CANDRAMAWA – Kisah Siluman Macan Kumbang (Cerita Horor Mistis Legenda Jawa Tengah) - Bagian 8
08 Sunyaruri
"Coba saya telpon bagian forensik dulu. Kalau ada yang aneh menurut anda berarti itu patut diselidiki," kata pak Handiman yang membuat Parjio menjadi jengah.
"Jangan karena saya, pak, saya hanya menduga-duga saja. Biasanya dalam kasus-kasus ritual penyatuan sumpah darah, melukai telapak tangan adalah jalan umum untuk menyatukan darah seorang guru dengan murid, antara dua saudara perguruan, atau antara manusia dengan makhluk dari entitas tan wadag. Tetapi itu bukan sebuah kepastian. Hanya pada umumnya saja dilakukan oleh para pelaku ritual aliran khusus," kilah Parjio.
Dan ketika pak Handiman menelpon bagian otopsi, mereka menjawab bahwa benar ada darah yang bukan milik korban menyatu dengan darah korban. Tepat seperti dugaan Parjio. Handiman dan Hermanto menatap kagum kepada Parjio membuat pemuda itu menjadi malu sendiri. Dia menjadi kikuk dan canggung.
"Saya benar-benar tak mengerti. Semua seperti terang bagi anda. Di usia anda yang masih begitu muda, bagi saya, ini adalah keahlian yang luar biasa!" puji pak Handiman.
"Anda ini terlalu berlebihan menilai saya. Semua yang ada hanyalah sebuah dugaan. Bila kebetulan dugaan itu benar, bukan berarti saya selalu benar. Kita sebenarnya sama saja. Sama-sama tidak mengerti apa apa kecuali keteledoran pelaku kejahatan yang selalu meninggalkan jejak dan petunjuk. Mungkin sekarang lebih baik fokus kepada pemilik darah yang ditemukan tim investigasi anda," saran yParjio untuk kembali fokus ke tugas mereka tanpa harus terpengaruh oleh analisa tak masuk akal miliknya.
Sejak pertemuan dengan Handiman dan Hermanto di Arabusta, Parjio menjadi sering melamun dan merasa gelisah. Adrian melihat betapa Parjio sering kedapatan menyendiri di teras rumah sampai larut malam. Karena tak tahan dengan sikap sahabatnya itu, maka Adrian berinisiatif mengajak Parjio ketempat tongkrongan biasanya, yaitu Hik kang Panjul.
Lek Min dan mbah Darto yang kebetulan juga sedang nongkrong, tak menduga bahwa mentor mereka yang akhir-akhir ini sibuk dengan proyek yang membanjir, sore ini menyempatkan diri absen setor muka di hik si Panjul. Dan Adrian berhasil membuat Parjio kembali tertawa lepas dan sejenak melupakan kegundahannya. Sampai suatu ketika mbah Darto menyinggung sebuah kasus: yaitu, cerita tentang korban pembunuhan di gumuk Cigrek kemarin.
"Saya kenal dia. Siti itu, dulu pernah saya incar. Sayang saya kalah duluan dengan si Barjo. Dia seharusnya menjadi lelaki yang beruntung. Tetapi dia malah ketiban sial karena Siti ternyata membuat dia mati muda. Memang butuh mental kuat menjadi suami Siti. Banyak orang yang tertarik dengan gigi kelincinya yang membuat dia terlihat seksi. Dan tahu sendiri bagaimana watak para primadona desa? Dia berhasil memanfaatkan kecantikannya membuat Barjo menjadi stres dan TBC sampai mati," kata mbah Darto membanggakan hubungannya dengan Siti yang konon pernah didekatinya.
Lek Min menggoda lelaki tua yang pernah ganteng itu, "setelah lek Barjo mati, sampeyan jadi punya peluang bagus to mbah? "Ora etuk prawane, tak enteni randhane.." ha .. ha .. ha .."
Semua orang yang mendengar kelakar konyol itu ikut tertawa. Riuh sekali suasana sore itu. Adrian sampai mendekap perutnya mendengar kelakar lek Min dan mbah Darto.
Mendadak Parjio menghentikan kelakar itu dengan sebuah pertanyaan walau sebenarnya dia tidak berniat sama sekali menghentikan gurauan mereka.
"Apa yang bernama Siti itu juga seorang pelaku pesugihan?"
Mbah Darto melengak kaget.
"Dari mana mas Jio tahu? Saya bahkan belum cerita sampai kesitu."
