CANDRAMAWA – Kisah Siluman Macan Kumbang (Cerita Horor Mistis Legenda Jawa Tengah) - Bagian 7

Gambar
  07 Penciptaan Parjio sudah menduga akan mendapat pertanyaan seperti itu ketika dia membuka kisah tentang hal-hal yang menyangkut tentang entitas "tan wadag". Untung saat ini dia tidak berhadapan dengan seorang yang fanatik. Bisa terjadi perang besar bila dia harus mengungkapkan beberapa hal yang bertentangan dengan keimanan mereka. "Aku paham maksudmu. Sebaiknya kita pahami dulu tentang "proses penciptaan" di kepercayaan masyarakat Jawa penganut "kapribaden Jawa Purba. Ingat Penganut "kapribaden Jawa" dan bukan "Kejawen"!" kata Parjio mencoba memberi pengertian tentang Jawa dengan hati-hati kepada Adrian yang berpikiran logis dan ilmiah. "Apa beda antara Kejawen dan kapribaden Jawa?" Tanya Adrian mendesak. Senyum Parjio mengembang. Selalu begitu pertanyaan orang-orang bila sudah menyangkut perbedaan mendasar tentang "kepribaden". "Berbeda menurut ajaran yang kuterima dari kakek. Tetapi mungkin diangga...

CANDRAMAWA – Kisah Siluman Macan Kumbang (Cerita Horor Mistis Legenda Jawa Tengah) - Bagian 1




01 Kucing Hitam

Namaku Sukirno. Teman-teman memanggilku Kirno atau Kir saja. Aku tinggal berdua dengan seorang pengganti mendiang kedua orang tuaku yang terkena wabah Covid-19. Beliau adalah kakak dari ibuku almarhum, pakdhe Harjono. Pakdhe adalah pribadi yang sangat tertutup dan tak banyak bicara. Beliau betah menduda setelah istrinya menuntut cerai karena tak tahan dengan sikap kasarnya. Pakdhe Harjono sungguh ringan tangan. Budhe memilih menggugat cerai daripada harus selalu menjadi sasaran kekasaran sifat suaminya yang menuntut kehadiran seorang anak dari rahim budhe yang menurut dokter ahli kandungan sudah tidak mungkin memiliki anak karena kista rahim yang dideritanya.

Sebelum tinggal di rumah keprabon nenek bersama pakdhe, aku tinggal bersama orang tuaku di sebuah rumah kontrakan sederhana dekat dengan tempat kerja ayah dan ibu di pabrik sepatu. Ketika kedua orang tuaku meninggal karena wabah Covid-19, maka aku sudah tak punya siapa siapa lagi sekarang. Dan akhirnya aku harus numpang hidup di rumah ini. 

Kehadiranku setidaknya sedikit banyak bisa menjadi kawan "greneng-greneng" (ngobrol) di kala sepi. Aku menyelesaikan sekolah dua tahun lalu di SMK Purnama. Dan sekarang masih menjadi pengangguran karena pabrik banyak yang tutup dan gulung tikar sejak awal Pandemi. Akhirnya aku hanya lontang lantung tanpa kegiatan positif sedikitpun. Sesekali aku memang ikut kerja tetangga menjadi kuli proyek untuk memenuhi kebutuhanku sendiri. Dan benar-benar hanya sesekali karena tetanggaku hanya pemborong kecil dan mengkhususkan diri di renovasi saja. Tetapi lumayanlah, upahnya bisa buat bekal nongkrong.

Aku sebenarnya termasuk kelompok anak nakal di kampung. Jujur saja, aku suka bikin onar, suka bikin ribut dengan anak anak munafik yang sok suci yang berani menasehati kami untuk sholat dan ngaji padahal mereka sendiri tukang gunjing yang mulutnya sama pesingnya seperti pantat onta. Ehh... Aku belum pernah mencium pantat onta. 

Aku adalah biang kerok yang tak pernah sadar akan nasib dan masa depan sendiri menurut para haji dan para tetua kampung. 

