CANDRAMAWA – Kisah Siluman Macan Kumbang (Cerita Horor Mistis Legenda Jawa Tengah) - Bagian 7
CHAPTER 07
Orang Dewasa Yang Suka Berbohong
Setelah dari rumah sakit hari itu, pakdhe menemaniku di rumah. Beliau membiarkan aku main boneka di kamarku. Sampai kemudian sekitar setengah delapan malam, pintu depan tampaknya ada seseorang. Bel berbunyi membuat aku keluar untuk memberi tahu pakdhe bahwa ada tamu yang datang. Ternyata pakdhe sudah membuka pintu. Dan tamunya adalah...
Aku senang sekali. Madame Mock ikut datang bersama tiga lelaki seusia pakdhe. Dan madame Mock langsung menghampiri setelah melihatku. Aku memohon kepada madame Mock untuk ikut ke dalam kamarku. Ini urusan perempuan. Dan lelaki tidak boleh tahu.
Pakdhe membiarkan madame Mock aku tuntun masuk ke kamar. Sebuah ruang pribadi yang tak ku biarkan orang lain, apa lagi para lelaki, untuk memasukinya kecuali pakdheku. Dan madame Mock pasti suka dengan kerapianku. Mbak Rasmi memang suka membersihkan kamar ini. Tetapi aku sering menata ulang karena dia selalu membawa keluar boneka unicorn Septa yang selalu menemaniku. Saat ini aku ingin menceritakan mimpiku semalam. Sebuah kegembiraan yang aku alami bersama Septa dan boneka unicorn.
Tahukah bahwa madame Mock saat ini sedang tertarik dengan bonekaku. Menurut madame dia cantik dan menggemaskan. Aku juga sependapat. Tidak ada boneka yang selucu dia. Walaupun ada yang sama dan sebesar itu, tetapi unicorn ini yang paling menarik bagiku. Aku tak mau yang lain.
"Kau suka dengan boneka ini?" Tanya madame Mock tiba-tiba. Dia duduk di pinggir ranjang dan membelai suri dari benang halus di punuk unicorn. Dan aku sedang memeluknya erat-erat.
"Aku sangat suka. Dan dia juga menyukaiku. Anda mau saya ceritakan sesuatu? Kami bermain dengan gembira semalaman. Dan itu membuatku kesiangan sehingga tidak berangkat sekolah!" kataku membuka cerita.
"O ya? Benarkah?" madame sepertinya antusias hendak mendengar ceritaku. Dan pasti dia akan takjub mendengar nya.
"Ya.. Kami bermain semalaman. Dan tahukah, adik saya yang bernama Septa juga ikut bermain. Kami keluarkan semua mainan yang kami miliki. Dan tidak ada yang mengganggu kami. mbak Rasmi itu, dalam mimpi dia merasa terganggu. Dan memarahi kami. Terutama saya."
"Septa marah kepada mbak Rasmi. Dan unicorn kami juga marah kepadanya. Tetapi mbaj Rasmi itu wanita dewasa. Kami kalah kuat bila melawannya tentu saja. Akhirnya saya meninggalkan mereka kembali ke tempat tidur. Dan karena kelelahan bermain, saya pun mengantuk. Tak lama kemudian Septa dan unicorn ini menyusul berbaring di sebelah saya. Kami berdua berangkat tidur sambil memeluk unicorn. Semua seperti nyata. Saya kemudian menyanyikan lagu kesukaan Septa dan boneka unicorn kami tertidur pulas sekali!" aku mengakhiri ceritaku. Ku lihat madame Mock hanya diam menatap unicorn yang ku peluk erat.
"Anda mendengarkan?" tanyaku penasaran. Wanita itu kembali tersenyum. Dia benar-benar seperti ibu.
"Tentu. Seru sekali kedengarannya. Pasti akan lebih seru bila nyata terjadi bukan?" Jawab wanita itu.
"Ya.. Saya ingin itu Nyata!" jawabku.
"Bria sayang, madame tahu bahwa kau sangat merindukan adikmu. Pasti kau ingin adikmu tetap menghiburmu dengan kelucuan tingkahnya. Madame membayangkan dia pasti juga merasa rindu di alam sana. Tetapi kau juga harus mengerti, sayang, Septa sudah pergi. Pergi ke surga dengan ayah dan ibu mu. Madame berharap engkau mau melepaskan keinginanmu untuk bersamanya. Kasihan adikmu!" kata madame Mock lembut.
