CANDRAMAWA – Kisah Siluman Macan Kumbang (Cerita Horor Mistis Legenda Jawa Tengah) - Bagian 7

Gambar
  07 Penciptaan Parjio sudah menduga akan mendapat pertanyaan seperti itu ketika dia membuka kisah tentang hal-hal yang menyangkut tentang entitas "tan wadag". Untung saat ini dia tidak berhadapan dengan seorang yang fanatik. Bisa terjadi perang besar bila dia harus mengungkapkan beberapa hal yang bertentangan dengan keimanan mereka. "Aku paham maksudmu. Sebaiknya kita pahami dulu tentang "proses penciptaan" di kepercayaan masyarakat Jawa penganut "kapribaden Jawa Purba. Ingat Penganut "kapribaden Jawa" dan bukan "Kejawen"!" kata Parjio mencoba memberi pengertian tentang Jawa dengan hati-hati kepada Adrian yang berpikiran logis dan ilmiah. "Apa beda antara Kejawen dan kapribaden Jawa?" Tanya Adrian mendesak. Senyum Parjio mengembang. Selalu begitu pertanyaan orang-orang bila sudah menyangkut perbedaan mendasar tentang "kepribaden". "Berbeda menurut ajaran yang kuterima dari kakek. Tetapi mungkin diangga...

CANDRAMAWA – Kisah Siluman Macan Kumbang (Cerita Horor Mistis Legenda Jawa Tengah) - Bagian 2




02 Malaikat Maut

Aku sudah dalam keadaan terikat ketika siuman. Tangan dan kakiku terikat kuat sehingga terasa sakit dan menjadi kebas di beberapa bagian. Aku benar-benar seperti seekor kambing yang menuju ke tempat penjagalan di lebaran haji. Hanya telinga dan mataku saja yang dibiarkan bebas meneliti keadaan yang ternyata benar-benar tidak menguntungkan. Aku dalam bahaya yang mungkin dan hampir bisa kupastikan akan berujung maut. Suara gemuruh kendaraan berat seperti melintas di atas kepalaku. Aku membuka mata lebar-lebar untuk mengenali mereka yang berkasak-kusuk di sekitarku. 

Kulihat pakdhe, kang Somat dan mak Siti membawaku ke sungai Tuntang yang kukenal karena aku memang sering memancing di sana. Tempat ini adalah tempat yang paling kukenal dengan baik. Aku biasa nongkrong mancing disini untuk membuang suntuk di saat-saat menganggur dan tidak ada kegiatan. Bahkan aku sering berangkat bareng kang Somat di sini. Di bawah jembatan kembar sungai Tuntang, juga di beberapa spot fishing sekitar rawa Pening. 

Tetapi malam ini, kang Somat seperti menjelma sesosok malaikat maut yang terlihat kejam dan menakutkan di mataku. Dia sesekali melirik ke arahku yang di biarkan tergeletak di tanah basah bantaran sungai di bawah bulan sabit yang ikut khawatir dengan keadaanku. Aku tidak bisa berteriak karena mulutku tersumbat kaos dalam kang Somat yang baunya bikin mual. Pakdhe baru saja selesai mengikatkan sebuah batu besar ke kakiku.

Aku menangis memelas memohon keselamatan dengan tatap mataku yang basah. Tetapi pakdhe tidak peduli. Benar-benar tidak peduli. Matanya memancarkan cahaya merah seperti mata binatang malam yang terpapar cahaya lampu penerangan jalan yang meremang sinarnya di ujung tiang besi setinggi nyaris enam meter di ujung jembatan.

"Ada tukang ngobor kodok. Buruan, Mat!" kata pakdhe dingin kepada kang Somat. Mereka berdua memegang tangan kakiku yang terikat dengan dibebani sebuah batu besar. Kemudian aku merasa melayang sebentar seperti sedang dilemparkan ke kali Tuntang yang dalamnya puluhan meter tanpa bisa berbuat apa-apa untuk menyelamatkan diri.

Aku pasti mati... Aku pasti mati! Air dingin sungai Tuntang membasahi tubuhku. Aku menahan nafas semampuku. Perlahan-lahan air sungai yang mengalir pelan di bawah permukaannya menenggelamkanku ke dasar yang gelap. Semakin dalam, semakin gelap. Nafasku menyesak. Dan aku tak bisa menahan air yang tiba-tiba terhisap memasuki lubang hidungku. Perih sekali rasanya. Air memenuhi hidungku karena mulutku tersumbat. Rasa perih air benar-benar menyiksa... Aku tak bisa bernafas! Tubuhku menjadi seketika lemas. Aku tercekik air sungai Tuntang karena tak mampu menahan nafas lebih lama lagi. Lalu kembali tak sadarkan diri, atau mungkin sudah mati.

