CANDRAMAWA – Kisah Siluman Macan Kumbang (Cerita Horor Mistis Legenda Jawa Tengah) - Bagian 7

Gambar
  07 Penciptaan Parjio sudah menduga akan mendapat pertanyaan seperti itu ketika dia membuka kisah tentang hal-hal yang menyangkut tentang entitas "tan wadag". Untung saat ini dia tidak berhadapan dengan seorang yang fanatik. Bisa terjadi perang besar bila dia harus mengungkapkan beberapa hal yang bertentangan dengan keimanan mereka. "Aku paham maksudmu. Sebaiknya kita pahami dulu tentang "proses penciptaan" di kepercayaan masyarakat Jawa penganut "kapribaden Jawa Purba. Ingat Penganut "kapribaden Jawa" dan bukan "Kejawen"!" kata Parjio mencoba memberi pengertian tentang Jawa dengan hati-hati kepada Adrian yang berpikiran logis dan ilmiah. "Apa beda antara Kejawen dan kapribaden Jawa?" Tanya Adrian mendesak. Senyum Parjio mengembang. Selalu begitu pertanyaan orang-orang bila sudah menyangkut perbedaan mendasar tentang "kepribaden". "Berbeda menurut ajaran yang kuterima dari kakek. Tetapi mungkin diangga...

UNICORN - Cerita Horor Boneka Arwah Terkutuk - Bagian 10

 




CHAPTER 10


Ketakutanku


Tiba-tiba suasana berubah. Semua kegembiraan tiba-tiba terhenti. Dan ku lihat ke sekelilingku. Boneka-boneka dan anak-anak sebaya Septa yang tadi penuh canda tawa, mendadak berwajah muram. Mereka semua menatapku dengan wajah-wajah yang berubah menyeramkan. Pucat dan tanpa warna. Tiba-tiba dari jauh ku dengar suara jeritan bernada tinggi dan melengking nyaring. Kali ini bukan seperti jeritan Septa dan aku di awal tadi. Tetapi jeritan kemarahan. Dan tiba-tiba semua yang berada di sekelilingku, berlari berhamburan. Mereka berebut cepat meninggalkan aku, Septa dan boneka unicorn ku untuk bersembunyi. Mereka seperti ketakutan oleh suara jeritan melengking yang menyakitkan telinga itu. Dan satu-persatu, semua menghilang menyembunyikan diri. Benar-benar bersembunyi dari sesuatu yang tak ku ketahui. 


Dari jauh ku lihat sebuah bayangan muncul. Bayangan tinggi jangkung. Septa panik dan ketakutan. Unicornku terlihat sama takutnya dengan Septa. Semua warna di tubuhnya menjadi pudar berganti warna seperti goresan pensil. Hitam samar. Dan sesuatu yang tinggi itu kemudian telah terlihat wujudnya seutuhnya. Seperti makhluk aneh mengerikan yang jangkung sekali. Mungkin setinggi tiga kali orang dewasa bila sudah mendekat. Sementara suara-suara yang sejak tadi terus memanggil semakin dekat dan keras. 


Makhluk tinggi itu seperti tongkat bertangan dan berkaki. Kepalanya seperti belalang sembah yang biasa di tangkap Ricky di taman sekolah. Dia kembali menjerit melengking. Sangat nyaring sekali sehingga aku ingin sekali menutup telingaku. Dan aku terkesiap. Septa dan boneka unicornku telah hilang lenyap entah ke mana. Apakah nereka bersembunyi tanpa mengajakku? Dalam ketakutanku, aku melangkah mundur mendekati pohon yang tidak ikut bersembunyi di belakangku. 


Makhluk itu seperti semakin dekat dengan langkahnya yang lebar karena panjang kakinya. Ku lihat jari tangannya menggapai-gapai ke arahku. Cakarnya? Ya, aku ingat sekarang. Cakar-cakar itulah yang seperti pernah menyakitiku. Jadi dia yang menyamar madame Mock di setiap mimpiku. Aku semakin tak berdaya karena takutku. Akhirnya aku berteriak memanggil nama yang paling kuingat saat ini.


Madame Mock!!.. 


Madame Mock!!.. 


Tetapi suaraku seakan tenggelam kalah nyaring oleh jeritan melengking makhluk itu. Dia membungkukkan tubuhnya yang tinggi untuk menjulurkan cakar berkuku tajamnya ke tubuhku. Aku memejamkan mata. Tiba-tiba unicorn itu kembali muncul untuk menyelamatkan aku. Dia mengorbankan dirinya untuk menghalangi cakar-cakar tajam itu menyentuhnya dan ku lihat dengan perasaan tak menentu, betapa cakar-cakar tajam makhluk itu mengkoyak-koyak tubuhnya. Bonekaku yang malang. Dia hancur menjadi serpihan-serpihan kecil yang berhamburan sampai menutupi mataku. Aku pejamkan mata agar tak melihat apa yang sedang terjadi. 