Seharusnya aku suka dengan kelembutan bicaranya. Tetapi aku mendadak tidak suka karena madame Mock mengingatkanku bahwa Septa telah pergi jauh. Septa memang sudah meninggal. Tetapi aku masih ingin menggenangnya. Membuatnya nyata dalam dunia khayalku. Lalu kami bisa bermain dengan gembira tanpa ada yang mengganggu. Tidak mbak Rasmi, tidak bang Ipul, juga tidak madame Mock. Mereka ternyata sama saja. Tidak pernah mengerti perasaanku.
"Semua orang ingin aku melupakan Septa. Bagaimana bisa? Saya pikir anda akan mendukung saya. Tetapi semua orang dewasa sama egoisnya. Toh itu hanya mimpi. Walau saya ingin menjadi nyata, tetapi saya tahu itu tidak mungkin. Makanya saya hanya bisa bermain dengan unicorn untuk tetap membuat Septa ada. Saya menyesal bercerita dan mempercayai anda!" kataku kecewa.
"Bukan begitu sayang. Saya sangat mengerti perasaanmu. Boleh memelihara kenangan indah bersama Septa. Dan itu harus. Kita tidak bisa membiarkan kenangan itu hilang begitu saja. Tetapi ada kalanya kita harus menghadapi kenyataan hidup. Bukankah kita hidup dalam dunia nyata?" kata madame Mock menjelaskan maksudnya. Aneh sekali. Aku tidak mengerti maksudnya. Wanita cantik itu menegurku dengan bahasa yang lembut seperti ibu. Seperti air di permukaan tanah yang tandus. Selalu saja membuat aku diam dan menurut. Ya.. Madame Mock selalu mengingatkanku kepada ibu. Dan aku merindukannya. Ku pegang tangan Madame cantik itu dengan kerinduan kepada sosok ibu yang teramat sangat.
Madame cantik itu tersenyum menenangkanku sampai akhirnya aku mengantuk, mataku tiba-tiba terpejam. Aku mulai bermimpi. Mimpi yang menyenangkan, seperti yang hadir setiap malam!
Malam itu aku tiba-tiba terjaga. Dalam mimpiku, boneka unicorn tiba-tiba berubah menjadi hidup. Dan Septa memegangnya dengan tangan kanannya.
Bukan..
Bukan Septa! Dia berubah menjadi wanita dewasa yang berambut panjang mengeriap. Dia sedang marah. Aku bisa melihat dari matanya yang memerah. Tajam berkilat menatapku yang tadi tak sengaja menyebut namanya perlahan.
Wanita penjelmaan Septa itu benar-benar keluar dari mimpiku. Dia berada di kamarku sekarang.
Tak tahu darimana asalnya, segumpal asap tipis kehitaman, tiba-tiba muncul menyelimuti tubuhnya. Dan dalam sekejap dia berubah menjadi Septa yang kurindukan. Benar-benar Septa yang kurindukan.
"Septa..!" gumamku sekali lagi. Dan sekarang dia menoleh ke arah ku.
Sedang dia menatap kearah Madame Mock yang ku lihat tertidur di atas lantai yang dingin tanpa alas tikar sama sekali. Aku ingin membangunkannya agar dia berpindah ke ranjangku yang luas. Dan kami bisa berbagi. Juga dengan Septa, adikku.
__
Aku bangkit perlahan untuk mendekati Madame Mock yang sepertinya pulas tertidur. Tetapi Septa merapatkan jari telunjuk ya ke bibir tanda aku tidak boleh mengganggu wanita lembut yang seperti penjelmaan ibu di mata ku. Dan aku tak sempat berpikir panjang karena kegaduhan mendadak terjadi di depan pintu kamarku.
Pintu itu dibuka paksa oleh beberapa lelaki yang aku tahu bahwa mereka adalah tamu pakdhe. Aku terkejut dan khawatir. Mereka kasar sekali. Mataku melirik ke arah adik kecilku. Tetapi dia sudah tidak ada lagi. Dan aku mencarinya kemana-mana, toh ruang kamarku bukan kebun belakang. Seharusnya aku bisa dengan mudah menemukannya. Tetapi Septa telah menghilang seperti bersembunyi di dalam tembok kamar yang tebal berlapis wallpaper kesukaan kami.
