CANDRAMAWA – Kisah Siluman Macan Kumbang (Cerita Horor Mistis Legenda Jawa Tengah) - Bagian 7
Warsini Gadis Berkebaya
Hanny menyisir rambutnya yang ikal dan sedikit merepotkan menurutnya. Kalau Sien Sien ga bilang dia cocok dengan gaya ikalnya, tentu dia sudah smoothing dari kemarin. Dia hanya berharap pujian Sien Sien mewakili pendapat beberapa orang tentang mana yang pantas dan membuat dia pede dengan style-nya.
Tetapi cermin di depan matanya seperti tidak sependapat dengan sahabatnya. Dia seperti memprotes bahwa rambut itu harus dipulasara. Harus diperkosa untuk menuruti hasratnya. Dan bisa dijinakkan tentunya.
"Hhh... nurutin temen kok semerana ini jadinya..." pikir Hanny.
"Ngapain mikir orang lain? Rambut rambut gua, style gua, kalau ga bisa rapi tentu muka biyutipul gua gak bisa perfect...
Harus ambil tindakan tegas untuk urusan satu ini."
"Musti gua bawa kepihak berwajib!"
Hanny pun menganggkat telponnya.
"Dan, anter gua, ya!"
"Mo ke salon baru di batas kota tuh..."
"Itu yang baru direnov, punya mbak Tari.. masih buka kok."
"Kan yang direnov cuma bagian samping sama belakang .. anter ya... Please..."
"Sekarang bego! Masak mau tahun depan."
***
Daniel dengan bersungut-sungut menjemput pacarnya yang sudah berdandan "syantikk" di pinggir jalan di depan rumah.
Hanny membonceng dengan gaya manjanya sambil cengar-cengir menang. Sedang wajah Daniel cemberut di balik helm cakil SNI-nya.
"Buruan gih, gua mau lanjut ke belanja nih.." kata Hanny merayu.
"Belanja? Jangan sekarang dong! Gua mo ada kerjaan. Mubazir, kan, waktunya buat nunggu elo di salon trus belanja?"
"Mubazir apaan? Gak mo nemenin kenapa musti repot jemput? Tahu gitu mending ngangkot aja gua," pekik Hanny sewot.
"Bukan gitu... Eh... nunggu itu membuat gua serasa --dikacangin-- kayak orang bego ga punya kerjaan... " jawab Dan menciut nyalinya.
"Gak, pokoknya tunggu sampai selesai di salon. Habis itu ..." Hanny menghentikan bicaranya sambil melotot tajam kearah Daniel.
"Elu kan cowok. Gunakan trisep dan bisep elu buat bawain barang belanjaan kan bisa? Jadi gak perlu ke Gym lagi... " pekik Hanny sewot.
"Bweeekkk ..!!" Daniel mendadak mual mendengar kalimat terakhir dari Hanny. Kalo bukan cinta matinya, udah gua turunin dia di jalan... Batin Daniel dengan lemas.
Di depan salon Tari, parkiran sudah penuh. Bahkan untuk sekedar naruh sepeda motor klasik milik Dan.
"Mampus gua. Kayak antrean pembagian raskin di depan kelurahan. Bakal nyampe besok subuh nih kayaknya," pikir Dan bersiap menderita.
Hanny langsung masuk ke salon membiarkan cowoknya bingung cari tempat duduk. Akhirnya Dan mendapat tempat nyaman di kanstin pembatas parkir dekat tong sampah penuh lalat.
Sementara di dalam salon...
"Mbak Tari!"
"Hai, Hanny.. lama gak kelihatan kemana aja tuh? Sama siapahh ..?" Tanya pemilik salon bernama Tari ketika melihat Hanny menyeloning masuk.
Hanny memeluk emak-emak pemilik salon yang tambun dengan semiran rambut pelangi. Leher mbak Tari nyaris gak kelihatan karena gelambir lemaknya bejibun, dan cukup buat bahan kaldu mie ayam sebulan.
Untung oom Darmanto, saudara jauh ibu Hanny yang juga suami mbak Tari, gak pernah suka bisnis kuliner kelas bawah sehingga pemilik salon itu tidak terusik lemaknya.
"Diantar Daniel mbak. Nunggu di luar dianya. Mau smoothing masih nunggu lama, ya?" kata Hanny sambil mengedarkan pandang ke sekeliling. Banyak sekali antrian hari itu. Sementara mbak Tari hanya seorang diri.