"Kirno adalah contoh buruk akibat kurangnya kasih sayang orangtua," kata mereka seraya memperingatkan anak cucu mereka untuk tidak bergaul denganku. Sebenarnya aku tidak peduli dengan pendapat orang lain tentang diriku. Mungkin memang benar mereka mengaji dan beribadah setiap hari. Tetapi untuk keimanan, menurutku, aku lebih percaya kepada Tuhan daripada mereka. Aku lebih yakin tentang masa depanku di tangan Tuhan dan aku memegang teguh bahwa nasib adalah urusannya. Selalu ada rahasia di balik takdir seseorang.

Jadi ketika para haji dan tetua warga menganggap kami tidak memiliki nasib dan masa depan, itu kuanggap mereka lebih tahu kehendak Tuhan sehingga berani mewakili-Nya untuk memvonis orang lain. Sungguh kesombongan dan ketakaburan yang luar biasa, juga keberanian yang hebat karena mendahului kehendak-Nya. Sikap mereka seolah-olah sudah mengetahui garis takdir yang belum dibeberkan oleh Tuhan kepada umatnya.

Aku bukan pemalas! Aku rajin bekerja setiap mas Diran mendapat borongan renovasi. Aku butuh bergaul dengan orang-orang yang bisa menerimaku sebagaimana adanya tanpa berpura-pura baik.  Setiap dapat upah dari kerja nguli bangunan, aku langsung ke warung Jayeng untuk sebotol Ciu (:sejenis minuman keras tradisional) dan sebungkus rokok. Kumpul-kumpul dengan teman setongkrongan yang sama-sama badung dan saling cocok hingga orang melihat kami adalah geng berandalan yang mencemarkan nama baik kampung. Mereka adalah Midun, kemudian anak mak Siti yang menjadi sahabat paling dekat denganku, Dadik, juga Triman cucu mbah Sidik. Memang kami berempat adalah berandalan yang dibenci orang sekampung. Tetapi kami tak peduli. Yang terpenting bagi kami adalah happy setiap hari.

Kerja sebagai kuli sebenarnya hanya untuk memenuhi anggaran yang wajib bagi anak muda seperti kami. Gajiku hanya buat biaya nongkrong. Kalau kehabisan duit dan pas menganggur, mengincar ayam tetangga yang tidak terkandang dengan baik adalah solusi bebas polusi yang biasanya kami terapkan bersama. Sebenarnya itu hanyalah untuk membantu masyarakat mengurangi peluang penyebaran virus flu burung yang sering menyerang unggas dan bisa menular kepada manusia karena keteledoran pemilik unggas yang tidak mengurung ayam mereka dengan baik.

Jujur saja kami trauma dengan virus yang konon diproduksi oleh negara tertentu untuk kepentingan politik internasional. Karena itulah kami berinisiatif mengantisipasi penyebaran virus apapun yang mungkin bisa menjadi peluang terjadinya pandemi berikutnya. Tetapi banyak warga yang menganggap negatif kepada kami seolah sedang melakukan kejahatan tanpa peduli itikad baik kami tadi. Padahal bila mereka mau mengkaji lebih jauh, sebenarnya kami adalah para pejuang kesehatan yang sebenarnya, yang seharusnya mendapatkan upah yang layak.

Bukan mereka yang hanya bicara banyak di televisi tanpa tahu keadaan masyarakat bawah yang terdampak secara psikologis dan ekonomi. Hanya yang kami sayangkan adalah: betapa merekalah yang diberi peluang dan digelontorkan anggaran yang luar biasa besar untuk dikorupsi masal. Sementara para warga harus terdoktrin dan terpengaruh karena cara cantik mereka menggiring opini publik untuk melegalisasi pengalihan dana untuk pandemi ke kantong pribadi mereka, menderita total. Warga yang sinis dan membenci kami malah menganggap kamilah virus yang sebenarnya.

Waduh... benar-benar gila!

Kang Somat, duda cerai mati beranak tunggal sakit-sakitan bernama Nardi, datang mengunjungi pakdhe Harjono sore itu. Kang Somat ternyata tidak sendirian. Ketika baru saja meletakkan pantat kerempengnya ke kursi kayu milik peninggalan mendiang mbah putri di ruang tamu rumah keprabon kami, mak Siti, ibu Dadik, menyusul datang. Aku masih sendirian duduk di teras sambil ngelamun jorok membayangkan hidup enak tanpa harus ngangkat semen 50 kg berkali-kali sepanjang hari.