Pakdhe segera mendekapku dan membawaku keluar kamar. Aku terkejut dan meronta hendak melepaskan diri. Tetapi aku hanya anak kecil yang lemah. Tak mampu melawan tenaga pakdhe yang begitu kuat mendekapku penuh perasaan khawatir. Aku hanya bisa merasakan kekhawatirannya tanpa tahu sebabnya. Dan itu membuatku terdiam. Saat itu, dalam pikiranku hanya tertuju kepada adik kecilku. Pasti dia sedang bersembunyi di balik tembok kamarku. Dia takut kepada tiga lelaki kasar tamu pakdheku. Dan aku yakin setelah mereka pergi, aku pasti akan bisa menemuinya lagi. Lalu tanpa ku sadari, aku kembali tertidur di dalam pelukan pakdhe.
Malam semakin larut. Ketika kembali terjaga, ku temukan diriku tertidur di sofa dengan selimut hangat milik pakdhe. Aku tahu itu milik pakdhe karena mbak Rasmi sering merapikan kamarnya. Dan aku sering ikut bersamanya.
Di ruang tamu itu, aku mendengar suara ketiga lelaki tamu pakdhe sedang berbicara serius dengan beliau. Dan ku dengar juga suara Madame Mock yang terdengar letih dan lemah. Dan aku memilih pura-pura tertidur karena tak mau melihat ketiga lelaki itu. Dan karenanya, aku bisa mendengar dengan jelas apa yang sedang mereka bicarakan.
"Apa saya harus mengungsikan dia ketempat yang lebih aman? Jauh dari rumah ini?" tanya pakdhe kepada tamunya.
"Kemana saja anda memindahkan dia, tidak akan menyelesaikan masalah. Makhluk itu sudah terikat dengannya. Bersemayam di dalam pikirannya. Dia bisa muncul di mana saja ketika anak itu memikirkan keluarganya!" Jawab lelaki yang bersuara berat dan menggetarkan. Aku akan sebut dia si suara geledek karena getaran suara itu menyakiti dadaku.
"Kami akan berusaha menaklukkan dia di dunia mimpinya, tetapi itu akan membutuhkan banyak waktu dan tidak bisa secepat yang kita inginkan!" kata yang bicara dengan suara "cempreng" dan aku akan mengingatnya sebagai si cempreng. Tentu dia yang kurus tinggi seperti Ricky yang bekal makannya selalu bisa berpindah ke tanganku tanpa protes. Jelas si cempreng ini seperti dia di masa kecilnya. Dan aku yakin sampai sekarang dia masih membenci sayuran. Karena Ricky juga sama. Menyedihkan sekali.
Sedang lelaki yang paling muda itu sedikitpun tak membuka suara. Dia mungkin jarang menggosok giginya sehingga sakit gigi dan tidak bisa membuka mulutnya. Seperti si Veni ketika dia sakit gigi. Dan aku selalu memancing kemarahannya. Dia pasti mencak-mencak seperti cacing kepanasan karena ulahku. Dan ku lihat betapa sebelah pipinya menjadi semakin bengkak melebihi besarnya bakpao daging yang di jual pedagang gerobak dorong di depan gerbang sekolah. Aku selalu bisa menertawakannya. Dan aku yakin sekali, lelaki yang satu itu sedang merasakan sakit yang sangat menjengkelkan karena sakit giginya.
Aku sebenarnya memiliki saran supaya dia berobat saja di klinik dokter gigi yang berwajah menyeramkan di seberang rumah. Walau aku sendiri tidak mau, tetapi untuk orang dewasa harus mau. Sebenarnya, melihat kliniknya saja aku merasakan gigi sehatku menjadi sakit mendadak. Apalagi bila benar-benar sakit gigi? Dan Veni bilang mereka menggunakan bor tembok untuk melobangi giginya, lalu menambalnya dengan semen. Mengerikan sekali. Dan aku tak mau kesana bila nanti sakit gigi.
"Memang butuh waktu... Dan saya yakin bisa membantunya. Saya hanya minta anda mengijinkan saya untuk tinggal bersamanya!" kata Madame Mock perlahan.
