CANDRAMAWA – Kisah Siluman Macan Kumbang (Cerita Horor Mistis Legenda Jawa Tengah) - Bagian 7
CHAPTER 06
Madame Mock
Suatu sore yang lain, mbak Rasmi sedang menemaniku belajar sambil mengambil video kegiatanku sepanjang waktu belajar. Aku benci hal itu. Si pelapor itu selalu saja membuat aku mendapatkan teguran dari pakdhe.
Dan tak lama kemudian pakdhe datang. Kali ini aku salah apa? Bukannya mbak Rasmi tidak mengirimkan video yang lain selain kegiatan belajarku? Pasti pengadu itu bicara yang tidak-tidak kepada pakdhe. Aku tidak terlalu mau pusing memikirkannya. Yang aku tahu, hari ini aku tidak membuat kesalahan apapun. Bahkan aku jadi malas bermain unicorn karena sibuk menduga-duga apa yang telah disampaikan mrs Rasmi kepada pakdhe.
Tetapi ternyata pakdhe tidak bertujuan untuk menegurku. Rupanya dia sedang menunggu tamunya dengan duduk di ruang depan. Tampak bang Ipul datang membawa beberapa orang berpakaian aneh dan sedikit seram. Apa tujuannya? Ternyata mereka tidak datang untukku. Tetapi untuk keliling ruangan hingga sudut-sudut rumah ini. Apa pakdhe berniat menawarkan rumah ini kepada orang-orang itu? Atau ada hal lain? Mendadak aku menjadi gelisah. Sesuatu seperti mengusik dan mengancamku. Aku tahu kalau itu mengancam. Sesuatu seperti berbisik kepadaku.
____
Seorang wanita, salah satu dari empat tamu pakdhe, datang menghampiriku. Dia cantik dan sedikit lebih tua dari mendiang ibu. Dan senyumnya itu.. Sangat teduh dan penuh kasih sayang kepadaku. Andaikata Mrs Rasmi mau bersikap lembut seperti dia, pasti aku akan memaafkan semua kesalahannya di waktu lalu. Sayang, mbak Rasmi itu tak bisa berubah. Wataknya selalu kaku dan suka melarangmu melakukan apa saja yang ingin kau lakukan. Menyebalkan.
"Aduh.. Cantik sekali. Siapa namamu nak? " Tanya wanita itu.
"Bria, anda siapa?" kataku sambil balik bertanya.
"Panggil saya madame Mock. Saya suka sekali dengan gadis kecil yang menggemaskan sepertimu. Kau suka bermain?" Tanya wanita yang mengaku madame Mock itu.
"Tentu. Aku suka bermain dengan boneka unicornku. Aku juga suka bernyanyi. Kata madame Nnay, aku pintar bernyanyi. Suaraku merdu," jawabku jujur. Bukankah madame Nnay selalu bilang begitu? Suaraku memang merdu. Boneka unicornku selalu terlihat gembira mendengarkan aku bernyanyi untuknya. Dan aku juga sudah tidak gugup lagi bila menyanyi di depan kelas. Karena aku membayangkan Septa dan boneka unicorn sedang menontonku bernyanyi.
"Wow. Luar biasa. Kau pandai menyanyi rupanya. Apa kau bercita-cita menjadi penyanyi?" Tanya madame Mock kepadaku.
Aku benar-benar bingung menjawab pertanyaan itu. Madame Mock ini benar-benar seperti madame Nnay yang seakan ingin aku menjadi seorang penyanyi bila sudah besar nanti. Padahal aku hanya ingin bergembira saja. Aku tak tahu nanti akan menjadi apa? Guru menyanyi seperti madame Nnay? Atau kepala sekolah yang selalu dihormati orang seperti pakdhe? Atau seperti pakdhe sendiri yang bebas menghukum siapa saja yang nakal tanpa ada yang berani melawannya, termasuk aku.
