | Bab Berikutnya
Komentar
Posting Komentar