"Tetapi anda baru saja dibuat pingsan oleh makhluk itu!" kata si suara geledek. Dia seperti mencemaskan keadaan Madame Mock. Aku benar-benar heran. Sebenarnya mereka sedang membicarakan apa? Seekor makhluk? Apa ada ular berbisa masuk ke rumah ini? Bahaya sekali kalau ada ular masuk.
"Saya tidak keberatan. Malah berterimakasih sekali. Rasmi dan Ipul sudah benar-benar menyerah. Bahkan nyawa mereka benar-benar terancam. Makhluk itu benar-benar kuat. Dari cctv di kamar, saya bisa menyaksikan betapa tepat alasan mereka mengundurkan diri dari rumah ini. Saya tidak bisa menjamin keselamatan mereka!" kata pakdhe prihatin. Jadi kedua pembantu itu benar-benar sudah keluar dari pekerjaannya. Dia pergi dari rumah ini, itu berarti aku tidak akan terusik oleh mereka lagi.
"Saya pikir dia harus tinggal di rumah sementara. Dia bisa membahayakan teman-temannya. Bukankah sudah ada yang melaporkan bahwa beberapa anak teraniaya sampai terjatuh dari bangku mereka?" kata si cempreng.
"Nanti akan banyak lagi bila makhluk itu sudah mendominasi pikirannya. Dan itulah saat paling berbahaya. Berpikir sedikit saja maka dia bisa muncul sewaktu waktu!" sambung si suara geledek.
Sebenarnya ini tentang apa? Aku semakin tidak mengerti. Otakku tidak bisa menjangkau pemikiran orang dewasa. Sementara mereka berbicara serius, tiba-tiba aku mengantuk lagi. Dan akhirnya tertidur pulas dan tidak mendengar apa-apa lagi.
Dalam tidurku, aku mendengar seorang membisikkan namaku.
"Bria.. Sayangku.. Jangan biarkan dia masuk. Dia bukan adikmu. Dia adalah makhluk jahat yang menyamar sebagai adikmu. Jangan biarkan dia masuk, Bria.. "
Itu suara lembut Madame Mock.
Di kebun belakang, aku sedang bermain dengan boneka unicornku. Tetapi Septa tidak datang-datang juga. Aku mulai tidak sabar menunggunya.
"Septa.. Septa! Di mana kau?"
Teriakku tak sabar. Tiba-tiba seorang wanita yang kukenal datang. Madame Mock! Rupanya dia sudah memperhatikanku sejak tadi.
"Ah... Madame! Saya pikir adik saya yang akan datang!" sambutku sambil menghamburkan diri memeluknya. Dan dia seperti biasa, tersenyum lembut kepadaku. Tak sadar aku menyebutnya ibu..
Madame cantik itu membalas memelukku. Dan dia harus berjongkok biar bisa menatap tepat di mataku. Dekapannya masih ku ingat hangatnya. Tetapi kali ini berangsur-angsur dingin. Dan lengannya mengeriput. Aku terkejut. Dan ku rasakan semakin erat dia memelukku membuat aku sesak nafas. Aku melenguh. Dan menatap kewajahnya.
Dia membalas tatapanku dengan aneh. Bukan sambil tersenyum. Senyum indah itu sudah berganti menjadi sebuah seringai. Aku melihat deretan gigi-gigi kotor menghitam dan tajam menghias seringainya. Aku takut. Tak sadar aku menangis karena ketakutan. Dan aku mulai merasakan perih di punggungku. Seperti sesuatu menusuk punggungku.
Aku ingin berteriak meminta tolong. Tetapi tak seorangpun di situ saat ini. Hanya boneka unicorn di dekat pagar yang biasa dipangkas bang Ipul dan Mbak Rasmi. Dia hanya menatap dengan mata plastiknya membiarkan diriku tersakiti dan ketakutan. Hanya menangis tanpa suara yang bisa ku lakukan. Dan aku berharap unicorn itu menjadi hidup dan menyelamatkanku.