Madame Mock tertawa memperlihatkan deretan giginya yang putih dan indah. Dia sering menggosok gigi dengan rajin tampaknya. Bukankah gigiku sudah banyak yang tanggal dan aku pernah nyaris ompong? Untung beberapa kemudian tumbuh lagi. Hanya tinggal sedikit yang masih goyang dan sering ku mainkan dengan lidah. Tetapi tidak tanggal-tanggal juga.
"Kau masih kecil. Wajar bila belum tahu tentang cita-cita. Ibu mau tanya, apa yang kau inginkan? Atau ingin menjadi seperti siapa bila sudah besar nanti?"
"Saya tidak ingin apa-apa. Tetapi yang pasti saya ingin banyak teman. Eh.. Kenapa madame menanyakan itu?" tanyaku segera. Apakah dia datang untuk mendidikku? Menjadi guru pembimbingku? Pasti menyenangkan sekali. Madame itu kembali tertawa. Pasti dia seorang yang periang. Bukan pemurung sepertiku. Pasti banyak sekali temannya.
"Apa pakdhe meminta madame untuk menjadi guru privatku? Ricky juga punya guru privat. Tetapi dia tidak menyukainya karena gurunya menyukai ayahnya. Mereka selalu bicara dengan berbisik-bisik!" kataku menceritakan tingkah laku tidak sopan guru pembimbing Ricky.
"Eit! Tidak boleh membicarakan orang dewasa. Itu tidak baik. Ok.. Saya hanya diminta datang untuk memeriksa keadaanmu. Itu saja!" kata madame Mock membuatku heran.
Aku baik-baik saja dan sedang tidak sakit. Aku sehat. Hanya kali ini aku sedang malas. Mbak Rasmi si tukang lapor itu membuatku tidak suka tinggal di sini. Tetapi aku tetap baik-baik saja. Toh aku tak pernah peduli kepadanya. Jadi madame ini hanya diminta melihat keadaanku saja. Dan setelah tahu aku baik-baik saja, selanjutnya dia mau apa?
"Anda tidak akan tinggal di sini?" tanyaku berikutnya. Aku sedikit berharap.
Madame Mock tersenyum lagi, "tidak. Saya tidak diminta tinggal. Tetapi kalau kau mau, kau bisa meminta madame untuk sebentar-sebentar menengokmu!" katanya menghibur. Aku suka dia. Cantik dan dewasa. Tidak seperti mbak Rasmi yang bawel dan usil. Suka melarang dan pernah membentakku dengan kasar. Tetapi pakdhe selalu membelanya. Seandainya si cantik lembut ini menggantikannya, pasti masakannya enak. Dan aku pasti suka.
"Madame bekerja di keluarga siapa? Saya bisa minta bantuan pakdhe untuk memindahkan anda ke rumah ini. Saya suka kepada anda. Cantik sekali seperti ibu saya!" kataku mencoba merayu. Dan dia tersenyum lagi. Ibu... Dia benar-benar sepertimu. Suka tersenyum kepadaku.
"Baik. Nanti akan saya bicarakan. Untuk hari ini, saya sudah melihat keadaanmu baik-baik saja. Dan madame berjanji akan sekali sekali melihatmu!" kata madame Mock lembut. Dan aku hanya bisa kembali bersedih. Tetapi bukankah dia sudah berjanji? Aku bisa menagihnya kapan saja. Awas kalau berbohong!
___
Keesokan harinya, aku kesiangan. Dan hawa pagi begitu dingin. Dari jendela kamar tidurku, aku melihat hujan sedang turun dengan derasnya. Pasti pakdhe juga akan malas menjemputku. Kenapa aku bisa terbangun sesiang ini? Mungkin karena aku lama bermimpi bermain dengan Septa dan boneka unicorn. Kami mengerjai Mbak Rasmi yang menyebalkan itu sampai dia berteriak-teriak histeris. Toh aku hanya menumpangkan secarik kain putih di punggung unicorn yang sedang digendong Septa sambil berlari mengelilingi ruang tengah? Bukankah itu tidak mengganggu barang-barang di dalam rumah? Mungkin hanya sebuah vas keramik ibu yang dilempar Septa ke tengah ruangan. Tetapi kenapa harus sepanik dan setakut itu? Bukankah itu hanya dalam mimpi?