Mak Siti dulunya adalah janda super genit yang konon menjadi idola para pria kampung dan sekarang menjadi "gemblekan"  atau kekasih tersembunyi dari kang Somad. Gigi kelinci mak Siti memang menggoda. Tetapi selalu menjadi bahan olok-olokanku kepada Dadik yang memiliki ciri yang sama yaitu: bibirnya kekecilan, maksudku gigi depannya terlalu besar sehingga bibirnya tak dapat mengatup dengan sempurna.


***

Rupanya sore itu ada rapat rahasia antara ketiga orang tua kurang kerjaan itu. Mak Siti sepertinya sedang berhitung-hitung tentang anggaran yang harus disediakan. Sedang kang Somat harus menemukan sesuatu berwarna hitam. Kata yang sedikit kutangkap di telingaku tentang hitam itu adalah: seekor makhluk yang aku paham betul apa itu. Kucing Hitam!  Setelah berdebat sengit tentang spesifikasi dan deskripsi hitam, pakdhe melanjutkan kalkulasi anggaran dengan mak Siti. Saat itulah Midun dan Triman datang seperti debt kolektor menemukan target yang nunggak utang setahun.

"Tuh orangnya masih adem di teras... kirain sudah di warung Jayeng," kata Midun sambil nunjuk mukaku. Aku memberi kode supaya suara mereka tidak terlalu besar volumenya karena sedang ada pembicaraan penting di dalam. 

Mereka jadi maklum ketika melihat di ruang tamu ada pakdhe Harjono dan kedua koleganya sedang serius bicara. Belum lama Midun dan Triman duduk menemaniku, mak Siti dan kang Somat sudah beranjak hendak pamit. Midun dan Triman juga buru-buru mau mendahului kedua pasangan gelap itu untuk meninggalkan aku kembali sendiri, karena sungkan.

"Kita nunggu di warung Jayeng Kir, jangan lama-lama!" pesan Triman sambil bergegas pergi.

Saat itu mak Siti dan kang Somat juga berjalan meninggalkan pakdhe Harjono yang mengantar sampai ke ambang pintu. Pakdhe Harjono melihatku masih duduk di depan, beliau lalu berbasa basi.

"Belum keluar, Kir? Tadi kayak lihat si Midun dan Triman datang," tanyanya. 

"Belum dhe, masih nunggu si Dadik. Dia masih lembur ngecor di SD," jawabku. Aku teringat topik rapat rahasia yang sempat kucuri dengar dari teras barusan. Iseng aku menanyakan hal itu kepada beliau.

 "Pakdhe buat apa nyari kucing hitam?" tanyaku selanjutnya kepada lelaki limapuluh tahunan lebih itu.

"Yo kanggo to, le," jawab pakdhe Harjono singkat. "Kanggo penting!"

Aku sebenarnya pernah tahu ada kucing hitam di pasar. Tetapi Dadik lebih jelas lagi karena anak anjing piaraannya pernah di kejar kucing itu. Mungkin kalau dijual kepada tim pakdhe bisa laku.

"Dadik pernah melihat ada seekor kucing liar berwarna hitam bermata merah. Kucing itu menyerang anjingnya sampai terbirit birit katanya, apa bisa digunakan, dhe?" Tanyaku lagi dengan spekulasi mengadu keberuntunganku.

"Bagus itu... Suruh Dadik tangkap kucing itu. Nanti pakdhe kasih hadiah besar," Kata pakdhe tenang.

"Hadiah?" tanyaku tak percaya. Yes... Bakal bisa mabuk ciu tanpa kerja, pikirku.

"Iya... Tuh sepeda Pitung pakdhe boleh dia ambil kalau berhasil membawa kucing hitam," jawab pakdhe Harjono membuatku terkejut sekaligus menjadi antusias. 

"Sepeda Pitung pakdhe?" Aku melongo. Harta paling berharga milik pakdhe mau ditukar dengan, hanya seekor kucing liar dari pasar? 

Aku menjadi semakin bersemangat mendengar jawaban pakdhe Harjono. Dia orang yang tak banyak bicara. Dipandang oleh warga sebagai tetua kampung sekaligus orang pintar yang banyak dimintai bantuan dan nasehat oleh warga sekitar. Dan yang kutahu pasti dari Pakdhe adalah orang yang selalu memegang kata-katanya. 

