CANDRAMAWA – Kisah Siluman Macan Kumbang (Cerita Horor Mistis Legenda Jawa Tengah) - Bagian 7

Gambar
  07 Penciptaan Parjio sudah menduga akan mendapat pertanyaan seperti itu ketika dia membuka kisah tentang hal-hal yang menyangkut tentang entitas "tan wadag". Untung saat ini dia tidak berhadapan dengan seorang yang fanatik. Bisa terjadi perang besar bila dia harus mengungkapkan beberapa hal yang bertentangan dengan keimanan mereka. "Aku paham maksudmu. Sebaiknya kita pahami dulu tentang "proses penciptaan" di kepercayaan masyarakat Jawa penganut "kapribaden Jawa Purba. Ingat Penganut "kapribaden Jawa" dan bukan "Kejawen"!" kata Parjio mencoba memberi pengertian tentang Jawa dengan hati-hati kepada Adrian yang berpikiran logis dan ilmiah. "Apa beda antara Kejawen dan kapribaden Jawa?" Tanya Adrian mendesak. Senyum Parjio mengembang. Selalu begitu pertanyaan orang-orang bila sudah menyangkut perbedaan mendasar tentang "kepribaden". "Berbeda menurut ajaran yang kuterima dari kakek. Tetapi mungkin diangga...

UNICORN - Cerita Horor Boneka Arwah Terkutuk - Bagian 4





CHAPTER 04 

Namaku Bria 

Mau kuceritakan bahwa kematian bukan akhir segalanya? Ini hanya sebuah pengalaman pribadi masa kecilku. Percaya atau tidak, itu urusan kalian. Namun, jika kalian tertarik, aku akan bercerita.

Namaku Bria. Aku lahir di bulan Februari dan kini tinggal di rumah warisan orang tua. Di usia 8 tahun aku sudah hidup sendirian. Tidak sepenuhnya sendirian, sebenarnya. Ada mbak Rasmi dan bang Ipul, pasangan suami istri yang mengasihiku lebih karena upah daripada kasih sayang naluriah, menemani hidupku.

 Mereka adalah hantu-hantu dalam bentuk manusia, pembantu yang tidak ingin memiliki anak dan tidak bisa menyembunyikan kebencian mereka terhadapku. Aku yakin, mereka lebih memilih tinggal di sini karena uang yang dijanjikan pakdhe dan mereka terima setiap bulan, bukan karena cinta atau mengharap kebahagiaan bersama seorang anak sepertiku. 

Tapi cerita ini jauh dari mereka. Biarkan aku mengalihkan perhatian kalian dari kemunafikan mereka, karena ada hal lain yang lebih penting. Suka atau tidak, simaklah.

__
Sebelum terjadinya kecelakaan yang merenggut keluargaku, aku memiliki adik perempuan bernama Septa Anggraini. Dia baru berusia tiga tahun ketika kami terakhir bersama, dan meskipun sering membuatku jengkel, aku sangat mencintainya. Kami banyak bermain bersama dan aku suka menertawakannya.

Tingkah Septa begitu lucu dan mengemaskan. Sayangku, dia itu sangat jahil dan selalu menggangguku. Tetapi aku selalu ingin dia ada saat ini, menghibur dengan tingkahnya yang bisa membuatku bahagia. Aku masih ingat ketika dia memaksakan diri menaiki punggung boneka unicorn besar yang bahkan setinggi dirinya. Kaki-kaki pendek Septa selalu saja tak bisa mencapai punggung boneka unicorn besar itu. Dia akan terjatuh dan terjatuh. Lalu menatap marah kepadaku yang tertawa terbahak-bahak melihat tingkah konyolnya. Biasanya dia akan memukulku dengan tangan kecilnya sambil merengut. Mengemaskan sekali! 

Sekarang hanya tinggal boneka unicornnya. Sedang Septa telah pergi bersama ayah dan ibu meninggalkanku sendiri dalam kesepian yang ku benci. Aku merindukan mereka. Kau tahu betapa besar kerinduan kepada mereka? Aku rela menangis berjam-jam hanya untuk mengingat keluargaku. Sampai saat ini. 

__
Sebenarnya, aku tidak suka dengan mbak Rasmi. Wanita pembantu di rumahku dan suaminya yang menyebalkan itu jahat sekali kepadaku. Mereka suka membiarkan aku dengan kesepianku. Bahkan sering mengurungku di kamar seperti saat ini. Sebabnya tak masuk akal dan konyol. Dia bilang aku berisik dan membuat gaduh. Hanya karena aku sedang belajar menyanyi, lalu mereka bisa seenaknya sendiri menghukum ku? Bukankah itu tugas sekolah ku? 