Aku yakin sebentar lagi pasti mbak Rasmi akan marah besar karena pintu kamar ku kunci dari dalam dan dia tidak bisa membukanya untuk membangunkan aku. Dengan enggan aku turun dari ranjang. Selimutku ku biarkan begitu saja. Itu pekerjaan mbak Rasmi untuk membereskannya, seperti yang biasa dilakukannya setiap pagi. Dengan sandal buaya, aku melangkah ke pintu. Suara klik terdengar begitu aku membukanya. Dan kulihat ruang tengah sepi. Hanya.. Sedikit berantakan.
Sejak kapan mbak Rasmi lalai untuk membersihkan ruang tengah? Barang-barang mainanku di sebar berantakan. Juga barang-barang Septa. Dan beberapa baju ibu yang indah dan cantik, seandainya ibu masih hidup, tentu beliau akan murka berat. Dan Mbak Rasmi bisa dipecat segera.
Aku berjalan menuju boneka unicorn yang tergeletak di tengah ruang luas itu. Dan ku gendong untuk ku bawa kembali masuk kekamar tidurku. Sayang sekali bila dia ikut berantakan di situ. Belum mencapai pintu kamarku, aku mendengar suara wanita merintih kesakitan. Aku menoleh kearahnya.
Ya ampun.. Itu mbak Rasmi. Kenapa dia sampai tertindih almari besar berisi barang-barang antik ibu? Apakah dia mau mencuri sesuatu dengan memanjat almari besar itu? Pasti almari itu terguling ketika tubuh gendut mbak Rasmi memanjatnya. Dasar kurang kerjaan. Apa gaji dari pakdhe kurang sampai harus mencuri sesuatu dari rumah ini?
Aku menghampiri mbak Rasmi dengan boneka unicorn masih dalam dekapan ku. Tampak dia begitu ketakutan. Dan kulihat ketakutannya mampu mengalahkan rasa sakitnya. Dia tak mampu bicara karena punggungnya terjepit almari yang berat. Aku mencoba mengangkat almarhum yang menindih tubuh mbak Rasmi. Berat sekali!Bagaimana aku bisa membantunya? Kemudian aku teringat dengan pakdhe. Aku berlari menuju buffet tempat telepon rumah diletakkan di atasnya. Dan aku memutar nomor-nomor yang dulu selalu kugunakan bila ingin bicara dengan ibu. Nomor yang tertulis di sebuah mika yang menempel di kayu buffet.
"Pakdhe tolong Mbak Rasmi! Dia terjepit almari besar sampai tidak bisa bergerak. Bang Ipul tidak ada di rumah. Cepat datang bantu mbak Rasmi, ya!"
Kemudian aku meninggalkan ruang tengah menuju ke dapur untuk mencari sarapan. Nah! Kenapa bang ioul Malah tertidur pulas di depan pintu? Apa mereka tidak tidur di kamar mereka sendiri semalam? Aneh-aneh saja orang tua-orang tua itu! Aku tak mau mengganggu tidur bang ioul yang sepertinya lelap sekali. Aku terpaksa melangkahi tubuhnya dengan hati-hati supaya tidak mengejutkannya.
Duh.. Sesiang ini meja dapur bahkan kosong sama sekali. Apa yang dilakukan mbak Rasmi sampai teledor tidak memasak sesuatu pun hari ini. Aku lapar! Aku jadi jengkel sekali. Dan dengan unicorn yang masih ku dekap, aku kembali ke ruang tengah. Mbak Rasmi masih tetap saja begitu. Pantas saja kalau dia tidak masak dari pagi karena mau mencuri barang-barang mahal ibu.