"Pitung... Pitung... Pitung..." pikirku penuh harapan menyala. Bayangan motor tua bercat merah mengkilap karena sangat terawat sekaligus masih orisinil dan berpajak lengkap incaran para kolektor itu, benar-benar memenuhi pikiranku. Dua setengah juta adalah angka yang pernah ditawarkan kang Sastro, pemabuk patah hati yang tinggal di kampung sebelah yang berprofesi sebagai "blantik" (: pedagang hewan ternak). Bila aku bisa menemukan dan menangkap kucing itu, akan kujual sepeda itu kepada dia. Aku toh sudah punya sepeda motor peninggalan bapak dan ibu. Jadi tak butuh lagi pitung itu.


***

Sore yang ditinggalkan adzan isyak  akhirnya menyerah kepada gelap malam. Midun, Triman, aku dan Dadik jadi nongkrong di warung Jayeng. Sebotol ciu dan gorengan hangat menjadi adat tradisi nongkrong geng kami. 

Kami pun asyik ngobrol tanpa peduli warung Jayeng makin ramai pengunjung. Mereka yang datang, biasanya para pemabuk. Seperti kang Sastro dan orang-orang kecapekan karena kerja berat seharian dan butuh jamu pegel linu. Sedang bagi mas Jayeng, kami adalah pelanggan yang sangat-sangat khusus yang mendapatkan ciu dengan harga khusus juga. Itulah sebabnya kami tak berminat mencari tempat lain buat nongkrong.

"Kalo kalian bisa membawa kucing hitam bermata merah itu bilang ya!Mahal itu. Pakdhe Harjono mau nukar dengan sepeda motornya. Pitung!" kataku setelah ngobrol sana-sini tanpa juntrungan. Triman, Midun dan Dadik sudah memerah mukanya. Malam ini Dadik sudah memesan ciu di botol air mineral yang ketiga.

Dadik yang kali ini nraktir kami melotot tak percaya.

"Yang bener, Kir? Awas kalau bohong!" katanya sudah setengah tiang.

"Dibilangin gak percaya!" jawabku meyakinkan mereka.

Midun menyela, "kang Somat juga mencari kucing itu. Tapi dia gak beruntung. Gak pernah bisa ketemu."

Triman menjadi tertarik juga.

"Binatang itu sering terlihat di pasar... Dia memang aneh. Matanya sebelah merah sebelah kuning biasa. Hanya saja susah banget nangkapnya. Aku sudah beberapa kali mencoba nangkap, sayang gagal maning... gagal maning... Kalau ada yang bantuin pasti bisa ketangkap," komentar Triman. 

Pembicaraan kami malam itu bertopik seputar kucing hitam yang berkeliaran di pasar. Dan orang-orang tak memperdulikan kami sebagaimana kami tak peduli kepada mereka.


***

Menjelang sepertiga malam terakhir, tinggal aku dan Dadik yang masih gak bisa tidur. Midun dan Triman sudah 'tepar' di atas tikar yang memang sengaja disediakan mas Jayeng untuk para pelanggan yang betah berlama lama duduk di lesehan warungnya.

"Kir, beneran dhe Harjono mau bayar mahal kucing hitam itu? Mumpung besok proyek libur, kita cari kucing itu. Pinjam karung Jayeng gih, buat nangka!" kata Dadik 'darling' atau 'setengah sadar setengah eling'. Sepertinya dia sungguh-sungguh berniat menangkap kucing hitam di pasar karena iming-iming hadiah Pitung milik pakdhe. Aku tahu bahwa Dadik punya minat khusus dengan Pitung pakdhe Harjono. Pernah dia menggunakan mak Siti, emaknya yang berstatus janda, untuk melakukan loby-loby khusus kepada pakdhe yang notabene seorang duda keren dan normal dengan orientasi seks yang tidak menyimpang, supaya memberikan diskon lewat jalur khusus untuk mendapatkan 'special offer' dari pakdhe. Tetapi loby emaknya kandas di keteguhan hati pakdhe Harjono yang masih sangat mencintai besi tua beroda dua dengan kulit merah mengkilap seksi itu.