"Mince dan Sella lagi mendadak libur. Jadi rempong bener nih. Mana masih ngurusin tukang di belakang lagi." Keluh mbak Tari karena merasa capek ditinggal dua bences andalannya.
"Mbak Tari ini, "mbangun" terus kayak punya pesugihan kandang bubrah," celetuk seorang pelanggan setia yang nunggu antrean juga.
"Idih, jeng Kelles. Masak ini dihubung-hubungkan dengan pesugihan. Mending piara tuyul biar bisa sambil diet," jawab mbak Tari.
"Bangun buat spa ya mbak," tanya Hanny penasaran.
"Rencananya sih. Cuma mau dipagar dulu. Mas Darman beli rumah paman yang mangkrak. Tuh berbatasan dengan pagar belakang. Jadi mau disatuin Pagar nya gitu. Tahun depan baru mau bangun spa dan restonya," tutur mbak Tari sambil memangkas rambut pelanggannya.
"Rumah belakang, ya. Luas ga sih" tanya jeng Kelles ikut penasaran.
"Luas juga. Ada taman bunga yang gak keurus, tetapi biyutipul loh. Lihat aja sana daripada suntuk nunggu antrean!" kata mbak Tari.
Hanny tertarik. Spa dan Resto? Dia membayangkan bisa nebeng kerja freelance di situ. Di sela waktu kuliahnya tentu saja. Hanny bergegas keluar salon memanggil Dan untuk mengajaknya melihat-lihat belakang. Dan pun nurut.
Tukang-tukang sedang menggarap pagar belakang dengan batu bata press yang kwalitas bagus. Selera Arsitektur klasik oom Darman tidak diragukan lagi. Semua harus perfect. Soal mahal, itu resiko yang gak perlu dipikirkan.
Rumah mangkrak sudah rata dengan tanah dan bekas pondasi sudah ditimbun tanah merah. Di bagian belakangnya tampak pemandangan rimbun asri dengan bunga yang sedang mekar indah walau beberapa tanaman meliar tak tertata dan tak terawat. Kupu dan burung-burung kecil beterbangan seolah tak terganggu oleh kegiatan para tukang.
Di sudut halaman belakang, tampak sebuah sumur tua dikelilingi susunan batu-batu andesit di bawah sebuah pohon kersen uzur. Itu sumur yang sudah tidak mengeluarkan air lagi. Kedalamannya pun hanya tinggal sekitar 8 meter dengan dasar bebatuan yang tampaknya baru digunakan untuk menimbun sumur. Mungkin oom Darmanto ingin meratakannya juga karena keberadaan sumur itu dianggap mengganggu.
Hanny dan Daniel duduk bangku kayu di tepi bibir sumur menikmati sepoi angin hingga merasa nyaman dan sejuk hati.
"Biyutipul sekali pemandangan taman kecil ini. Pasti dulu pemiliknya tajir. Paling tidak orang berpengaruh di sini,"kata Dan. Hanny pun setuju. Mereka menjadi betah berlama-lama duduk di situ sambil mengamati kembang-kembang dan, ckk... para tukang yang berlalu lalang mengganggu pemandangannya.
"Hanny... Hanny... " Tiba-tiba terdengar suara lirih memanggilnya. Hanny menoleh ke sekeliling. Dia mencari sumber suara yang memanggil namanya.
"Dan, elu dengar suara orang manggil gua, gak ?" tanya Hanny kepada Dan.
"Nggak, gua gak dengar... Emak lo kangen kali? Elu dirasanin supaya cepet pulang!" kata Dan asal jeplak.
"Ngaco lu!" seru Hanny sengit.
Mereka terdiam dan kembali memasang telinga. Dan Hanny kembali mendengar suara itu disela kicau burung yang cerewet di atas pohon kersen uzur. Berulang kali panggilan itu terdengar sehingga dia merasa merinding sendiri. Bulu-bulu di lengan dan tengkuknya berdiri.
Suara itu terdengar seperti dari dalam bumi di bawah mereka. Atau... Hanny melongok ke dalam sumur. Betapa dia terkejut melihat sesuatu yang tidak pernah diharapkan terlihat di dasar sumur di antara himpitan batu-batu yang rencananya digunakan para tukang untuk menimbun dan meratakannya.