"Baik, saya ringkas saja, Siti dan gemblekan terakhirnya memang melakukan pesugihan Candramawa. Dengan tumbal kucing hitam. Dia memakan kucing itu bersama Somat, seorang pengangguran yang cuma mancing saja kerjaannya. Menurut desas-desus, ketika mereka memakan daging kucing itu mentah-mentah! Anak-anak merekalah yang merasakan akibatnya. Tubuh mereka tercabik-cabik setiap kedua manusia yang kerasukan iblis itu menggigit daging kucing hitam. Anak-anak mereka mati dalam kondisi mengenaskan nyaris tak dikenali lagi," kata mbah Darto dengan penuturan yang penuh penjiwaan. Semua yang mendengar ikut larut seakan hadir di tempat ritual mereka menyaksikan kejadian yang sebenarnya, di duabelas tahun lalu. Mereka terdiam membisu.
"Bener gak nih mbah? Nanti jadinya fitnah lagi?" lek Min memecah keheningan yang mendadak karena cerita menyeramkan mbah Darto.
"Masih gak percaya saja kamu Min. Ini bukan karangan. Ini nyata. Ada saksi mata waktu itu yang menyaksikan kejadian di tempat ritual yang terkenal angker. Gumuk Cigrek. Karena ada saksi hidup itulah Siti dan Somat masuk penjara selama sebelas tahun lamanya. Jadi dia mati ketika baru setahun menikmati hidup bebas dari penjara. Tetapi karena melakukan pesugihan, dalam setahun saja dia sudah menjadi pedagang sayur yang kaya luar biasa," tutur mbah Darto.
"Sayang dia pun akhirnya mati karena ulahnya sendiri," keluh mbah Darto mengakhiri ceritanya.
"Mbah Darto tahu di mana gumuk Cigrek itu?" tanya Parjio serius. "Saya benar-benar penasaran dengan tempat itu. Begitu angker menurut ceritanya."
"Kamu mau ngapain ke sana? Kita lagi banyak kerjaan jangan aneh-aneh!" kata Adrian mengingatkan bahwa mereka sedang tidak punya waktu untuk hal-hal seperti itu.
"Besok kan Sabtu, bos. Aku bisa refreshing ke sana buat buang suntuk," jawab Parjio mulai terdengar menjengkelkan di telinga Adrian.
Pasti di sana ada sesuatu yang mengusik Parjio beberapa hari belakangan ini. Bukankah Gumuk Cigrek itu dekat dengan rumah Wildan? Pasti Wildan yang cerita macam-macam tentang tempat itu.
"Saya tahu tempatnya, mas. Tetapi beberapa hari kemarin sepertinya masih dipasang police line. Kalau melihat dari luar garis sih, kayaknya gak masalah," kata lek Min.
"Boleh, tetapi besok menjelang magrib. Saya mau melihat suasananya kalau hari menjelang gelap," kata Parjio menetapkan waktunya. Lek Min pun setuju. Dia seperti kegirangan sekali. "Pasti ada sesuatu yang bakal heboh lagi," pikirnya.
"Pakai mobilku saja. Bisa muat banyak orang," celetuk Adrian menyerah. Dia tak mau ketinggalan lagi dari lek Min.
"Baik, saya bisa menunjukkan tempat ritual yang dilakukan Siti dan Somat," Mbah Darto pun menjadi punya peluang bisa ikut serta. Keempat orang yang sedang belajar menjadi "manusia kurang normal" itu bersiap untuk sebuah petualangan baru.
***
Sore seperti waktu yang sudah disepakati. Mobil berjalan pelan memasuki kawasan kebun karet yang masuk dalam pengawasan PTP Getas. Sore seperti menjadi cepat gelap di sini. Tetumbuhan daun karet, dan hutan bambu di timur, seakan-akan menjadikan gumuk Cigrek terlihat seperti dunia lain yang suram dan kelam. Keempat orang berbeda umur dan profesi itu mulai merasakan hawa tidak enak menyelimuti perasaan mereka. Benar kata orang, walaupun gumuk Cigrek bersih dan terawat, tetapi tetap bernuansa mistis yang luar biasa kuat.
"Benar-benar luar biasa," kata Parjio lirih. Tetapi Adrian yang berada di sebelahnya jelas mendengar.
"Kau pikir tempat ini adalah batas dua dunia?" Tanya Adrian.
"Kau yakin ini batas dua dunia ?" Parjio ganti bertanya.
Adrian sekarang melongo mendengar pertanyaan Parjio.
"Kau mengujiku, ya." Adrian mendengus.