Aku yang sedang suntuk dan tak bisa menyusul Midun dan Triman ke alam mimpi pun hanya bisa mengangguk setuju dengan ide Dadik untuk membuang 'gabut' yang bisa menjadi berbahaya di kepalaku. Lalu iseng-iseng kami ke pasar untuk mencari kucing itu, dengan bekal karung bekas pemberian gratis dari Jayeng, pemilik resmi warung Jayeng. 

Sesampai di pasar, kami menyusuri tiap kolong los yang terbuat dari kayu mahoni murahan karena anggaran desa yang mepet sengaja dipepetkan lagi untuk menyelesaikan proyek bandes berupa pembangunan pasar tradisional desa semurah mungkin. Dadik menghentikan langkahku di depan sebuah los sayur. Bau asam limbah sayur membusuk menyengat cuping hidungku yang kembang kempis sendiri.

"Itu kucingnya Kir... Kita tangkap sekarang. Bantuin gih!" bisik Dadik sambil mengendap-endap layaknya pemburu handal mengintai makhluk hitam pekat itu. Aku mengangguk. Si kucing sedang mengendap-endap mengincar sesuatu, Dadik dan aku mengendap-endap mengincar kucing itu. Kami semua sedang mengendap-endap di bawah los sayur beraroma busuk masam dan berusaha tidak sedikitpun mengeluarkan suara. Semakin dekat kami dengan buruan kami, sedekat itu pula si kucing dengan buruannya. Aku menyiapkan sebuah karung plastik yang kubawa dari warung Jayeng tadi untuk bersiap-siap. Tanpa aba-aba, tiba-tiba Dadik melompat menerjang si kucing yang sedang fokus memandang seekor cicak di dinding yang diam-diam merayap.

"Kena kau!" kata Dadik sambil melompat menerkam.

"Meawwww...!" Teriak si kucing terkejut karena tidak menduga akan disergap tiba-tiba. Dengan gesitnya si kucing mencakar lengan Dadik yang masih gigih mempertahankannya tanpa peduli tiga luka menganga segaris belahan rambut, sepanjang dua senti, dengan kedalaman kurang lebih sepertiga mili. Dadik benar-benar tidak memperdulikan keadaanya yang terluka. Dadik bahkan tidak peduli ketika luka itu mulai mengucurkan darah. Dia benar-benar menginginkan Pitung itu, kalau dilihat dari perjuangannya yang sampai berdarah-darah begitu.

"Waduh sial dia mencakarku!"

Dadik berserapah karena kesakitan tetapi tak mau melepas sikucing yang meronta liar berusaha membebaskan diri. Dadik mendekatkan kucing itu ke arah wajahnya tanpa sadar. Dan sebuah kenang-kenangan, dengan harapan membuat Dadik terlihat macho dan jantan, tergoreskan luka cakar si kucing hitam yang seperti paham maksud Dadik yang sedang mabuk berat.

"Adudududuhh... Aku kena lagi, Kir!" teriak Dadik.

"Tahan! sakit dikit ini!" Aku segera mendekap kucing itu dengan karung dari warung Jayeng, pemberian mas Jayeng, dan akhirnya berhasil mengendalikan situasi. Kucing itu terus mengeong dan meronta membuat aku terpaksa harus mengikat mulut karungnya. 

"Lumayan nih. Dapat Pitung semudah ini," kata Dadik sambil menyeka darah dari lengan dan wajah dengan kausnya.

"Berdua, Dik. Aku juga bantu nangka!" kataku. Anak itu perlu diingatkan bahwa aku juga berperan penting dalam perburuan tadi.

"Halah... Ciu sebotol sama rokok sebungkus selesai, to?" jawab Dadik enteng.

"Gundulmu! Enak amat! Fifty-fifty!" Aku ngotot mempertahankan hakku.

"Aku adalah satu-satunya orang yang bisa menjual produk ini secara eksklusif kepada pakdhe Harjono. Jadi kau harus perhitungkan peran pentingku. Bukan sebagai helpermu saja. Juga sebagai sales market ing," jelasku memperkuat posisi bargainingku dengan Dadik.

"Kalau gitu, minta duwit aja senilai Pitung pakdhemu." Dadik menawarkan ide cemerlangnya. Aku pun setuju. Tetapi aku masih melihat wajah Dadik muram karena kecewa di antara semburat kemerahan pengaruh ciu.