Seperti di alam mimpi, aku membuka mata. Melihat dengan tatap mata kabur karena terselimuti oleh sesuatu yang dingin dan sesuatu itu seperti lendir berbau anyir...

Aku bergulat dengan keadaan seperti hendak tertidur atau harus tetap terjaga. Lalu aku tersedak dan kemudian memuntahkan semua isi perutku. Benar-benar semua. Tubuhku seakan terbaring di atas perahu aneh. Perahu pengantar roh? Aku yakin pasti sedang dalam perjalanan ke akhir hidup jasad wadagku. 

Seseorang seperti utusan malaikat maut dengan kepala memancarkan cahaya terang mendayung perahu. Punggungnya samar-samar terlihat di mataku, sosok kekar dan kuat berambut berkeriap basah. Seperti meneteskan cairan aneh dari dunia lain. Di antara rambutnya yang berkeriap, aku melihat samar-samar ada tanaman kecil yang tumbuh dari sela-sela rambut basah berlumpur itu.

Seperti itukah penjemput roh manusia setelah mati? Mengerikan sekali wujudnya. Dia Izrail? Benar-benar malaikat penjemput roh yang seperti hendak mengantarkan aku kepada malaikat maut yang sebenarnya di neraka. Lalu rasa takut yang teramat sangat tumbuh dan memenuhi rongga dadaku yang sesak dan terasa nyeri. 

Aku tidak mau ke neraka..! Tuhan..! Aku tidak mau ke neraka..!

Aku memang banyak dosa. Mabuk, main togel, judi slot juga kadang ikutan jadi bandar dadu di setiap ada hiburan malam. Tak ada sifat baik sedikitpun yang seingatku pernah kulakukan. Dulu ketika masih di bangku sekolah, aku dan Dadik biasa maling ayam kang Sastro. Dan jadi kebiasaan untuk membantu dinas kesehatan mengendalikan penyebaran virus berbahaya. Pernah juga membongkar kotak amal dimushola kampung kami untuk modal judi dan top up slot. Ya, itu hal terbaru setelah kami melihat si Sonto, takmir masjid pemegang kunci kotak amal, menggunakan uang itu untuk narik kabel di kafe Syuhai. Aku dan Dadik hanya berfikir bahwa itu dana umat yang harus dimanfaatkan dengan baik dan bijak. Aku juga umat karena katepeku tertulis beragama yang jelas sama dengan si Sonto. Apakah aku layak untuk masuk neraka karena hal-hal kecil begitu? Ahh... Itu juga dosa besar bukan? Aku pasti akan langsung dibawa ke neraka paling dasar oleh pendayung perahu pengantar nyawa-nyawa tersesat.

Aku hanya bisa menyesali nasib. Kenapa selama hidup tidak pernah berbuat kebaikan. Aku menyalahkan orang tuaku yang mendahului aku karena covid-19 dulu. Kenapa tidak pernah memberi pendidikan dan ajaran yang baik. Tentang agama atau ngaji misalnya. Tentu aku akan merasa lebih baik. Tidak menerima karma dengan cara mati ditenggelamkan. Dan mengalami perasaan-perasaan mencekam ketika diantar oleh pembawa ruh ke neraka. Siksaan kematian yang kualami tadi begitu menyakitkan.

Benar-benar menyakitkan..!

Dan perjalanan yang dingin juga lambat ini malah lebih menyiksa dari pada perjalanan suciku di dasar sungai Tuntang tadi. Sungguh teramat sangat menyiksa.

Perahu pun sandar di antara perahu-perahu lain. Bau anyir memenuhi hidungku. Inilah jalan ke neraka. Belum terlihat pintunya saja sudah tercium bau busuknya. 

"Kau sudah sadar? Syukurlah!"

Sebuah suara serak dan berat terdengar menggetarkan rongga dadaku. Sontak saja rasa nyeri itu kembali terasa dan lebih menyakitkan. Perlahan-lahan kesadaran dan  panca inderaku kembali pulih. Mataku mulai melihat ada senter di kepala malaikat pengantar roh itu...

Dia..?! 


***

Akhirnya aku bernafas lega. Benar-benar lega. Dia manusia! Bukan malaikat maut! Dan senter di kepalanya itu menyorot tepat ke mataku yang segera menjadi silau dan perih.

