Postingan

CANDRAMAWA – Kisah Siluman Macan Kumbang (Cerita Horor Mistis Legenda Jawa Tengah) - Bagian 7

Gambar
  07 Penciptaan Parjio sudah menduga akan mendapat pertanyaan seperti itu ketika dia membuka kisah tentang hal-hal yang menyangkut tentang entitas "tan wadag". Untung saat ini dia tidak berhadapan dengan seorang yang fanatik. Bisa terjadi perang besar bila dia harus mengungkapkan beberapa hal yang bertentangan dengan keimanan mereka. "Aku paham maksudmu. Sebaiknya kita pahami dulu tentang "proses penciptaan" di kepercayaan masyarakat Jawa penganut "kapribaden Jawa Purba. Ingat Penganut "kapribaden Jawa" dan bukan "Kejawen"!" kata Parjio mencoba memberi pengertian tentang Jawa dengan hati-hati kepada Adrian yang berpikiran logis dan ilmiah. "Apa beda antara Kejawen dan kapribaden Jawa?" Tanya Adrian mendesak. Senyum Parjio mengembang. Selalu begitu pertanyaan orang-orang bila sudah menyangkut perbedaan mendasar tentang "kepribaden". "Berbeda menurut ajaran yang kuterima dari kakek. Tetapi mungkin diangga...

CANDRAMAWA – Kisah Siluman Macan Kumbang (Cerita Horor Mistis Legenda Jawa Tengah) - Bagian 6

Gambar
 06 Lelaki itu Siluman Waktu berganti dengan cepat seolah hari, jam, menit dan detik yang sebat lewat, melebur menjadi sebuah lompatan ke belakang yang di sebut masalalu. Kemudian sampailah apa yang membuat kita terjebak sebagai: sekarang!  Fajar itu begitu dingin. Siti menata dagangan di atas pickup dibantu Rohmadi, sopirnya yang "bindeng" (bicara sengau) di pasar Ngablak. Dia akan mengirim pesanan para pedagang sayur sekaligus menagih dagangan kemarin yang belum lunas. Rohmadi adalah adik ipar Siti. Sejak keluar dari penjara, Wanita itu terpaksa pindah rumah karena tekanan warga.  Dia beruntung adik satu-satunya yang tinggal di daerah lereng Merbabu bersedia memberi tumpangan kepadanya. Kemudian dengan modal kecil seadanya, Siti merintis usaha dagang sayur. Tanpa diduga dalam waktu kurang dari empatpuluh hari, dia sudah menjadi seorang pedagang besar yang disegani para pedagang lain dipasar itu. Hanya empat puluh hari!  Siti berdagang sayur di pasar Ngablak di wila...

KARMA-Tuhan yang Kulekatkan di Namaku

Gambar
KARMA - (Tuhan yang Kulekatkan di Namaku)  Aku lahir sebagai anak pertama, dan sejak kecil aku tahu satu hal: cinta tidak pernah gratis. Ayah selalu berdiri di barisan depan masjid. Sorbannya rapi, suaranya lantang, doanya panjang. Orang-orang menunduk ketika ia lewat. Mereka memanggilnya dengan gelar yang ia kumpulkan seperti piagam—ustaz, sesepuh, tokoh. Ayah hidup dari hormat. Tanpanya, ia seperti kehilangan napas. Di rumah, ayah tidak mengajarkan kasih. Ia mengajarkan posisi. Siapa di atas, siapa di bawah. Ibu berbeda. Ia tidak peduli dihormati. Ia bekerja. Setiap hari. Tanpa henti. Tangannya kasar, matanya tajam, pikirannya penuh hitungan. Uang baginya bukan alat, tapi tujuan. Dan tujuan tidak boleh dibocorkan dengan rasa iba. Aku masih ingat bau telur itu. Busuk, tapi digoreng sampai kering. “Masih bisa dimakan,” kata ibu. “Jangan manja.” Sejak hari itu aku belajar: kenikmatan adalah kemewahan, dan kemewahan hanya untuk orang yang menang. Sebagai anak sulung, aku cepat menger...

KARMA - Tuhan yang Kulekatkan di Namaku

Gambar
Apakah Ibadah Bisa Salah Arah? Kisah Ini Menjawabnya.  Ia Menggunakan Nama Tuhan, Lalu Kehilangan Segalanya Prakandha: Semua orang mengenalnya sebagai perempuan saleh. Rajin beribadah. Rajin bersedekah. Selalu bicara tentang Tuhan dan pengorbanan. Tak ada yang tahu bahwa kesalehan itu dibangun dari ketakutan akan miskin, lapar, dan diinjak seperti masa kecilnya. Tak ada yang melihat bagaimana agama berubah menjadi alat, keluarga menjadi properti, dan anak-anak menjadi investasi masa depan. Ia mengatur segalanya. Uang. Warisan. Doa. Bahkan citra dirinya sendiri. Hingga satu per satu orang pergi. Anak-anak meninggalkannya. Saudara menolak tunduk. Dan Tuhan, yang namanya ia pakai seumur hidup, tak lagi diam. Ia mulai berbicara pada suara yang tak bisa dipastikan asalnya. Tuhan? Atau nurani yang terlambat bangun? Mereka menyebutnya gila. Tapi mungkin ia hanya perempuan yang terlalu lama bersembunyi di balik ibadah, hingga lupa bagaimana caranya hidup tanpa topeng. Bab Berikutnya

MISTERI HANTU NONI BELANDA - Cerita Horor Urban Legend Lukisan Terkutuk

Gambar
MISTERI HANTU NONI BELANDA  Cerpen Saiph Baran Ditulis di Salatiga Judul asli : ADELIA BEATRIX Tengah malam di sebuah kontrakan. Adrian terbangun mendadak karena getar ponsel membuat risih telinganya. Dia tampak agak gugup dan cemas. Sebuah berita mengejutkan membuatnya shock. "Jio, bangun! Temani aku ke rumah sakit. Oom Hardi meninggal..." "Jam berapa nih, Yan?" tanya Parjio sambil merapatkan selimutnya. Adrian melihat layar ponselnya. Masih jam dua lebih empat puluh enam menit.  "Apa gak lebih baik pergi besok pagi-pagi aja, Yan?" "Mamaku sendirian di rumah sakit, Jio... Ayo bangun!" paksa Adrian sambil menarik kasar selimut Parjio. Dengan malas pemuda satu kos itupun terjaga. Ketika pikirannya sudah kembali bekerja, mendadak dia membelalakkan mata. Terkejutnya terlambat.  "Ha? Kenapa Mamamu di rumah sakit malam-malam begini? Ada apa? Siapa yang sakit?" tanya Parjio. Rupanya dia tidak mendengar kata-kata Adrian tentang meninggalnya sa...

Postingan populer dari blog ini

KARMA-Tuhan yang Kulekatkan di Namaku

UNICORN - Cerita Horor Boneka Arwah Terkutuk

UNICORN - Cerita Horor Boneka Arwah Terkutuk - Bagian 1