"Bagus tuh! Tumben cerdas!" pujiku.

Pakdhe menepati janjinya. Dia merasa puas dengan hasil buruan kami.

"Nih! Dua setengah juta. Sana buat beli rokok! Jangan buat jajan nakal ya!" seloroh pakdhe tanpa ekspresi.

"Iya pakdhe. Trimakasih..."

Aku membagi uang itu hanya berdua dengan Dadik. Dan rencana malam nanti sudah tersusun di kepala kami. Dengan hadiah dari pakdhe, kami bisa mabuk ciu dan "tambul" yang enak dan mewah nanti malam, daging biawak dan rica-rica "RW". 


***

Geng kami malam itu pesta kecil di dekat rumah Dadik di gardu kosong. Di dekat rumah kang Sastro yang sudah sedari tadi meluncur ke warung Jayeng. Midun bermain gitar dan Triman bermain ketipung. Dadik menyanyi keras-keras lagu Rhoma Irama. Suaranya bikin budeg tetangga. Dan jelas menjadi penyebab polusi suara di menjelang tengah malam yang beranjak dingin itu. 

Tetapi geng kami memang terkenal nakal di kampung. Menurut mereka segala hal yang kami lakukan adalah buruk dan merugikan. Kegiatan kami yang tidak pernah mendapat penghargaan dari warga adalah memanenkan singkong di malam hari, atau jagung, bahkan sampai mengendalikan populasi ayam di kampung. Mereka itu benar benar selalu 'negatif thingking' kepada kami. Sampai-sampai beberapa sesepuh desa mengancam dan berencana melaporkan kami ke polisi kalau kami tidak bisa berhenti nakal. Tak ada warga yang mau menegur lagi karena sudah gak bakalan kami dengar. Dan kami malam itu benar-benar menjadi penguasa kampung yang sudah sesepi kuburan sejak isyak berlalu.

Karena lumayan banyak ciu dalam perutku, aku harus sering-sering buang hajat kecil untuk menjaga stabilitas keamanan ginjal. Di bawah pohon pisang yang rimbun dan perlu dipacu dengan perangsang buah yang tepat. Ketika sedang buang hajat kecil dan memberi nutrisi tambahan pohon pisang itu, tak sengaja aku melihat seorang yang kukenal keluar dari pintu belakang rumah Dadik.

Lumayan jauh dan gelap sehingga mengganggu pandangan mataku yang sedikit kabur karena pengaruh minuman surga yang di tolak para ahli surga. Saking fokusnya aku mengamati orang itu, tak menyadari Dadik sudah di sebelahku dengan niat yang sama. Kencing! 

Aku benar-benar tidak menyadari kedatangannya sama sekali. Mungkin dia menguasai ilmu peringan tubuh sampai langkahnya nyaris tak terdengar. 

"Mau kemana pakdhemu malam-malam begini bawa kucing hitam, Kir ?"

Blaik! 

Aku terkejut setengah mati mendengar kata Dadik tiba-tiba menghancurkan fokusku.

"Sialan kau ini Dik. Bikin jantungan saja!" tegurku dengan jengkel sekali. Jantungku masih seperti genta ditabuh sekuatnya.

"Kau ini seperti melihat hantu saja. Dasar! Aku cuma tanya mau kemana pakdhemu, bukan nanya kapan matimu," kata Dadik cengengesan.

"Habis dari rumahmu, ngapeli emakmu kali!" jawabku sekenanya. Dadik melayangkan telapaknya ke ubun-ubunku sambil menggerutu.

Karena tertarik dengan apa yang akan dilakukan pakdhe, aku dan Dadik meninggalkan kedua sahabat yang masih nyanyi di gardu untuk mengikutinya. Meninggalkan rimbunnya rumpun pisang yang mendadak beraroma aneh, lalu berjalan mengendap-endap di antara pohon-pohon karet milik PTP Getas.

Pakdhe Harjono sungguh sebat berjalan sehingga kami jauh tertinggal di belakang. Kaki-kaki ahli silat kampung itu sangat tangkas dan cekatan. Membuatnya sebentar saja telah berubah menjadi bayangan gelap yang menuju ke sebuah tempat angker. Dadik berkali-kali menabrak pohon-pohon yang berdiri berjajar di sepanjang perkebunan milik pemerintah itu karena mabuk.