Madame Nnay sudah menyuruhku untuk menghafal beberapa lagu untuk persiapan pentas Juli nanti di sekolah. Dan aku harus bisa mengatasi gugupku. Kau tahu kan? Aku memang sering tiba-tiba terlupa lirik lagunya ketika menyanyi di depan kelas. Bukan karena benar-benar lupa? Entahlah.. Sesuatu seperti hilang sendiri dari memori otakku. Dan aku pasti berhenti terdiam, tak mampu melanjutkan laguku. Padahal lagu itu tiap hari kunyanyikan di rumah sampai selesai. Dan aku hapal syairnya di luar kepala. Kata madame Nnay, itu karena aku gugup. Dan bukan lupa. 

Menurut madame Nnay, aku hanya perlu berpikir bahwa aku sedang menyanyi sendirian tanpa ada yang menonton atau sedang memperhatikanku ketika di depan kelas atau di panggung sekalipun. Dan aku harus bisa mencobanya dengan berlatih bernyanyi kecil saat pulang sekolah. Atau saat istirahat siang. Pasti aku bisa mengalahkan gugupku. 

Sekarang ini aku berusaha mencari sesuatu hal yang lain untuk menambah semangatku. Aku bernyanyi untuk Septa! Aku bernyanyi seolah si lucu itu sedang menonton dan terlena mendengar nyanyianku. Bukankah madame Nnay sudah mengakui kalau suaraku indah? Seperti suara penyanyi cilik idolaku! Dan jangan kalian menyangkalnya. Bila aku sedang bernyanyi di hadapan kalian, pasti kalian akan setuju dengan pendapat madame Nnay. 

Kembali kepada Mbak Rasmi dan Mr Ipul yang menyebalkan itu. Suatu hari ketika aku ingin mengambil buah di kulkas, aku mendengar suara mbak Rasmi dan Mr Ipul yang sedang memangkas taman belakang. Mereka lebih peduli dengan daun dan ranting yang berlomba memanjang dan menolak untuk rapi. Hari ini dipangkas, pasti besok ada yang berlomba untuk memanjang lagi. Dan Mbak Rasmi akhirnya membiarkan aku kesepian lagi. Begitu setiap sore membuatku merasa sebal dengan pekerjaan mereka dan gunting-gunting taman yang lebih dekat dengan mereka daripada aku. 

Sore itu aku mengendap-endap keluar dari penjaraku. Aku lapar, sedang masakan mbak Rasmi terlalu pedas. Di kulkas pasti ada sesuatu untuk perutku yang menjerit lebih keras dari suara nyanyian merduku. Dan -sini ku bisiki kalian- aku mendengar mereka sedang merencanakan sesuatu yang buruk. Mereka berkasak kusuk tentang lemari pakaian ibu, mungkin berencana mencuri perhiasan ibu dari kamar pribadi mendiang. Ketidak sengajaanku mendengar rencana mereka yang penuh kejahatan, memicu kemarahan yang meluap-luap, membuatku memutuskan harus segera bertindak. Aku menyiapkan sebuah rencana. 

Aku tidak jadi membuka kulkas. Aku berjingkat keluar dari dapur dengan hati-hati supaya mereka tidak tahu kalau aku sudah mencuri dengar. 

Guling besar dan kain putih dari dalam lemari besar yang ku ubah menjadi hantu ibu, serta boneka-boneka besar yang ku hubungkan dengan tali, ku siapkan untuk menghantui mereka. Dan pintu kamar ibu sedikit ku buka supaya mereka bisa masuk tanpa merusak pintu. Ku pindahkan semua perhiasan ibu ke dalam kamarku. Dan ku simpan di tempat yang tidak ada seorangpun bisa mencarinya. Di sebuah tas kecil berwarna Pink milik Septa. Ya, pasti tak akan pernah bisa ditemukan oleh mereka. 

Belum sampai malam, mereka memberiku makan seperti layaknya memberi makan binatang. Mereka menata makan malamku di meja besar dan meninggalkan aku layaknya kucing yang sendirian di tempat makannya. Aku tak peduli. Kali ini aku tak mau bertingkah seolah-olah sedang merencanakan sesuatu. Itu bisa membuat aku ketahuan. Ku habiskan makan malam dengan cepat. Lalu ku bawa air minum di botol untuk segera bersembunyi di kamarku. Dan aku pura-pura tidur. 

Benar-benar sesuai rencana. Mbak Rasmi mengintip dari pintu kamarku yang ku buka sedikit. Rupanya dia perlu memastikan aku sudah lelap apa masih terjaga. Dan berpura-pura tidur adalah keahlian ku sejak aku tidak punya siapa-siapa lagi. Setelah merasa yakin bahwa aku sudah pulas, mereka berjalan pelan mendekati kamar pribadi ibu. Dan aku menghitung satu sampai duapuluh lima dengan harapan mereka sudah berada  tepat di depan pintu kamar ibu. 

