CANDRAMAWA – Kisah Siluman Macan Kumbang (Cerita Horor Mistis Legenda Jawa Tengah) - Bagian 7
CHAPTER 09
Tetapi sore ini..
Aku menundukkan kepala dan meninggalkan miss NeAng dengan berlari masuk ke kamar. Ku bawa unicornku tanpa bicara. Aku sedih. Aku lupa lagi. Bagaimana bisa bernyanyi dengan baik bila terus seperti ini?
Miss NeAng menyusulku dengan khawatir. Mungkin dia menyalahkan dirinya sendiri karena aku menjadi gagal menyelesaikan laguku dengannya. Dia menyusulku ke kamar dan membelai rambutku. Aku menangis tak mampu menahan diri.
"Bria sayang, jangan bersedih. Kita masih punya banyak waktu untuk berlatih menyanyi. Jangan merasa gagal karena hal itu biasa terjadi. Miss NeAng sendiri pernah
"Aku ingat adikku. Dia selalu mendengarkan dengan diam dan Septa.. Septa.. dia sangat suka bila aku bernyanyi untuknya."
"Kalau begitu, menyanyilah untuknya. Tidak sekarang. Besok bila kau sudah tenang. Ok?" kata miss NeAng lembut. Persis seperti madame Nnay bila sedang menghiburku. Aku mengangguk setuju. Miss NeAng kemudian membiarakanku sendirian. Dia melangkah keluar untuk beristirahat.
Ahh.. Septa. Kemana saja dia. Akhir-akhir ini kenapa dia tidak mau bermain denganku. Aku rindu kepadanya. Seharusnya dia datang untuk mendengarkan aku berlatih menyanyi bersama pengasuh baruku.
"Byiya.. Byiiyaa.."
Suara itu? Septa?
"Byiiyaa.."
Aku menoleh ke asal suara itu. Tembok dinding berwallpaper kesukaan kami. Gambar unicorn berwarna-warni di tembok itu adalah gambar yang sangat kami sukai. Selera Septa dan seleraku selalu sama. Bahkan ibu dulu sering membelikan kami mainan yang selalu sama.
Saat aku menatap dinding tanpa kedip, ku lihat sesuatu muncul menembus tembok perlahan-lahan. Aku terkejut dan tidak menyangka bahwa itu adalah Septa. Dia muncul dengan wajah lucunya dulu. Lalu nyaris seluruh kepala sampai leher. Kemudian perlahan-lahan seluruh badannya. Pakaiannya.. Adalah yang terakhir kali dikenakan ketika dia berangkat ke klinik bersama ayah dan ibu sebelum kecelakaan itu.
Aku segera turun mendekatinya. Dia merangkak dan berusaha berdiri. Dan aku membantunya. Septa tersenyum kepadaku dengan wajah pucatnya. Dan aku segera memeluknya erat-erat.
"Septa kemana saja? Kakak Byiya kangen!" kataku sambil menangis. Ya.. Aku menjadi suka menangis bila mendadak kangen kepadanya atau kepada ibu.
"Byiya nakal!" katanya dengan suara yang khas. Aku semakin erat memeluknya. Belum sempat melepaskan perasaan rindu, tiba-tiba ada suara mengetuk pintu. Dan itu membuat Septa berubah menjadi tegang. Dia menatap tajam ke arah pintu kamar.
"Bria, buka pintu. Waktunya makan malam!"
Itu suara miss Karen. Pengasuh yang satunya. Memang sudah waktunya makan malam. Dan Septa kebetulan ada. Pasti menyenangkan makan malam bersama adik tersayang. Seperti dulu lagi. Tertawa bahagia sambil menggoda Septa yang selalu belepotan ketika makan sendiri dengan sendok plastiknya yang mungil. Aku bisa terhibur dengan tertawa terbahak sampai nyaris tersedak seperti dulu. Membayangkan itu, aku segera melepas pelukan Septa. Ku tatap adikku yang memasang wajah merajuk. Ingin ku ajak dia bertemu miss Karen dan makan malam bersama.
Septa menatapku dengan tajam. Wajahnya mendadak berubah. Terlihat sekitar matanya menjadi gelap menghitam. Dan wajahnya pucat seketika. Aku panik! Ku sentuh dahinya dengan punggung tangan, mirip ketika ibu mengkhawatirkan kesehatannya. Dingin. Bukankah demam yang seharusnya terasa panas? Septs tidak demam, tapi dia seperti sedang sakit.
"Kenapa Septa? Apa kamu sakit?"tanyaku khawatir.
Adikku itu hanya diam menatapku tajam. Aku menduga-duga, sepertinya dia tidak mau diganggu oleh ketukan pintu kamar. Atau dia tidak suka dengan kehadiran orang lain yang mengganggu kesenangan kami? Dan aku akan maklum. Kami lama tidak pernah bermain bersama. Bahkan beberapa malam kami tidak bertemu dengannya.
"Kamu marah? Kamu tidak suka ada orang yang mengganggu kita?" tanyaku lagi. Dan kali ini dia mengangguk.
"Baik kita tanya boneka unicorn kita. Harus keluar atau tinggal di kamar dan bermain bersama. Tetapi pintu tidak dikunci. Pasti mereka akan. Memaksa masuk. Kau mau kakak mengunci pintu dulu?" tanyaku lagi.