"Mau ngapain dia? Kok mencurigakan?" tanya Dadik.

"Mau buang kucing sial itu kali ya?" kataku asal duga.

"Tetapi masak mau dibuang. Dhe Harjono beli mahal lho ke kita," kata Dadik dengan logika cemerlangnya. 

"Mbuh, lah," jawabku singkat.

"Pasti ada acara rahasia. Kita ikuti yuk!" Dadik berniat mengikuti pakdhe berjalan ketempat gelap di antara pohon karet menuju ke rerimbunan kebun bambu yang terkenal angker. Banyak yang konon telah terjadi di situ. Pengalaman mistis warga yang pernah melihat sesuatu yang tidak wajar sering beredar menjadi rumor yang membuat tempat itu diperhitungkan oleh orang-orang bernyali tempe. Menurut banyak cerita, masyarakat sekitar banyak melihat kejadian-kejadian aneh di sekitar tempat itu. Cahaya merah ungu sering terlihat melintas di atas dedaunan bambu lalu jatuh di sekitar pohon besar yang berdiri tak jauh di situ. Dan itulah kawasan angker: Gumuk Cigrek! 

"Kok ke Gumuk Cigrek, Kir... pulang yuk serem..." bisik Dadik menghentikan langkahnya.

Aku meledeknya, "penakut amat. "Kadhung klebus", Dik. Tanggung! Tuh ada beberapa temen pakdhe kayaknya sudah dari tadi menunggu di gumuk Cigrek," kataku sambil berbisik untuk membangunkan nyali si Dadik.

"Lah! Ngapain emakmu di situ?" Aku kaget melihat siapa yang berada di gumuk Cigrek. Aku melihat ada tiga orang yang sudah mendahului Pakdhe Harjono di tempat yang terkenal angker itu.

"Sama kang Somat, Kir. Mau ngapain mereka. Pasti mau ritual di situ. Tuh dukunnya pasti yang kakek-kakek bungkuk itu," kata Dadik melihat dan berusaha mengenali siapa saja yang berada di tempat itu.

Dadik mengawasi kakek asing yang tampaknya menjadi pemimpin mereka. Nama kakek itu adalah mbah Tro Karto. Guru pakdhe yang misterius. Mbah Tro Karto pernah sesekali mampir ke rumah. Dan aku pernah menyalaminya.

"Jangan-jangan mau cari pesugihan!" bisik Dadik dengan pikiran buruknya.

"Hus! Paling cari nomer jitu. Pake tumbal kucing hitam," jawabku juga berspekulasi.

Di kalangan rakyat miskin seperti kami, togel adalah satu-satunya peluang untuk mengharap bintang jatuh. Dan harapan si miskin benar-benar diakomodir oleh oknum-oknum yang jeli memanfaatkan peluang mengeruk untung besar dengan menyelenggarakan judi togel secara sembunyi-sembunyi, menghindari sorotan penguasa sok bersih, yang konon nanti hanya akan digunakan sebagai komoditas politik untuk menjatuhkan lawan. Para oknum petinggi aparatur negara banyak yang terbukti bermain di belakang layar judi togel. Tahukah kalian, sirkulasi aliran uang hasil judi online mencapai trilyunan rupiah pertahunnya. Berbanding terbalik dengan pertumbuhan ekonomi negara yang selalu merosot karena pandemi lah, krisis global lah, tetek bengek lah... 

Yang luar biasa adalah kemampuan para bandar untuk menyumbat telinga para penguasa sok suci tersebut dengan cara yang istimewa. Aliran dana yang tak pernah putus membiayai setiap kampanye, promosi jabatan tertentu, sampai untuk membiayai para oknum pemangku kekuasaan yang memiliki kemampuan khusus menentukan kebijakan-kebijakan absurd demi kepentingan kelompok "non masyarakat miskin" yang mayoritas non pribumi. Bahkan perangkat yang seharusnya melayani dan melindungi masyarakat pun sudah terkontaminasi oleh jaringan mafia perjudian yang sekarang sudah banyak merambah platform online.