Keajaiban itu terwujud. Aku melihat unicorn itu perlahan berubah menjadi seekor kuda bertanduk yang luar biasa tinggi dan besar. Dia meringkik dengan mengangkat ke dua kakinya. Lalu bergerak cepat ke arah ku di saat aku sedang dalam pelukan Madame Mock yang berubah menakutkan. Unicornku menyerang Madame itu dengan tanduk tunggalnya dan membuatnya segera melepaskan aku dari dekapannya. Aku terbebas dan bisa kembali bernafas lega. Dan Madame Mock tiba-tiba menghilang. Aku berlari ke arah unicorn penyelamatku. Dan dia menundukkan kepala supaya aku bisa memeluknya. Ketika tanganku meraih lehernya, dia berubah kembali menjadi boneka kesayanganku.
Saat itulah aku terjaga. Dan aku terduduk segera. Ternyata aku dalam pelukan hangat seseorang yang ku rasakan sedang terguncang terisak. Dan orang itu Madame Mock! Aku meronta melepaskan diri. Dan aku menatap marah kepadanya. Dia tadi yang menyakiti punggungku sebelum aku diselamatkan boneka unicornku. Aku marah menudingkan telunjuk kepadanya. Dan pakdhe bicara tegas ke arah ku.
"Bria! Tidak sopan menunjuk ke arah orang tua seperti itu. Hentikan!" kata pakdhe kepadaku. Dan aku selalu merasa segan kepada beliau sebagai pengganti ayah dan ibu.
Nyaliku menciut. Dan aku menjauh dari Madame Mock untuk mendekat ke pakdhe. Beliau memelukku dengan penuh prihatin. Dan mataku masih menatap lekat Madame cantik itu. Benarkah yang ku lihat? Mata wanita cantik mirip ibu itu menitikkan air mata. Apakah dia menyesal telah menyakitiku? Bukankah tadi semua terjadi di dalam mimpi? Kenapa dia bisa masuk kedalam mimpiku?
Aku tidak mau berbagi mimpi kecuali dengan Septa dan boneka kesayangan kami. Bagaimana bisa dia masuk ke dunia rahasiaku? Bahkan punggungku masih terasa sakit dan perih. Aku merabanya tanpa sadar. Dan asal rasa sakit itu berdarah. Pakdhe dan semua orang di ruang tamu itu menjadi panik. Aku menangis kencang. Dan nafasku tersengal-sengal. Akhirnya pakdhe membawa aku keluar di ikuti ke empat tamunya. Sekarang baru aku tahu bahwa mereka yang paling muda adalah seorang sopir. Dan dia dengan cepat membawa kami ke klinik terdekat.
__
Ini adalah ruang yang paling ku benci selain ruang praktik dokter gigi di seberang rumah. Walau aku belum pernah berkunjung, tetapi aku tahu bahwa Veni juga tidak menyukainya. Veni itu jorok dan kotor. Bila dia saja tidak suka klinik seberang rumah, tentu ada alasannya. Mungkin seperti tempat ini. Di mana-mana berbau obat dan sesuatu yang lebih menyengat. Aku tidak suka!
Seorang perawat yang jangkung dan kurus menemui pakdhe yang masih menggendongku. Dan dia mempersilahkan kami untuk masuk ke sebuah ruang yang terang benderang. Dingin sekali ruang ini. Dan aku menggigil. Pakdhe meminta sebuah selimut dari Madame Mock yang ikut serta menemaniku. Kemudian beliau membungkus tubuhku dengannya. Sehingga aku merasa lebih baik. Tetapi ketika seorang yang dipanggil "dok" oleh perawat kurus itu datang, selimutku kembali di minta oleh pakdhe. Dan perawat itu memaksa aku membuka baju.
Di sini? Di depan banyak orang? Aku meminta pertimbangan pakdheku. Dan beliau mengangguk. Madame Mock segera membantu membuka bajuku dengan lembut dan tanpa ragu lagi karena lelaki berpakaian putih putih dan berkacanata tebal yang dipanggil "dok" itu ingin melihat punggungku. Aku mengijinkan wanita cantik yang sedang berduka itu membantuku.
"Ini luka cakar, hanya anehnya.. Luka ini seperti cakar binatang. Apa yang sedang terjadi? Apa anda memelihara binatang buas di dekat anak-anak?" tanya si "dok" itu. Bila dia seorang dokter, maka aku tidak akan percaya. Dia hanya mengenakan sendal di kakinya bahkan tidak berkalung alat yang biasa tergantung di leher dokter untuk memeriksa dada pasien. Pasti dia berbohong bila mengaku dokter.
