CANDRAMAWA – Kisah Siluman Macan Kumbang (Cerita Horor Mistis Legenda Jawa Tengah) - Bagian 7
CHAPTER 05
Anak-anak nakal
Sore yang aneh, aku memutuskan untuk bermain di taman di halaman belakang. Dengan boneka unicorn besar yang ku bawa ke luar, aku merasa seperti kembali ke masa lalu, saat bermain dengan bahagia bersama ayah, ibu dan Septa. Hampir dua tahun aku kehilangan mereka. Sekarang sudah lupa rasanya sedih yang berkepanjangan.
Aku tidak melihat ada matahari saat ini. Tapi aku tidak peduli. Ini taman favorit kami. Aku merasa seperti tinggal di surga kecil. Aku mendorong boneka unicorn itu, membiarkannya berlarian di antara bunga-bunga yang berwarna-warni.
Kadang aku menungganginya. Kadang ku dengar suara tawa Septa seolah nyata terdengar di telingaku, sehingga aku berhenti beberapa kali untuk memastikan itu suaranya. Tetapi tidak ada apa-apa. Hanya aku merasakan sesuatu yang sedikit aneh. Boneka unicorn itu seolah hidup, bergerak dengan lincah dan penuh energi. Dan aku menyukainya. Satu-satunya teman yang tidak pernah membentak dan berkata kasar kepadaku. Satu-satunya teman yang bisa menerimaku apa adanya. Dan baunya wangi sekali. Seperti wewangian Septa setiap kali ibu selesai memandikannya. Aroma yang ku rindukan dan membuatku merasa tenang.
Aku merasa seolah-olah Septa ada di sini sekarang, bersamaku. Dia tampak seperti hantu kecil yang ceria berbentuk boneka unicorn, tetap mengemaskan dan membuatku tertawa terbahak. Wewangian itu menjadikan suasana seperti Septa ikut bermain dalam kegembiraan yang sama. Aku mulai membuat berbagai gerakan konyol, menari berjingkrak-jingkrak dengan menunggangi unicorn lalu berbicara dengan nada-nada lucu.
"Unicorn.. unicorn.. Bilang pada Septa suruh pulang segera.. Bria mau main dengannya.. "
Unicorn seperti menggeleng-gelengkan kepala dalam fantasiku sehingga mirip dengan cara yang sama seperti Septa dulu. Menggeleng-gelengkan kepala sambil melangkah kaku menggodaku. Bisa ku bayangkan tawa Septa yang menggemaskan saat dia melihatku beraksi: aku mulai membuat wajah-wajah lucu, melompat-lompat, dan berpura-pura terjatuh. Keajaiban sore itu seperti meliputi seluruh taman mewujudkan keinginanku.
Di mataku, boneka unicorn tampaknya menari dengan kekonyolan yang menyenangkan, seolah-olah Septa dan aku sedang melakukan pertunjukan teater kecil untuk diri kami sendiri. Tawa ceria Septa, yang tercipta dari kerinduanku, meskipun tak terlihat, seolah menyertai setiap gerakan dan ekspresi yang ku buat.
Aku yakin, Pakdhe yang ku tahu sedang mengawasiku dari jendela lantai dua, tidak tahu bagaimana perasaanku. Baginya mungkin aku cukup bahagia dengan makan enak, ice cream, permen kesukaanku dan mainan yang banyak. Mbak Sarmi dan kang Ipul apa lagi. Mereka bahkan pernah menganggap aku gila karena kegembiraanku. Orang tua yang tak pernah tahu rasanya memiliki anak itu, tahu apa tentang dunia kecilku. Aku benci mereka.
Ceritaku belum selesai. Masih suka menyimak? Atau kalian muak?
Apa aku tidak lupa bercerita bahwa aku berumur 8 tahun. Belum lama ulang tahunku. Dan aku sering berkhayal bahwa tahun menjadi pendek dan aku bisa berulang tahun setiap minggu. Bukankah akan menyenangkan? Setiap minggu paman dan keluarganya datang berkunjung dari jauh membawa hadiah. Juga dari teman-teman pakdhe yang banyak keluarganya, memiliki anak kecil sebayaku, sehingga bisa berlama-lama bermain denganku. Pasti menyenangkan bukan?