Sontak Hanny pun pingsan tanpa bisa dicegah lagi. Kepanikan Dan dan para tukang yang dimintai tolong olehnya, tak terceritakan lagi.
_
Sore itu, Hanny berjalan menuju sebuah rumah limasan tua dengan pondasi dari batu andesit hitam. Cuaca seperti tak enak diperasaannya. Senja masih menyisakan semburat jingga di barat, tetapi sang surya tak terlihat lagi. Lampu minyak yang berurutan di tiang saka teras tak membantu suasana dan mood Hanny yang ketakutan ketika menemukan dirinya tiba-tiba berada di halaman rumah ini.
"Hanny... Masuklah! Anggap saja ini rumah sendiri," Hanny kembali mendengar suara itu. Dia menaiki tangga teras dan mendorong pintu Jati Jawa yang tidak terkunci.
Suasana rumah kuno limasan itu sungguh artistik. Lampu gantung yang masih menggunakan minyak, sebuah jodang besar yang di atasnya tertata kendi tanah dan beberapa cangkir kaleng lurik hijau yang sudah langka sekarang. Dan talas rebus, buah pepaya yang sudah dikupas, juga goreng sukun. Makanan khas kesukaan ibunya yang sudah sepuh dan asli Jawa tulen. Hanya bapak yang dari Bekasi dan berdarah Betawi asli. Mereka tinggal di Salatiga karena Ibu suka cuaca dinginnya.
Seorang gadis cantik sebayanya mengenakan pakaian kebaya dengan rambut ikal terurai panjang tampak murung. Dia duduk di risban jati kuno yang antik.
"Elu siapa? Ini rumah siapa?" tanya Hanny ragu. Dia merasa tidak mengenal tempat ini. Juga gadis itu, Hanny mencoba mengingatnya. Tidak! Dia benar-benar tidak mengenalnya. Bahkan melihat dan bertemupun baru sekarang.
"Namaku Warsini. Kau ada di rumahku sekarang. Aku yang mengundangmu." Gadis cantik bernama Warsini itu menjawab dengan lembut. Melihat sikap gadis itu begitu ramah, Hanny merasa tak canggung lagi. Dia pun mendekat tanpa ragu untuk duduk di risban bersamanya.
"Warsini, ya. Dari mana lu tahu nama gua?" Tanya Hanny penuh selidik.
"Oom Darmanto adalah keluarga jauh kami. Tentu saja banyak cerita tentang kamu. Kau juga masih sedarah dengan oom Darmanto, kan?" tutur Warsini.
"Iya.. oom Darmanto masih keluarga dari ibu. Kalo gitu elu saudara gua juga, kan?" Hanny menduga-duga.
Warsini tertawa. Akhirnya mereka tak lagi saling sungkan. Warsini benar-benar gembira memiliki teman baru dan bisa diajak ngobrol. Hanny juga merasa asyik. Dia jadi tahu banyak tentang gadis Jawa "tempo doeloe" dari cerita Warsini tentang orang tua mereka.
Betapa gadis berkebaya sebayanya itu bercerita tentang pria yang disukainya, yang bernama kang Bedjo. Tetapi ia tidak disukai oleh orang tuanya karena perbedaan strata dan jenjang kehidupan. Betapa Warsini curhat bahwa dia cinta mati kepada pujaan hatinya walau cara pacarannya aneh dan parno banget menurut Hanny.
Katanya, Bedjo dan Warsini hanya perlu menatap dari kejauhan kalau mereka kangen. Sudah melihat pujaan hati saja sudah cukup untuk mengobati rindu. Warsini pun bila tidak bertemu Bedjo seharian bisa menolak makan.
Katanya, bila tidak bisa bertemu sehari itu, Warsini hanya cukup berjalan jalan bersama teman teman gadisnya lewat depan rumah Bedjo. Bisa melihat genteng rumahnya saja cukup untuk mengobati kangen.
Hanny tertawa geli dalam hatinya.
"Pernah gak jalan bareng? Keluar kemana berdua gitu?" tanya Hanny usil.
Wajah Warsini merona merah karena jengah. Tapi sambil tersipu ia menjawab juga.
