Postingan

KURU – Cerita Horor Science Fiction Wabah Zombie di Pedalaman Papua - Bagian 3

Gambar
  03 - Manase yang Teguh "Bagaimana kau bisa kehilangan orang-orangmu, Manase?" tanya Waromi yang duduk begitu saja di lantai di luar tikar gelaran. Dia sedang memegang cangkir kaleng yang berisi kopi hangat. Walau tanpa gula tetapi Waromi bisa menikmati kehangatannya melewati tenggorokan dan menyentuh rongga dadanya yang nyaris beku karena kedinginan di bawah hujan tadi. "Hhh. Aku terlalu ceroboh dan tanpa perhitungan. KhaKhua ternyata sudah mengincar tempat ini sejak lama. Aku menampung anak Numfor yang terluka di sini. Dan aku tidak tahu kalau dia adalah KhaKhua. Aku perintahkan abang si Isak untuk merawat lukanya. Sementara kami berangkat berburu dan memanah ikan di sungai. Kami pulang ke gubuk menjelang sore dengan buruan yang banyak.  Sesampai di gubug kami tidak menemukan anak Numfor dan yang lainnya. Setelah mencarinya ternyata anak Numfor dan abang Isak sedang memakan tubuh Elias hidup-hidup. Aku marah dan menangkap anak Numfor. Menembaknya di kepala, tepat di a...

CANDRAMAWA – Kisah Siluman Macan Kumbang (Cerita Horor Mistis Legenda Jawa Tengah) - Bagian 8

Gambar
 08 Sunyaruri "Coba saya telpon bagian forensik dulu. Kalau ada yang aneh menurut anda berarti itu patut diselidiki," kata pak Handiman yang membuat Parjio menjadi jengah. "Jangan karena saya, pak, saya hanya menduga-duga saja. Biasanya dalam kasus-kasus ritual penyatuan sumpah darah, melukai telapak tangan adalah jalan umum untuk menyatukan darah seorang guru dengan murid, antara dua saudara perguruan, atau antara manusia dengan makhluk dari entitas tan wadag. Tetapi itu bukan sebuah kepastian. Hanya pada umumnya saja dilakukan oleh para pelaku ritual aliran khusus," kilah Parjio.  Dan ketika pak Handiman menelpon bagian otopsi, mereka menjawab bahwa benar ada darah yang bukan milik korban menyatu dengan darah korban. Tepat seperti dugaan Parjio. Handiman dan Hermanto menatap kagum kepada Parjio membuat pemuda itu menjadi malu sendiri. Dia menjadi kikuk dan canggung. "Saya benar-benar tak mengerti. Semua seperti terang bagi anda. Di usia anda yang masih begitu...

CANDRAMAWA – Kisah Siluman Macan Kumbang (Cerita Horor Mistis Legenda Jawa Tengah) - Bagian 7

Gambar
  07 Penciptaan Parjio sudah menduga akan mendapat pertanyaan seperti itu ketika dia membuka kisah tentang hal-hal yang menyangkut tentang entitas "tan wadag". Untung saat ini dia tidak berhadapan dengan seorang yang fanatik. Bisa terjadi perang besar bila dia harus mengungkapkan beberapa hal yang bertentangan dengan keimanan mereka. "Aku paham maksudmu. Sebaiknya kita pahami dulu tentang "proses penciptaan" di kepercayaan masyarakat Jawa penganut "kapribaden Jawa Purba. Ingat Penganut "kapribaden Jawa" dan bukan "Kejawen"!" kata Parjio mencoba memberi pengertian tentang Jawa dengan hati-hati kepada Adrian yang berpikiran logis dan ilmiah. "Apa beda antara Kejawen dan kapribaden Jawa?" Tanya Adrian mendesak. Senyum Parjio mengembang. Selalu begitu pertanyaan orang-orang bila sudah menyangkut perbedaan mendasar tentang "kepribaden". "Berbeda menurut ajaran yang kuterima dari kakek. Tetapi mungkin diangga...

CANDRAMAWA – Kisah Siluman Macan Kumbang (Cerita Horor Mistis Legenda Jawa Tengah) - Bagian 6

Gambar
 06 Lelaki itu Siluman Waktu berganti dengan cepat seolah hari, jam, menit dan detik yang sebat lewat, melebur menjadi sebuah lompatan ke belakang yang di sebut masalalu. Kemudian sampailah apa yang membuat kita terjebak sebagai: sekarang!  Fajar itu begitu dingin. Siti menata dagangan di atas pickup dibantu Rohmadi, sopirnya yang "bindeng" (bicara sengau) di pasar Ngablak. Dia akan mengirim pesanan para pedagang sayur sekaligus menagih dagangan kemarin yang belum lunas. Rohmadi adalah adik ipar Siti. Sejak keluar dari penjara, Wanita itu terpaksa pindah rumah karena tekanan warga.  Dia beruntung adik satu-satunya yang tinggal di daerah lereng Merbabu bersedia memberi tumpangan kepadanya. Kemudian dengan modal kecil seadanya, Siti merintis usaha dagang sayur. Tanpa diduga dalam waktu kurang dari empatpuluh hari, dia sudah menjadi seorang pedagang besar yang disegani para pedagang lain dipasar itu. Hanya empat puluh hari!  Siti berdagang sayur di pasar Ngablak di wila...

KARMA-Tuhan yang Kulekatkan di Namaku

Gambar
KARMA - (Tuhan yang Kulekatkan di Namaku)  Aku lahir sebagai anak pertama, dan sejak kecil aku tahu satu hal: cinta tidak pernah gratis. Ayah selalu berdiri di barisan depan masjid. Sorbannya rapi, suaranya lantang, doanya panjang. Orang-orang menunduk ketika ia lewat. Mereka memanggilnya dengan gelar yang ia kumpulkan seperti piagam—ustaz, sesepuh, tokoh. Ayah hidup dari hormat. Tanpanya, ia seperti kehilangan napas. Di rumah, ayah tidak mengajarkan kasih. Ia mengajarkan posisi. Siapa di atas, siapa di bawah. Ibu berbeda. Ia tidak peduli dihormati. Ia bekerja. Setiap hari. Tanpa henti. Tangannya kasar, matanya tajam, pikirannya penuh hitungan. Uang baginya bukan alat, tapi tujuan. Dan tujuan tidak boleh dibocorkan dengan rasa iba. Aku masih ingat bau telur itu. Busuk, tapi digoreng sampai kering. “Masih bisa dimakan,” kata ibu. “Jangan manja.” Sejak hari itu aku belajar: kenikmatan adalah kemewahan, dan kemewahan hanya untuk orang yang menang. Sebagai anak sulung, aku cepat menger...

Postingan populer dari blog ini

KARMA-Tuhan yang Kulekatkan di Namaku

UNICORN - Cerita Horor Boneka Arwah Terkutuk

UNICORN - Cerita Horor Boneka Arwah Terkutuk - Bagian 1