"Mbak Rasmi ini tidak mau memasak untukku, ya! Aku lapar!" teriakku kepadanya. Aku pukulan boneka unicorn ke kepalanya beberapa kali tanda aku jengkel sekali. Dan ku lihat dia hanya diam sambil meneteskan air mata. Wanita itu bisa menangis? Apa dia mengakui kesalahannya dan kemudian hendak meminta maaf karena telah berlaku teledor dalam pekerjaannya? Dia minta maaf dengan menangis? Akupun jadi kasihan kepadanya. Dan aku meletakkan boneka unicorn Septa untuk mencoba mengangkat kembali almari yang menghimpit tubuhnya.
Tetapi aku tidak sekuat itu. Beberapa kali mencoba mengerahkan tenaga, almari itu bahkan tidak bergerak sama sekali. Untung sekali pintu depan ada yang membuka paksa. Dan beberapa orang berseragam polisi datang bersama pakdhe. Mereka melihatku sedang berusaha mengangkat almari besar itu tetapi tidak mampu. Dan kemudian petugas-petugas itu yang melakukannya menggantikan aku. Pakdhe segera menggendong dan membawa aku minggir ke ruang depan. Di sana dia memeriksa sekujur tubuhku.
"Kau baik-baik saja Bria? Pakdhe khawatir sekali dengan keadaanmu!" kata pakdhe dengan lembut. Dan aku hanya bisa menjawabnya dengan kata pendek.
"Bria lapar.."
___
Hari itu pakdhe membawa aku ke Chiko Fried Chicken kesukaanku. Dan aku sarapan dengan senang. Hari yang menyenangkan pikirku. Setelah itu, pakdhe membawaku ke rumah sakit tempat polisi membawa mbak Rasmi dan bang Ipul. Dan mbak Rasmi kembali ketakutan sampai menjerit histeris ketika melihatku bersama pakdhe. Nah.. Apa yang membuat Mrs Rasmi menjadi seperti itu? Toh kami menjenguknya dengan baik-baik. Aku juga tidak bermaksud memarahinya lagi. Aku sudah sarapan dengan pakdhe di luar.
Bang Ipul itu lebih menjengkelkan lagi. Dia malah meminta pakdhe untuk keluar meninggalkan ruang rawat mbak Rasmi. Kasar sekali permintaannya. Dan pakdhe memilih keluar meninggalkan ruang itu. Dia menggendong dan mengajakku menemui seorang petugas yang tadi ikut membantu mengangkat lemari besar yang menghimpit mbak Rasmi. Kami duduk di ruang tunggu rumah sakit yang tenang dan sejuk. Ketika Pakdhe bicara dengan petugas, aku duduk sendiri menatap seorang nenek yang ditemani seorang perawat cantik. Mereka tersenyum padaku.
___
"Kondisi psikologisnya benar-benar sedang labil. Dia merasa sangat ketakutan. Apalagi setiap kali dia melihat anak ini!" kata petugas yang berbicara dengan pakdhe sambil menunjuk ke arahku. Dan pakdhe heran sekali mendengarnya. Jelas heran! Aku juga heran. Selama ini mbak Rasmi sering mengurungku sendirian di kamar. Dan itu bukan oerasaan takut yang dia perlihatkan kepadaku. Kenapa begitu dia celaka sampai di rawat di sini malah berpura-pura takut dan benci kepadaku. Akulah yang membencinya karena kelakuannya. Pasti dia akan menghasut orang-orang untuk membenci dan kemudian menyusun rencana untuk menyingkirkanku. Tidak akan ku biarkan dia berlaku seperti itu.
"Maaf, boleh bicara berdua dengan anda. Mohon supaya anak asuh anda tidak mendengarnya. Riskan sekali dan bisa mempengaruhi psikologisnya!" kata petugas itu. Pakdhe mengangguk dan memintaku tetap duduk diruang tunggu sampai dia kembali menjemputku. Dia bilang hanya akan sebentar saja. Aku hanya berani mengangguk. Dan seorang perawat yang menjaga seorang nenek nenek tua di dekatku tadi, dengan senang hati menemaniku. Dengan bibi perawat dan nenek baik itu, aku tidak akan kesepian lagi.
Komentar
Posting Komentar