"Pernah juga sesekali. Kami berjalan ke ladang bersama. Dia ngarit atau menggembala kerbau, dan saya mengikutinya. Dia berjalan disebelah kanan jalan, saya di sebelah kiri jalan. Dan kami hanya diam disepanjang perjalanan. Disepanjang jalan kami tak bisa berkata kata mengungkapkan isi hati kami. Jantung saya selalu deg degan nggak karuan waktu itu." Jawaban Warsini yang aneh tapi nyata membuat Hanny semakin keras terbahak. Hanny tak bisa lagi menahan diri. Dia tertawa ngakak. Dalam hatinya tak percaya dengan kejujuran Warsini.
Lucu sekali pacaran gaya Warsini, pikirnya.
"Eh... Pernah dicium Kang Bedjo, gak ?" Godanya.
Warsini sontak semakin memerah mukanya. Dia menggeleng malu-malu. Hanny makin keras ngakaknya.
"Elu ini kayak manusia planet jaman baheula saja... ini jaman Android. Pacaran ya pacaran aja. Orang tua gak boleh ikut campur. Masalah hati dilindungi undang-undang sekarang."
"Sekali kali gua ajak lu jalan-jalan. Tapi jangan pakai kebaya kayak emak-emak itu. Pertama elu ga boleh ketinggalan mode kayak gini. Kedua rambut elu yang ikal kayak gua harus di smoothing. Gaya elu harus menyesuaikan dengan gaya kita-kita. Jangan parno!" kata-kata ceria muncul seperti berondongan petasan dari bibir Hanny. Sedang Warsini hanya bisa terpesona sesekali mengangguk walau ada beberapa kata yang tidak ia ketahui maksudnya.
"Ini waktunya para gadis milenial menunjukkan eksistensinya. Dijamin kang Bedjo tercintamu makin tergila-gila. Mau?" Kata Hanny panjang lebar memamerkan pergaulannya.
Warsini mengangguk dengan senyum bahagia. Baru kali ini dia memiliki seorang teman seceria Hanny.
"Baik. Aku suka sekali. Tetapi aku mau pindah. Apa kau mau menjadi sahabatku?" kata Warsini kembali murung. Dia memperlihatkan kegelisahannya.
"Jangan khawatir. Hubungi saja gua kapan elu mau. Kita jalan bersama," janji Hanny.
"Sudah mau gelap, kamu pulang, ya... besok-besok aku akan menghubungi," kata Warsini kembali senang.
"Ya deh... Kapan-kapan kita bikin acara ngumpul bareng. Lu harus belajar menjadi wanita gaul dari sekarang. Ok. Gua balik dulu, ya!"
_
Hanny terjaga dari tidurnya. Dia bingung dan jadi salah tingkah sendiri. Ada Pak Ustadz Jerry dan ibu disampingnya. Daniel tampak khawatir mukanya. Dan tak jauh darinya, ada Oom Darmanto, mbak Tari dan Jeng Kelles yang cemas menatapnya.
Ibu mendadak memeluknya erat erat sambil menangis.
"Kau sudah sadar, Hanny?" Kata ibu disela tangisnya.
"Kenapa, bu? Kan Hanny cuma tidur sebentar." Hanny merasa heran dengan sikap ibunya. Juga kepada orang-orang yang tiba-tiba berkumpul di dalam kamarnya. Emangnya ada apa?
Dan menjelaskan, "Tadi lu pingsan di dekat sumur mati. Membuat panik orang-orang. Untung oom Darmanto pas datang ke salon. Jadi bisa langsung diantar ke rumah."
"Beruntung juga pak ustadz Jerry pas lewat depan rumah. Kamu kesurupan, Hanny" sambung Jeng Kelles. Mbak Tari memprotes kata Jeng Kelles. Yang diprotes menunjukkan ekspresi tidak suka.
"Siapa kesurupan? Saya habis main ke rumah Warsini kok. Di belakang salon mbak Tari," jelas Hanny.
Ibu dan Oom Darmanto kaget.
Ingatan tentang peristiwa masa mereka terbuka kembali.
____
"Warsini adalah adik nenekmu, Hanny. Beliau meninggal di usia muda karena kakek buyutmu melarang hubungan dengan kekasihnya. Mereka berdua bunuh diri di sumur belakang salon kita," jelas oom Darmanto.
"Apa? Jadi... jadi... dia hantu nenek?"
Hanny pingsan lagi.
;semoga bisa jadi peringatan kepada seseorang yang mau menimbun sumur tua di kampung kita ..
Salatiga, 14-okt-23
Selesai jam 11.13
Komentar
Posting Komentar