Aku suka main slot karena beberapa kali keberuntungan telah membuat aku bisa libur nguli proyek sampai beberapa minggu. Dan karena keberhasilan semu yang aku viralkan di kalangan anak-anak muda sebayaku, sekarang ini telah tercatat keuntungan besar seorang rentenir yang bekerja sama denganku. Karena besar jasaku yang telah berhasil membuat mereka menggadaikan motor, menggadaikan perhiasan istri dan orang tua mereka, sampai berhasil membuat beberapa orang tua mereka kehilangan ternak yang dijual murah demi judi slot dan toto gelap.

Duh! Jadi melantur kemana-mana karena kebablasan membahas penyakit masyarakat yang disebut judi togel. Kita kembali kepada Kelompok kecil yang sedang melakukan aktifitas mencurigakan di Gumuk Cigrek malam-malam begini.

Pakdhe memulai dan memimpin ritual. Dia menyalakan dupa dengan duduk bersila di hadapan batu basar yang biasanya memang menjadi destinasi para pemburu togel. Sedang mbah Tro Karto saat itu sedang menyembelih kucing dibantu Kang Somat. Darahnya ditampung di dua "bathok" berwarna putih gelap, mungkin dari tengkorak manusia. Setelah dibacakan mantera oleh pakdhe Harjono, darah kucing itu lantas di minum oleh kang Somat dan mak Siti, ibu Dadik. Rasa mual seperti mau muntah menyerang perutku melihat betapa Mak Siti dan Kang Somat dengan rakus meneguk darah binatang malang itu. Tanpa merasa jijik sedikitpun. Tak lama kemudian, kejadian-kejadian aneh dan tak masuk akal mulai muncul membuat otak kami yang sedang terpapar pengaruh alkohol tetap tak bisa menerimanya.

Tiba-tiba mak Siti "nggereng" atau mengeluarkan suara geraman harimau. Lalu disusul kang Somad. Mereka berdua seperti kesurupan. Bertingkah seperti harimau yang liar dan lapar mengendus-endus tempurung kepala manusia yang masih berjejak merah darah di cahaya senter pakdhe. Mbah Tro Karto segera tanggap dan mengayunkan golok kunonya membelah bangkai kucing hitam itu menjadi dua. Mak Siti dan kang Somat langsung berebut untuk melahapnya tanpa merasa jijik. Hilang sudah kemanusiaan mereka.


***

Dadik menjerit kesakitan ketika emaknya mulai menggila dengan wajah memancarkan kebuasan, dengan rakus mengoyak daging kucing hitam yang penuh darah. Dadik menjadi berguling-guling di tanah karena rasa sakit yang sangat, yang tiba-tiba dirasakannya. Aku menjadi panik tak tahu harus berbuat apa. Karena teriakannya yang luar biasa memecah sepi kebun karet PTP, kami pun akhirnya ketahuan. Pakdhe dan mbah Tro Karto menjadi gelisah dan khawatir. Mata mereka berkilat memerah menatap ke arah kami dengan wajah mengelam menampakkan kewaspadaan yang tak terkira. 

Pakdhe bergerak dengan sangat cepat, sigap, tangkas. Tanpa terduga sama sekali, bahkan aku tak bisa melihat gerakannya saking cepatnya, tahu-tahu pakdhe telah menangkapku. Tak ada pertanyaan-pertanyaan yang terucap, apalagi tegur sapa sekedar basa-basi. Pakdhe dengan wajah khawatir segera memukul tengkukku dengan keras. Mataku berkunang-kunang dan menjadi kabur. Akupun tersungkur pingsan.

Ingatan terakhirku sebelum pingsan adalah: Dadik menjerit histeris dan bertingkah tak karuan seperti orang gila di atas tanah, dengan tubuh berlumuran darah penuh luka, tanpa aku tahu bagaimana dia mendapatkan luka itu. Tubuhnya terkoyak-koyak sendiri sehingga mandi darah. Dia bergulingan ke sana ke mari dengan teriakan-teriakan kesakitan yang tak tertahankan. Lalu aku tak tahu lagi apa yang terjadi berikutnya.


Bab Sebelumnya | Bab Berikutnya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KARMA-Tuhan yang Kulekatkan di Namaku

UNICORN - Cerita Horor Boneka Arwah Terkutuk

UNICORN - Cerita Horor Boneka Arwah Terkutuk - Bagian 1