Seorang lelaki tua, yang masih tegap berotot, membantuku berdiri dan menuruni perahu. Rupanya bau busuk itu berasal dari bekas sisik dan kotoran ikan yang dibersihkan para nelayan dan dibuang di sekitar perahu. 

Tempat ini... Ini sandaran perahu para nelayan rawa Pening. Berarti aku selamat. 

Tuhan... Terimakasih telah menunda kematianku. Sebuah kalimat puji syukur tiba-tiba terlontar dari mulut berbau busuknya ciu. Aku tak bisa melukiskan rasa syukur itu. Aku masih hidup. Masih diberikan kasih yang luar biasa, seperti mendapat mukjizat Tuhan yang benar-benar telah menunjukkan kekuasaan-Nya. Sesuatu yang hanya aku sendiri yang bisa merasakannya. 

"Kalau terlambat sedikit saja, kau sudah mati lemas dengan paru-paru penuh air. Untung saja kau mabuk berat sehingga bisa memuntahkan semua yang masuk ke dadamu," kata juru selamatku dengan nada khawatir. 

"Aku tahu seseorang dari mereka. Si Somat tukang mancing di Sibebek. Ada masalah apa kamu sama Somat sampai dia tega mau membunuhku?" tanya penyuluh kodok yang selalu beroperasi di pinggiran sungai Tuntang di malam hari yang mencekam dan penuh teror untukku.

"Bukan hanya kang Somat yang tega, pak. Pakdhe saya Harjono adalah salah satu dari mereka. Juga mak Siti gemblekan kang Somat juga tega menyakiti anaknya sendiri. Saya menyaksikan mereka melakukan ritual berdarah dengan tumbal kucing hitam," jawabku sambil mengucurkan air mata. "Karena menyaksikan ritual terlarang mereka itulah, maka saya hendak dihabisi!" 

Kemudian aku mulai menceritakan kejadian dari awal sampai akhir yang kuketahui pasti. Dan itu membuat si kakek termenung dalam pikiran yang tak pernah bisa kumengerti. 

"Candramawa. Masih saja ada orang yang gila harta sampai melakukan ritual keji itu!" kata orang tua yang kalau aku tidak salah ingat, dia dikenal bernama Min Kebo, pencari kodok dan udang rebon untuk pemancing di tepi sungai Tuntang.

Aku mengikuti langkah pak Min Kebo dengan gontai menuju ke sebuah warung di pinggir rel kereta yang dibangun Belanda di tepi Rawa Pening. Tertulis sebuah papan nama dengan cat biru cerah dengan dasar kuning muda. "Warung Mas Beni". 

Pak Min Kebo menyuruhku membersihkan diri dari lumpur rawa di sekujur tubuhku di kamar mandi sempit di bagian belakang warung. Sedang aku mendengar pak Min Kebo bicara dengan mas Beni yang menghujani seribu pertanyaan tentang aku kepada pak Min Kebo. Yang ditanya hanya bicara sedikit saja. 

"Ben, hubungi pak Jarwo dan laporkan ada upaya pembunuhan. Sampaikan kepada beliau, korban selamat dan aman di sini!"

Mas Beni pasti terkejut mendengar perintah pak Min Kebo yang meminta dia menelpon seorang polisi dari Polres Salatiga. Segawat itukah urusannya? Mungkin begitu batin mas Beni. 

Lalu malam itu menjadi malam yang terberat bagiku sehingga tak punya waktu lagi buat tidur sampai menjelang pagi. Pak Min Kebo menemaniku pergi ke Polres Salatiga karena pak Jarwo berdinas di sana. Dan berkat kesigapan pak Jarwo, malam itu kang Somat dan Mak Siti ditangkap dan dibawa ke kantor polisi. Hanya Pakdhe dan mbah Tro Karto yang menghilang dan tidak berhasil diketemukan. 

Aku dan pak Min Kebo memberikan kesaksian secara detail dan tidak ada yang ditambah dan dikurangi seingatku di hadapan petugas di kantor polisi. Mereka menanyaiku banyak hal. Mulai dari nama, pekerjaan, alamat dan sampai menyinggung bau mulutku yang busuk karena ciu.