Saat itu aku merasa ujung kuku tajam menyentuh keningku... Sakit dan perih sekali. Aku menangis tanpa suara. Aku ketakutan sekali sampai nyaris tak bisa bergerak sama sekali. Bahkan aku takut untuk bersuara. Hanya aku merasa ada airmata menetes hangat di pipiku. Tiba-tiba, sebuah tangan berkulit lembut menarikku ke arah pohon besar di belakangku. Aku terkejut dan membuka mata. Ku lihat diriku menembus batang pohon, kemudian tembok padat dari susunan batu bata merah, kemudian wallpaper kesukaanku. Dan masih ku lihat kuku-kuku runcing makhluk itu terus mengejar tubuhku. Aku terguling menindih seseorang di punggungku yang jatuh terlentang. Dan ku lihat makhluk itu mengikutiku keluar dari wallpaper kesukaanku. Dia benar-benar keluar dari tembok itu.. 


Seseorang entah siapa membawaku menyingkir. Tetapi mataku tidak bisa lepas dari makhluk itu. Dan sepertinya aku melihat beberapa utas tali putih menjerat lengannya yang panjang dengan kulit keriput kemerahan. Bukan kulit, aku pernah ikut mbak Rasmi belanja kepasar. Itu adalah daging dan otot. Tanpa kulit. 


Jadi makhluk itu tidak memiliki kulit. Dia saat ini sedang berusaha membebaskan diri dari tali-tali yang melibat kedua lengannya. Lalu lehernya, lalu ke dua kakinya sehingga dia terjatuh. Kemudian aku mendengar seperti ada suara air di siramkan ke tubuh makhluk jangkung itu. 


Suara berdesis seperti ketika mbak Rasmi menyiram tumpukan sampah yang dibakar suaminya dengan air supaya tidak membakar bangku yang dipasang mendiang  ayahku di kebun belakang. Desisnya sama persis dengan suara itu. Dan ku lihat dia mulai mengeluarkan asap. Asap yang beraroma seperti tulang di bakar. Dan menyengat sekali. Suara-suara melengking tinggi terdengar menusuk telinga. Mungkin bisa merusak gendang telinga buka terlalu lama mendengarnya. Makhluk itu seperti menjerit kesakitan dan bergerak semakin liar. 


Asap semakin tebal, kemudian muncul api yang tiba-tiba membesar menyelimuti seluruh tubuh makhluk itu. Menyentuh beberapa bagian dari wallpaper kami, dan mulai membakarnya juga. Dan betapa makhluk mengerikan itu meronta-ronta liar, berusaha membebaskan diri dari tali-tali yang menjeratnya. Tetapi sekeras apapun usahanya, dia tak kunjung berhasil, sampai api itu akhirnya menghanguskan sekujur tubuhnya. Jerit melengking terdengar lebih nyaring lagi. Dan akupun menjerit sambil menutup ke dua telingaku dengan kedua telapak tanganku. 


Seseorang yang menggendongku berusaha menutup mataku dengan tangan lembutnya, supaya tidak menyaksikan apa yang sedang terjadi. Tetapi terlambat. Aku sudah menyaksikan semuanya. Dan tinggal abu dari makhluk itu saja yang mengonggok di sebelah tempat tidurku. 


Setelah menyaksikan seluruh kejadian itu, aku baru menyadari bahwa di dalam kamarku telah berkumpul semua orang. Pakdhe, si suara geledek, si cempreng, si sopir, dan seorang yang yang tiba-tiba ku harap kehadirannya, madame Mock! 


Rupanya dia yang saat ini sedang membopongku. Rupanya dialah yang telah menarikku menembus pohon dan tembok kamarku. Rupanya dialah orang yang telah menyelamatkanku dari ancaman makhluk itu. 


Sedangkan para  lelaki yang bersamanya, terlihat masih memegang ujung-ujung tali yang mengikat makhluk itu. 



***

Pagi itu kami semua masih terjaga. Jelas saja aku tak bisa tidur karena bayangan makhluk itu masih menghantui perasaanku. Aku masih takut kalau-kalau makhluk itu kembali lagi.


"Tidurlah, sayang. Kau sudah terjaga semalaman. Apa tidak mengantuk?" tanya madame Mock lembut penuh kasih sayang. Aku diam saja. Aku sangat kelelahan. Tetapi mataku takut untuk ku pejamkan. Aku khawatir akan bermimpi itu lagi. Aku memilih berbaring disofa di mana orang-orang duduk mengelilingiku sambil mengobrol. Dan aku tidak merasa sendirian dalam gelisah. Madame Mock menyelimutiku dengan selimut milik pakdhe. Dan aku mempertahankan mataku agar tidak terpejam walau sebentar.

Madame Mock membelai rambutku dengan penuh kasih. Dia sangat tahu bahwa saat ini perasaanku sedang kacau. Dan.. Entahlah.... 


Aku sudah kembali berada di bawah pohon besar itu. Entah bagaimana bisa terjadi? Aku tidak tahu bagaimana. 


"Byiya.." suara itu... 


"Septa?" kataku heran. "Kau baik-baik saja?" 


Aku celingukan kesana kemari mencari asal suara itu. Tiba-tiba dari balik pohon, kulihat Septa berdiri sambil tersenyum manis kepadaku. Di tangan kanannya, dia membawa boneka besar kesayangan kami.


Boneka Unicorn! 




           _---Tamat---_

Bab Sebelumnya |

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KARMA-Tuhan yang Kulekatkan di Namaku

UNICORN - Cerita Horor Boneka Arwah Terkutuk

UNICORN - Cerita Horor Boneka Arwah Terkutuk - Bagian 1