Parjio hanya tersenyum saja. Mbah Darto mendekati sebuah bangunan pendopo beratap pendek. Rupanya police line sudah dilepas petugas siang tadi. Parjio membungkuk sambil mengucap salam diikuti ketiga orang yang datang bersamanya. Gugusan batu besar di bawah sebuah pohon yang berumur ratusan tahun adalah tujuan mereka saat ini. Kali ini telinga mereka yang masih normal mendengar dengkur lembut seekor kucing. Bukan kucing, dengkur ini lebih kuat dan menggetarkan. Mungkin macan besar malah!
Ketiga sahabat Parjio merasa sedikit khawatir karena mereka juga ikut mendengar dengkuran itu. Parjio bisa merasakan kekhawatiran mereka.
"Tenang saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Lek Min, lebih baik kita bersihkan tempat ini. Kita perlu duduk sebentar sekedar untuk mengenal tempat ini. Kalau ada yang bersedia, mari kita belajar menyatu dengan alam semampu kita. Dan jangan memaksakan diri!" ujar Parjio. Mereka pun akhirnya duduk bersila di tempat sempit itu sehingga sedikit berdesakan. Tetapi hal itu tidak menjadi halangan bagi niat mereka yang biasa tetirah di tempat-tempat sepi.
Malam merayap dan semakin larut. Angin sepoi membuat mereka cepat menjadi khusyuk dan sebentar saja mereka telah lelap dalam samadi yang dalam. Parjio harus meninggalkan mereka di gerbang Sunyaruri supaya tak menjadi beban dalam melakukan misinya. Sedang dia sendiri melakukan perjalanan astral menuju ke sebuah tempat yang tidak pernah terpikir akan keberadaannya oleh orang-orang awam.
***
Seekor macan kumbang raksasa yang berbulu hitam pekat dengan kedua mata menyoroti memerah, menghampirinya ke empat orang yang terpekur dalam ketenangan samadi yang khusyuk. Di alam Sunyaruri mereka menjadi saling berdiri sendiri dan tidak saling ketemu apalagi saling kenal. Sedang Parjio sudah menentukan tujuan perjalanannya.
Pemuda itu melangkah mendekati harimau hitam. Kemudian menyentuh kening binatang itu dengan ujung jarinya, lalu membungkuk sedikit sebagai tanda menghormat. Ketika macan kumbang besar itu menggerakkan kepalanya seperti mengangguk, binatang itu kemudian membalikkan tubuhnya dengan perlahan untuk kemudian memasuki sebuah gugusan kabut tak jauh dari tempat samadi ke empat sahabat. Parjio mengikutinya untuk memasuki: dunia siluman!
Ketika Parjio dan macan kumbang itu menerobos kedalam kabut, dalam sekejap saja, tiba-tiba seberkas cahaya biru keunguan membawa dua makhluk berbeda alam itu sampai ke sebuah bangunan dari batu gunung membentuk sebuah candi kuno yang tak terawat. Macan kumbang hitam itu adalah wujud dari Ki Lodaya. Dia menuntun langkah Parjio dengan berjalan di depan pemuda itu. Lalu membiarkan anak manusia itu menuju altar di mana ada beberapa kursi batu terjajar rapi. Di tengah kursi batu itu ada sebuah batu persegi yang bertatah relief antik, di mana seorang lelaki tua yang bertubuh kurus kecil sedang berada. Kakek Siwo Kucing duduk tenang seperti sedang menunggunya.
Sesungging senyum bijak terlukis di bibir kakek sesepuh siluman macan kumbang itu. "Anak, aku tidak tahu bagaimana kau bisa berhubungan dekat dengan putraku Lodaya. Tetapi aku akan menerimamu sebagaimana kau menerima Lodaya. Katakan apa maksud dan tujuanmu kemari," kata Siwo Kucing dengan suara berat menggetarkan.
Parjio segera memberi sembah bakti kepada orang tua itu dan mengambil sebuah kursi batu yang ditunjukkan oleh ki Lodaya untuk duduk. Kemudian kakek siluman macan kumbang itu meninggalkan Parjio sendiri untuk menyampaikan "uneg-uneg"nya kepada ayahandanya, Kanjeng Siwo Kucing.
"Maafkan saya bila lancang untuk berani datang ke dunia siluman ini, saya hanya ingin mengajukan beberapa pertanyaan saja. Itu pun kalau diijinkan," kata Parjio dengan tata krama yang seharusnya.
"Baik, aku akan mendengarnya dan menjawabnya bila tahu jawabannya," demikian kata Siwo Kucing dengan tegas dan pasti. Sekali kata terucap, tak akan dijilat lagi karena telah menjadi sabda. Parjio menguatkan hati untuk berani mengungkapkan kegundahannya.