Duapuluh lima!

Segera, secepat kilat, ku singkapkan selimutku. Dengan gerakan licik dan langkah pelan, aku segera menuju ke lantai atas di mana tali sudah ku siapkan dan menjadi bagian dari rencanaku. Aku segera menarik tali dari luar. Boneka-boneka itu bergerak dengan gerakan yang mengerikan, seperti hantu yang mengamuk. Jeritan mbak Rasmi dan bang Ipul memecah malam. Ku lihat mereka pontang-panting berebut keluar. Sayang aku tidak bisa menahan diri. Suara tawa tak kusadari terlepas begitu saja dari mulutku membuat bang Ipul menoleh ke arahku. 

Aku kalah cepat. bang Ipul, dengan kecepatan orang dewasa, segera mengejarku. Aku kecil dan tak berdaya di usia 8 tahun. Sedang bang Ipul berkaki panjang sepanjang lengannya. Aku tertangkap. Dengan meronta, dan menjerit mengancam akan melapor kepada pakdhe, aku berusaha melawan. Sayang dia membuatku terdiam karena aku tak bisa bergerak ketika dia mendekap dan mengangkatku kembali ke kamar.  

Mereka memenjarakanku, mengurungku di dalam kamarku sendiri. Di balik dinding kamar itu, aku hanya bisa mencoba menguping. Aku dengar mereka menggerutu panjang lebar karena aku membuat kamar ibu menjadi berantakan dengan boneka-boneka dan kain yang ku/buat menjadi hantu untuk membuat mereka terkejut tadi. 

Tiba-tiba aku mendengar nada suara yang lain dan mencurigakan. Pekik mbak Sarmi begitu nyaringnya sampai menyakiti telingaku. Kemudian di susul suara sumpah serapah bang Ipul. Dan langkah kaki seperti orang berlari? Kenapa mereka berlari? Aku tidak tahu lagi karena tak lama kemudian aku mengantuk dan tertidur pulas sampai pagi. 

Pakdhe paginya datang ke rumah untuk hal rutin. Bukankah hanya pakdhe yang sering datang mengunjungiku tiap hari? Beliau juga sering tidur di kamar depan bila sedang ingin. Dan itu akhir-akhir ini semakin sering. Setiap hari pun, pakdhe selalu menjemputku untuk berangkat sekolah. Dan pulangnya, Mr Ipul yang menjemputku. Tetapi hari itu aku tidak dibangunkan oleh mbak Rasmi. Sehingga pakdhe sendiri yang membuka pintu kamarku. Rupanya wajah beliau bersungut-sungut dan sedang tidak enak hati. Wajahnya berubah kelam sepanjang pagi. Dan hari ini aku diperbolehkan tidak berangkat sekolah. Tetapi sebagai konsekuensinya, aku harus diseret pakdhe ke kamar semalam untuk membereskan property ibu. Sendiri tak boleh dibantu mbak Sarmi!
Setelah sarapan, dengan enggan aku meninggalkan meja makan menuju ke kamar ibu. Pintu dari kayu jati tebal dan berat itu, dengan jengkel, ku dorong sepenuh tenaga sehingga muncul suara berderit kerasmenyakiti telinga. 

"Bria.. Jangan membangkang!"  Teriak pakdhe dari meja makan. 

Kalian tahu? Tebak apa yang ku temukan di kamar ibu. Sebuah pemandangan yang luar biasa. Seingatku aku tidak begitu mengacak-acak tempat ini. Sekarang, semua isi lemari ibu tercerai-berai di seluruh ruangan. Boneka-boneka Septa berserak tergeletak di mana-mana. Satu-satunya tempat yang tidak berantakan adalah tempat tidur besar milik ibu. Boneka unicorn besar itu seperti terbaring menungguku. Aku mendekat. Aku menaiki tempat tidur ibu. Lalu aku memeluk unicorn dengan penuh rindu. Dengan keberadaannya, aku menjadi semangat sekali membereskan kamar. Dan aku lihat pakdhe sekilas mengintip di pintu kamar yang terbuka sedikit dengan tersenyum. Kemudian kudengar dia memanggil mbak Rasmi. Aku mendadak merasa menang. Pasti! Selanjutnya mbak Rasmi yang sibuk membereskan semuanya. Dan aku tertidur di dipan besar ibu sambil memeluk unicorn. 

Bab Sebelumnya | Bab Berikutnya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KARMA-Tuhan yang Kulekatkan di Namaku

UNICORN - Cerita Horor Boneka Arwah Terkutuk

UNICORN - Cerita Horor Boneka Arwah Terkutuk - Bagian 1