"Saya tidak memelihara apapun dok, saya tidak punya waktu untuk memelihara binatang." Jawab pakdhe. Dan "dok" itu terheran-heran.
"Bagaimana dia bisa mendapatkan luka ini?" gumamnya.
"Dari alam mimpi," jawab Madame Mock mengingatkanku akan kejadian dalam mimpiku. Aku kembali merasa takut berada di dekatnya. Aku takut dia akan berubah menyeramkan dan menyakitiku lagi.
"Madame yang melakukannya. Di dalam mimpiku. Dia berubah menakutkan!" kataku sambil menatap pakdhe. Sebuah tangan halus tiba-tiba mengelus rambut panjangku. Madame Mock! Dia kembali tersenyum manis kepadaku. Tetapi aku semakin takut. Aku takut senyumnya akan berubah menjadi seringai mengerikan seperti dalam mimpiku. Untung hal itu tidak terjadi lagi saat ini.
"Yang kau lihat dalam mimpimu, bukan Madame, sayang. Itu sesuatu yang lain. Jahat dan kejam. Madame tidak bisa masuk ke dalam mimpimu!" kata Madame cantik itu berusaha menghiburku. Aku benar-benar bingung. Bukankah orang tua tidak boleh berbohong? Menurut Madame Simas, guru Kepribadian di sekolahku, orang tua yang berbohong itu sama saja mengajari anaknya hal yang tidak baik. Dan itu sebuah kejahatan.
"Madame bohong! Aku melihat Madame ada di dalam mimpiku! Kenapa orang tua selalu bicara tidak jujur?" teriakku. Dan hal itu membuat orang-orang dewasa di sekelilingku saling tatap dan keheranan.
"Bria, kejadian di dalam mimpi itu tidak seperti kenyataan. Pakdhe sedang bicara dengan tamu pakdhe ketika kamu tidur. Madame Mock juga ada di sana bersama pakdhe. Bagaimana bisa masuk kedalam mimpimu? Ingat satu hal. Apa yang ada di dalam mimpi itu tidak nyata!" hibur pakdhe. Tetapi aku toh benar-benar mendapatkan luka. Bagaimana bisa semua yang di dalam mimpi itu tidak nyata? Sungguh aku tidak mengerti apa yang dipikirkan oleh orang-orang dewasa. Itulah sebabnya aku tidak mau menjadi dewasa. Mengerikan sekali kehidupan mereka. Jauh dari keceriaan, jauh dari dunia menyenangkan yang seru bersama teman-teman sekolah. Ahh.. Mereka tidak akan mengerti.
Si "Dok" itu segera memberikan obat luka kepadaku. Dia kini hanya bisa terdiam tanpa menanyakan lebih jauh tentang penyebab lukaku. Dan aku tak mau menceritakannya lagi, bahwa unicorn kesayangankulah yang telah menyelamatkanku. Mereka mana mau percaya karena tidak melihat yang terjadi dalam mimpiku tadi. Tentu mereka akan seperti Veni, yang selalu mengolok-olok aku setiap kali mencuri dengar, di saat aku menceritakan mimpiku kepada Ricky. Mereka benar-benar bodoh dan menyebalkan.
"Bria, maukah kamu mendengarkan cerita Madame setelah kita sampai di rumah?" Tanya Madame Mock menawarkan kebaikan kepadaku. Aku tak punya pilihan selain setuju, karena ku lihat pakdhe sangat mempercayai Madame cantik itu. Aku tak bisa mengecewakan beliau.
Dan setelah diperiksa oleh si "dok", Madame Mock menggendongku. Kali ini aku menurut kepadanya karena aku kelelahan dan mengantuk. Dan berharap segera meninggalkan tempat berbau obat ini. Madame Mock membawa aku keluar duluan menuju tempat parkir. Dan aku duduk di depan dipangkuan Madame cantik yang kali ini pelukannya hangat ku rasakan.
"Ibu..." kataku lirih tak tertahankan. Aku menangis dalam diam. Air mataku menetes di pipi dan jatuh di kerah baju tidurku. Lamat-lamat kudengar jam berdentang empat kali. Dan tak lama kemudian aku terlelap lagi. Lelap tidurku kali ini tanpa mimpi
Bab Sebelumnya | Bab Berikutnya
Komentar
Posting Komentar