Septa menggelengkan kepala. Dia tersenyum lalu menunjuk ke pintu. Entah bagaimana caranya dia melakukan itu, tiba-tiba pintu terkunci sendiri dari dalam. Dan aku hanya bisa takjub melihatnya. Kemudian kami tenggelam dalam dunia menyenangkan. Yaitu dunia ketika tak seorangpun bisa mengganggu. Septa mengajakku ke sebuah tempat yang ku anggap mustahil bisa ke sana. Dengan menggandeng tanganku, Septa mengajak aku menembus wallpaper di dinding. Tembok tebal dari batu bata itu kami tembus dengan begitu mudahnya. Dan tahukah kalian, seperti apa dunia di balik tembok itu?
Taman yang luar biasa indahnya. Ada sebuah pohon besar yang rindang dan berdahan pendek. Mungkin dengan lompatan kecil, aku bisa meraih dahan terdekat. Dan di ranting-rantingnya, banyak sekali tergantung boneka-boneka lucu dan menggemaskan. Sama dengan boneka-boneka yang berada di bawah berserakan. Boneka-boneka yang bisa berjalan dan bicara segera mengelilingi kami berdua.
Salah satu boneka itu sangat menarik perhatianku. Unicorn kesayanganku! Dia bisa bergerak. Bisa berjalan dan...
"Hallo Bria.. Senang bisa berjumpa denganmu di sini."
Dia... Dia bahkan bisa bicara! Aku berlari cepat dan memeluknya. Aku memeluknya sangat erat sampai kalau bisa ku buat dia gepeng dengan dekapanku. Aku bahagia sekali. Septa hanya tertawa melihat kami. Setelah puas menyiksanya, aku segera melepas pelukanku. Unicorn itu berjalan dengan melompat-lompat kecil kegirangan. Kemudian dia mendekati adikku. Lalu melakukan sesuatu seperti membungkukkan badan sambil menundukkan kepala kepadanya. Adik kecilku segera mencoba menaikinya seperti dulu. Dan kali ini aku berharap dia kembali terjatuh sehingga bisa membuat ku terpingkal-pingkal.
Tetapi tidak. Septa bisa menaiki nya. Itu curang! Unicorn tidak boleh merendahkan badannya seperti itu. Dan karenanya, Septa bisa menaiki punggungnya dan, duh...! Septa seperti menjadi Ratu di semesta ini. Boneka-boneka lain mengelilingi kami.
Dan kami tertawa bersama.
Dan kami bermain bersama.
Dan tidak ada orang dewasa yang memerintahkan kami untuk makan malam, belajar menyanyi, belajar ini, belajar itu, atau melakukan apa saja yang penting menuruti kemauan mereka.
Septa kemudian turun dari punggung unicorn, lalu menari-nari lucu sekali. Kemudian dia menjerit sekuat tenaga. Meluapkan semua kegembiraannya. Dan jeritan itu menggema membahana. Memenuhi taman boneka itu sampai ke seriap sudutnya. Kemudian aku juga ikut berteriak sekeras-kerasnya. Dan kembali bersahutan terdengar teriakan-teriakan lain dari sekitar semak-semak perdu berdaun warna-warni. Kemudian dari semak-semak perdu yang berdaun warna-warni itu pula, muncullah anak-anak sebaya Septa. Mereka berpakaian unik. Ada yang memakai pakaian badut, berpakaian permen, berpakaian buah-buahan, dan berpakaian apa saja yang tidak pernah ku pikirkan sebelumnya. Dan mereka sungguh lucu dan menggemaskan.
Kami bersuka-cita, dengan tak terlukiskan lagi kegembiraan kami. Bermain, berkejaran, dan melompat-lompat sebebasnya. Aku benar-benar gembira dan bahagia. Dan serasa tak ingin lagi kembali ke kamar tidur yang pernah menjadi penjara bagiku dulu.
Sementara dari jauh entah di mana, tiba-tiba aku mendengar para orang dewasa menjadi panik memanggil-manggil namaku. Awalnya lirih sekali suaranya. Lalu kemudian semakin dekat semakin nyaring. Salah satu suara itu adalah dari Madame Mock.
Tentu aku mengenal sekali suaranya. Mirip suara ibu ketika masih hidup dahulu. Suara serak yang khas dan tidak bisa ku lupakan. Aku berdiri termangu. Septa dan teman-teman kecilnya seolah tidak mendengarnya. Mungkin mereka mendengar, tetapi yang dipanggil bukan nama mereka. Tetapi namaku. Wajar bila mereka tidak menghiraukannya.
Aku menoleh kearah suara-suara yang terus-terusan memanggilku. Dan aku mendekati sebuah pohon, satu-satunya pohon besar yang berdiri di tempat indah ini. Dan aku segera melangkahkan kaki untuk mendekati pohon.
Tiba-tiba Septa telah berdiri di sampingku sambil memegang lenganku. Aku terkejut dan menoleh kearahnya. Wajahnya berubah pucat kembali. Persis seperti ketika ada ketukan Miss Karen di pintu kamar tadi. Bayangan matanya menjadi gelap kehitaman. Dia menunjukkan kekhawatirannya.
Pelan tapi terlihat olehku, adikku terkasih menggelengkan kepala.
Komentar
Posting Komentar