"Pertanyaan pertama; Apakah diijinkan manusia yang belum seutuhnya menjadi siluman melakukan sumpah darah untuk menjadikan manusia lain siluman juga? Pertanyaan kedua dan terakhir; apakah hak seorang raja bisa dialihkan kepada manusia yang belum sepenuhnya menjadi siluman?" dan Parjio mencukupkan pertanyaannya yang hanya dua itu. Dia tidak berharap mendapat jawabannya sekarang. Karena itu Parjio mengangguk dan memohon diri. Siwo Kucing tersenyum, semakin mengembang senyumnya, lalu tertawa terbahak-bahak.
"Baik, pergilah! Kau telah berhasil mengenaiku!" kata Siwo Kucing sambil melanjutkan tawanya. Ki Lodaya menjemputnya dan membawa Parjio kembali menyeberang Sunyaruri. Kali ini dia berwujud manusia yang usianya tidak terpaut jauh dengan orang lain Parjio.
"Aku tidak menyangka cucu Guna Dharma bisa seperti ini. Melebihi kemampuannya sendiri di masa lalu. Sayang kau tidak pernah menemui aku sekalipun kecuali dahulu sekali dan saat ini. Tetapi kau sudah membuatku suka kepadamu. Aku akan selalu berada di dekatmu lepas kau akan suka atau tidak!" kata ki Lodaya tegas.
Parjio tak bisa menolak lagi. Dan tak berkeinginan untuk menolaknya. Dengan sumpah ki Lodaya, maka dia akan memiliki dukungan dari pihak yang sangat mengenal dunia siluman. Dia juga merasa sudah sangat berterimakasih telah dibawa menghadap kepada junjungan para siluman macan kumbang, Siwo Kucing.
Yang paling penting baginya adalah keselamatan orang-orang yang mencari kedamaian di jalan Tuhan sesuai kepercayaan mereka masing-masing. Dan mereka harus dilindungi supaya tidak disesatkan oleh entitas kegelapan dalam setiap laku samadi mereka. Dengan harapan-harapan yang dia yakini akan bisa menghapus kegelisahannya karena peristiwa-peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini, maka kesanggupan akan bantuan dari pihak ghaib akan sangat diperlukan nantinya. Dia merasa beruntung sekali menjadi cucu kakeknya yang suka lelaku, kakek Guna Dharma.
Parjio yang telah kembali ke tubuh wadagnya kemudian menepuk pundak ke tiga teman setibanya. Dia melambari tangannya dengan prana suci, untuk mengakhiri perjalanan mistis mereka. Keempat sekawan kembali ke pendopo kecil untuk sekedar ngobrol santai sebelum beranjak pulang. Parjio meminta para sahabat untuk menceritakan pengalaman mereka masing-masing tentang petualangan pertama mereka di alam sunyaruri, di mana persepsi ragawi menjadi pengaruh utama dalam perjalanan astral mereka. Dan akhirnya merekapun meninggalkan Gumuk Cigrek untuk melanjutkan pembicaraan di tongkrongan hik Panjul, Adrian pun bertanya kepada Parjio tentang alam sunyaruri.
"Alam Sunyaruri sebenarnya adalah dimensi angan-angan yang sangat kuat sampai membentuk sebuah alam tersendiri. Dimensi itu diciptakan oleh para siluman yang sakti atau dari gabungan kekuatan beberapa bangsa siluman dan makhluk-makhluk astral yang memiliki kemampuan psikokinesis luar biasa untuk menampung entitasnya. Karena itu, jangan sekali-kali kalian sampai terjebak dalam dimensi sejenis!" kata Parjio menjelaskan asal-usul dunia ghaib itu terbatas seperti pengalamannya ketika meraga sukma.
"Banyak sekali tempat-tempat seperti itu. Pasar setan Merapi adalah sebuah contoh yang luar biasa. Begitu kuatnya daya tarik dimensi itu, sampai bisa menghilangkan seseorang beserta tubuh wadagnya sekaligus!" Parjio memberikan sebuah contoh tempat lain yang terkenal seperti di Gumuk Cigrek dengan gambaran yang sudah umum diketahui oleh masyarakat kuno sampai sekarang. Tempat itu berada di sekitar desa Selo, di lereng Utara Merapi yang berbatasan dengan lereng tenggara Merbabu.
"Maka dari itu jangan melamun atau berpikiran kosong di tempat-tempat yang pernah terjadi fenomena orang hilang dan sekitarnya. Kecuali kalian adalah pelaku spiritual yang sengaja menginginkan untuk bertemu dengan warga dari entitas tersebut." Parjio memberikan sedikit pengetahuannya kepada orang - orang yang sedang berlatih mengasah rasa itu. Mereka yang mendengar penuturan Parjio, manggut-manggut tanda mengerti.

Komentar
Posting Komentar