Akhirnya dari pengembangan olah tekape, Dadik dinyatakan menghilang. Di kampung terjadi kejadian lain yang sangat mengerikan bersamaan dengan kejadianku. Anak bungsu kang Somat yang sakit-sakitan karena kurang gizi semenjak ditinggal mati ibunya, ditemukan meninggal di kamar dalam keadaan tercabik-cabik cakar binatang buas. Sebagian organ tubuh hilang oleh serangan binatang misterius itu. Warga tak kunjung habis membicarakan itu. Mereka menjadi heboh dan mengait-ngaitkan kejadian ditangkapnya mak Siti dan kang Somat dengan sebuah rumor tentang kejadian-kejadian aneh di masa lalu tentang sebuah ritual tumbal mengerikan. 

Sementara itu, beberapa hari kemudian, seorang penduduk desa Ujung Ujung menemukan tubuh Dadik, membusuk terkubur dangkal dengan luka sama seperti yang dialami anak Kang Somat. Yaitu akibat serangan binatang buas.

Aku masih dirundung ketakutan karena pakdhe Harjono belum ditemukan. Sedang polisi menenangkan aku bahwa tak mungkin pakdhe Harjono akan kembali untuk mencoba membunuhku. Mereka berdua sudah menjadi buronan polisi dan masuk daftar pencarian orang paling berbahaya. Akhirnya aku kembali menemui pak Min Kebo di warung mas Beni untuk sedikit bertanya dan mengucapkan banyak terima kasih karena telah menyelamatkan tepat pada waktunya. Terlambat beberapa menit saja mungkin aku sudah benar-benar tamat dan berkumpul kembali dengan Dadik di alam baka. 

"Begitulah Candramawa. Mereka membangkitkan kembali siluman macan hitam ghaib dengan memujanya. Memberikan tubuh mereka sebagai wadah roh kucing siluman dan memberinya makan orang yang mereka kasihi. Anak, istri, bahkan orang tua sendiri."

Aku bergidik mendengar penjelasan pak Min Kebo, ketika aku menemuinya di warung mas Beni. Dan dia sungguh orang baik yang langka ditemukan di jaman sekarang. 


***

Hari berganti dan waktupun berlalu. Sudah lebih seratus harinya peringatan kematian Dadik dan anak kang Somat. Kejadian itu tak pernah sedikitpun lepas dari ingatanku. Dan benar_benar menjadi titik nol perjalanan hidupku ke depannya. Pakdhe dan mbah Tro Karto masih menjadi buronan. Mereka ada di peringkat atas DPO polisi.

Malam itu Midun dan Triman menemaniku ngopi di depan rumah peninggalan nenekku sambil bermain gitar. Kami mengenang kembali masa-masa indah bersama Dadik dahulu dengan menyanyikan lagu-lagu kesukaannya. Aku sudah berniat taubat Nasuha dengan meninggalkan semua kebiasaan burukku. Pengalaman itu membuatku sadar bahwa aku telah menyia-nyiakan hidupku dengan menjauh dari Tuhan. Aku mulai terpanggil untuk belajar sholat dan mengaji. Perubahan itu juga mempengaruhi Midun dan Triman yang sering menemaniku sholat ke masjid. 

Angin menyentuh kembang kemuning di halaman rumah. Wanginya membuai kami seperti serasa berada di depan toko parfum si Babah Arab Maksum. 

Sementara itu Triman yang memegang gitar melantunkan lagu-lagu kenangan yang menjadi favorit kami. Lagu-lagu Soneta. Dan Midun sedang memelototkan matanya untuk melihat bayangan hitam di dahan pohon langsep di depan rumah di balik pagar. Beberapa kali dia mengerjap-ngerjapkan matanya untuk memastikan bisa menangkap sebuah bentuk yang membuat daun-daun langsep bergerak tak wajar. 

"Kucing hitam, Kir. Matanya merah," kata Midun. 

"Mana, Dun ?" tanya Triman penasaran. 

"Lha kuwi! Matamu ki sak kecer-kecer ning ra weruh blas?" jawab Midun jengkel.

Aku mengamatinya. Tiba-tiba kucing itu memperlihatkan diri dengan jelas. Ia melompat turun menghampiri kami. Semakin dekat dia melangkah, dia berubah semakin besar di setiap langkahnya. Lalu sempurna menjelma seekor macan kumbang sebesar anak sapi tanggung. Matanya merah menyala menatap tajam ke arah kami yang terpaku membatu antara takut dan terkejut. 

Secepat kilat macan hitam itu menyerang Midun yang tergagap. Dia menggigit leher Midun sampai terdengar suara berderak tanda tulang lehernya patah karena jepitan rahang kuat makhluk itu. Tak berhenti di situ, macan kumbang yang misterius itu lalu bergerak cepat menerkam tengkuk Triman yang hanya bisa berdiri terpaku dengan lutut gemetar menyaksikan Midun berkelojotan sekarat. 