Aku sekolah di sekolah swasta terkenal. Pakdhe adalah kepala sekolahku, dan sekolah ini, menurut orang-orang dibangun oleh pakdhe dan ibuku. Dan aku sekarang kelas 2. Temanku banyak sekali. Walau aku lebih suka menyendiri, tetapi ibu-ibu temanku selalu menyarankan anak-anak mereka mendekati dan bermain denganku. Jadi kalian sekarang tahu kalau aku populer di sekolah, bukan? Terutama di kalangan orang tua murid.
Hanya ada beberapa anak kelas 3 yang harusnya sibuk belajar, malah sering iseng dan jahil kepadaku. Tapi aku suka. Aku jadi punya kegiatan menjahili balik mereka. Toh akhirnya hanya nasehat dari guru saja hukumanku. Sedang untuk mereka, pasti hukuman disiplin yang memalukan. Veni, rumahnya tepat di sebelah rumahku, adalah kepala kelompok gadis jahil kelas 3. Dan aku suka mencari gara-gara dengannya.
Tubuh tambun yang gembul itu pasti lucu kalau dihukum berdiri di satu kaki. Aku hanya perlu berteriak dan menangis keras-keras supaya mendapat perhatian guru dan wali kelas. Dan aku akan bertaruh dengan Ricky perihal hukuman apa yang akan diberikan guru kepada mereka di halaman sekolah.
Aku memang sering merebut bekal Ricky dengan sering memenangkan tebakan itu.
Aku suka bekal Ricky. Masakan ibunya enak sekali. Sedang mbak Rasmi tidak pernah memasak seenak itu. Dan Ricky itu, dia tidak bisa mendapat apapun bila menang tebakan karena aku tak pernah membawa bekal. Setiap mbaj Rasmi memasak, aku selalu memberikan itu kepada Anne yang miskin dan kasihan. Bukankah pakdhe pernah ku bilang bahwa aku lebih suka Chiko Fried Chicken? Renyah dan enak. Tetapi mbak Rasmi terlalu pelit untuk membelikan aku.
__
Pada suatu sore yang tampaknya cerah, geng Vani berkumpul, di kebun belakang rumah Vani tentunya. Mereka mengawasi rumahku. Sepertinya mereka tidak puas karena siang tadi telah dihukum oleh guru di lapangan sekolah karena membuatku menangis keras. Vani tahu aku sering bermain di taman belakang di waktu seperti ini. Dia dan gengnya pasti sedang menyusun bangku untuk bisa melihatku dari tembok pagar pendeknya.
Dengan kebencian dan iri yang membara, mereka pasti sedang merencanakan sesuatu, atau mencoba menakut-nakutiku dengan permainan bodoh mereka tentu saja. Sore itu rupanya mereka benar-benar merencanakan sesuatu yang buruk untuk balas dendam.
Aku tidak tahu kalau mereka sedang menyiapkan banyak bola-bola plastik berisi air kotor yang akan mereka lempar kepadaku yang sedang tidak memperhatikan mereka. Dan benar saja. Enam orang masing-masing menyiapkan beberapa bola air kotor, siap menyerang dari balik tembok pembatas yang tidak terlalu tinggi. Kau bahkan bisa melihatku dengan hanya naik dari atas bangku yang kau susun merapat di dinding. Dan sudah pasti aku akan tetap tidak menyadarinya karena aku tidak melihat keberadaan mereka.
Satu.. Dua.. Tiga!!
Belasan bola plastik berisi air kotor berturut-turut melayang dengan cepat ke arahku. Dan aku masih belum menyadari apa yang akan terjadi. Mungkin karena ada sesuatu yang menjadi pelindungku, peri pelindungku? Ya, pasti!
Tiba-tiba serangan itu terhenti di udara. Veni dan gerombolannya tercekat. Mereka hanya bisa terdiam membisu tanpa bergerak sama sekali. Sekejap berikutnya, bola-bola air itu kembali ke pelemparnya dengan kecepatan ganda.
Dan byur..!!
Aku terkejut ketika mendengar mereka menjerit dari tembok pendek pembatas halaman kami.
Baru ku sadari kehadiran mereka dari suara riuh rendah mereka. Vani benar-benar syok dan ketakutan. Pasti teman lainnya juga begitu. Karena sejak saat itu, mereka seperti ketakutan setiap kali melihatku.
Komentar
Posting Komentar