Sama persis seperti aku yang ingin menjerit tetapi hanya kebisuan yang menguasai lidahku. Jerit Triman pun yang akhirnya terlepas memecah malam. Menggetarkan kampung yang tenang dan mengusik gendang telinga warga yang masih terjaga. Suara teriakan Triman membuat panik warga yang mendengarnya. Mereka bergegas keluar dan mencari arah sumber suara dan pasti akan segera datang ke depan rumah keprabon ini.

Sedang aku masih tak tahu apa yang harus kulakukan. Perasaan takut luar biasa merayap ke sekujur tubuh membuat dingin dan beku menguasaiku. Lidah kaku kelu tak bisa kugunakan untuk berteriak meminta tolong warga. Aku tercekat. Tak tahu apa yang harus kulakukan. Gemetar sekujur tubuh karena takut membuat otakku tidak bekerja sebagaimana mestinya. Macan kumbang besar itu menoleh kepadaku setelah menamatkan riwayat Triman. Dia menggeram memamerkan taringnya yang tajam meneteskan darah Triman dan Midun. Dia benar-benar telah menguasai dengan matanya yang berkilat merah penuh daya hipnotis yang luar biasa. 

Sekarang dia seperti bersiaga melakukan sesuatu kepadaku. Dia cepat sekali gerakannya ketika melompat kearahku. Menerkamku dengan kesetanan membuat aku terjatuh terlentang di bawah kuasa cakarnya. Taring tajam di rahang yang kuat menancapkan di tenggorokanku. Membenamkan taring yang terasa perih di leherku. Lalu menggerakkan gerakan kepalanya sampai taring mencabik-cabik dagingku.

Aku hanya bisa diam karena kelemahanku telah dikuasainya. Rasa takut dan pengecutku muncul memudahkan macan kumbang itu melampiaskan nafsu kebinatangannya ke tubuhku. Aku merasakan sakit tak terhingga dari luka yang menganga. Bahkan darah mengalir dari kiyakan kulit dagingku, dari mulutku, dari hidungku. Kemudian berakhir dengan semburan hangat seperti tak sadar kumuntahkan tanpa bisa kutahan. Sebentar saja kucing besar hitam itu kurasakan telah mencabik-cabik tubuhku dan aku tak berdaya karena perasaan-perasaan aneh tiba-tiba membuatku berhenti berpikir. Rasa sakit yang luar biasa itu...

Aku hanya bisa pasrah kepada Tuhan yang belum lama kuyakini. Pasrah sedalam-dalamnya. Luka dan perih di sekujur tubuh karena cakar dan taringnya sudah tak kurasakan lagi. Akhirnya kulihat dia meninggalkan aku begitu saja setelah menghancurkan tubuhku. Mataku masih terbuka walau penglihatan seolah menjadi tak sempurna. Nafasku tersengal tinggal satu-satu. Aku tak tahu mana bagian tubuhku yang terasa sakit. Tubuhku seperti mati rasa dan berangsur-angsur dingin. 

Mataku terus menatap kucing besar yang berjalan melenggang menjauhiku. Kabut menyelimutinya atau malah menyelimuti mataku yang menjadi kabur. Lalu semuanya menjadi buram gelap. Seperti dalam goa yang sempit tanpa cahaya sama sekali. Hawa dingin mendekap perasaanku, tetapi mataku masih terikat di bayangan kucing hitam besar itu. Kulihat dia berubah wujud menjadi manusia. 

Pakdheku! 


***

Aku adalah Sukirno. Teman-temanku biasa memanggilku Kirno atau Kir saja.

Keponakan pakdhe Harjono yang menganut ilmu hitam Candramawa. Konon dia tidak bisa mati karena memiliki sembilan nyawa.

Tetapi aku yakin bahwa kuasa Ilahi lebih besar daripada kuasa makhluk-Nya. Dia akan menerima akibat dari sebab yang ditimbulkannya. Dan aku merasa telah mendapatkan hikmah dan hidayah dari peristiwa itu.

Dan aku menemukan cahaya... 

Selalu damai dalam cahaya itu...


Bab Sebelumnya | Bab Berikutnya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KARMA-Tuhan yang Kulekatkan di Namaku

UNICORN - Cerita Horor Boneka Arwah Terkutuk

UNICORN - Cerita Horor Boneka Arwah Terkutuk - Bagian 1